Dengan penuh percaya, Nabila menyeruput pelan. Namun, hanya dalam sekali teguk, ekspresinya langsung berubah. Dahi berkerut, bibirnya mencebik. “Kok … rasanya beda?” tanyanya heran, suaranya terdengar polos tapi sekaligus menekan.
Arga tercekat. Tenggorokannya terasa kering, meski ia yang memegang cangkir hangat. Kepanikan sejenak merambat di dadanya, membuat ia hampir kehilangan kata. Rasa kopi itu memang berbeda, dan Nabila pun menyadarinya, tangan Arga tak terbiasa meracik seperti Dirga. Sekarang, Nabila bisa merasakan bedanya.
Wajah Arga kaku. Dalam sepersekian detik, ia mencari alasan. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Maka, dengan napas yang ditahan, ia berusaha mengukir senyum tipis, meski gugup. “Aku sudah bilang, kan … akibat benturan itu, aku sempat lupa beberapa hal. Termasuk soal rasa kopi yang biasa kubuat.”
Nabila terdiam, seolah menimbang kata-kata itu. Arga merasakan jantungnya berdegup kencang, takut jika Nabila menangkap celah dari kebohongannya. Namun, bukannya curiga, Nabila justru menghela napas perlahan. Senyum tipis tersungging di wajahnya. Tangannya terulur, meraba lengan Arga, lalu mengusapnya dengan kelembutan yang membuat Arga semakin merasa tertikam oleh kebohongannya sendiri.
“Kalau begitu jangan dipaksa. Aku nggak masalah, kok. Cuman memang rasanya sedikit berbeda. Yang penting kamu ada di sini bersamaku meski aku enggak bisa melihat,” bisik Nabila lembut. Ia lalu menambahkan, “Tapi, kamu sendiri bagaimana? Masih sakit nggak? Area mana aja yang terluka waktu itu?”
Arga terdiam sejenak. Ia menunduk, menatap wajah Nabila yang begitu polos, begitu percaya padanya. Perasaan bersalah menekan dadanya semakin kuat, namun ia tahu ia harus tetap memainkan perannya dengan meyakinkan.
“Cuma lecet sedikit,” jawabnya akhirnya, suaranya dibuat seramah mungkin. “Nggak parah, cuma goresan kecil. Jadi kamu nggak perlu khawatir.”
“Lho, bukannya seingatku, mobil yang kau tumpangi masuk ke jurang? Bagaimana kau bisa meloloskan diri?”
Arga kaget, alisnya secara refleks naik. Kini, skakmat, Arga akan lebih dicurigai kalau dia tak menjawab pertanyaan itu.
“Aku ... sebenarnya ....”
“Dirga bisa selamat karena melompat lebih dulu sebelum mobil masuk jurang,” sela Fenny yang tiba-tiba muncul di bawah pintu kamar.
“Bu ...,” bisik Arga, tapi Fenny menaikkan tangannya.
‘Sepertinya benar kata Arga, wanita ini yang membuat anak sulungku meninggal. Dia memang berparas cantik. Sekarang ia buta dan justru merepotkan. Kalau pun perusahaan suamiku dan perusahaan milik Tatik tak ada hubungan kerja sama, mungkin aku harus mengusir wanita ini saja dari pada di sini mungkin akan selalu membawa sial. Memang, awalnya aku kasihan padanya, tapi setelah kupikir lagi ke depannya, dampaknya mungkin akan buruk di sini,’ batin Fenny yang mulai berubah pikiran, mulai mempertimbangkan kehadiran Nabila yang ia pikir akan menjadi beban.
“Maaf, Bu. Aku yang salah, aku yang sempat lupa, Dirga kan terkena benturan yang membuat separuh ingatannya hilang.”
“Iya, enggak apa-apa, Nabila. Yang kuinginkan, kamu tetap di sini bersama suamimu dan buat Dirga bahagia.”
“Baik, Bu. Akan aku usahakan meski kondisiku buta, aku akan sedikit demi sedikit menghafal tata letak tempat ini. Sebab, tak mungkin aku selalu merepotkan suamiku dan ibu mertuaku.”
Kalimat yang dilontarkan Nabila tadi membuat Arga dan Fenny saling pandang. Sejenak, perasaan mereka berubah jadi haru. Hati Fenny tak karuan, ada rasa ingin mengusir dia agar tinggal di rumahnya sendiri, tapi di sisi lain, ia kasihan karena harus berada di dekat Dirga.
“Oke, aku tak menuntut banyak hal, yang penting kalian berdua bahagia, itu sudah cukup.”
Nabila tersenyum lega, meski matanya yang kosong karena tak bisa melihat tetap memancarkan rasa kasih yang tulus. Ia menggenggam tangan Arga, seolah mencari kekuatan di sana.
Arga membiarkan genggaman itu, meski batinnya bergejolak. Setiap kata bohong yang ia ucapkan seperti menambah beban di pundaknya. Namun, saat menatap Nabila yang begitu rapuh, ia hanya bisa meyakinkan dirinya sendiri: Aku harus bertahan demi dia, dan demi kebahagiaannya, meski harus terus berpura-pura.
“Nabila, lebih kamu istirahat saja, biar lukamu cepat pulih,” saran Arga.
“Baiklah, Dirga. Kamu juga istirahat.”
“Oke.”
Perlahan tubuh Nabila rileks, meski ia buta, tapi kelopak matanya menutup normal seperti orang pada umunya. Arga dan ibunya keluar kamar dan duduk di sofa ruang tamu. Ia menoleh pada ibunya yang sedang membersihkan meja.
"Bu ... ngomong-ngomong, Bibi Wati di mana ya?"
Fenny menghela napas sebentar, lalu menatap putranya.
"Mungkin masih di pemakaman atau bisa juga sedang belanja untuk masak."
Belum sempat Arga menanggapi, pintu rumah berderit terbuka. Sosok Bibi Wati muncul, membawa kantong belanjaan. Begitu matanya menangkap Arga, ia langsung terkejut.
"Astaga, Arga? Kamu sudah pulang? Wah ... bagaimana kuliahmu di sana?"
Arga sempat tersenyum canggung, hendak menjawab, tapi suara ibunya segera memotong.
“Sssst ... jangan keras-keras, Bi. Nabila sedang tidur. Jangan sampai terganggu. Dia harus pulih cepat dari lukanya.”
Bibi Wati langsung menutup mulut, “maaf, Nyonya, memangnya kenapa?” bisik Bi Wati sambil menaruh belanjaannya di lantai. Fenny mendekat, menepuk lengannya, kemudian berbisik pelan pada telinganya agar hanya Bibi Wati yang mendengar.
"Arga sekarang sedang memerankan Dirga. Demi Nabila supaya dia tenang. Jadi, mohon ... jangan sampai ada yang tahu, apalagi Nabila. Tolong rahasiakan ini ya, Bi."
Bibi Wati menatap Arga yang hanya bisa menunduk, wajahnya menyiratkan beban yang berat. Perlahan, Bibi Wati mengangguk.
"Baiklah, aku mengerti."
Ia pun segera berpamitan, berjalan pelan menuju dapur untuk menyiapkan masakan sambil membawa bahan yang baru ia beli untuk dimasak.
Suasana kembali hening. Arga mengembuskan napas panjang sambil meraih botol air mineral, lalu meminumnya.
Tiba-tiba, dari kamar terdengar suara lirih memanggil.
"Mas Dirga ...?" panggil Nabila dari kamarnya.
Arga terdiam, tubuhnya menegang. Fenny memberi isyarat dengan tatapan agar ia segera masuk. Dengan langkah berat bercampur ragu, Arga akhirnya mendekat ke kamar, mencoba memainkan peran yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Arga berdiri ragu di depan pintu kamar, tapi suara lirih dari dalam membuatnya akhirnya melangkah masuk.
"Mas Dirga ...?" panggil Nabila lagi, kali ini, suaranya agak keras, membuat Arga yang terbengong pun tersadar.
Arga melangkah menuju kamar dan mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia berusaha menenangkan diri agar Nabila tak curiga meski dalam hati, ia was-was. Sementara, ia belum siap rahasia itu terbongkar kalau kondisi Nabila seperti itu.
"Iya, aku di sini ...."
Nabila tersenyum tipis, jemarinya meraba udara, mencari keberadaan Arga. Arga pun menggenggam tangannya dengan lembut.
“Jangan jauh-jauh dari aku ya?”
“Iya, tenang aja. Aku akan tetap di sini untuk merawatmu.” Namun tiba-tiba, Nabila bertanya dengan suara yang terdengar tenang tapi menusuk hati.
"Mas Dirga ... tadi aku dengar nama Arga. Siapa itu ...?"