Pukul 02.48 dini hari, Pak Wira sudah duduk di atas motor tuanya, melaju pelan menembus jalan yang masih setengah gelap. Udara dingin menampar wajah, tapi ia sudah kebal. Setiap hari, jam segini, ia melakukan rutinitas yang sama. Bangun sebelum azan subuh, mandi cepat, pamit pada rumah yang masih tertidur, lalu menuju pool.
Di kepalanya tidak pernah ada rencana besar. Yang ada hanya target sederhana: setor aman, pulang tanpa masalah.
Jam 03.01, kartu absennya menempel di mesin. Lampu hijau menyala. Ia menghela napas lega. Masuk absen tepat waktu. Bagi orang lain, itu sepele. Bagi sopir taksi, itu awal segalanya.
Di parkiran, beberapa sopir sudah siap jalan. Ada yang menyeduh kopi dari termos, ada yang bercanda soal penumpang kemarin, ada juga yang diam, wajahnya kaku, entah karena kurang tidur atau terlalu banyak pikiran.
Pak Wira termasuk yang jarang bicara. Ia bukan tidak ramah, hanya terbiasa menyimpan cerita sendiri. Ia percaya, terlalu banyak bicara di awal hari bisa menguras tenaga sebelum waktunya.
Mobilnya keluar pool pelan-pelan. Jalan masih lengang. Lampu merah lebih sering hijau. Kota seperti belum sepenuhnya bangun.
Penumpang pertama ia dapatkan di depan rumah sakit. Seorang laki-laki muda, mengenakan jaket, helm masih di tangan.
“Ke kost Melati, Pak,” katanya. “Daerah Kalibata.”
Sepanjang jalan, penumpang itu sibuk mengetik pesan di ponsel. Sesekali ia mendesah kesal.
Pak Wira hanya diam, fokus pada perjalanan.
"Baru keluar narik nih, pak?" tanya pemuda tersebut.
Pak Wira mengangguk. "Iya nih, mas. Kebetulan mas-nya jadi penglaris saya."
"Wah, gitu ya pak. Semoga hari ini rame terus deh pak." ujar penumpang tersebut.
"Terima kasih doa-nya, mas."
Sesampainya di tujuan, penumpang membayar pas. Tidak ada drama. Tidak ada cerita panjang. Hanya transaksi singkat yang berlalu begitu saja.
Menjelang pagi, jalan mulai ramai. Matahari muncul malu-malu di balik gedung. Pak Wira sudah beberapa kali mengantar penumpang. Pendapatan masih biasa. Tidak jelek, tapi juga belum membuatnya tenang.
Sekitar pukul delapan, ia mendapatkan penumpang ibu-ibu. Usianya sekitar lima puluhan, membawa dua kantong belanja.
“Ke pasar Tanah Abang ya, Pak,” katanya.
Ibu itu cerewet, tapi bukan menyebalkan. Ia bercerita tentang harga sembako yang naik, tentang anaknya yang susah dicari kerja, tentang cucunya yang sedang sakit. Bahkan sesekali mengkritisi sistem pemerintahan saat ini.
Pak Wira hanya mendengarkan, sesekali mengangguk atau mengiyakan. Ia tahu, bagi sebagian penumpang, taksi bukan hanya kendaraan, tapi juga tempat bicara tanpa dihakimi.
Setelah ibu itu turun, Pak Wira melirik meteran. Lumayan. Tapi pikirannya masih tertuju pada setoran. Hari masih panjang, tapi pengalaman mengajarkannya untuk tidak terlalu santai.
Siang hari datang bersama panas dan kemacetan. Klakson bersahutan. Emosi pengendara naik. Pak Wira tetap tenang. Ia sudah terbiasa. Baginya, marah di jalan hanya membuang tenaga.
Sekitar pukul satu siang, ia mendapat penumpang yang membuat dadanya sedikit sesak. Seorang pria berjas, wajahnya masam.
“Ke kantor pusat SCBD, Pak. Cepat ya.”
Pak Wira mengangguk. Ia melaju secepat mungkin tanpa ugal-ugalan.
Di tengah jalan, pria itu mulai mengomel.
“Ini macet terus. Harusnya lewat jalan lain.”
“Ini jalur tercepat, Pak,” jawab Pak Wira sopan.
“Ah, sopir sekarang nggak kreatif. Sengaja biar argo meter bengkak, ya?"
"Saya, enggak begitu Pak. Memang jalan di sini kan setiap pagi pasti macet."
"Halah... Saya udah tahu akal-akalan sopir taksi, Pak."
Pak Wira diam. Ia memilih menelan kata-kata itu. Tidak semua penumpang harus dilayani dengan perdebatan.
Sesampainya di tujuan, pria itu membayar dengan wajah tidak puas. Tidak ada terima kasih. Pintu ditutup agak keras.
Pak Wira menghela napas panjang setelahnya. Bukan marah, hanya lelah.
Menjelang sore, hujan turun. Jalan licin. Penglihatan terbatas. Pak Wira memperlambat laju. Ia lebih memilih sampai lambat daripada tidak sampai.
Sekitar pukul lima, ia menepi sebentar. Makan nasi bungkus, minum teh manis. Duduk di dalam mobil, mendengarkan hujan di atap. Itu momen kecil yang ia nikmati.
“Kalau bukan karena setoran,” gumamnya pelan, “mungkin saya sudah pulang.”
Tapi setoran tidak bisa ditawar.
Sore menjelang malam, ia kembali narik. Penumpang datang silih berganti. Ada pasangan muda yang bertengkar sepanjang jalan. Ada pegawai kantor yang tertidur begitu masuk mobil. Ada juga sekelompok anak muda yang tertawa terlalu keras.
Sekitar pukul sembilan malam, Pak Wira mulai menghitung kasar di kepalanya. Setoran hampir tercapai, tapi belum aman. Ia masih butuh satu atau dua perjalanan.
Di sebuah pusat kuliner, seorang pria tua naik. Pakaiannya sederhana, sandal jepit, membawa tas kain.
“Ke daerah Cipete, Mas,” katanya.
Nada suaranya lembut. Pak Wira langsung merasa nyaman.
Di perjalanan, pria tua itu bercerita. Tentang masa mudanya merantau, tentang kerja serabutan, tentang anak-anaknya yang sekarang sudah berkeluarga.
“Sekarang saya cuma jaga cucu,” katanya sambil tersenyum.
Pak Wira ikut tersenyum. Cerita seperti itu hangat. Tidak berat, tapi mengisi.
Sesampainya di tujuan, pria tua itu mengeluarkan uang pas. Lalu, sebelum turun, ia berkata pelan, “Hati-hati di jalan, Mas. Kerja yang jujur itu capek, tapi berkah.”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa menancap.
Setelah penumpang itu turun, Pak Wira melihat angka di meteran hari itu. Setoran sudah aman. Bahkan sedikit lebih. Ia bisa kembali ke pool.
Jam menunjukkan pukul sebelas lewat sedikit. Ia memutar arah, menuju pool. Hujan sudah reda. Jalanan relatif sepi.
Di tengah jalan, ia sempat berhenti di lampu merah. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca. Garis lelah jelas terlihat. Tapi ada juga rasa puas kecil yang sulit dijelaskan.
Sesampainya di pool, ia parkir sesuai barisan. Menyetor ke loket. Petugas menghitung, mencatat, lalu mengangguk.
“Aman, Pak.”
Kalimat itu seperti beban yang dilepas dari pundaknya.
Pak Wira keluar pool, menuju motor. Malam terasa lebih ringan. Ia pulang dengan kepala kosong, tidak memikirkan apa-apa selain tidur.
Di rumah, ia membuka pintu pelan. Istrinya sudah menyiapkan makanan, ditutup tudung saji.
Ia makan dalam diam. Setelah itu, duduk sebentar di teras. Menatap langit malam yang tidak terlalu gelap.
Hari ini tidak istimewa. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada drama luar biasa.
Tapi justru di situlah letak hidupnya.
Di balik angka argo yang terus berjalan, ada hari-hari yang hanya ingin dilewati tanpa luka. Ada sopir yang tidak mengejar cerita heroik, hanya ingin pulang dengan kepala tegak.
Pak Wira tahu, besok dini hari ia akan kembali menggesek kartu absen. Kembali mengantar orang-orang dengan urusan masing-masing.
Dan ia akan tetap duduk di balik setir.
Karena hidupnya memang bergerak sejauh roda berputar.