Hari itu akhirnya datang.
Hari yang selama ini membuat Harlia susah tidur, susah makan meski tetap makan, dan susah membedakan mana deg-degan mana maag.
Rumah Harlia yang biasanya adem ayem, hari itu berubah seperti terminal dadakan. Kerabat berdatangan sejak pagi. Ibu-ibu duduk bergerombol sambil mengipas wajah, entah karena panas atau karena pengin pamer gosip.
Om-om berdiri di sudut, membahas harga cabai dan cicilan motor. Anak-anak kecil lari-larian sambil nyenggol kursi.
Dekorasi sederhana tapi niat.
Taplak renda putih. Bunga plastik warna pastel.
Balon dua buah, satu bocor tapi ditambal selotip.
Ibunya Harlia mondar-mandir seperti komandan perang.
“Kursinya jangan mepet tembok!”
“Air minum tambah!”
“Eh, itu kue jangan dimakan dulu, itu buat tamu!”
Harlia duduk di kamar, mengenakan kebaya hasil jahitan tukang jahit langganan ibunya.
Tidak sempurna.
Tidak mewah.
Tapi pas.
Ia menatap dirinya di cermin. Wajahnya pucat.
Pipinya bulat. Matanya sedikit sembab.
“Ini aku,” gumamnya pelan.
Ibunya masuk tanpa mengetuk.
“Udah siap?” tanya ibunya.
Harlia mengangguk.
Ibunya menatap lama, lalu berkata lebih lembut dari biasanya, “Duduk manis. Jangan mikir aneh-aneh.”
Harlia mengangguk lagi.
Di luar, suara riuh tiba-tiba mereda.
“DATENG! DATENG!”
Teriakan itu membuat jantung Harlia seperti mau lompat keluar jendela.
Dari balik gorden, terlihat dua mobil mewah berhenti tepat di depan rumah. Mobil hitam mengkilap. Kontras dengan motor tetangga yang parkir miring.
Pintu mobil terbuka. Topan turun lebih dulu. Setelan jas rapi, rambut klimis, sepatu mengilap sampai bisa buat ngaca.
Disusul ayah dan ibu Topan.
Ayahnya tinggi, berdiri tegap seperti pejabat.
Ibunya mengenakan kebaya mahal, kalung besar, dan senyum yang tajam, tapi ramah palsu.
Lalu paman dan bibi Topan turun.
Paman berkacamata hitam meski tidak ada matahari. Bibi membawa tas besar bermerek dengan langkah anggun.
Para tamu Harlia saling sikut.
“Wih…”
“Kayak sinetron.”
“Itu lamaran apa syuting?”
Ibunya Harlia berdiri paling depan, menarik napas panjang, lalu memasang senyum terbaiknya.
“Selamat datang,” katanya lantang.
Pihak Topan melangkah masuk. Ruang tamu seketika terasa sempit. Bukan karena ukuran, tapi karena aura. Aura orang-orang yang biasa duduk di ruangan jauh lebih besar.
Mereka duduk.
Prosesi dimulai.
Pembawa acaranya adalah sepupu Harlia yang biasa jadi MC kondangan kampung. Ia berdehem.
“Ehem! Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim…”
Kotak seserahan mulai dibawa masuk.
Satu.
Dua.
Tiga.
Para tamu mulai berbisik.
Empat.
Lima.
Enam.
Harlia yang duduk menunduk, ikut melirik.
Kotaknya besar-besar. Dibungkus kain beludru. Pita emas.
“Ini apa?” bisik bibi Harlia ke ibunya.
Ibunya Harlia menelan ludah.
“Kurang tahu…”
Kotak pertama dibuka.
Emas.
Kotak kedua dibuka.
Emas lagi.
Kotak ketiga…
“Ini… sepuluh kilogram emas,” kata ibu Topan dengan senyum tipis, seolah menyebut berat bawang.
Ruangan mendadak hening.
Lalu meledak.
“SEPULUH KILO?!”
Ibunya Harlia refleks berdiri.
“EH.. YA ALLAH!” katanya gugup. “Itu saya CUMA BERCANDA WAKTU ITU!”
Ibu Topan tersenyum lebih lebar.
“Kami tidak suka bercanda untuk hal serius,” jawab ibunya Topan.
Para tamu menelan ludah bersamaan. Ada yang menghitung dalam kepala. Ada yang langsung istigfar.
Ayah Topan angkat bicara.
“Putra kami,” katanya dengan suara mantap,
“adalah kebanggaan keluarga.”
Topan tersenyum tenang.
“Kami mendidiknya dengan prinsip,” lanjut ayahnya, “kalau sudah memilih pasangan, harus dimuliakan.”
Ibunya Topan menimpali, “Dan tentu saja, tidak semua perempuan pantas.”
Ibunya Harlia berkedip cepat. Ayah Harlia berdehem.
“Alhamdulillah,” katanya bijak, “niat baik tentu kami sambut.”
Prosesi berjalan.
Pantun dibacakan.
Doa dipanjatkan.
Tapi di balik semua itu, ada ketegangan tak kasat mata.
Pihak Topan duduk tegak, penuh percaya diri. Pihak Harlia duduk sopan, sedikit terintimidasi.
Sesekali ibu Topan melirik sekitar. Dekorasi sederhana dan kursi plastik. Ekspresinya sopan tapi jelas menilai.
Akhirnya, pembawa acara sampai pada inti.
“Dengan ini,” katanya lantang, “kami persilakan pihak laki-laki menyampaikan maksud kedatangannya.”
Ayah Topan berdiri.
“Kami datang,” katanya, “untuk melamar putri Bapak dan Ibu.”
Semua mata beralih ke Harlia. Ibunya Harlia meraih tangan Harlia.
Hangat.
Sedikit gemetar.
Pembawa acara menoleh ke Harlia.
“Harlia,” katanya lembut tapi menggema, “apakah kamu bersedia menerima lamaran dari Topan?”
Detik itu…
Suara hilang.
Harlia menatap lurus ke depan.
Wajah Topan penuh keyakinan.
Wajah ibunya penuh harap.
Wajah ayahnya tenang.
Wajah ibu Topan penuh percaya diri.
Dan di dalam kepalanya…
Terngiang suara Arin.
Terngiang ejekan.
Terngiang tawa.
Terngiang janji.
Mulutnya sedikit terbuka. Jawaban ada di ujung lidah. Tapi tak satu pun kata keluar.
Dan satu rumah penuh manusia menahan napas bersama pembawa acara. Detik itu, detik paling sunyi dalam hidup Harlia.
Udara di ruang tamu terasa tebal, seperti bisa dipotong pakai pisau dapur yang biasa dipakai ibunya memotong tempe. Mata-mata menatap Harlia tanpa berkedip. Bahkan kipas angin seakan ikut berhenti berputar.
Harlia duduk tegak, telapak tangannya basah. Lidahnya kelu. Kata bersedia terasa berat, tapi juga terasa seperti satu-satunya jalan keluar dari hidup yang penuh cibiran, sindiran, dan julukan 'Martabak Har.'
Pembawa acara mencondongkan badan sedikit.
“Harlia,” ulangnya pelan,
“apakah kamu bersedia menerima lamaran dari Saudara Topan?”
Mulut Harlia terbuka.
Semua orang mencondongkan tubuh.
Dan tepat saat itu....
CILOOOOK! CILOOOOK!”
Suara keras membelah keheningan seperti petasan nyasar. Semua kepala refleks menoleh ke arah jendela.
Tukang cilok lewat dengan gerobaknya, loncengnya berbunyi nyaring, suaranya penuh semangat seperti tidak sadar sedang mengganggu momen sakral hidup seseorang.
“Cilok panas! Saos kacang! Saos pedes!”
Ibunya Harlia menutup mata.
Ayah Harlia menghela napas panjang.
Ibunya Topan berkedip cepat, jelas tidak menyangka lamaran keluarga “ningrat” bisa dipotong cilok seribuan.
Pembawa acara terbatuk canggung.
“Ehem… baik… kita ulangi.”
Tukang cilok masih terdengar menjauh.
“Cilooook…”
Keheningan kembali turun, kali ini disertai rasa malu kolektif. Pembawa acara menatap Harlia lagi.
“Harlia,” katanya, sedikit lebih keras, “apakah kamu bersedia menerima lamaran dari Saudara Topan?”
Harlia menelan ludah. Ia melirik ibunya. Ibunya mengangguk kecil, matanya berkaca-kaca.
Ia melirik ayahnya. Ayahnya tersenyum tenang.
Ia melirik Topan. Topan menatapnya penuh keyakinan, seperti jawaban Harlia sudah pasti iya sejak awal.
Harlia menarik napas dalam-dalam.
“Bersedia,” katanya akhirnya, suara sedikit gemetar tapi jelas.
Dan seketika semua orang bernapas normal lagi. Ruangan meledak oleh suara syukur.
“Alhamdulillah!”
“MasyaAllah!”
“Puji Tuhan!”
Ibunya Harlia langsung memeluk anaknya.
“Ya Allah…,” katanya terisak, “akhirnya…”
Ayah Harlia menepuk bahu Topan.
“Selamat,” katanya singkat tapi bermakna.
Topan tersenyum lebar, sedikit menunduk hormat.
Ibunya Topan tersenyum puas, seperti baru memenangkan tender besar.
Para tamu berdiri, menyalami satu sama lain. Ucapan selamat mengalir deras. Ada yang tulus, ada yang penasaran, ada yang masih tidak percaya.
“Beneran ya?”
“Rezeki emang gak ke mana.”
“Martabak… eh Harlia, maksudnya.”
Harlia hanya tersenyum kaku.
Setelah tamu terakhir pamit dan suara rumah kembali normal, suasana berubah. Dekorasi masih sama, tapi auranya berbeda. Sekarang bukan lagi panggung. Ini meja perundingan.
Keluarga Harlia dan keluarga Topan duduk berhadap-hadapan.
Ibunya Harlia sudah menyiapkan teh. Ayahnya duduk tegak, tangan terlipat di atas lutut.
Ayah Topan membuka pembicaraan.
“Baik,” katanya, “kita lanjutkan pembahasan ke tahap berikutnya.”
Ibunya Topan menyambung, “soal tanggal pernikahan dan adat.”
Ibunya Harlia tersenyum sopan.
“Kami fleksibel,” katanya. “Yang penting sesuai kemampuan dan kebiasaan keluarga.”
Ibunya Topan tertawa kecil.
“Kebiasaan kami tentu berbeda.”
Nada suaranya halus. Tapi menusuk.
“Untuk akad dan resepsi,” lanjut ayah Topan, “kami berpendapat itu sepenuhnya tanggung jawab pihak perempuan.”
Harlia menegang.
Ibunya Harlia berhenti mengaduk teh.
“Maksudnya?” tanya ibunya, suaranya masih dijaga.
“Kami,” kata ibu Topan santai, “tidak akan mengeluarkan biaya sepeser pun untuk akad dan resepsi.”
Hening.
“Kecuali,” tambahnya cepat, “untuk acara ngunduh mantu. Itu tradisi kami.”
Ibunya Harlia menarik napas panjang.
“Maaf,” katanya pelan, “biasanya… keluarga laki-laki ikut membantu.”
Ibunya Topan tersenyum tipis.
“Biasanya. Tapi bukan kami.”
Ayah Topan menambahkan, “Kami keluarga yang ningrat ada prinsip sendiri.”
Ibunya Harlia mengepalkan tangan di pangkuan. Harlia bisa merasakan tubuh ibunya bergetar menahan diri agar tidak meledak.
“Lalu… soal mahar?” tanya ayah Harlia hati-hati.
Topan tersenyum.
“Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, Pak. Akan diperlihatkan saat akad.”
Ibunya Harlia tersenyum kaku.
“Sekilas saja,” katanya. “Biar kami tenang.”
Ibunya Topan mengibaskan tangan.
“Tidak perlu. Kami tidak biasa diragukan.”
Kalimat itu jatuh seperti batu. Ibunya Harlia hampir berdiri. Tapi ayah Harlia mengangkat tangan pelan.
“Baik,” katanya tenang, “kami mengerti.”
Ia menoleh ke istrinya. Menggeleng kecil. Ibunya Harlia menghela napas kasar, lalu menunduk.
“Kalau begitu,” lanjut ayah Harlia, “kami akan berusaha sebaik mungkin.”
Ibunya Topan tersenyum puas.
“Bagus,” katanya. “Kami suka keluarga yang tahu diri.”
Kata-kata itu membuat udara kembali berat.
Diskusi berakhir.
Keluarga Topan pamit dengan senyum angkuh dan langkah mantap.
Begitu pintu tertutup, ibunya Harlia langsung berdiri.
“Ya Allah…,” katanya lirih tapi penuh emosi, “itu keluarga apa, sih?”
Ayah Harlia menepuk bahu istrinya.
“Sabar.”
Harlia duduk diam. Lamaran sudah diterima. Tapi entah kenapa dadanya terasa tidak ringan sama sekali.