Drama #Baper #Kocak

LAMARAN BERES PIKIRAN AMBYAR

16 January 2026

Pagi setelah lamaran, rumah Harlia tidak langsung kembali tenang. Tenang di luar, iya. Tapi di dalam rasanya seperti kompor gas yang apinya kecil tapi menyala terus.

Ibunya Harlia mondar-mandir di dapur sambil ngedumel. Sendok beradu dengan panci. Tutup panci dibanting pelan versi orang yang marah tapi masih menahan diri.

“Ya ampun, Yah…,” omelnya. “Orang tuanya Topan itu bener-bener… aduh!”

Ayah Harlia duduk di meja makan, menyeruput kopi pahit seperti biasa. Ia mendengarkan tanpa memotong.

“Angkuh!” lanjut ibunya. “Ngomongnya halus, tapi nusuk. Kayak pisau baru diasah!”

Ayah Harlia mengangguk kecil.

“Namanya juga beda latar belakang.”

Ibunya berhenti mondar-mandir.

“Beda latar belakang apaan?” katanya sengit. “Kalau udah nikah, Harlia itu bakal hidup sama Topan. Bukan sama orangtuanya. Tapi kalau sikapnya nurun ke anaknya…”

Ia menatap ayah Harlia dengan mata menyipit.

“Harlia gak perlu diet, Yah. Kurusnya nanti bukan karena olahraga. Tapi karena makan hati.”

Ayah Harlia nyaris tersedak kopinya.

“Hush,” katanya pelan. “Jangan mikir sejauh itu dulu.”

“Tapi masuk akal, kan?!” bantah ibunya. “Topan itu pinter ngomong, iya. Tapi kalau nurun angkuhnya…”

Ibunya mengibaskan tangan, lalu duduk.

Harlia keluar kamar dengan tas kerja di pundak. Rambutnya disanggul asal. Wajahnya pucat. Ia berhenti ketika mendengar percakapan orangtuanya.

“Bu…,” katanya pelan.

Ibunya menoleh. Langsung mengubah ekspresi.

“Eh, kamu udah siap kerja?”

Harlia mengangguk.

Ayah Harlia berdiri, lalu mengambil map cokelat dari lemari.

“Sebelum kamu berangkat,” katanya, “Ayah mau ngitung-ngitung sebentar.”

Ia membuka map itu di meja. Beberapa buku tabungan. Beberapa kertas catatan. Ibunya Harlia duduk di seberangnya.

“Kita lihat ya,” kata ayahnya. “Tabungan di rekening ini… segini. Yang ini… segini.”

Ibunya ikut menghitung di kertas.

“Kalau akad sama resepsi sederhana,” lanjut ayahnya, “masih bisa.”

Harlia menelan ludah.

“Yah…” kata Harlia cepat, “nggak usah resepsi gede-gede.”

Ibunya menoleh tajam.

“Kenapa?”

“Kalau uangnya gak ada,” kata Harlia, “akad aja cukup. Sederhana. Aku gak apa-apa.”

Ibunya berdiri.

“Gak bisa,” katanya tegas.

“Bu…”

“Kamu itu anak satu-satunya,” lanjut ibunya. “Masa nikahnya cuma kayak bayar parkir? Minimal harus ngundang Happy Asmara.”

Ayah Harlia mencoba menengahi.

“Bisa dibicarakan pelan-pelan, Bu.”

“Enggak,” potong ibunya. “Ibu nggak mau orang ngomong, ‘Maharnya 3 miliar tapi nikahnya kayak orang pulang sunat massal, sederhana' atau Oh, itu ya yang nikahnya seadanya karena pengantinnya….”

Kalimatnya menggantung. Tapi Harlia tahu kelanjutannya. Harlia menggigit bibir.

“Bu,” katanya lirih, “aku nggak mau jadi beban.”

Ibunya mendekat. Memegang bahu Harlia.

“Kamu itu bukan beban,” katanya, sedikit melunak. “Kamu itu… amanah.”

Ayah Harlia menutup map perlahan.

“Ada satu cara,” kata ayahnya hati-hati.

Ibunya menoleh.

“Tanah di kampung warisan ayah dari almarhum kakekmu,” lanjut ayahnya. “Kalau dijual…”

Harlia terbelalak.

“Yah, jangan!” katanya spontan. “Itu tanah kakek,” lanjutnya cepat. “Kenangan.”

Ayah Harlia tersenyum tipis.

“Kenangan tidak hilang hanya karena tanahnya berpindah tangan,” katanya. “Yang penting… kamu bahagia.”

Ibunya terdiam. Harlia merasa dadanya sesak. Semua terasa berat. Lamaran yang seharusnya bahagia malah terasa seperti hutang besar. Ia meraih tasnya.

“Aku berangkat kerja dulu,” katanya pelan.

Ibunya menoleh.

“Di kantor jangan kepikiran,” pesan ibunya. “Fokus kerja.”

Harlia mengangguk, tapi tidak yakin bisa. Di depan pintu, ia berhenti sejenak.

“Yah,” katanya lirih, “Bu… makasih.”

Ayahnya mengangguk. Ibunya hanya membalas dengan dengusan kecil. Harlia melangkah keluar rumah.

Langit cerah. Tapi di dadanya, awan gelap menggantung. Di dalam mobil, ia memegang setir erat.

“Kenapa semua jadi berat karena aku?” gumamnya.

Ia menyalakan mesin. Dan melaju ke kantor dengan satu perasaan yang sama sekali tidak ringan. Rasa bersalah.

Pagi di kantor biasanya dimulai dengan dua hal. Bunyi tap tap tap sepatu orang-orang yang datang telat, dan gosip yang datang lebih dulu dari pemiliknya.

Hari itu, Harlia baru saja duduk, menyalakan komputer, ketika ia merasakan sesuatu yang tidak enak seperti sedang diawasi.

Benar saja. Arin berdiri di samping mejanya.

Terlalu dekat.

Terlalu wangi.

Terlalu siap.

“Harlia,” kata Arin dengan suara manis yang dibuat-buat, “boleh ngobrol sebentar?”

Harlia mendongak.

Rina yang duduk di sebelahnya langsung menegakkan punggung, seperti satpam yang mencium bau masalah.

“Ngobrol di sini aja,” kata Rina cepat. “Gratis.”

Arin tersenyum kecil. Tidak peduli.

“Kemarin… lamaran kamu gimana?” tanya Arin, pura-pura santai. “Tumben Topan nggak cerita apa-apa.”

Kalimat terakhir itu penting dan menyakitkan. Harlia menelan ludah.

“Oh,” katanya singkat. “Kemarin… aku nerima lamarannya.”

Hening.

Wajah Arin berubah.

Tidak dramatis.

Tidak meledak.

Tapi jelas.

Matanya berkedip sekali terlalu lama. Senyumnya membeku sepersekian detik.

“Oh,” katanya lagi. “Oh… ya?”

Rina langsung berdiri.

“YESSS!” teriaknya sambil mengepalkan tangan ke udara. “AKHIRNYA!”

Beberapa staf menoleh.

“Bukan karena kamu nerima Topan, ya,” lanjut Rina santai sambil duduk lagi. “Tapi karena… kamu kalah,” liriknya pada Arin.

Arin menoleh tajam.

“Rina,” katanya dingin.

Rina tersenyum lebar.

“Santai. Kita kan satu kantor. Harus jujur.”

Arin menarik napas. Mengangguk kecil.

“Selamat ya, Harlia,” katanya, nada suaranya datar. “Semoga… bahagia.”

Lalu Arin pergi. Langkahnya cepat. Punggungnya tegak.

Harlia menatap layar komputernya tanpa benar-benar melihat apa pun. Rina duduk kembali dan masih tersenyum puas.

“Liat tuh mukanya,” kata Rina pelan tapi puas.

“Kayak orang kalah lomba tapi gak boleh nangis.”

Harlia ikut tersenyum. Senyum kecil yang tipis, senyum palsu. Di dalam dadanya, sesuatu terasa runtuh pelan-pelan.

“Rin,” katanya akhirnya. “Lo bisa ikut seneng nggak… tapi jangan terlalu seneng.”

Rina menoleh.

“Kenapa?”

Harlia menghela napas.

“Karena sebenernya… gue gak bahagia-bahagia amat.”

Rina terdiam.

Mereka pergi ke pantry. Pura-pura bikin kopi. Padahal cuma pengin sembunyi. Harlia bersandar ke meja.

“Gue kira,” katanya pelan, “lamaran itu bakal jadi titik bahagia.”

Rina menyeduh kopi instan.

“Maksud lo?”

“Gue kira setelah itu… gue ngerasa aman. Tenang. Menang,” lanjut Harlia. “Ternyata enggak.”

Rina menyerahkan gelas.

“Terus?”

“Semua kayak… berat,” kata Harlia. “Keluarga Topan. Mahar. Acara. Biaya. Gengsi.”

Ia tertawa kecil. Tertawa yang tidak lucu.

“Gue ngerasa egois,” katanya. “Kayak… gue ini cuma pengin nikah supaya gak jadi bahan tertawaan. Tapi akibatnya, orang tua gue yang pontang-panting.”

Rina menatapnya serius.

“Orang tua lo lakuin itu karena sayang,” katanya.

“Justru itu,” jawab Harlia cepat. “Makanya gue ngerasa jahat.”

Ia mengusap wajahnya.

“Bokap gue mau jual tanah kakek,” katanya lirih. “Nyokap gue pura-pura galak, tapi gue tau dia stres.”

Rina terdiam.

“Harlia,” katanya pelan, “lo tau yang paling sadis dari semua ini apa?”

Harlia menggeleng.

“Lo ngerasa harus pantas dulu baru boleh bahagia,” kata Rina. “Padahal… bahagia gak pake syarat.”

Harlia tersenyum pahit.

“Tapi dunia gue pake syarat,” katanya. “Cantik. Langsing. Layak. Nggak nyusahin.”

Ia menatap kopi yang belum diminum.

“Gue capek,” katanya. “Capek jadi bahan omongan. Capek ngerasa salah karena hidup gue sendiri.”

Rina mendekat. Menepuk bahu Harlia.

“Kalau gue jujur,” kata Rina, “gue seneng Arin kalah. Tapi gue lebih pengin lo menang… versi lo sendiri.”

Harlia tertawa kecil.

“Versi gue? Gue aja nggak tau versi gue kayak apa.”

Rina tersenyum miring.

“Mungkin… versi yang nggak maksa diri lo buat nyenengin semua orang.”

Mereka diam.

Di luar pantry, suara kantor kembali normal.

Tawa.

Keyboard.

Telepon.

Harlia berdiri.

“Makasih, Rin.”

Rina mengangguk.

“Apapun yang lo pilih,” katanya, “gue di situ. Mau lo nikah. Mau lo batal. Mau lo kabur ke gunung.”

Harlia tersenyum kecil. Tapi di balik senyum itu, ada luka yang masih basah. Lamaran sudah diterima. Semua orang bersorak. Tapi Harlia mulai sadar satu hal yang kejam. Kadang, menang di mata orang lain bukan berarti menang untuk diri sendiri.