Harlia baru saja turun dari ojek online ketika langkahnya terhenti di depan gang rumah.
Bukan karena capek. Bukan karena sendalnya nyelip. Tapi karena ia melihat seorang pria berjas rapi berdiri di teras rumahnya, memegang map cokelat tebal, sambil berbincang serius dengan ayahnya.
“Pak, nanti kalau ada kabar dari peminat kedua, saya hubungi, ya,” kata pria itu sopan.
“Iya, Mas. Terima kasih,” jawab ayah Harlia.
Pria itu berbalik dan nyaris bertabrakan dengan Harlia.
“Oh—maaf, Mbak,” katanya.
“I-iya,” jawab Harlia gugup.
Pria itu tersenyum profesional.
“Saya agen properti. Kebetulan bantu ayah Mbak.”
Jantung Harlia langsung turun ke tumit.
“Oh,” katanya pelan.
Pria itu pamit, berjalan pergi, meninggalkan Harlia berdiri seperti patung taman yang baru disiram gosip. Begitu pria itu menghilang di ujung gang, Harlia langsung menoleh ke ayahnya.
“Yah,” katanya cepat. “Itu… soal tanah?”
Ayahnya mengangguk santai.
“Iya. Baru ditawarin ke beberapa orang.”
“Sudah dijual?” suara Harlia meninggi.
“Belum,” jawab ayahnya cepat. “Masih ditanya-tanya harga.”
Harlia menghembuskan napas panjang.
“Syukurlah,” gumamnya. “Aku kira sudah laku.”
Dari dalam rumah, suara ibunya menyambar.
“Belum laku tapi sudah bikin pusing!” teriak ibunya. “Ini semua gara-gara mau nikahan!”
Harlia masuk ke rumah dengan wajah setengah lega setengah tegang. Ibunya berdiri di dapur, tangan bersedekap, aura siap perang.
“Ngapain tanah diwariskan malah mau dijual?” lanjut ibunya. “Tanah itu bukan gorengan!”
“Ibu, belum dijual,” kata ayahnya sabar. “Baru ditawarin.”
“Itu sama aja kayak sudah niat!” sahut ibunya.
Harlia menelan ludah.
“Bu,” katanya pelan tapi tegas. “Soal resepsi… aku sudah punya solusi.”
Kalimat itu menghentikan semua suara. Ibunya menoleh perlahan. Seperti kamera slow motion.
“Solusi?” ulang ibunya curiga. “Solusi yang mana? Solusi versi kamu atau solusi versi mimpi?”
Ayahnya menoleh penuh minat.
“Oh, ya? Apa itu, Lia?”
Harlia berdiri lebih tegak.
“Tanah tidak perlu dijual,” katanya mantap. “Resepsi akan aku urus sendiri.”
Sunyi.
Lalu....
“HAH?”
Ibunya hampir menjatuhkan spatula.
“Kamu?” ibunya menunjuk Harlia. “Ngurus resepsi?”
“Iya.”
“Dengan apa?”
“Dengan doa?”
“Atau dengan kupon undian minyak goreng?”
Harlia menghela napas.
“Harlia punya tabungan,” katanya. “Dan Harlia juga akan mengajukan pinjaman di kantor.”
Ibunya mendengus keras.
“TABUNGAN?”
“KAMU?”
Ibunya tertawa pendek. Tawa yang tidak ramah.
“Gaji kamu itu habis buat apa?”
“Cilok!”
“Kopi!”
“Diskon sepatu yang katanya ‘cuma lihat-lihat’ tapi pulang bawa kantong!”
“Bu—” Harlia mencoba menyela.
“Belum lagi skincare yang kamu bilang ‘ini investasi’!” lanjut ibunya. “Investasi muka, bukan masa depan!”
Ayahnya menahan senyum.
“Bu, jangan langsung begitu.”
Ibunya menoleh ke ayahnya.
“Kamu masih percaya anakmu ini bisa nabung?”
Ayahnya mengangguk.
“Percaya.”
Harlia menoleh terharu.
Ayahnya melanjutkan, “Karena selama ini dia juga bantu rumah semampunya.”
Ibunya mendecak.
“Itu mah namanya kontribusi hidup, bukan nabung!”
Harlia menarik napas dalam-dalam.
“Bu,” katanya sedikit meninggi. “Aku serius.”
Ia membuka tas, mengeluarkan ponsel, menunjukkan aplikasi bank.
“Ini tabungan ku,” katanya. “Memang tidak fantastis. Tapi cukup untuk DP WO dan catering sederhana.”
Ibunya melirik. Hanya melirik. Lalu mengibaskan tangan.
“Ah, angka segitu mah kalau salah pesan tenda langsung jebol!”
Harlia mengatupkan rahang.
“Makanya resepsi akan sederhana,” katanya tegas. “Tidak perlu mewah.”
Ibunya membelalak.
“LAH TERUS BUAT APA NIKAH?”
“Bu!” Ayahnya menegur.
Ibunya menarik napas kasar.
“Maaf. Emosi. Tapi kalau cuma segitu tabungan ayah juga ada,” sungut ibunya.
Harlia melanjutkan, “Ayah dan Ibu cukup urus biaya akad nikah saja.”
Ibunya terdiam.
“Kamu yakin?” tanyanya akhirnya, nada mulai turun tapi masih tajam. “Jangan sok jago.”
“Aku yakin,” jawab Harlia. “Ini pernikahan aku. Aku tidak mau Ayah jual tanah demi aku.”
Ayahnya menatap Harlia lama.
“Kamu siap tanggung jawab?” tanyanya pelan.
Harlia mengangguk.
“Siap.”
Ibunya mendengus lagi.
“Kalau nanti kamu kehabisan uang di tengah jalan? Kalau resepsi amburadul? Kalau tamu ngomel karena nasi kurang?”
“Itu risiko ku,” jawab Harlia. “Bukan risiko Ayah dan Ibu.”
Sunyi lagi.
Ibunya duduk di kursi, menghela napas panjang.
“Kamu ini keras kepala,” gumamnya. “Mirip ayahmu.”
Ayahnya tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Ibunya melotot.
“Bukan pujian!”
Harlia tersenyum tipis. Ibunya menatap Harlia lama, lalu berkata pelan tapi menusuk.
“Kalau kamu bohong… kalau kamu cuma sok kuat…”
Harlia mendekat.
“Bu, kalau Harlia jatuh, Harlia jatuh karena pilihan sendiri.”
Ibunya menggeleng pelan.
“Jangan sembrono,” katanya akhirnya. “Nikah itu bukan lomba nekat.”
Harlia mengangguk.
“Iya, Bu.”
Ayahnya berdiri, menepuk pundak Harlia.
“Kita bantu sebisanya,” katanya. “Tapi keputusan kamu kami hormati.”
Ibunya mendengus satu kali lagi. Tanda masih ribut di hati.
“Terserah,” katanya. “Tapi jangan sampai nanti kamu nangis ke ibu sambil bilang ‘kenapa dulu ibu gak larang’.”
Harlia tersenyum kecil.
“Kalau nangis, itu karena bahagia, Bu.”
Ibunya menatapnya sinis.
“Kita lihat aja.”
Di luar, matahari mulai tenggelam. Dan di dalam rumah kecil itu, perang belum selesai
tapi setidaknya tanah masih aman.
Harlia sebenarnya tidak punya firasat apa-apa pagi itu.
Ia hanya menjalankan misi sederhana, mengantar ayahnya ke kantor agen properti untuk menarik iklan jual tanah yang alhamdulillah tidak jadi dijual. Tidak ada drama, tidak ada air mata, tidak ada plot twist.
Setidaknya itu rencananya.
Begitu pintu kaca kantor agen properti terbuka, AC dingin langsung menyambut, diikuti aroma kopi sachet dan harapan palsu orang-orang yang ingin punya rumah tapi cicilannya sampai ubanan.
Ayah Harlia melangkah santai. Harlia menyusul sambil memeriksa ponsel. Dan di situlah dunia berhenti berputar setengah detik.
Di sudut ruangan, dekat meja brosur perumahan elit, berdiri seorang pria dengan kemeja rapi, rambut klimis khas orang yang merasa hidupnya selalu spotlight.
TOPAN.
Topan yang biasanya masuk ruangan dengan aura, “Aku pusat perhatian semesta, silakan antri kagum.”
Sekarang?
Dia tampak gelagapan.
Begitu mata mereka bertemu, Topan refleks berdiri lebih tegak lalu salah berdiri, hampir menyenggol rak brosur.
“Eh, Har?” katanya, terlalu cepat, terlalu keras.
Harlia membeku.
“Topan? Ngapain kamu di sini?”
Nada Harlia otomatis defensif. Bukan marah. Lebih ke kaget campur curiga campur ‘ini adegan apaan’.
Topan tersenyum. Senyum yang… tidak simetris. Tidak percaya diri. Tidak Topan banget.
“Ehehe,” katanya, tawa palsu. “Kebetulan.”
Harlia menyipitkan mata.
“Kebetulan di kantor agen properti? Bukan di minimarket? Bukan di parkiran? Di SINI?”
Topan menggaruk tengkuk.
“Iya. Kebetulan yang… terencana.”
Harlia makin curiga. Sementara itu, ayah Harlia sudah melangkah ke meja resepsionis.
“Selamat pagi, Mbak,” kata ayahnya ramah. “Saya mau menarik iklan jual tanah.”
“Ooh, baik Pak,” jawab resepsionis ceria. “Bapak yang kemarin ditawarin harga itu ya?”
“Iya,” jawab ayahnya. “Tapi batal.”
Topan menoleh cepat ke arah ayah Harlia. Lalu ke Harlia. Lalu kembali ke ayahnya. Ekspresinya seperti orang yang baru sadar salah masuk bab cerita.
Harlia menoleh lagi ke Topan.
“Jawab,” katanya singkat. “Kamu ngapain di sini?”
Topan menarik napas dalam-dalam. Lalu berkata, agak terbata, “Aku… mau beli rumah.”
Harlia terdiam.
“Oh,” katanya datar. “Buat siapa?”
Topan menelan ludah.
“Buat… kita.”
DUN.
Kalimat itu jatuh seperti panci dari lantai dua. Harlia menatap Topan. Serius? Tapi yang keluar...
“Bercanda?” tanyanya pelan.
Topan cepat menggeleng.
“Enggak. Aku serius.”
Harlia mendengus kecil.
“Topan,” katanya, masih denial. “Kamu jangan bercanda di tempat orang jualan mimpi.”
Topan tersenyum lagi. Masih gugup.
“Bukan bercanda,” katanya. “Aku kepikiran… setelah nikah, masa kita ngontrak atau tinggal sama orang tua?”
Harlia membuka mulut. Menutupnya lagi. Hatinya... KLEPEK-KLEPEK.
“Jadi…,” katanya mencoba netral, “kamu mau beli rumah sekarang?”
“Iya,” jawab Topan cepat. “Sudah lihat beberapa cluster.”
Harlia melipat tangan.
“Cluster?”
Topan langsung mode presentasi.
“Iya. Cluster elit,” katanya, nada kembali sedikit sombong. “Konsep Skandinavia.”
“Skandi… apa?”
“Skandinavia,” ulang Topan bangga. “Putih, minimalis, estetik, banyak cahaya alami.”
Harlia mengangguk pelan, pura-pura paham.
“Oh... Kayak rumah Pinterest.”
Topan menunjuk brosur.
“Ini,” katanya. “Type terbesar.”
Harlia melirik brosur itu. Matanya membesar.
“Ini… gede banget.”
Topan tersenyum miring.
“Biar kamu bebas muter-muter.”
Harlia tersedak.
“HAH?”
“Maksudku—” Topan cepat membetulkan, “biar nyaman.”
Harlia menahan senyum. Hatinya makin klepek-klepek.
“Tapi,” lanjut Topan, “ya itu, masih proses.”
“Proses apa?” tanya Harlia.
“Proses… survei,” jawab Topan. “Dan… hitung-hitungan.”
Nada suaranya naik turun seperti orang bohong tapi latihan. Harlia, yang sedang dalam mode ingin percaya, memilih tidak mengulik.
“Oh,” katanya pelan. “Bagus sih.”
Topan tersenyum lega. Sementara itu, ayah Harlia mendekat, membawa map.
“Sudah beres,” kata ayahnya. “Oh, ada Topan?”
Topan langsung menegakkan badan.
“Pak! Saya—eh—lagi lihat-lihat rumah.”
Ayah Harlia tersenyum sopan.
“Rumah? Untuk kamu?”
Topan menelan ludah.
“Untuk… kami, Pak.”
Harlia langsung menyambar momen itu.
“Yah!” katanya semangat. “Topan mau beli rumah!”
Ayah Harlia terkejut.
“Oh ya? Rumah di mana?”
Topan kembali mode brosur.
“Di cluster elit, Pak,” katanya. “Konsep Skandinavia.”
Ayah Harlia mengangguk.
“Oh. Skandinavia.” Lalu menoleh ke Harlia. “Itu negara, kan?”
“Iya, Yah,” jawab Harlia cepat. “Rumahnya putih-putih.”
Topan menimpali, “Dan type terbesar.”
Ayah Harlia mengangkat alis.
“Besar itu relatif,” katanya bijak. “Yang penting kuat bayarnya.”
Topan tertawa kecil.
“Iya, Pak.”
Harlia melirik Topan.
“Kamu serius?” bisiknya.
Topan mengangguk.
“Sangat.”
Dan entah kenapa, meski ada yang terasa aneh cara bicara Topan yang terlalu cepat, tangannya yang sedikit gemetar, senyumnya yang tidak setenang biasanya.
Harlia memilih percaya.
Karena di kepalanya, calon suami yang beli rumah sama dengan aman, sama dengan masa depan, sama dengan Pinterest board hidup.
Ayah Harlia menepuk pundak Topan.
“Kalau niatnya baik,” katanya, “kami doakan.”
Topan tersenyum lebih lebar.
“Terima kasih, Pak.”
Harlia ikut tersenyum. Di dalam hatinya, ia berkata, “Mungkin… Topan memang sedang berubah.”
Di sudut ruangan, brosur Skandinavia itu tergeletak manis.
Dan di balik senyum Topan, tersimpan sesuatu yang belum siap ia ceritakan.