Rasanya Menjadi Milikmu-Rasa yang Kian Pudar-BAB 8

Penulis Ryukaze
13 September 2025

Tubuh besar Ezra bergerak cepat. Tangannya menghantam pintu dengan keras, menutupnya kembali. Bunyi klik otomatis terdengar, kunci digital langsung mengunci dari dalam. Seira menoleh kaget, napasnya tercekat.

Sejenak, hanya suara detak jantungnya yang terdengar.

Ezra berbalik menatapnya, sorot matanya hitam, berkilat, penuh bara. Ia melangkah mendekat, aura tubuhnya menindas ruang di sekitarnya. Seira mencoba mundur, tapi koper di tangannya membuat gerakannya kikuk.

Dalam sekejap, Ezra merebut pegangan koper itu. Dengan satu tendangan kasar, koper terlempar ke samping, menghantam kaki meja, menimbulkan dentuman yang membuat Seira tersentak. Seira terpaku, matanya membesar. Tatapan Ezra tajam, seperti binatang buas yang siap menerkam.

“Bukankah sudah aku bilang,” suaranya rendah, parau, penuh amarah terpendam, “kau tidak akan keluar dari sini tanpa seizinku.”

Seira merasakan jantungnya berdetak hebat, cepat, hampir menyakitkan. Tubuhnya gemetar. Ketakutan itu nyata, meski di baliknya ada rasa lain yang ia benci akui: perasaan terikat pada pesona berbahaya Ezra.

“Ezra… kau tidak bisa berbuat kasar..” suaranya bergetar, nyaris berbisik.

Tanpa memberi kesempatan, Ezra mencengkram pergelangan tangannya dengan keras. Tarikan kasar menyeret tubuh Seira menjauhi pintu, membuatnya setengah terhuyung, langkahnya tidak stabil. Ia mencoba melawan, tapi genggaman Ezra terlalu kuat.

“Lepaskan aku!” Seira menjerit, tapi Ezra tak peduli.

Dengan kasar, ia menyeret Seira kembali ke ruang utama. Satu hentakan keras membuat tubuh Seira jatuh ke sofa, kepalanya nyaris terbentur sandaran. Nafasnya tersengal, tubuhnya gemetar. Ezra berdiri di hadapannya. Matanya tajam, wajahnya tegang. Ia seperti menahan badai di dadanya. Amarah, cemburu, kepemilikan—semuanya bercampur jadi satu.

Seira menggenggam sandaran sofa erat-erat, suaranya pecah. “Kau… mau apa?”

Ezra tidak menjawab.

Sebaliknya, ia mulai mengeluarkan satu per satu benda dari sakunya. Ponsel, dompet, diletakkan di meja. Lalu ia melepas arlojinya, meletakkannya pelan di atas kaca, gerakannya tenang tapi penuh ancaman. Tangannya kemudian bergerak ke ikat pinggang. Gesekan gesper terdengar jelas di ruangan hening. Seira menelan ludah, tubuhnya semakin gemetar.

Gerakan Ezra sama sekali tidak terburu, tapi justru itulah yang membuatnya semakin menakutkan. Seakan-akan ia ingin menunjukkan bahwa semua ini adalah pilihannya, kendalinya.

“Kau menantangku..” Suaranya lirih, dalam, hampir seperti mantra. Ia tidak pernah melepaskan tatapan pada istrinya.

Seira memalingkan wajah, tak sanggup menahan sorot mata itu. Tapi ia bisa merasakannya, aura gelap yang menindih, menekan hingga sulit bernapas. Selama dua tahun pernikahan mereka, Seira belum pernah melihat Ezra seperti ini. Dia tahu suaminya keras, dominan, dan selalu ingin mengendalikan. Tapi malam ini berbeda. Ada sesuatu yang lebih buas di matanya, murka bercampur nafsu.

Detik berikutnya, Ezra bergerak cepat. Ia mendorong tubuh Seira hingga rebah di sofa, kedua lututnya menindih sisi tubuhnya, menjebaknya. “Ezra! Lepas!” Seira memberontak, tangannya mendorong dada suaminya, tapi tubuh Ezra terlalu kokoh.

Ezra mendesah tajam, menekan pergelangan tangan Seira dengan kasar, menahannya di atas kepala. Nafasnya berat, panas, jatuh di wajah Seira. “Sudah cukup..” desisnya, nadanya dingin tapi membakar. “Sudah cukup kau menguji kesabaranku.”

Air mata mulai mengalir di pipi Seira. Ia menggeliat, mencoba lepas, tapi jeratan Ezra terlalu kuat.

“Aku hanya minta satu hal,” lanjut Ezra, matanya menyala, “patuh. Layaknya seorang istri pada suaminya.”

Seira mengguncang kepalanya. “Aku bukan boneka, Ezra! Aku manusia! Aku punya hidupku!”

Tapi Ezra tidak mendengarkan. Ia menunduk, wajahnya turun mendekati leher Seira. Aroma parfum istrinya menyeruak, wangi yang terlalu akrab, terlalu melekat. Dia membenamkan wajahnya di lekukan leher itu, menarik nafas dalam. Aroma kulitnya membuat darahnya semakin mendidih.

Seira bergetar, tubuhnya menegang. “Ezra… kumohon…” suaranya pecah, antara ketakutan dan kelembutan yang masih tersisa untuk suaminya.

Tiba-tiba suara dering handphone terdengar. Nyaring. Berulang.

Suara itu datang dari tas Seira, tergeletak tak jauh dari sofa. Nada deringnya meraung, menusuk ketegangan ruangan.

Tapi Ezra tidak bergeming. Ia tidak menoleh, tidak peduli. Cengkeramannya pada pergelangan tangan Seira semakin kuat, hampir menyakitkan. Nafasnya berembus di kulit lehernya, menyalakan bara ketakutan sekaligus getaran yang Seira benci rasakan.

“Dengar aku baik-baik,” bisik Ezra, suaranya rendah, terpotong oleh desahannya sendiri. “Kau milikku. Dan aku tidak akan biarkan siapa pun atau apa pun, mengambilmu dariku. Bahkan dirimu sendiri.”

Seira menutup mata rapat-rapat, air matanya jatuh. Jantungnya berdetak tak karuan, tubuhnya seperti terselubung bayangan besar yang tak bisa ia hindari. Seira sudah tidak punya tenaga lagi untuk menolak. Tangannya yang terjerat dalam genggaman Ezra akhirnya terkulai, meski tubuhnya masih bergetar hebat. Air mata menetes tanpa henti, membasahi pelipis dan pipinya. Namun kali ini, sorot matanya tidak lagi melawan.

Sorot itu kosong.

Lelah.

Seolah berkata: lakukanlah apa yang kau mau, aku sudah tak peduli lagi. Ezra tidak berhenti menatapnya. Di bawah murka dan bara yang menguasai matanya, ada sesuatu yang lain, obsesi, kepemilikan yang terlalu dalam untuk dilepaskan. Ia menunduk, bibirnya menyusuri kulit leher istrinya, meninggalkan jejak panas yang membuat tubuh Seira semakin kaku.

Tangannya menjelajah tanpa ragu, menuntut kepatuhan yang tidak lagi bisa ditawar. Seira menggigit bibirnya kuat-kuat, begitu keras hingga hampir berdarah, berusaha menahan tubuhnya untuk tidak bereaksi. Ia tidak ingin memberi Ezra kepuasan itu, setidaknya tidak dengan kerelaannya. Tapi tubuh manusia punya batas. Sentuhan Ezra menemukan titik-titik yang terlalu sensitif untuk diabaikan, membuat Seira mengerang kecil meski sekuat tenaga ia menekannya.

“Aku benci kau…” bisiknya lirih di sela air mata.

Ezra tidak menjawab. Ia hanya menggeram rendah, seperti binatang buas yang akhirnya menemukan santapan. Gerakannya semakin intens, namun tidak brutal. Tidak ada kekerasan memukul atau menyakiti, hanya dominasi penuh yang mengikat Seira agar tak punya pilihan lain kecuali melayani.

Di antara isakan tertahan, Seira akhirnya membiarkan dirinya hanyut. Bukan dalam arti menyerah, melainkan pasrah. Ia tahu, semakin ia melawan, semakin besar amarah Ezra. Lebih baik ia diam, lebih baik ia biarkan badai ini reda dengan sendirinya. Detik-detik itu terasa panjang. Nafas Ezra berat, kasar, memenuhi ruang kecil di antara mereka. Tubuhnya panas, menindih, menekan dada Seira hingga sulit bernapas. Seira menatap ke langit-langit, membiarkan air mata terus mengalir. Ia tidak ingin melihat wajah suaminya, tidak ingin melihat bara nafsu itu.

Dan akhirnya, pelepasan yang ditunggu datang. Suara erangan Ezra berat, kasar, tepat di telinga Seira. Napasnya tercekat, menurun, tubuhnya menegang sesaat sebelum akhirnya meluruh. Ia terkulai di atas tubuh istrinya, dadanya naik turun, keringatnya menetes.

Seira terdiam. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit. Ia merasa kosong. Hampa. Membiarkan sejenak Ezra terkulai diatas tubuhnya. Bibirnya bergetar, lalu kalimat dingin itu keluar. “Boleh aku pergi sekarang?”

Nada suaranya pasrah, bergetar, menahan tangis yang hampir pecah lagi. Tidak ada emosi selain kelelahan yang teramat dalam. Ezra membuka mata perlahan, menatap wajah istrinya dari jarak dekat. Ia terdiam, lalu dengan enggan mengangkat tubuhnya, bangkit duduk di sofa. Tangannya menelusuri rambutnya, menarik nafas panjang, mengaturnya kembali tenang. Tatapannya masih tajam, tapi tidak lagi dibakar murka yang sama seperti sebelumnya.

Seira segera bangkit, merapatkan pakaiannya yang berantakan. Ia tidak menoleh ke arah Ezra. Langkahnya gemetar ketika berdiri, namun ia memaksakan kaki untuk melangkah menuju kamar mandi. Pintu ditutup, bunyinya bergema di telinga Ezra. Di dalam kamar mandi, Seira menatap bayangan dirinya di cermin. Wajahnya basah oleh air mata, rambutnya berantakan, dan kulitnya dipenuhi tanda merah. Di dada, di bahu, di leher semuanya bekas cengkeraman dan ciuman Ezra.

Tangannya terangkat, menyentuh lehernya sendiri. Rasa perih bercampur panas merayap di kulitnya. Bibirnya bergetar, lalu ia mengusap kasar air mata di pipinya. "Aku harus tegar. Aku tidak boleh hancur di depannya."

Seira memutar keran air. Membiarkan air dingin membasahi wajah, tubuh, seolah bisa membersihkan setiap jejak yang ditinggalkan Ezra. Namun air tidak bisa menghapus rasa sesak di dadanya. Tidak bisa menghapus fakta bahwa dirinya baru saja menyerah pada kuasa suaminya. Setelah cukup lama, ia keluar dari kamar mandi dengan langkah berat. Tubuhnya sudah bersih, rambutnya sedikit basah, dan ia mengenakan pakaian baru. Namun sorot matanya tetap sama: dingin, kosong.

Di ruang tengah, Ezra masih duduk di sofa. Celananya sudah ia rapikan, namun tubuh bagian atasnya telanjang, memperlihatkan dada bidangnya yang masih basah oleh keringat. Tatapannya mengunci pada Seira begitu pintu terbuka. Seira berhenti sejenak, lalu melangkah melewatinya tanpa bicara. Ia menuju lemari, mengambil pakaian lain.

Ezra hanya menatap, tidak menghentikan. Namun matanya jelas menuntut sesuatu. Pengakuan. Bahwa ia berhasil menundukkan istrinya. Bahwa Seira ada di bawah kendalinya. Namun Seira tidak memberinya itu. Air matanya kembali menggenang, tapi ia menahannya sekuat tenaga. Giginya menggigit bibir bawah hingga nyeri.

Ezra menyandarkan tubuh ke sofa, bahunya tegang. Ia masih menatap, matanya dingin tapi penuh kepemilikan. Bagi Ezra, kemenangan bukan hanya pelepasan tadi, tapi juga menunggu pengakuan dari bibir istrinya. Namun bagi Seira, diam adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang tersisa. Ia tahu amarahnya sia-sia. Ia tahu, Ezra tidak akan pernah peduli pada tangisnya.

Ezra berdiri diam, menatap punggung Seira yang perlahan menjauh. Suara pintu otomatis kembali terkunci dengan bunyi lembut yang bergema di ruang megah itu. Hampir tak ada ekspresi di wajahnya.

Namun di dalam dadanya, sesuatu remuk. Dia merasakan ada retakan yang semakin melebar dalam rumah tangganya, meski lidahnya menolak untuk mengakuinya.

Ezra bukan pria yang dibesarkan untuk menerima penolakan. Sejak kecil, ia adalah tuan muda yang selalu dilayani, selalu dipenuhi keinginannya. Dunia berputar di sekelilingnya, setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah perintah, dan tidak ada satu pun orang yang berani mengatakan tidak. Lalu datanglah Seira.

Wanita yang dari kecil justru dibesarkan dalam kebebasan, diberi sayap untuk terbang setinggi-tingginya. Mimpi-mimpi yang besar, cita-cita yang nyaris tak terjamah, tapi ia kejar dengan keberanian penuh. Ezra menundukkan kepalanya, menarik napas panjang. Ia tahu, apa yang menyatukan mereka dulu bukanlah keserakahan atau paksaan. Perasaan itu datang murni.

Karena saling memahami.

Karena saling membutuhkan.

Karena di dalam pernikahan itu, keduanya pernah menemukan rumah.

Ezra memalingkan tatapan ke sudut ruangan. Di sana, sebuah pigura besar berdiri di atas meja kaca: foto pernikahan mereka. Seira dalam gaun putih yang anggun, tersenyum penuh cahaya. Dirinya, dalam setelan hitam klasik, menatap dengan bangga.

Foto itu dulu adalah harta. Simbol bahagia yang ingin ia jaga selamanya. Kini, saat matanya menatap gambar itu, rasanya seperti melihat mimpi indah yang mulai pudar, perlahan menghilang seiring ia terjaga.Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, namun tidak ada emosi yang benar-benar keluar. Amarah tadi telah menguras habis tenaga dan batinnya.

Akhirnya ia melangkah menuju kamar tidur. Menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang dingin, tapi masih menyisakan aroma tubuh Seira di bantal dan selimut. Wangi parfum khas istrinya, bercampur dengan jejak tubuh mereka yang baru saja bersinggungan. Ezra menutup mata. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penyesalan.

Yang ada hanya kelelahan, yang akhirnya menyeretnya perlahan ke dalam tidur.