Dua Ratus Lima Puluh Ribu

Penulis BurungBiru
16 January 2026

Jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit ketika Pak Hasan menginjakkan kaki di halaman pool. Udara pagi masih dingin, sisa embun menempel di kaca mobilnya. Di jam seperti ini, kota baru mulai bangun. Warung kopi perlahan menata meja dan kursi. Pedagang kaki lima mulai menurunkan dagangan mereka dari gerobak. Motor satu dua melintas dengan lampu menyala. Sopir seperti Pak Hasan sudah lama berada di jalan sejak absen jam tiga dini hari.

Ia mematikan mesin sebentar. Bukan karena lelah, tapi karena belum ada order masuk. Biasanya jam segini sudah ada satu atau dua penumpang menuju stasiun atau perkantoran. Pagi ini agak berbeda. Ia membuka botol minum. Airnya tinggal setengah. Ia menyesap perlahan, lalu menutup kembali. Tangannya refleks mengusap wajah.

“Masih panjang,” gumamnya. Ia tahu, hari ini tidak akan mudah.

Pak Hasan memarkir mobil rapi di tepi jalan yang cukup lebar. Tidak mengganggu lalu lintas, tidak menutupi pintu toko. Sudah belasan tahun di jalan membuatnya peka terhadap posisi parkir. Ia mengamati sekitar. Beberapa sopir lain sudah menunggu di titik favorit masing-masing. Suasana pagi tenang, hanya suara kendaraan berlalu-lalang di jalan utama.

Beberapa menit berlalu. Order belum masuk. Pak Hasan menyalakan mesin lagi, bergeser pelan beberapa meter, lalu berhenti. Kadang berpindah sedikit bisa memancing sinyal, kadang tidak. Ia menunggu sambil menatap ponsel, menghitung waktu yang berlalu, memperhatikan pejalan kaki yang terburu-buru.

Sekitar pukul enam, order pertama masuk. Tidak jauh. Penumpangnya seorang pria muda, berpakaian rapi, hendak ke kantor. Perjalanan singkat. Lancar. Pak Hasan tidak banyak berbicara. Setelah sampai, penumpang itu mengucapkan terima kasih. Pak Hasan tersenyum, menandai awal hari yang lumayan.

Setelah itu, kosong lagi. Jalanan mulai ramai. Mobil-mobil pribadi dan motor saling berseliweran. Ia berpindah dari titik ke titik: dekat stasiun, perempatan besar, lalu jalan yang biasa ramai kendaraan umum. Setiap kali berpindah, ia menyesuaikan posisi mobil agar tetap terlihat dan mudah diakses oleh penumpang.

Sekitar pukul sembilan, Pak Hasan memarkir mobil di dekat deretan ruko yang sebagian masih tutup. Ia tidak turun. Hanya menunggu. Sambil duduk di kursi pengemudi, ia menyesap kopi sachet dari termos kecil, menghirup aroma hangatnya. Matahari sudah mulai menebar panas. Ia menatap jalan, memantau gerak kendaraan.

Tiba-tiba, sebuah mobil derek berhenti tidak jauh darinya. Dua orang berseragam turun. Salah satu mendekat, yang lain mengawasi sekitar. Pak Hasan tetap duduk tenang. Awalnya ia tidak curiga, sampai salah satu petugas mengetuk kaca mobilnya.

“Pak, ini tidak boleh parkir di sini,” kata petugas itu.

Pak Hasan menurunkan kaca. “Maaf, Pak. Saya hanya menunggu order. Tidak lama.”

“Ini zona larangan parkir, Pak,” kata petugas dengan nada datar.

Pak Hasan melihat sekitar. Tidak ada rambu jelas di dekat mobil. Ia menunjuk ke depan. “Di sana tidak ada tanda, Pak.”

Petugas itu menghela napas. “Sudah sering kami ingatkan. Bapak harus pindah.”

“Iya, Pak. Saya pindah sekarang,” jawab Pak Hasan. Ia menyalakan mesin, siap bergeser.

Namun sebelum kakinya menginjak gas, petugas lain sudah berdiri di depan mobil derek.

“Pak, ini sudah kami catat. Mobil harus diderek,” katanya.

Pak Hasan terkejut. “Lho, Pak. Saya sudah mau pindah.”

Petugas itu menggeleng. “Sudah kena. Aturannya begitu.”

Dada Pak Hasan terasa sesak. Ia menelan ludah. “Pak, saya cari makan. Ini mobil kerja.”

Petugas tidak meninggikan suara. Tapi juga tidak melunak. “Silakan ikut ke kantor. Nanti diurus.”

Pak Hasan hanya bisa mengangguk. Ia mengunci pintu, mengambil tas kecil, lalu ikut naik kendaraan petugas. Sepanjang perjalanan, ia diam. Tangannya menggenggam tas. Pikirannya melayang ke setoran hari ini, ke jam yang terus berjalan, ke angka yang sudah ia kumpulkan sejak subuh.

Di kantor derek, proses berjalan cepat. Tidak berbelit. Tidak ada teriakan, tapi setiap langkah terasa berat. Petugas menyebutkan denda: dua ratus lima puluh ribu rupiah.

Pak Hasan menunduk. Angka itu bukan kecil. Bisa menjadi tambahan untuk menutup setoran. Bisa menjadi uang belanja rumah. Ia meneliti lembaran uangnya satu per satu. Tangannya sedikit bergetar, tapi ia menyerahkan semua tanpa protes.

Setelah selesai, mobil dikembalikan. Pak Hasan kembali duduk di balik setir. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas. Setengah hari terasa hilang. Napasnya panjang, tubuhnya lelah, tapi ia tahu, pekerjaan tetap harus dilanjutkan.

Siang itu, ia mencoba mengejar ketertinggalan. Order masuk, tapi tidak banyak. Panas mulai terasa, membuat tubuh cepat lelah. Pikirannya bercabang antara fokus menyetir dan menghitung angka setoran.

Sore datang. Ia berhenti sebentar membeli minum, duduk di mobil dengan pintu terbuka. Angin sore masuk, menyejukkan wajahnya. Ia melihat angka setoran. Jauh dari cukup. “Ya sudah,” gumamnya. “Jalani saja.”

Malam turun. Lampu-lampu jalan menyala. Ia tetap narik. Semua order diterima. Tidak menolak.

Sekitar pukul sembilan, ia mendapat penumpang seorang perempuan tua. Tujuannya tidak jauh. Perempuan itu duduk pelan, membawa tas kain kecil.

“Pak, terima kasih mau antar,” katanya.

“Iya, Bu,” jawab Pak Hasan.

Di tengah perjalanan, perempuan itu menoleh. “Kerja dari pagi ya, Pak?”

“Iya, Bu. Dari subuh.”

“Capek ya,” ucap perempuan itu.

Pak Hasan tersenyum kecil. “Namanya kerja, Bu.”

Perempuan itu mengangguk. “Semoga sehat selalu.”

Setibanya di tujuan, perempuan itu memberikan uang lebih sedikit dari tarif. “Ini buat kopi, Pak.”

Pak Hasan kaget. “Bu, ini kebanyakan.”

“Tidak apa-apa,” kata perempuan itu sambil tersenyum. “Saya senang dianter dengan baik.”

Pak Hasan terdiam sejenak. Sebuah kehangatan muncul dari kata sederhana.

Malam terus berjalan. Order datang sedikit demi sedikit. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuatnya tetap di jalan. Jam mendekati pukul dua belas. Pak Hasan menatap jam, menyadari waktunya hampir habis. Ia kembali ke pool dengan perasaan campur aduk.

Di pool, suasana sudah lebih ramai. Beberapa sopir baru datang, beberapa duduk di bangku sambil berbicara pelan. Wajah lelah membawa cerita masing-masing. Pak Hasan memarkir mobil dengan rapi. Mematikan mesin, duduk sebentar, menarik napas panjang.

Di ruang setoran, ia mengantre. Petugas menghitung uang. “Kurang segini, Pak,” katanya.

Pak Hasan mengangguk. “Iya, Pak.”

“KS?” tanya petugas.

Pak Hasan diam beberapa detik. Lalu mengangguk. “Iya.”

Proses berjalan cepat. Tidak ada komentar, tidak ada sindiran. Semua sopir tahu, hari seperti ini bisa menimpa siapa saja.

Selesai urusan, Pak Hasan keluar. Malam terasa berat. Ia duduk sebentar di bangku luar, menatap lantai. Hari ini ia kehilangan waktu, tenaga, dan sebagian uang. Tapi ia masih bisa pulang.

Di rumah, istrinya menyambut dengan wajah khawatir.

“Kenapa?” tanyanya.

Pak Hasan duduk pelan. “Tadi diderek.”

Istrinya terdiam. “Denda?”

“Iya.”

Tidak ada amarah, tidak ada tangisan. Hanya keheningan sebentar.

“Besok dibayar KS-nya,” lanjut Pak Hasan.

Istrinya mengangguk. “Yang penting Bapak pulang.”

Malam itu, Pak Hasan berbaring sambil menatap langit-langit rumah. Tubuhnya lelah. Matanya sulit terpejam. Besok, jam tiga dini hari, ia akan kembali absen, kembali ke jalan, kembali mencoba.

Karena bagi sopir seperti dirinya, jatuh bukan akhir. Itu hanya bagian dari perjalanan. Selama setir masih bisa ia pegang, harapan belum benar-benar hilang.