Malam itu, kota terasa berbeda. Lampu jalan kuning redup memantul di aspal yang basah. Jalanan lengang, tapi beberapa kendaraan tetap melintas. Di tepi jalan dekat ruko tua yang sebagian tutup, sebuah mobil biru terparkir rapi. Pak Budi duduk di kursi pengemudi, menyeruput kopi hangat dari gelas plastik. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Udara malam yang dingin membuat napasnya terlihat tipis.
“Sepi lagi malam ini,” gumam Budi pelan.
Ia menyalakan mesin, bergeser pelan beberapa meter, lalu berhenti lagi. Kadang sedikit berpindah posisi bisa memancing order masuk lebih cepat. Tapi malam ini, order belum juga muncul.
Di pinggir jalan, beberapa sopir lain duduk di kursi lipat, mengobrol sambil makan gorengan dan menyeruput kopi sachet. Pak Roni, sopir senior, menoleh ke Budi.
“Budi, ada cerita lucu malam ini?”
Budi tersenyum. “Belum, baru menunggu. Tapi percayalah, kalau sudah ada penumpang, pasti lucu.”
Tak lama, order masuk. Penumpangnya seorang ibu muda yang pulang dari kerja. Kursi belakang penuh dengan tas kerja. Ibu itu mengeluh lelah, tapi Budi menanggapi dengan senyum dan bercanda ringan. Ia pura-pura mobilnya bisa terbang, pura-pura lampu jalan berubah menjadi lampu disko. Ibu itu terkikik, tertawa kecil.
Setelah mengantar ibu itu, Budi kembali ke jalan. Di lampu merah, ia melihat seorang anak kecil berdiri dengan tas ransel besar. Matanya bersinar tapi ragu-ragu.
“Pak, boleh ikut ke stasiun?” tanya anak itu polos.
Budi tersenyum. “Tentu, Nak. Naik sini saja.”
Dalam perjalanan, Budi bercanda seolah mobilnya adalah pesawat, seolah jalanan adalah lintasan roller coaster. Anak itu tertawa terbahak-bahak, matanya bersinar. Saat sampai di stasiun, anak itu turun dengan lincah.
“Terima kasih, Pak. Mobilnya keren,” katanya sambil melambai.
Budi menyalakan mobil lagi. Jalanan semakin sepi. Ia melihat beberapa sopir lain tertawa sambil menunggu penumpang di pinggir jalan. Mereka saling menertawakan pengalaman lucu masing-masing, berebut gorengan, bercanda soal target setoran.
Order berikutnya datang. Penumpangnya sekelompok mahasiswa yang baru pulang dari perpustakaan. Mereka bercanda sepanjang perjalanan, membahas skripsi dan film terbaru. Budi ikut nimbrung, memberi komentar lucu yang membuat mereka tertawa lebih keras.
“Pak, jangan terlalu cepat, nanti saya muntah,” kata salah satu mahasiswa.
Budi menoleh lewat kaca spion, tersenyum. “Tenang, Mas. Saya bukan sopir balap.”
Setelah menurunkan mahasiswa itu, Budi kembali menunggu. Malam terasa panjang, tapi penuh tawa. Ia mulai menikmati ritme ini. Setiap penumpang membawa cerita sendiri, membuatnya tertawa, cemas, atau tersentuh.
Tidak lama, ia mendapat penumpang seorang pria tua yang membawa kucingnya dalam kardus. Kucing itu mengeong keras. Budi menepi, membuka kaca.
“Pak, mau diantar sebentar?”
Pria tua itu terkejut tapi lega. “Ah, terima kasih, Mas. Saya cuma ingin sampai ke rumah tetangga, kucing ini harus segera ketemu dokter.”
Perjalanan penuh canda. Kucing itu tenang, sesekali mengeong pelan. Budi menahan tawa, pura-pura mengobrol dengan kucing seolah bisa mengerti. Sesampainya di tujuan, pria tua itu membayar dengan uang kecil. Budi tersenyum.
Jam menunjukkan hampir pukul satu dini hari. Budi merasa lelah tapi tidak ingin berhenti. Setiap penumpang membawa cerita yang membuatnya tetap terjaga. Order masuk terus, mulai dari pasangan muda yang baru pulang dari bioskop, sampai ibu rumah tangga yang membeli bahan makanan di pasar malam.
Jam terus bergerak. Order semakin sporadis, tapi Budi tetap bertahan. Sesekali ia berhenti di warung kaki lima, membeli gorengan, menyeruput teh hangat, duduk sebentar sambil menikmati udara malam. Sopir lain lewat, memberi kode tangan. Mereka saling tersenyum, tahu bahwa malam ini berat tapi lucu.
Sekitar pukul dua dini hari, Budi mendapat order dari seorang pria mabuk. Bau alkohol menyengat, gerakannya tidak stabil. Budi menahan napas, menyiapkan kursi dengan handuk tambahan. Pria itu tertawa sendiri, sesekali membentur dinding mobil. Budi tetap tenang, berbicara dengan lembut.
“Tenang, Pak. Kita pelan saja,” katanya.
Perjalanan berjalan lambat. Untungnya, seorang teman sopir yang menunggu di pool menelpon Budi, menemaninya di telepon, memberi instruksi cara menenangkan penumpang. Akhirnya, pria mabuk itu turun dengan selamat di rumahnya. Budi menghela napas panjang, merasa lega.
Setelah itu, order mulai berkurang. Lampu jalan mulai redup, udara malam terasa dingin. Budi menyalakan mobil terakhir untuk pulang ke pool. Malam panjang, lelah, tapi penuh cerita.
Sesampainya di pool, beberapa sopir baru datang, beberapa tampak berdiskusi pelan. Wajah-wajah lelah dengan cerita masing-masing. Budi memarkir mobil, mematikan mesin. Duduk sebentar di kursi pengemudi, menarik napas panjang.
Lampu pool yang pucat membuat bayangan mobil berderet panjang di halaman. Suasana hening, hanya terdengar suara sepeda motor lewat dari jalan besar. Sesekali terdengar suara sopir lain bercanda ringan atau menepuk bahu temannya yang baru pulang dari narik.
Pak Roni datang menghampiri, membawa secangkir kopi hangat. “Capek, ya, Budi?”
Budi tersenyum tipis. “Lelah, tapi malam ini seru. Banyak cerita lucu, banyak penumpang aneh.”
Roni duduk di bangku samping. “Ada yang lucu banget?” tanyanya sambil menyeruput kopi.
Budi menggeleng. “Semua lucu. Tapi yang paling bikin saya ngakak, tadi ada penumpang mabuk yang sempat bingung sendiri di kursi belakang. Untung ada teleponan sama temen sopir, akhirnya aman.”
Roni tertawa. “Itu yang namanya malam panjang, tapi penuh cerita. Besok bisa buat cerita buat anak istri, ya.”
Budi tersenyum. Ia menatap deretan mobil yang mulai kosong, beberapa sopir sudah naik motor pulang. Ada rasa lega di dadanya. Malam panjang yang melelahkan ternyata tetap menyisakan kepuasan.
Budi turun dari mobil, membuka pintu, dan menarik napas dalam. Udara malam dingin tapi segar. Ia menyadari sesuatu. Malam ini ia tidak hanya mengantar orang, tapi juga mendengar cerita, tertawa, bahkan ikut sedikit berperan dalam kisah mereka. Setiap penumpang memberi pengalaman baru. Kadang lucu, kadang menyentuh, kadang bikin kepala pusing, tapi selalu nyata.
Pak Budi berjalan perlahan ke bangku dekat pool, duduk, dan menatap langit malam yang gelap dengan bintang samar. Sesekali lampu mobil dari jalan besar memantul di kaca, memberi cahaya tipis yang menenangkan. Ia menutup mata sebentar, membiarkan tubuh dan pikiran rileks.
Roni duduk di sampingnya lagi, kali ini hanya untuk menenangkan diri setelah malam panjang. “Budi, besok jangan lupa tidur lebih awal sebelum absen lagi,” katanya.
Budi mengangguk. “Iya, Bang. Tapi besok pasti ada cerita baru. Penumpang baru, pengalaman baru.”
Mereka diam beberapa saat. Hanya suara malam dan angin yang mengelus rambut. Ada rasa damai meski lelah masih menempel di tubuh.
Akhirnya, Budi berdiri, menutup pintu mobilnya, dan mempersiapkan diri untuk pulang. Ia naik motor, menyalakan lampu, dan perlahan meninggalkan pool. Jalanan sepi, tapi terasa aman. Sesekali ia tersenyum, membayangkan wajah-wajah penumpang malam ini, tawa mereka, cerita mereka, dan sedikit kekacauan yang sempat terjadi.
Di rumah, istrinya menunggu dengan secangkir teh hangat. “Bagaimana malam ini?”
Budi tersenyum lelah tapi bahagia. “Lucu, seru, dan melelahkan, Bu. Banyak cerita.”
Istrinya tersenyum balik. “Yang penting Bapak pulang dengan selamat.”
Budi menaruh helmnya, duduk di kursi, dan menatap langit-langit rumah. Matanya berat tapi hati terasa ringan. Ia tahu besok pukul tiga dini hari, alarm akan berbunyi lagi. Ia akan kembali ke pool, kembali menempuh jalan, kembali bertemu penumpang baru, dan membawa cerita mereka pulang.
Ia tertawa pelan sendiri. Malam ini panjang, lelahnya terasa nyata, tapi setiap tawa dan cerita kecil membuat semuanya terasa layak. Karena bagi sopir seperti Budi, hidup di jalan adalah tentang bertahan, tentang cerita, tentang tawa yang muncul dari hal-hal sederhana.
Dan saat lampu rumah mati, malam pun terasa lebih damai. Budi tertidur dengan senyum tipis di wajahnya, bersiap untuk hari baru, cerita baru, dan pengalaman baru yang akan datang besok.