Malam itu hujan turun tipis. Lampu jalan memantulkan cahaya di aspal yang basah. Suara tetesan hujan di atap mobil menenangkan sekaligus membuat lelah. Pak Teguh baru saja selesai absen jam tiga dini hari di pool. Tubuhnya pegal, tapi pikirannya sudah fokus pada ritme kerja yang biasa: narik, antar penumpang, dan kembali ke pool.
Ia memanaskan mesin mobil sebentar, menyesap kopi hangat dari termos, lalu keluar perlahan ke jalan. Udara malam dingin, namun tidak menusuk. Jalanan masih sepi. Hanya beberapa motor dan satu-dua mobil yang melintas.
Order pertama masuk ketika ia baru sampai di perempatan dekat stasiun. Penumpangnya seorang perempuan muda, mengenakan jaket tebal. Rambutnya basah karena hujan.
“Pagi, Pak,” katanya sambil membuka pintu.
“Selamat pagi, Bu. Tujuan ke mana?” tanya Pak Teguh sambil menyalakan wiper.
“Rumah sakit, Pak. Jemput orang tua,” jawabnya. Nada suaranya tenang, tapi terlihat cemas.
Selama perjalanan, percakapan terbatas. Pak Teguh hanya menanyakan apakah ia tahu jalan atau lebih nyaman mengikuti aplikasi. Perempuan itu tersenyum tipis. “Ikuti aplikasi saja, Pak. Saya juga sering naik taksi.”
Di tengah perjalanan, lampu kota mulai menyala lembut. Suara hujan pelan, namun tetap menetes di kaca. Pak Teguh memanfaatkan momen itu untuk mengatur napas. Ia sadar, narik malam dan hujan seperti ini butuh fokus ekstra.
Sesampainya di rumah sakit, perempuan itu turun dengan cepat. “Terima kasih, Pak,” katanya sambil memberikan uang lebih dari tarif. “Biar untuk kopi.”
Pak Teguh tersenyum. “Terima kasih, Bu. Semoga sehat selalu.”
Order selesai, tapi hujan belum berhenti. Ia memilih menepi di dekat halte bus yang sepi, menunggu order berikutnya. Ponselnya bergetar. Order kedua masuk. Jaraknya tidak jauh, ke sebuah kawasan perkantoran. Penumpangnya seorang pria paruh baya.
Di dalam mobil, pembicaraan mengalir lebih santai. “Bapak sopir sudah lama, Pak?” tanya penumpang.
“Saya sudah 8 tahunjasi sopir taksi, Pak” jawab Pak Teguh.
"Wah, udah lama juga ya Pak. Jam kerjanya tuh gimana sih, Pak?"
"Hahaha... jam kerja sopir taksi itu lama mas. Absen tengber tuh jam 3 subuh, balik ke Pool paling telat jam 12 malam." jawab pak Teguh sembari tertawa kecil.
"Hampir seharian di jalanan ya, pak."
"Ya... namanya bekerja. Kalau saya sih nikmati aja."
Pria itu tersenyum. “Saya pernah lihat sopir seperti Bapak. Kerja keras, tapi tetap sabar. Itu hebat.”
Pak Teguh mengangguk pelan. Hati terasa hangat. Kadang kata sederhana bisa memberi energi lebih dari sekadar uang.
Pagi berganti siang. Jalanan mulai ramai. Kendaraan pribadi bertambah, orang-orang buru-buru ke kantor. Pak Teguh berpindah ke titik ramai, berharap mendapat order lebih banyak. Namun, tidak setiap kali ramai, order datang. Kadang sepi, kadang penuh kejutan.
Sekitar pukul sebelas, ia menepi sebentar untuk membeli gorengan dan minum. Duduk di mobil, menikmati udara. Melihat kota dari sisi lain. Di sisi jalan lain, sopir lain juga menunggu. Beberapa menyapa singkat, beberapa diam, menikmati waktu tenang sebelum jam sibuk datang.
Siang datang. Order banyak, tapi rata-rata jarak dekat. Tarikannya kecil. Beberapa penumpang cerewet, beberapa baik. Pak Teguh belajar membaca situasi. “Kalau penumpang capek, jangan dipaksa bicara,” pikirnya. Ia mengangguk kecil pada dirinya sendiri.
Sekitar pukul dua siang, hujan reda. Matahari muncul kembali. Jalanan mulai padat. Pak Teguh berhati-hati. Terkadang, pengendara motor memotong jalannya. Ia tidak marah. Hanya fokus, bernapas dalam, menekan gas perlahan.
Pukul empat sore, ia mendapat order agak jauh. Seorang ibu bersama anak kecil. Mereka hendak pulang dari rumah sakit anak. Anak itu menangis, tidak nyaman duduk terlalu lama. Pak Teguh menyalakan AC lebih rendah, menanyakan mainan atau botol susu. Ibu itu tersenyum lega. “Terima kasih, Pak. Perjalanan jadi lebih nyaman.”
Setelah itu, ia berpindah ke titik lain. Jalan menuju pasar. Order datang sedikit, namun lumayan. Ia menurunkan penumpang dengan sopan, mengucap salam, menerima pembayaran.
Menjelang malam, matahari mulai tenggelam. Lampu jalan menyala. Udara semakin dingin. Jalanan mulai ramai lagi, orang pulang kerja. Pak Teguh memilih titik yang biasa ramai penumpang malam: dekat perkantoran yang kosong, terminal kecil, beberapa kafe yang baru tutup.
Order datang bertahap. Sebagian singkat, sebagian agak jauh. Beberapa penumpang lucu, ada yang terlalu banyak bicara, ada yang diam seribu bahasa. Pak Teguh menyesuaikan diri, menyeimbangkan kesabaran dan fokus.
Sekitar pukul sembilan malam, ia mendapat order yang tidak biasa. Seorang laki-laki muda, mabuk ringan, ingin diantar ke rumah. Sepanjang perjalanan, laki-laki itu bercanda, terkadang mengeluh karena mabuk, sempat muntah kecil di tisu yang disediakan Pak Teguh.
Pak Teguh tetap tenang. Ia membuka jendela sedikit, menanyakan apakah ingin berhenti sebentar atau lanjut. Laki-laki itu memilih lanjut. Pak Teguh menahan napas, mengatur mobil tetap stabil, sambil sesekali menenangkan.
Sesampainya di tujuan, penumpang itu memberikan uang lebih. “Maaf ya, Pak. Terima kasih banyak.” Pak Teguh tersenyum. “Tidak apa-apa. Semoga istirahat cukup.”
Malam semakin larut. Jam hampir menunjukkan pukul dua belas. Pak Teguh memutuskan kembali ke pool. Sepanjang perjalanan, pikirannya melayang. Hari ini berat, tapi ia bersyukur. Ia menatap jalan, lampu kota, kendaraan yang mulai sepi.
Di pool, suasana lebih ramai dari biasanya. Beberapa sopir baru datang. Mereka saling menyapa, bertukar cerita singkat. Pak Teguh memarkir mobil, menutup pintu. Tangannya menggenggam catatan setoran.
Di ruang setoran, proses berjalan cepat. Petugas menghitung, menekan angka di mesin. Pak Teguh menunggu dengan tenang. Hasilnya cukup, walau ada kekurangan sedikit. Ia tahu, besok bisa menutupnya. Tidak ada drama, tidak ada komentar tajam. Semua sopir mengerti, hari seperti ini bisa menimpa siapa saja.
Selesai urusan, Pak Teguh duduk sebentar di bangku luar. Menatap lantai, lampu neon, mobil-mobil yang keluar-masuk. Tubuhnya lelah, tapi ada kepuasan tersendiri. Hari ini ia tidak kalah. Ia hanya menyesuaikan ritme, menghadapi tantangan, melanjutkan pekerjaan.
Ia pulang menggunakan kendaraan umum. Duduk dekat jendela, menatap kota yang mulai sepi. Lampu-lampu mulai padam satu per satu. Di rumah, istrinya menyambut dengan senyum lelah.
“Bagaimana, Pak?” tanyanya.
“Lumayan, Bu. Hari ini ada beberapa yang bikin lega.”
Mereka makan sederhana, saling bertukar cerita. Tidak ada keluhan besar, hanya keheningan yang nyaman.
Malam itu, Pak Teguh tidur lebih cepat. Alarm disetel lagi untuk pukul dua dini hari. Besok, jam tiga, ia akan kembali ke jalan. Menarik penumpang, menghadapi hujan, panas, mabuk, ceria, dan lelah.
Karena bagi sopir seperti Pak Teguh, jatuh atau kelelahan bukan akhir. Itu hanya bagian dari perjalanan. Selama setir masih di tangan, harapan selalu bisa muncul.