Kumpulan Cerpen_Homang

17 January 2026

Part 1 Terlihat seorang lelaki dengan tubuh kurusnya, mematung di pinggir sebuah jembatan antar desa. Dirinya tampak tak berekspresi memandang tubuh yang terdiam di depannya. Hujan deras yang mengguyur pagi ini dirasakan sangat menguntungkannya . Guyuran air hujan ini, akan membasuh habis darahnya korban yang berceceran, tinggal melemparkan saja mayatnya ke bawah jembatan ini dan selesai sudah tugasnya. Meski, dirinya tahu, sehebat apapun hujan yang turun, tidak akan bisa menghilangkan rasa bersalah dari hatinya. Tak lama terdengar suara petir bersahutan. Lelaki itu langsung meninggalkan tempat tersebut. Seluruh bajunya basah kuyup. Segera dilepasnya semua yang melekat di tubuhnya kecuali celana dalamnya, kemudian membuang semua baju dan celana panjangnya ke dalam bak sampah , depan sebuah rumah, entahlah rumah siapa. Kemudian lelaki tersebut segera berlari di bawah guyuran hujan yang semakin tebal. Dirinya tak mempedulikan lagi keadaannya. Yang penting cepat sampai rumah, sebelum ada yang memergokinya berkeliaran tanpa busana. Brak! Suara pintu dibuka dengan cepat. Air hujan dini hari ini begitu sangat dingin. "Kebiasaan kamu Pak, ayo, cepat! ke kamar mandi. Keringkan tubuhmu segera. Sudah laksanakan tugasmu Pak?" Lelaki yang dipanggil “Pak” tersebut segera mengangguk. Dengan berjalan berhati-hati, segera menuju kamar mandi. Wanita yang tadi menyuruhnya, mengepel lantai yang sudah becek bersimbah air bekas tetesan dari tubuh lelaki setengah tua tersebut. Tak lama, lelaki tersebut sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk saja. "Cepatlah pakai baju, ini, aku buatkan kopi untukmu, Pak." Lagi-lagi lelaki itu hanya mengangguk saja. Dirinya, segera melenggang menuju kamarnya. Wanita dan lelaki tersebut adalah pasangan suami istri. Namanya Darmaji. Ya ... Tepatnya juragan Darmaji. Rumahnya besar bak istana. Rumah sekaligus tempat usaha tersebut terletak di sebuah desa yang asri. Usaha Pak Darmaji adalah membuat kaos partai. Istrinya sendiri adalah seorang Bidan desa. Rejeki yang mengalir selama ini, berkat usahanya yang gigih. Namun, ada sesuatu misteri dibalik semua itu. Pak Darmaji dan istrinya banyak merekrut tenaga kerja dari berbagai daerah kala itu, Khususnya di daerah Tapanuli. Namun keganjilan terjadi. Banyak warga hilang. Bahkan sering ditemukan mayat di desa sebelah. Tiba-tiba , para penduduk desa menuduh Pak Darmaji dan Bu Darmaji lah sang pembuat ulah tersebut. Namun tak ada bukti mengarah kepada mereka sebagai tersangka. "Pak, sini Pak ...." "Iya Bu." Kini mereka duduk saling berhadapan. "Besok, yang beli rumah ini akan melakukan pembayaran, Pak, kita akan pulang kampung ." "Iya Bu, kita pulang.” ujar Pak Darmaji tanpa ekspresi. Mereka kembali diam. Dengan pikiran mereka masing-masing.


Beberapa tahun kemudian. Di sebuah kota yang ramai. Tepatnya di kota Sragen, kota kelahiran Bu Darmaji. Berdiri dengan kokoh sebuah bangunan rumah yang tergolong elite. Berpagar besi yang tinggi. Banyak rimbun pepohonan. Bahkan banyak aneka pohon sedang berbuah. Diantaranya rambutan dan mangga. Rumah itu milik Bu Darmaji. Sejak ditinggal meninggal suaminya, wanita kurus tersebut mengurus semua usahanya sendiri. Sementara itu, ada seorang wanita lusuh, bernama Sunitri, dia kembali membawa baki penuh bunga tujuh rupa. Diantara bunga tersebut, terselip beberapa jarum jahit kasur, yang setiap jarum sudah terselip benang lawe berlumur darah ayam cemani. "Letakkan baki itu di atas altar!" Perintah lelaki berjubah hitam. Tampak wajahnya yang garang dan bermata merah. Sunitri menuruti semua perintahnya, bila tidak, maka mendapat hukuman cambuk bakal mendera . Seperti kemarin, dalam kamar gelap, dirinya mendapat hukuman cambuk berulang kali, karena telat membawa baki tersebut. Sunitri, gadis berusia 25 tahun itu, terpaksa harus masuk dalam kelompok ini. Ia mencari adiknya. Terakhir kabar, Murni, adiknya ikut kelompok yang diketuai ibu Darmaji. Yang ternyata ... Cetar!!! Suara cambuk tiba-tiba terdengar diiringi suara teriakan kesakitan dari ruangan sebelah. "Kau! Sudah tak berguna, seret dia masuk dalam ruang pesakitan!" Suara Bu Darmaji menggelegar, memenuhi ruangan, "ini berlaku bagi siapa saja, kalian datang sendiri ke kami bukan? Layani aku dulu, baru kalian mendapat apa yang kalian mau, paham!" kata-kata itu, menjadikan ciut nyali Sunitri. Dirinya berniat mencari info tentang adiknya, malah terjebak dalam situasi yang amat sulit. Ada beberapa orang dalam ruangan ini, terdapat pula, altar terbuat dari batu besar, terletak lebih tinggi dari yang lainnya. Kami, ada perempuan, juga lelaki. Semua memakai baju hitam, begitu juga Sunitri. Beberapa algojo, Sunitri menyebutnya begitu, karena badan mereka yang besar dan selalu membawa pecut. Upacara persembahan akan segera dilakukan, hal ini dilakukan setahun sekali. Dirinya baru mengikuti kelompok ini beberapa bulan yang lalu. Semua prosesi ritual terlaksana tanpa ada kendala. Sunitri hanya melongo saja melihat pemandangan di matanya langsung, di mana seorang bayi menjadi persembahan untuk junjungan mereka. Entah kemana, lenyapnya bayi tersebut. Yang tiba-tiba menghilang dari atas altar persembahan. Malam ini, berkesan tenang, orang-orang tak bersorak-sorai ataupun berbincang. Semua diam berjalan beriringan mengitari altar tersebut berulang kali. Bu Darmaji terlihat sedang meronce bunga-bunga dengan jarum yang sudah tersedia dalam baki tersebut. Untuk melirik saja, Sunitri takut setengah mati. Bagaimana tidak? Wajah Bu Darmaji sudah berubah sangat menyeramkan. Dirinya mengikuti saja alurnya, tujuannya belum tercapai, ada satu ruangan yang belum pernah Sunitri jamah sama sekali. Entah ruangan apa itu. Malam ini, mereka, termasuk Sunitri tidur dalam satu barak. Ruangan mirip aula, tempat kami anggota Bu Darmaji berkumpul. Sunitri berkenalan dengan Pak Wahyu, lelaki setengah tua itu terpaksa ikut kelompok Bu Darmaji , karena membutuhkan modal bisnis yang besar. Dirinya sudah ke dua kalinya ikut. Berharap yang ke dua ini akan mendapatkan lebih banyak modal berupa uang gaib. Malam semakin larut, ruangan yang sudah tertutup rapat. Sebagian dari mereka sudah banyak yang terlelap. Kami berjumlah hampir 20 orang. Sunitri sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Telinganya selalu waspada pada suara yang ganjil dan aneh. Hingga suatu terjadi, Sunitri mendengar perbincangan dua penjaga di luar pintu aula. "Mungkin sebulan lagi akan ada persembahan lagi, dan paket akan segera cair." "Benarkah? Paket punya siapa itu?" "Murni ...." Sunitri terperanjat, nama adiknya disebut dengan jelas, berarti adiknya ada di sini. Tapi ada di mana? Apa ada di dalam ruangan misteri itu? Bagaimana aku bisa kesana?


Keesokan harinya. Kegiatan masih sama, mereka bekerja, dalam rumah besar ini. Hari ini aku harus bisa masuk ke sana apapun resikonya, pikir Sunitri. Dielapnya meja ruang tamu. Dan banyak perabotan besar di sana. Pelan Sunitri mengelap meja dan almari kaca. Tiba-tiba, terjadi sebuah kehebohan. Diantara anggota ada yang berkelahi.