Drama #keluarga

Cabut Sampai ke Akar

17 January 2026

Ini tentang hari minggu.

Hari minggu adalah hari libur yang menyenangkan bagi semua anak sekolahan mulai dari SD, SMP, dan SMA. Namun libur hari minggu sering tidak berlaku di dalam keluarga Rama.

Hari minggu adalah hari kerja bakti bagi keluarganya. Tidak mengenal status masih SD, SMP, SMA, pegawai, pensiunan atau balita. Semuanya, KERJA!

Sang promotor utama dalam bekerja bakti di hari minggu tidak lain dan tidak bukan adalah Omanya Rama sendiri. Dan tak ada satu orang pun yang berani menentang hal itu.

Mereka sekeluarga dirumah itu seperti gerombolan manusia yang takut dikutuk berubah jadi siluman ular oleh Oma. INI SEREM. SUMPAH!

....

Oma Rama adalah salah satu wanita paling tangguh di keluarga. Bukan karena dia berotot. Bukan karena dia suka nge-Gym atau jago silat. Juga bukan karena dia punya ilmu bisa berbicara dengan kentut (Ehh, ini BERCANDA).
    Tapi karena Oma Rama adalah orang yang bisa mengubah masa kecil rama maupun saudara-saudaranya yang seharusnya indah, menjadi babak belur ketika dirinya bandel (nakal).

....

Rama pernah membuat kotor dan berantakan rumah ketika keasyikan bermain dengan adik sepupunya di ruang tamu. Namun akhirnya Ia juga dibuat kotor dan berantakan oleh Omanya (baca=babak belur) dengan cubitan, jeweran atau sampai dengan batang sapu lantai.

Kaki dan tangan Omanya yang masih kuat dan hapal gerakan silat, berhasil membuat Rama jatuh tersudut di kolong meja bak tikus sekarat kalah berantem dengan kucing betina, dengan wajah berantakan dan penuh kotoran di badannya. 
Dan itu bukan cerita satu-satunya. Hahaha.

....

Kembali ke hari minggu.

Dua alasan tentang ketangguhan dan kerajinan Oma Rama tadi membuat hari minggu adalah hari kerja bagi keluarga mereka. Meskipun mereka sekeluarga pernah berusaha menghilangkan hari minggu dari kalender kehidupan, namun sia-sia. Hari minggu selalu ada dan mereke hadapi.

Setiap hari minggu mulai pukul 07.00 pagi, mereka sekeluarga sudah harus siap dengan kostum dan peralatan lengkap untuk kerja bakti. Ada yang pegang sapu, pel, kain lap kaca, sekop, cangkul, semen dan pasir. Eh, kok kayak mo ngecor ya (?). Hahaha.

Oma tidak peduli siapapun di keluarga mereka entah ada yang semalam habis begadang atau bahkan tidak tidur, yang jelas di hari minggu pagi semua harus selalu siap bekerja dengan perintah yang tak bisa dibantah dari Omanya. TITIK.

....

Instruksi utama dari Oma Rama sebagai jenderal pemimpin pasukan kepada mereka adalah seperti ini :
1. Tidak ada yang boleh mandi sebelum kerja selesai. 
2. Tidak ada yang boleh beralasan buang air meskipun udah kebelet banget.
3. Tidak boleh malas-malasan apalagi masak indomie. 
4. Harus berkeringat selama bekerja.
5. Tidak boleh makan sebelum kerja selesai kecuali minum vitamin penambah energi.

Itulah ke-lima sila yang dibuat oleh Omanya dan disepakati serta di tanda tangani presiden. Tak ada yang bisa mengganggu gugat.

....

Kemudian pembagian tugas dan wilayah kerja bakti di mulai. Ada yang membersihkan kamar mandi. Ada yang membersihkan setiap sudut dalam rumah. Sialnya Rama selalu dapat tugas dan wilayah kerja di luar rumah untuk menjongkok bersama dia (Omanya) di atas rumput yang bandel.

Sebenarnya tugas kerjanya sederhana. Cukup jongkok (pake bangku), gunakan alat tajam secara maksimal, bersihkan rumput yang tumbuh di halaman rumah, dan CABUT SAMPAI KE AKAR!
Ulangi. Bacanya dengan semangat!

“CABUT SAMPAI KE AKAR !”

Itu adalah kata-kata motivasi Omanya yang selalu disampaikan ke Rama sebelum memulai pekerjan.

Tugas itu, membuatnya selalu berharap pada hari minggu turun hujan, atau setidaknya tidak ada matahari terik yang menyinari bumi untuk hari minggu keluarga mereka. Namun nyatanya hari minggu pagi tak pernah hujan. Hari minggu pagi cerah dan matahari seakan berkata, 
“Selamat bekerja Rama anak manis kesayangan Oma”.

....

Apa yang Rama rasakan, sangat berbeda dengan Omanya yang selalu penuh semangat memulai pekerjannya. 
Ingin rasanya Rama cukup berteriak menyemangati dari dalam rumah.

“AYOOO OMA! SEMANGAT! CABUT SAMPAI KE AKAR !” tapi Ia takut menjadi seperti tikus mati yang bakal dibakar bersama rumput-rumput kering oleh Omanya.
Mau gak mau, siap gak siap Rama harus terima duet maut sepaktakuler “CABUT SAMPAI KE AKAR” ini.

....

Rama dan Omanya pun bersemangat bekerja membasmi dan mencabut rumput-rumput jahat yang hidup di depan rumah, agar tidak tumbuh besar menjadi monster yang akan mengambil alih rumah mereka. Rama dan Omanya mulai bahu-membahu melakukan pekerjaan spektakuler itu.

“RAMA, KITA PASTI BISA MEMATIKAN MEREKA SEMUA”  teriak Omanya ke Rama.

Rama pun bersemangat.

“OKE OMA, MARI KITA SATUKAN KEKUATAN KITA. KYYAAAAAAAAAA...” Rama membalasnya. 
Merekapun bersatu. Cinta fitri pun tamat. Tetangga-tetangga di kompleks rumah berlalu lalang menyoraki dengan penuh semangat kerja spektakuler Rama bersama Omanya yang jongkok di depan rumah.

“CABUUT!  CABUUT! CABUUT!”
Rama merasa menjadi keren di bawah terik mentari yang menyengat.

Pagi semakin panas. Keringat pun menetes deras. Bercucuran membasahi bumi yang fana ini. Tapi Rama dan Omanya masih terus bekerja mencabut rumput. Bagaikan induk ayam bersama anaknya yang sibuk mencari makanan di tanah.

Rama harus bekerja demi membuktikan bakti kepada Omanya yang telah memeliharanya dari kecil sampai saat SMA waktu itu.

Sejak Rama belum punya sayap, sekarang sudah punya dan bisa terbang (rama si manusia elang). Atau sejak ekor Rama masih pendek dan sekarang sudah panjang serta sangat lincah memanjat pohon (rama si monyet).

....

Rama sungguh bangga memiliki nenek seperti Omanya. Meskipun terkadang Ia mendapat bisikan-bisikan dari cewek-cewek kompleks yang lewat depan rumah yang melihatnya.

“Ciiiieeeee, anak nenek rajinnya. Ciiieee…” sorak mereka berulang-ulang. Sorakan itu Ia balas dengan senyum dan berkata dalam hati. 
“KAMPRET!”

Tapi Rama harus tetep merasa keren.

....

Sampai pada akhirnya duet maut spektakuler antara Rama dan Omanya mencabut rumput sampai ke akarnya ini berakhir oleh waktu yang semakin siang. Bahkan sampai keringat di tubuhnya enggan mengucur lagi. 
Rama kehabisan keringat. Ia kelaparan. Nyeri dan osteoporosis Omanya mulai kambuh gara-gara kelamaan jongkok. Tangan Rama dan Omanya udah kram. Maka, mereka harus mengakhiri duet maut ini 2 generasi berbeda ini.

....

“Pekerjaan selesai. Laporan selesai. Pasukan siap dibubarkan” laporan Rama kepada Omanya selaku jendral pemimpin pasukan. Rama ngomong dengan tegas, tapi lesu.

“BUBARKAN ! SAMPAI KETEMU HARI MINGGU DEPAN” kata Omanya yang masih semangat.

Rama menelan ludah. Hambar.

Hari itu berakhir. Namun akan diteruskan kembali di hari minggu depannya. Begitu seterusnya hingga spiderman bisa jadi kenyataan.

....

Rama harus mulai berpikir mencari alasan untuk bisa cuti kerjabakti minggu depan. :)