Lexie menikmati sarapan di kamarnya pagi itu. Dia sempat bertanya pada Charles, kepala pelayan di mansion itu, apakah dia bisa meminta makanannya dibawakan ke kamarnya saja dan Charles mengatakan Lexie bisa meminta apa pun yang diinginkannya.
"Bosmu tak akan mempermasalahkan ini, kan?" tanya Lexie yang sedikit merasa tak enak pada pria tua itu.
"Tidak, Nona. Ini juga perintah Tuan Constantine," tukas Charles tanpa ragu.
Wanita muda itu mengunyah suapannya sambil mengingat percakapannya dengan sang kepala pelayan. Lexie menghabiskan makanannya dengan hati lebih ringan dan tanpa tekanan, jelas berbeda jika dia duduk bersama Gavin saat sarapan.
"Ahh ... damainya," batinnya.
"Aiish! Berhenti bicara dalam pikiranmu, Lexie. Pria menyeramkan itu akan bisa mendengarnya, bodoh!" Rutuknya kemudian sambil mencubit pipinya sendiri lalu mengelusnya ketika cubitannya terlalu keras.
Lexie lalu bersiap-siap untuk pergi bekerja. Dia tak tahu jam berapa Gavin berangkat, yang jelas dia tak mau semobil dengan pria itu untuk berangkat ke kantor setelah semalam Lexie pulang bersamanya.
"Anda sudah akan berangkat, Nona?" Charles menyapanya ketika tak sengaja berpapasan di anak tangga terakhir.
"Ya, Paman Charles. Aku pergi dulu." Pamit Lexie dengan senyum manisnya, sejak semalam dia memang jadi sedikit lebih akrab dengan pria tua itu.
Charles cukup ramah padanya dan satu-satunya diantara semua pelayan disana yang menyambutnya dengan baik serta tak menatapnya dengan penuh curiga. Charles juga selalu tersenyum padanya, berbeda dengan pelayan lain yang selalu melihatnya seakan Lexie adalah seseorang yang berbahaya.
"Eh?" Lexie terkejut ketika mendapati Gavin berada di kursi pengemudi ketika dia masuk ke dalam mobil yang biasa digunakan untuk mengantarnya.
"Kenapa anda disini, tuan Constantine? Bukankah saya akan berangkat bekerja dengan di antar supir?" tanya Lexie heran.
"Kau pergi bersamaku hari ini," tukas Gavin.
Lexie sudah akan memprotes ketika melihat ekspresi kaku pria itu yang membuatnya tahu Gavin tak ingin dibantah. Akhirnya dengan pasrah Lexie menarik sabuk pengaman dan mulai mengenakannya.
Vrooom ...
Mobil meninggalkan area mansion itu. Dua insan di dalamnya sama sekali tak saling bicara. Lexie malah sibuk dengan ponselnya sementara Gavin fokus pada jalanan di depannya.
Srakk .. Sraakk ..
Suara seperti kepakan sayap terdengar di atas mobil yang melaju itu. Lexie menoleh ke arah Gavin yang sama sekali tak terpengaruh pada apa pun yang mungkin sedang terbang di atas mereka.
"Anda mendengarnya, Tuan?" tanya Lexie penasaran.
"Mendengar apa?" Gavin balik bertanya.
"Suara seperti kepakan sayap," tutur Lexie.
Gavin tersenyum tipis, "Kau sudah semakin sensitif rupanya, padahal mereka memang selalu berada di atas sana walau hanya berputar-putar menunggu mangsa."
"Saya tak mengerti, Tuan. Mereka itu apa? Saya hanya mendengar suaranya tapi tak bisa melihat sosoknya." Desak Lexie lagi setelah dia memperhatikan keluar jendela bahkan membuka sedikit bagian atap mobil itu, namun tak melihat apa pun.
"Mereka adalah Empousa (monster dengan wujud perempuan berambut api dan sayap kelelawar, berkaki keledai dan perunggu, biasa disebut juga setan penghisap darah pria)," tukas Gavin.
Lexie terdiam dan langsung menutup bagian atap mobil itu lalu menegakkan punggungnya. Dia tahu jelas apa itu Empousa. Meski Lexie bukan laki-laki dan jelas bukan target monster itu, tetap saja mereka bisa saja memangsanya.
Gavin tertawa kecil saat mendapati reaksi kaku Lexie, "Tak perlu khawatirkan mereka. Kau bukan mangsa favoritnya."
"Terimakasih sudah berusaha menghibur saya, Tuan," sindir Lexie.
"Aku serius, Alexandria. Mereka hanya terbang di atas sana berkelliling kemana pun yang mereka mau atau sekedar menunggu di salah satu puncak pohon. Mereka tak berbahaya untukmu," tukas Gavin.
"Itu kan kata anda, saya tetap saja takut," Lexie tak mau dihibur oleh pria itu lagi, tidak setelah dia tahu monster-monster itu nyata.
"Bagaimana mungkin selama ini saya tak melihat keberadaan mereka dan baru sekarang menyadarinya?" tanya Lexie penasaran.
"Kau yang sekarang semakin sering berkontak dengan mereka dimulai dari para mafia itu. Semakin sering manusia fana berkontak dengan monster-monster itu, kalian akan makin sensitif pada keberadaan mereka dan perlahan-lahan tabir yang menyamarkan keberadaan mereka pun akan bisa kalian lihat dengan mata telanjang," jelas Gavin.
"Tabir?" Lexie kembali bertanya.
"Ya, aku menyebutnya begitu. Mereka tersamarkan oleh selubung tipis yang tak tertembus mata telanjang manusia fana. Mereka juga tak bisa kau sentuh sebelum kau menembus tabir itu," Gavin memperjelasnya.
"Fungsi tabir itu adalah untuk melindungi kalian dari mereka karena tak semua monster itu jinak. Mereka cenderung suka sekali menyerang manusia, jadi para Olympians sepakat menciptakan tabir itu untuk menghalangi mereka."
"Namun, tabir itu juga memiliki kelemahan. Ketika kalian cukup dekat untuk berkontak dan akhirnya bersinggungan, secara bertahap tabir akan menipis dan akhirnya kau akan bisa melihat wujud asli mereka bahkan sekalipun menyamar menjadi manusia," Gavin mengakhiri penjelasannya.
"Seperti Jonas?" Lexie mulai memahaminya.
"Ya, seperti itu. Tapi Lycan berbeda, mereka memiliki kecerdasan lebih tinggi dari monster-monster yang lain, jadi jangan pernah menganggapnya sama atau Jonas akan sangat marah padamu," peringat Gavin.
Lexie langsung mengangguk cepat saat mendengar peringatan itu. Hal terakhir yang dia inginkan jelas adalah mengusik sang manusia serigala.
"Olympians, apa itu?" tanya Lexie lagi saat teringat yang disebut Gavin tadi.
"Itu adalah sebutan untuk dewa dewi yang tinggal di Gunung Olympus," ujar Gavin.
Lexie sontak melebarkan matanya, "Dewa dewi itu sungguh ada?!"
Gavin tertawa melihat reaksi wanita cantik itu, "Tentu saja, jika monster yang selama ini hanya kau dengar dalam mitologi atau sebuah karya fiksi saja nyata, mengapa mereka yang kalian sebut dewa tidak?"
Lexie terdiam membenarkan, "Mereka masih ada sampai saat ini?"
"Sayangnya tak ada dewa dewi Primordial (dewa dewi penting yang dianggap sebagai yang utama) yang tersisa sekarang," ujar Gavin.
"Mereka mati?" Lexie bertanya tak percaya.
"Lebih tepat disebut menghilang menjadi tiada." Gavin berujar dengan mata menerawang seakan sebuah memori menyakitinya.
Lexie mengerutkan keningnya, dalam imajinya mereka yang disebut dewa dewi adalah makhluk abadi yang tak akan pernah mati atau menghilang.
"Satu pertanyaan lagi, Tuan. Mereka yang disebut dewa itu apa sebenarnya? Mereka jelas bukan manusia kan?" cecar Lexie.
"Itu dua pertanyaan, Alexandria." Sindir Gavin yang membuat Lexie mendengus kesal.
"Mereka adalah apa yang kalian sebut makhluk Celestial (makhluk kosmik kuno yang memiliki kekuatan istimewa). Mereka jelas tak berasal dari planet ini, sederhananya kau bisa sebut mereka alien,.
"Mereka memiliki kekuatan luar biasa, abadi dan tak menua. Mereka bisa mengubah wujudnya sesuka mereka tapi sekali lagi, mereka tetap bukannya tak bisa menghilang yang mungkin bisa kau asosiasikan dengan mati."
Seorang pria dengan setelan jas mewah masuk ke lobby perusahaan itu dan langsung menuju lift khusus petinggi. Pria itu mengenakan kacamata hitam, kulitnya nampak pucat walaupun masih terlihat wajar.
DING ..
Saat lift akhirnya sampai di lantai CEO, dia melangkah keluar darinya sambil melepas kacamatanya dan dengan satu tangan masuk ke saku celananya. Seringainya nampak ketika melihat seorang pria yang keluar dari ruang kaca di sisi kanan lorong, menyambutnya.
"Jonas." Sapanya sambil memeluk dan menepuk punggung pria itu.
"Noah, lama sekali kau tak berkunjung. Ada masalah di Verona?" tebak Jonas.
Noah, pria itu adalah salah satu orang kepercayaan Gavin untuk mengontrol bisnis sekaligus dunia yang tak diketahui manusia Fana, khususnya di daratan Eropa.
"Yah, kau bisa katakan begitu. Lebih tepatnya aku tak berani memutuskan masalah ini sendiri karena sepertinya akan semakin merepotkan jika aku gegabah," tukas Noah.
"Biar kutebak, kelompok Duncan?" tanya Jonas.
"Ya, anak cucu Hecate (dewi ilmu sihir dalam mitologi) sialan," keluh Noah.
"Bos di dalam, kan?" tanyanya sambil menunjuk ke ruangan dengan pintu yang tertutup rapat di depannya.
"Ya, tunggu sebentar dia sedang menghubungi beberapa rekan bisnis," tukas Jonas.
"Mungkin kau harus mengatur perjalanan ke Italia setelah ini, selain Verona mereka mulai menyebar ke Roma dan Turin. Mempengaruhi beberapa kelompok mafia kecil disana bahkan mereka mengumpulkan sekelompok Harpy (makhluk setengah manusia setengah burung)," jelas Noah.
"Sudah menyiapkan pasukan? Kau seperti sedang mengusulkan sebuah pembersihan," komentar Jonas.
"Aku akan menyiapkannya setelah mendapat izin. Mereka memang harus diberantas, bukan? Duncan sudah lama menjadi duri dalam daging di Italia." Tutur Noah geram.
"Well, jika kau tanya aku kurasa memang sudah saatnya kita bersih-bersih," ujar Jonas setuju.
Ring.. ring..
Telepon di ruangan Jonas berbunyi. Pria itu segera masuk kembali ke ruangannya di ikuti Noah.
"Ya, Tuan?" sapa Jonas.
"Noah bersamamu? Masuklah kalian berdua," titah Gavin.
"Baik, Tuan," tukas Jonas yang lalu mengkode Noah agar mereka pergi bersama.
Ceklek..
Di dalam ruangan luas itu, Gavin sudah menunggu mereka di sofa tengah dengan kaki menyilang dan tangan yang mengangkat secangkir kopi. Dia menyesap minumannya sebelum menaruhnya lagi di meja dan menatap serius dua pria muda yang telah duduk di sisi kanan kirinya.
"Duncan?" tanya Gavin.
"Ya, Bos." Noah mengangguk tegas.
"Usulmu?" Gavin bertanya lagi.
"Pembersihan total," tukas Noah.
Gavin menyeringai, "Kau bermaksud memintaku ikut turun tangan menangani anak cucu Hecate, bukan?"
"Ya, Bos. Saya tak yakin bahwa prajurit kita pun akan bisa mengatasi mereka tanpa Anda," tutur Noah.
"Kirimkan peringatan pada Hendrick, jika dia tak menghentikan apa pun yang sedang coba dilakukannya sekarang, aku sendiri yang akan menghabisi dia dan keturunannya," ujar Gavin tegas.
Gavin lalu beralih pada Jonas, "Siapkan pesawat pribadiku juga urus alasan untuk Alexandria bisa ikut denganku. Perjalanan bisnis mungkin bisa jadi alasan yang tepat, kita memiliki hotel yang baru selesai dibangun di Verona."
"Baik, Tuan." Jonas mengangguk mengerti.
"Bos, berapa lama waktu untuk mereka?" tanya Noah yang tadinya ingin menanyakan siapa Alexandria, namun mengurungkannya.
"24 jam."