Lexie menatap aneh ke arah dua pria yang tiba-tiba berkunjung ke ruangannya. Salah satu pria itu adalah Jonas yang jelas sudah dikenalnya dan satu pria asing yang dia tak tahu siapa.
Tatapan aneh Lexie mengarah pada pria asing itu yang ditebaknya bukanlah manusia biasa. Tak ada manusia yang memiliki warna bola mata semerah darah dan dia melihat warna mata itu ada pada salah satu Vampir berukuran besar yang dihabisi Gavin beberapa waktu lalu.
"Jadi, Nona Alexandria Greco?" Noah membuka suaranya sambil tersenyum ramah.
"Ya, dan siapa Anda?" Tanya Lexie dengan tatapan penuh selidik.
"Saya Noah, salah satu asisten Tuan Constantine." Noah menjawab masih dengan senyum ramahnya.
Lexie menatap tak percaya lalu beralih pada Jonas dan mendapati pria itu mengangguk kecil seakan mengkonfirmasi kebenaran perkataan Noah.
"Baiklah, ada perlu apa Anda berdua kemari?" tanya Lexie.
"Saya kemari untuk memberitahu Anda bahwa Tuan Constantine meminta Anda ikut bersamanya ke Verona, Italia. Saya sudah mengatur semuanya sebagai perjalanan bisnis untuk meninjau salah satu hotel yang baru dibuka disana," jelas Jonas.
Lexie sontak memberengut kesal. Dia sudah membayangkan tumpukan pekerjaan yang akan menantinya dan betapa pria menyebalkan yang sialnya adalah bosnya itu selalu memutuskan sesuatu tanpa berunding dengannya.
"Selalu seenaknya," gerutunya.
Lexie lalu tanpa pikir panjang meraih ponselnya dan memencet kontak Gavin di sana. Wanita cantik itu menunggu beberapa saat sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja
"Halo," Gavin menyapanya.
"Tuan Constantine, saya tak bisa mendadak ikut Anda ke Italia. Banyak pekerjaan yang sudah saya rencanakan disini, Anda mengacaukan semuanya dengan perjalanan bisnis mendadak apa pun tujuannya," Lexie mencecar pria itu tanpa rasa takut sama sekali.
Noah sontak menaikkan sebelah alisnya melihat betapa beraninya wanita di depannya itu mencecar sang bos. Baru kali ini dalam ratusan tahun hidupnya, dia melihat ada seseorang terutama wanita yang berani mencecar dan mengomel pada Gavin Constantine.
"Wanita yang unik, pantas saja Tuan begitu melindunginya. Aromanya juga mirip dengan Tuan Constantine," batin Noah.
Pria itu memang sudah mendapat cerita singkat dari Jonas tentang siapa Alexandria dan mengapa Gavin bersikeras membawanya serta. Bahkan saking penasarannya, Noah sampai mengikuti Jonas ke ruangan wanita itu.
"Itu bukan permintaan, Alexandria. Itu perintah," tegas Gavin.
"Tapi Anda tak bisa mendadak begini!" Lexie tetap tak mau kalah.
"Aku bisa tentu saja. Atau kau lebih suka tetap tinggal di sini sendirian tanpa aku, Jonas atau pun yang lain untuk melindungimu di tengah para Vampir yang sedang mengincarmu sekarang?" Gavin menyadarkan wanita itu dari betapa berbahayanya situasi untuknya.
"Bersama Anda pun belum tentu saya aman, Tuan Constantine," keluh Lexie.
"Justru bersamaku lah kau berpeluang hidup lebih lama, Alexandria," tukas Gavin dengan nada final.
Lexie menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya kasar, "Lalu apa yang akan saya lakukan disana sementara Anda pasti mengerjakan urusan entah apa, bukan?"
"Jonas akan menemanimu meninjau hotel baru kita. Kau tidak aku bawa untuk berlibur, Alexandria." Ujar Gavin yang menyeringai di seberang panggilan itu.
Lexie sontak mengumpat dalam hati, "Pria sialan!"
"Aku mendengarmu mengumpat, Alexandria," goda Gavin.
"Anda memang pantas dimaki, Tuan Constantine," sahut Lexie yang lalu mengakhiri panggilan itu dan melempar ponselnya ke meja.
Dia lalu beralih ke arah dua pria yang sedari tadi menatapnya seakan Lexie baru saja menampilkan pertunjukan menarik. Itu membuatnya semakin kesal dan sontak mendelik ke arah mereka berdua.
"Apa? Katakan saja jika kalian ingin berkomentar," ujarnya.
Jonas menggeleng sambil menahan tawanya, "Tidak, Nona. Kita akan berangkat sore ini, jadi tolong bersiaplah."
"Ya, ya. Terserah."
Lexie menatap keluar jendela mobil yang melaju dengan ekspresi kesal yang tak disembunyikannya. Tangannya menyilang, bibirnya mengerucut lucu dan dia mengacuhkan Gavin yang menyetir disisinya.
Gavin sendiri tak terlalu memusingkan sikap Lexie yang memusuhinya sejak mereka meninggalkan gedung perusahaan 20 menit yang lalu. Pria itu tetap fokus mengemudi hingga mereka sampai di area landasan pribadi miliknya.
Mata Lexie menatap kagum sebuah jet pribadi berwarna hitam dengan lambang keluarga Constantine di ekornya ketika Gavin mengarahkan mobilnya menuju sisi jet itu.
"Wow," lirih Lexie yang membuat Gavin terkekeh.
"Setelah diam sejak tadi, rupanya yang bisa membuatmu mengeluarkan suara adalah jet pribadiku," celetuknya.
Lexie mendengus, "Jet itu lebih baik dari anda, Tuan Constantine."
"Kau bahkan menyamakanku dengan benda mati." Gavin menggeleng kesal sambil melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.
Lexie mengikutinya dan bergegas menyusul langkah lebar pria itu yang mulai menyusuri tangga untuk masuk ke dalam jet itu. Lexie kembali dibuat terperangah dengan interior jet milik Gavin.
"Kendalikan ekspresimu, Alexandria," goda Gavin.
Lexie sontak kembali mencucurkan bibirnya, lalu dengan langkah dihentak dia mengambil salah satu tempat di bagian belakang deretan kursi penumpang. Noah dan Jonas yang ikut menyaksikan tingkahnya, menggeleng tak habis pikir.
"Katakan pada pilot untuk berangkat sekarang," titah Gavin pada Jonas yang mengangguk.
Noah lalu memutuskan untuk mendudukkan dirinya di depan Lexie yang menatap ke luar jendela masih dengan tampang kesal.
"Bergembiralah sedikit, Nona. Kita akan bersenang-senang di Italia," Noah menggodanya.
"Jangan coba menghiburku, aku bisa memperkirakan apa yang akan kalian lakukan disana," ketus Lexie yang memutuskan untuk tidak berbicara formal pada pria di depannya itu.
"Memangnya kami akan melakukan apa?" Noah bertanya dengan polosnya.
"Sesuatu yang melibatkan pembunuhan dan monster," sahut Lexie tanpa ragu.
Noah sontak tertawa, "Anda tidak salah."
"Benar, kan? Kalian tak mungkin tiba-tiba pergi tanpa alasan apa lagi membawaku," ketus Lexie lagi.
Noah mengangguk, "Begitulah, Nona. Tolong jangan pergi kemana pun sendirian. Anda bisa pergi bersama Jonas, saya atau bahkan dengan Bos."
Lexie mendengus lalu merubah ekspresinya dan menatap Noah penuh harap, "Aku tak mau pergi dengan Bosmu. Kau saja atau Jonas yang menemaniku."
"Saya tak bisa berjanji untuk itu, tapi saya akan menemani anda sebisa mungkin." Sahut Noah dengan senyum jahilnya.
"Noah, boleh aku memanggilmu begitu?" tanya Lexie.
"Tentu saja, Nona" ujar Noah.
"Dan kau, boleh aku memanggilmu Jonas?" Lexie beralih pada Jonas yang menyusul duduk di sisi dekat Noah.
"Ya, Nona. Silahkan," tukas Jonas.
Lexie mengangguk puas sebelum mengalihkan lagi atensinya pada Noah, "Jadi, Noah. Kau ini apa?"
Noah tergelak lalu menelengkan kepalanya ke arah Gavin yang sama sekali tak tertarik untuk bergabung dengan mereka, "Bos, saya boleh menjawab pertanyaan ini?
"Jawab saja dan jangan menakutinya, Noah," ujar Gavin dengan sedikit peringatan di akhir.
Noah mengangguk mengerti lalu mengalihkan lagi atensinya pada Lexie yang menatapnya penasaran sejak tadi.
"Saya seorang Vampir, Nona" tukas Noah.
"Wow, kukira Bosmu anti Vampir," celetuk Lexie.
Noah kembali tergelak, "Tentu saja tidak, Nona. Banyak bangsa kami yang menjadi bagian dari kelompok yang berdiri bersama Tuan Constantine."
"Apa semua Vampir hampir selalu merupakan bagian dari mafia?" tanya Lexie ingin tahu.
"Tidak semuanya, mungkin hanya sekitar 40%. Sisanya, mereka semua memang nyaris bukan manusia biasa. Jarang sekali saya menemukan kelompok mafia, gangster, yakuza, bratva atau apa pun sebutannya yang semua anggotanya adalah manusia," jelas Noah.
"Kenapa begitu?" Lexie mengerutkan keningnya tak mengerti.
Noah tersenyum, "Coba bayangkan, nona. Beberapa mafia berbahaya di seluruh dunia berhasil mempertahankan eksistensinya dan bahkan menyembunyikan semua tindak kriminalnya tanpa tersentuh,"
"Jika mereka semua hanya manusia biasa, mungkinkah itu?" tanya Noah.
Lexie melebarkan matanya, pemahaman meresapinya sekarang, "Aku tak pernah memikirkan itu sebelumnya. Kau ada benarnya. Jadi selain Vampir, apa lagi?"
"Lycan dan Demigod (sebutan untuk anak dewa) atau keturunan mereka," tukas Noah.
"Demigod? Wow, mereka benar-benar masih ada?" tanya Lexie.
Noah hanya mengangguk, dia tahu tak bisa menjelaskan lebih jauh karena itu bukan bagiannya. Gavinlah yang harus menjelaskannya nanti.
"Lalu kita ke Verona untuk kalian menghadapi yang mana?" Lexie bertanya lagi.
"Oh, mereka salah satu kelompok yang sudah cukup lama membuat saya ingin menyerang mereka. Mereka anak cucu Hecate," tutur Noah.
"Jika mereka anak cucu dewa, bukankah itu berarti mereka memiliki setidaknya seperempat atau nol koma sekian persen kekuatan dewa itu sendiri?" Lexie mengerutkan kedua alisnya ketika mendengar Noah menyebutkan nama dewi itu.
"Tentu saja, Nona. Karena itulah saya membutuhkan bantuan Bos untuk ikut turun tangan menanganinya."