Barang Ketinggalan

Penulis BurungBiru
17 January 2026

Pak Yanto menarik napas panjang saat mobilnya berhenti di lajur drop-off bandara. Pagi itu, jam baru menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit. Matahari belum sepenuhnya naik, udara masih sejuk, tapi sudah terasa panas yang menyengat dari aspal terminal. Mobilnya berhenti tepat di area yang diperuntukkan bagi taksi dengan sticker resmi bandara, sehingga ia tidak perlu khawatir diderek.Ia menyalakan mesin sebentar, kemudian mematikan kembali. Duduk di kursi pengemudi, Pak Yanto menatap terminal yang mulai ramai. Penumpang keluar dari mobil pribadi, membawa koper dan tas, beberapa tergesa-gesa, beberapa terlihat santai. Suara roda koper di lantai terminal terdengar jelas, bercampur dengan pengumuman jadwal penerbangan di speaker.Pak Yanto meneguk kopi hangat dari gelas plastik yang dibelinya dari warung dekat terminal. Udara pagi yang segar membantunya tetap fokus. Shift pagi bandara selalu melelahkan, tapi cukup menguntungkan. Dengan sticker resmi, ia bisa menunggu penumpang di area tertentu tanpa harus khawatir soal parkir.Baru saja ia hendak memeriksa order di aplikasinya, seorang perempuan muda mendekat dengan tergesa. Rambutnya diikat rapi, tas tangan dan koper kabin terlihat berat di tangannya.“Pak, tas saya!” serunya begitu melihat mobil Pak Yanto.Pak Yanto segera membuka pintu belakang. Di kursi, tas kecil berwarna biru yang tertinggal tadi masih ada, lengkap dengan dompet, ponsel, dan beberapa dokumen. Ia mengulurkan tas itu kepada perempuan itu.“Ini, Bu. Sepertinya tertinggal tadi,” kata Pak Yanto santai.Perempuan itu menerima tasnya, memeriksa isinya dengan cepat, wajahnya terlihat lega. “Terima kasih, Pak. Saya benar-benar hampir panik.”“Tidak apa-apa, Bu. Biasa saja. Semua orang bisa lupa,” jawab Pak Yanto sambil tersenyum.“Maaf ya merepotkan,” katanya sambil menunduk sedikit.“Biasa saja, Bu. Yang penting aman,” kata Pak Yanto.Perempuan itu menarik napas panjang. “Baik, Pak. Terima kasih banyak.” Ia masuk ke gedung terminal.Pak Yanto menutup pintu mobil, menyalakan mesin, dan menepi sejenak. Meski masalah tas sudah selesai, pikirannya tetap waspada. Di bandara, setiap hari selalu ada cerita unik, dan ia selalu siap menghadapi kejutan.Tidak lama kemudian, order masuk dari aplikasi. Seorang pria paruh baya ingin diantar ke hotel dekat bandara. Pak Yanto menyalakan lampu sein, keluar dari lajur drop-off, dan memulai perjalanan.Di tengah perjalanan, pria itu tampak santai tapi banyak bicara soal rencana liburannya. Pak Yanto hanya sesekali menimpali. Ia lebih fokus pada lalu lintas bandara yang padat.Setibanya di hotel, penumpang turun dengan koper yang dibawanya. “Terima kasih, Pak. Perjalanan lancar,” ucapnya sambil memberi tip kecil.“Terima kasih, Pak. Hati-hati,” jawab Pak Yanto.Kembali ke terminal, Pak Yanto melihat antrean taksi dengan sticker resmi lain. Beberapa sopir sudah menunggu lama, beberapa sedang menyeruput kopi. Ia memarkir mobil dengan rapi, lalu membuka pintu.Beberapa sopir tampak menyapanya.“Pagi, Yanto,” sapa Pak Rudi, sopir senior.“Pagi, Pak Rudi. Sepi ya pagi ini?” jawab Pak Yanto.“Ya, masih mulai dari pelan. Biasanya jam tujuh ke atas mulai rame,” kata Pak Rudi sambil menggerakkan gelas kopi.Pak Yanto mengangguk, kembali duduk di mobilnya, menunggu order berikutnya. Tak lama, aplikasi memberinya order lain, kali ini menuju kawasan hotel bisnis di sisi lain bandara. Perjalanan lancar, penumpang tampak senang.Saat kembali ke area sticker, ia melihat keributan kecil. Seorang sopir baru datang, mobil taksinya putih, bukan sticker resmi bandara. Ia berhenti di lajur yang sama dengan Pak Yanto.“Mas, ini pangkalan resmi. Bisa geser sedikit?” tegur Pak Yanto.Sopir itu tersenyum tipis. “Ini aplikasi saya bilang boleh nunggu di sini.”“Di lapangan, kami yang sudah lama di sini yang atur, Mas. Jangan mengganggu,” kata Pak Yanto pelan tapi tegas.Sopir itu akhirnya menggerakkan mobilnya beberapa meter. Napas Pak Yanto perlahan turun. Di bandara, setiap sopir harus saling menghormati area masing-masing. Tidak ada aturan tertulis selain etika kerja.Malam mulai mendekat. Lampu bandara menyala, udara mulai terasa hangat. Pak Yanto masih menunggu order lain. Ia membuka ponsel, memeriksa setoran hari itu. Lumayan, tapi masih bisa bertambah.Beberapa order berikutnya membuatnya sibuk hingga sore. Beberapa keluarga dengan koper, beberapa wisatawan. Setiap penumpang membawa cerita sendiri, kadang panik, kadang santai, kadang lucu.Satu order sore itu cukup membuatnya tertawa. Pasangan muda, dengan koper besar, mencoba menyeimbangkan koper di kursi belakang. Pak Yanto membantu mendorong koper, sambil bercanda, “Hati-hati, Bu, jangan sampai jatuh.”“Terima kasih, Pak. Mobilnya luas ya,” jawab perempuan itu sambil tersenyum.

Setelah menurunkan penumpang tersebut ke tempat tujuannya, Pak Yanto menyalakan mesin, meninggalkan lajur drop-off bandara. Udara malam mulai sejuk, lampu-lampu terminal berkelap-kelip dari kejauhan. Ia menapaki jalan pulang menuju pool taksi di pinggir kota, tempat semua sopir berkumpul sebelum shift berikutnya atau setelah pulang. Setibanya di pool, ia memarkir mobil di tempat yang sudah biasa ia gunakan. Mobil lain juga mulai berdatangan, beberapa sopir saling menyapa. Pak Yanto menutup pintu mobil, menghela napas panjang, dan berjalan menuju bangku panjang di halaman pool. Pak Rudi, teman sesama sopir bandara, sudah duduk sambil menyeruput kopi hangat dari gelas plastik. “Lama, Yanto. Hari ini rame di bandara?” tanyanya santai. “Lumayan. Ada beberapa penumpang yang panik karena tas tertinggal, ada juga keluarga yang ribet sama koper,” jawab Pak Yanto sambil duduk. “Lumayan seru, tapi capek juga.” Pak Rudi tersenyum. “Ya begitulah. Hari-hari kita kadang panjang, kadang sepi. Yang penting tetap jalan. Nanti setoran di pool dicatat juga.” Pak Yanto menatap mobilnya sebentar. Mesin sudah mati, dashboard gelap. Ia merasa lega karena hari ini semua lancar, tidak ada masalah serius. Setoran dicatat petugas pool, tanda tangan diselesaikan, semua prosedur berjalan normal. Seorang sopir lain mendekat sambil membawa gorengan. “Ini buat teman-teman. Biar bisa ngobrol sebentar sebelum pulang,” katanya sambil tersenyum. Pak Yanto mengambil sepotong, tersenyum kecil. Rasanya hangat, lebih dari sekadar makanan. Obrolan ringan pun dimulai, tentang penumpang lucu, penumpang cerewet, sampai kejadian konyol di jalan. Suasana menjadi hangat, meski semua tahu besok mereka harus kembali jam tiga dini hari. Pak Yanto menatap langit malam. Lampu-lampu kota berkurang satu per satu. Ia tahu, besok akan ada cerita baru: tas tertinggal lagi, penumpang buru-buru, keluarga yang panik dengan koper, atau wisatawan asing yang butuh bantuan. Tapi itu bukan masalah. Ia siap, karena bagi sopir bandara seperti dirinya, setiap hari adalah cerita yang berbeda, lelah tapi penuh pengalaman, dan setiap pengalaman membuat pekerjaan ini berarti. Ia tersenyum pelan, menatap teman-temannya. Obrolan ringan tetap terdengar, tawa kecil muncul sesekali. Malam itu, di pool taksi, Pak Yanto merasa bahwa meski capek, ia tidak sendiri. Semua sopir yang lelah, semua cerita yang menumpuk, semua pengalaman yang melelahkan—itu semua bagian dari hidup mereka. Dengan perasaan lega, Pak Yanto akhirnya berjalan menuju rumahnya. Besok pagi, jam tiga dini hari, ia akan kembali ke pool, siap menghadapi cerita baru. Dan sekali lagi, ia tahu, hidup sebagai sopir bandara bukan sekadar mengantar penumpang, tapi juga tentang kesabaran, pengalaman, dan rasa tanggung jawab terhadap profesi yang ia jalani setiap hari.