Verona - Italia
Di sebuah markas milik kelompok mafia Duncan, pemimpinnya Hendrick Duncan baru saja mendapatkan laporan dari salah seorang Capo-nya bahwa Constantine mengirimkan peringatan pada mereka.
"Cih! Dia pikir siapa dia hingga bisa mengancamku!" umpatnya.
"Lanjutkan saja pekerjaan kalian, sudah saatnya para manusia itu tahu bahwa kesombongan mereka akan membunuh perlahan," titahnya lagi.
"Baik, Tuan," tukas sang Capo.
Hendrick lalu meraih ponselnya dan menghubungi sederet nomor di sana, "Carlo, Constantine sepertinya akan bergerak untuk mencoba menghentikan kita dengan paksa. Bersiaplah!"
Dia terdiam sejenak mendengarkan jawaban dari rekan di seberang panggilannya, "Tenang saja, dia tetap tak akan bisa menghentikan rencana kita sekalipun pada akhirnya aku dan seluruh keturunanku terbunuh."
Hendrick lalu mengakhiri panggilan itu dan meletakkan lagi ponselnya di atas meja. Dia berdiri dari duduknya, keluar dari ruangan itu menuju sebuah ruangan lain.
Ceklek ..
Bagian dalam ruangan yang pintunya baru saja dibuka olehnya itu, terdiri dari altar pemujaan dengan patung dewi yang memiliki 3 tubuh. Satu tubuh menghadap depan dengan dua tangan memegang obor yang menyala dan dua tubuh lain saling membelakangi dengan posisi di belakang tubuh utamanya.
Hecate digambarkan sebagai dewi dengan tiga tubuh sebagai representasi dirinya yang merupakan dewi persimpangan jalan selain ibu dari semua ilmu sihir dan necromancy (semacam pemanggilan roh orang mati untuk berkomunikasi).
Hendrick mengambil sebuah Drachma (mata uang kuno yang digunakan di yunani pada periode sebelum masehi) lalu melemparnya ke altar yang ada tepat di bawah kaki sang dewi.
Dia memejamkan matanya sambil berujar lirih, "Berkati aku, Ibu."
Beberapa saat bertahan di posisinya, Hendrick lalu mulai beranjak pergi setelah memadamkan semua lilin yang menyala di altar itu. Dia mematikan lampu lalu membuka pintu dan melangkah keluar.
Krak ..
Hendrick sama sekali tak menyadari bahwa sebuah retakan yang entah bagaimana, muncul di patung sang dewi begitu dia keluar dari ruangan itu.
San Marco Hotel - Verona, Italia
Sebuah mobil mewah berhenti di depan lobby hotel itu. Lexie melangkah keluar dari dalamnya dengan Gavin menyusul setelahnya. Pria itu menggiringnya menuju area resepsionis untuk mengambil kartu kamar mereka.
"Tuan Constantine," seorang wanita yang adalah manajer hotel itu menyambutnya.
"Kalian sudah menyiapkan yang kuminta?" tanya Gavin tanpa basa-basi.
"Ya, tuan semua sudah disiapkan. Saya akan mengantar ke kamar Anda," tukas wanita itu.
"Tidak perlu, berikan saja kartunya." Ujar Gavin tegas sambil mengulurkan tangannya.
Wanita itu tersenyum kecil dan menyerahkan 4 buah kartu kamar padanya. Gavin langsung berbalik dan menghampiri Jonas, Noah serta Lexie yang sedang berbincang tak jauh darinya.
"Ini kartu kamar kalian." Tukas Gavin sambil menyerahkan 3 kartu pada mereka.
"Ayo," pria itu mengulurkan tangannya pada Lexie yang sontak menatapnya heran.
Tatapan Gavin yang tajam membuatnya langsung menerima uluran tangan itu. Gavin menggenggam tangannya dan membawanya menuju lift tanpa mengatakan apa pun lagi pada Lexie.
"Kalian tunggu lift lain." Titahnya pada Jonas dan Noah yang menyusul di belakang mereka.
"Baik, Tuan" kedua pria itu menyahut bersamaan.
Ding ..
Begitu pintu lift terbuka, Gavin menggiring Lexie masuk ke dalam dan langsung menekan tombol agar pintu lift itu menutup. Sesaat sebelum pintu tertutup, Lexie menangkap pandangan benci sang manajer hotel yang di arahkan padanya.
"Apa-apaan itu?" batinnya.
"Aku akan menjawab pertanyaan itu jika kau mengizinkannya," tukas Gavin.
"Biasanya Anda bahkan langsung menimpali tanpa izin," sindir Lexie yang mengerti maksud pria itu.
"Kau yang mengatakan kita harus memperbaiki cara komunikasi," ujar Gavin dengan entengnya.
Lexie menatapnya sengit, "Baiklah, Tuan Constantine. Tolong jawab pertanyaan tadi."
"Well, aku membutuhkan bantuan kecil darimu selama kita disini," tutur Gavin.
"Dan apa itu?" tanya Lexie.
"Berpura-puralah seakan kau kekasihku. Aku perlu menyingkirkan cucu Aprhodite (dewi cinta dalam mitologi yunani) itu. Dia selalu berusaha menempel padaku tiap kali aku berkunjung kemari," ujar Gavin.
"Kenapa tidak memecatnya saja?" sahut Lexie tak habis pikir karena jelas ada cara yang mudah.
"Kinerjanya dalam meningkatkan okupansi hotel ini sangat bagus. Kau tahu mereka cukup berguna untuk menarik tamu tapi menyebalkan ketika tertarik pada seseorang," tukas Gavin.
"Anggap saja ini balasan kecil setelah aku menyelamatkan nyawamu," imbuhnya.
Lexie mendengus, "Memangnya saya punya pilihan? Sekalipun menolak, Anda pasti tetap akan membuat saya terpaksa mengikuti drama Anda seperti tadi."
Gavin tertawa, "Baguslah kalau kau sudah mengerti."
DING ..
Pintu lift kembali terbuka, mereka telah sampai di lantai yang dituju. Gavin tetap memainkan perannya sebagai kekasih Lexie dengan tetap merangkulkan lengannya ke pinggang wanita itu. Dia sangat tahu sang manajer hotel mengawasi mereka lewat CCTV.
"Apa ini perlu?" tanya Lexie yang mulai tak nyaman.
"Dia mengawasi kita, bertahanlah sebentar lagi," tukas Gavin.
Ketika mereka akhirnya sampai di depan kamar Lexie, Gavin mengambil kartu yang dipegang wanita itu dan menempelkannya ke pintu lalu membukanya.
"Masuklah," titahnya.
Lexie mengangguk lalu bersiap untuk masuk sebelum dia teringat sesuatu dan menghentikan langkahnya. Wanita itu menoleh ke arah Gavin dengan ekspresi ingin tahu.
"Apa anda akan pergi menyerang kelompok itu malam ini?" tanyanya.
Gavin menggeleng, "Tidak. Aku tak akan meninggalkanmu malam ini. Masuklah dan istirahat."
Lexie akhirnya mengangguk dan baru akan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar ketika Gavin menariknya lalu mengecup keningnya sekilas hingga membuatnya terpaku.
"Have a good sleep, Alexandria."
Lexie terduduk di pinggir ranjang dengan ekspresi kosong. Dia masih tak bisa percaya bahwa bosnya, sang Gavin Constantine yang terkenal tak pernah mau menyentuh seorang wanita sebelumnya, mengecup keningnya.
"Jika itu hanya untuk akting demi menghindari manajer hotel ini, dia tak perlu sampai mengecup keningku. Pria sialan!" gumam Lexie setelah beberapa saat terdiam.
"Ishh! Ini membuatku gila!" gerutunya lagi.
Setelah bermonolog beberapa saat yang termasuk memaki sang bos dengan sepenuh hati, Lexie akhirnya berdiri dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tok .. tok .. tok ..
Suara pintu kamarnya yang diketuk membuatnya sedikit berjengit kaget saat keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan bathrobe dan rambut yang masih basah. Dia lalu menuju pintu dan mengintip dari lubang kecil di sana untuk mendapati Gavin berada di balik pintu itu.
Ceklek ..
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Constantine?" tanya Lexie sambil membuka sedikit pintu kamarnya hanya untuk memberikan celah agar dia bisa bicara dengan bosnya.
Gavin menaikkan sebelah alisnya saat mendapati penampilan Lexie, "Kau baru selesai mandi rupanya. Aku lupa kalau kau belum makan malam, bersiaplah dalam 15 menit, kita akan makan malam bersama."
"Aku akan kembali 15 menit lagi." Imbuhnya yang lalu berbalik kembali menuju kamarnya sendiri.
Lexie menatap kepergian bosnya itu dengan ekspresi heran, "Padahal aku bisa memesan saja untuk makan disini, dasar aneh."
Setelah menggumamkan keheranannya, wanita cantik itu kembali masuk ke dalam kamar dan bergegas bersiap. Dia tahu Gavin adalah orang yang sangat tepat waktu, jadi tepat 15 menit Lexie telah selesai bersiap.
Tok .. tok .. tok ..
"Ketepatannya selalu mengerikan," batin Lexie.
Dengan cepat dia membuka pintu kamar dan mendapati Gavin telah memandangnya dengan seringai di wajahnya.
"Ketepatan waktu adalah keharusan, Alexandria," ujar Gavin.
Lexie sontak memicingkan mata, "Bukankah tadi anda setuju untuk memperbaiki cara komunikasi kita?"
"Komentar yang kau suarakan dalam pikiran kecilmu itu lebih menarik dibandingkan yang keluar dari bibirmu." Tukas Gavin sambil terkekeh.
"Terserah anda saja," putus Lexie yang sudah lelah berdebat dengan pria itu, dia tahu tak akan pernah menang dari bosnya yang menyebalkan itu.
Gavin tersenyum kecil, "Ayo,"
Lexie menerima uluran tangannya dan bersama mereka melangkah menuju lift. Saat sedang menunggu lift, sudut mata Lexie menangkap sebuah bayangan hitam yang melintas di jendela besar di ujung lorong.
"Apa yang barusan itu?" batinnya sambil terus menatap ke arah jendela.
"Abaikan saja itu hanya Banshee, mereka memang selalu berkeliaran disaat tertentu," ujar Gavin.
"Banshee? Bukankah itu roh yang menandakan kematian?" tanya Lexie.
"Ya, anggap saja kau hanya kebetulan beruntung melihatnya. Dia bukan datang untukmu ataupun Jonas dan Noah," tukas Gavin.
"Bagaimana Anda bisa tahu itu?" Lexie bertanya lagi kali ini dia benar-benar penasaran.
"Katakan saja aku bisa mendengar suara mereka dan Banshee itu membisikkan nama seseorang yang jelas bukan nama kita semua," tuturnya.
"Wow, apa itu berarti Anda bisa berkomunikasi dengan semua makhluk-makhluk dalam mitologi itu?" Lexie berujar kagum.
DING ..
Pintu lift yang terbuka menginterupsi mereka. Gavin merangkulkan tangannya ke pinggang Lexie, menggiringnya masuk ke dalam lift.
Barulah setelah itu Gavin menjawab pertanyaan yang tertunda, "Ya, aku bisa berkomunikasi dengan mereka semua. Itu salah satu kemampuan yang aku dapat dari Ayahku"