Bab 14 - Monster

Penulis Itsme-R
17 January 2026

GRAAAH ...

CRASH ... SRAK ...

Dua orang pria bergerak begitu cepat menerjang dan menebas apa yang nampak seperti monster dengan tubuh setengah manusia setengah burung. Mereka semua memiliki cakar panjang nan tajam yang mampu mengoyak mangsanya, mereka adalah Harpy.

"Mereka merepotkan." Salah satu dari pria itu yang adalah Noah, berhenti setelah menebas satu lagi.

"Kau seharusnya sudah terbiasa." Sindir Jonas yang berada dalam wujudnya sebagai manusia serigala.

"Tetap saja merepotkan," gerutu Noah.

"Segera selesaikan, Tuan sudah meminta kita kembali untuk menjaga Nona," tukas Jonas.

Noah sontak menaikkan sebelah alisnya, "Bukankah Bos tak akan pergi malam ini?"

Jonas mengedikkan bahu, "Entahlah.

GRAHHH ..

CRASSS ...

Tanpa berkedip, Noah menebas satu Harpy yang menerjang ke arahnya. Dia melihat ke sekeliling dan mendapati akhirnya semua monster itu telah tewas. Sekumpulan monster itu adalah pasukan Harpy yang dikumpulkan oleh para prajurit dari kelompok mafia milik Hendrick.

"Ayo kembali." Tukas Noah sambil berbalik dan sekejap dia bersama Jonas telah menghilang dari area itu.

Tak butuh waktu lama, dua pria itu telah memasuki area lobby hotel tempat mereka menginap. Sang manajer hotel menyambut mereka dengan senyum di wajahnya.

"Sepertinya perburuan kalian sukses," ujarnya.

"Kami tetap tak akan membawamu sekalipun kau berusaha memuji mati-matian. Tuan Constantine tak suka kau yang terus berusaha menempel padanya," Jonas berujar tajam.

Pria itu meneruskan langkahnya sampai ke lift diikuti Noah di belakangnya yang hanya terkekeh ketika mendapati sang manajer hotel menanggalkan senyum ramahnya dan berganti dengan tatapan tajam menusuk.

"Kau tahu, sekalipun hanya cucu dari seorang dewi, dia tetap memiliki kemampuan untuk membuatmu menuruti kata-katanya," Noah memperingatkannya.

"Kekuatannya tak cukup untuk mempengaruhiku," Jonas menyahut tanpa ragu.

Noah tergelak mendengarnya, "Kepercayaan dirimu memang luar biasa."

DING ..

Mereka keluar bersamaan dari lift dan menuju salah satu dari dua kamar suite lantai itu.

Tok .. tok .. tok ...

Ceklek ...

Gavin membuka pintu dengan segelas anggur di tangannya, "Masuklah."

Jonas dan Noah langsung melangkah masuk ke dalam kamar luas itu lalu mengikuti Gavin menuju sofa di tengah ruangan.

"Ada tanggapan dari Hendrick?" tanyanya.

"Tidak, Bos. Sepertinya dia tak berniat berhenti," sahut Noah.

Gavin mengangguk lalu kembali menyesap minumannya sampai tandas sebelum beralih menatap Jonas.

"Kau tetap di sini, jaga Alexandria. Sepertinya cucu Aphrodite itu merencanakan sesuatu. Jika dia berani mencoba menggunakan kekuatannya, habisi dia! Aku sudah muak dengan tingkahnya," titah Gavin.

"Saya mengerti, Tuan" sahut Jonas.

"Noah, kita kembali ke markas sekarang. Kau sudah siapkan semuanya?" tanya Gavin.

"Ya, Bos. Semua sudah siap," tukas Noah.

"Bagus, ayo pergi." Gavin berkata sambil metakkan gelasnya ke meja lalu beranjak berdiri dan melangkah keluar dari kamar itu.


"Ugh.."

Lexie bergerak gelisah dalam tidurnya. Dia merasakan tubuhnya sangat tidak nyaman dan entah kenapa Lexie merasa seperti sedang diawasi.

Wanita cantik itu membuka matanya perlahan dan mengerjap sebelum beranjak duduk lalu bersandar ke kepala ranjang. Tangannya bergerak memijat keningnya.

"Apa yang terjadi pada tubuhku?" batinnya.

Tok .. tok .. tok ...

Lexie sontak menoleh ke arah pintu kamarnya yang diketuk. Dengan sedikit malas karena tubuhnya terasa lemas, Lexie turun dari ranjang dan menghampiri pintu tanpa memeriksa siapa yang mengetuk.

"Jonas," ujarnya dengan heran saat mendapati pria itu disana.

"Permisi sebentar, Nona." Jonas tanpa mengatakan apa pun lagi langsung merangsek masuk ke kamar itu.

Pria itu lalu bergerak menuju balkon kamar dan menangkap sesuatu dengan cepat sampai Lexie tak bisa menangkap pergerakannya.

Ketika Jonas selesai, Lexie baru bisa melihatnya. Makhluk menyeramkan yang dipegang kuat oleh pria itu dengan sebelah tangannya yang bertransformasi ke dalam wujudnya sebagai manusia serigala.

Makhluk itu Banshee. Lexie sontak menutup mulutnya dengan ekspresi keterkejutan nyata.

"Saya akan mengurusnya, Nona. Anda bisa kembali beristirahat." Ujar Noah sambil mengangguk kecil lalu menghilang di kegelapan malam.

Lexie mencoba mengejarnya ke balkon, tapi pria itu sudah menghilang dari sana, "Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa makhluk itu ada di luar kamarku?"


Lexie terbangun ketika merasakan elusan lembut di puncak kepalanya. Dia mengerjap sejenak sebelum sontak bergerak duduk ketika mendapati Gavin lah yang berada di sisi ranjangnya dengan sebelah tangan mengelus kepalanya.

"Tuan Constantine," lirihnya.

"Apa aku mengganggumu? Kukira kau sudah tidur sangat lelap tadi dan aku sedang mencoba membersihkan pengaruh Banshee itu darimu," tukas Gavin.

"Anda tahu?" Lexie bertanya heran sebelum menyadari itu adalah pertanyaan konyol, tentu saja pria itu tahu Jonas pasti memberitahunya.

Gavin hanya mengangguk, "Berbaringlah lagi, hanya tinggal sedikit lagi aku selesai. Jika tak kulakukan sampai tuntas kau mungkin akan selalu mudah lelah dan tak bisa tidur nyenyak setelah ini."

Lexie yang sesungguhnya masih tak paham, memutuskan untuk menurutinya saja. Bagaimana pun pria itu adalah bosnya dan Lexie juga yakin Gavin tak akan berbuat kurang ajar padanya.

"Pejamkan matamu dan katakan padaku jika kau melihat sesuatu entah itu potongan memori atau apa pun," titah Gavin.

Lexie yang sudah kembali berbaring seperti semula, mulai memejamkan matanya. Dia kembali merasakan elusan lembut Gavin di kepalanya. Sesaat tak terjadi apa pun hingga akhirnya dia mulai melihatnya.

"Seorang anak kecil dan seorang pria muda berdiri di pinggir sebuah tebing menghadap laut luas. Saya tak tahu siapa mereka dan dimana tempat itu," tutur Lexie.

Gavin tak menjawab dan hanya tersenyum kecil mendengarnya. Dia terus mengelus kepala Lexie hingga akhirnya semua pengaruh buruk dalam tubuh wanita cantik itu hilang sepenuhnya.

"Aku selesai," ujarnya.

Lexie membuka matanya perlahan lalu mulai bangkit dan duduk bersandar ke kepala ranjang.

"Sudah sejak kapan Anda disini sebenarnya?" tanya Lexie.

"Sekitar 1 jam yang lalu. Aku baru kembali setelah mengurus sesuatu," sahut Gavin.

"Apa yang Anda lakukan pada saya tadi sebenarnya?" Lexie kembali bertanya.

Gavin tersenyum lembut, "Kau tahu, aku sudah mendapatkan kemungkinan kau ini apa."

Lexie mengerutkan keningnya semakin tak memahami apa yang coba dikatakan pria itu.

"Tolong perjelas, Tuan Constantine. Saya sungguh tak mengerti" sahutnya.

"Aku selalu membawa ambrossia kemana pun aku pergi karena itu berguna untuk pemulihan. Ketika aku tahu kau sempat di serang dan melihat energi Banshee itu masih menempel padamu, aku memasukkan ambrossia ke dalam tubuhmu," jelas Gavin.

"Dengan cara?" Lexie mendesaknya karena dia yakin tak menelan sesuatu sejak tadi.

"Aku bisa mengendalikan cairan apa pun, Alexandria. Jadi aku memasukkannya lewat seluruh pori-pori tubuhmu hingga tersisa sedikit dibagian sini." Tangan Gavin kembali terulur mengelus puncak kepala Lexie.

"Tapi prosesnya tak bisa selesai dengan cepat karena energi makhluk itu selalu menempel seperti parasit, jadi aku butuh waktu," imbuhnya.

"Lalu? Anda bilang karena hal ini Anda jadi tahu saya ini apa" Lexie semakin tidak sabar sekarang.

"Ambrossia tak akan bereaksi dan justru menjadi racun bagi tubuh manusia fana. Tapi tubuhmu justru merespon dengan baik, mungkin kau tak bangkit di tubuh orang lain secara sembarangan. Dimana pun jiwamu mengalami reinkarnasi, tubuh baru itu memang wadah yang cocok untukmu," jelas Gavin.

"Selain itu, ambrossia memiliki efek penyembuh hanya pada mereka yang memiliki potongan jiwa atau darah dewa sepertiku. Kemungkinan yang bisa kupikirkan adalah ibumu atau ayahmu mungkin adalah demigod."

Lexie sontak membelalakkan kedua matanya, "Jika begitu saya adalah ..."

"Ya, Lexie. Kau adalah cucu seorang dewa. Pertanyaannya, yang mana?" tukas Gavin.

"Anda tidak salah, kan?" Lexie masih tak percaya.

"Apakah kau pernah merasa salah satu dari kedua orangtuamu tak menua? Usiamu sekitar 13 tahun saat mereka meninggal, bukan?" Gavin bertanya balik.

Lexie terdiam berusaha mengingat-ingat. Dia sudah sangat lama tak mengingat kedua orangtuanya apa lagi hubungannya memang tak sebaik itu. Setelah terdiam cukup lama, kesadaran akhirnya menghantamnya.

"Saya ingat banyak orang mengatakan penampilan ibu saya tak berubah sedikit pun sejak belasan tahun. Mereka selalu mengatakan ibu bahkan tak memiliki kerutan di wajahnya dan saya pernah menemukan foto lama ibu sebelum menikah, dia memang tak menua," tutur Lexie.

Gavin mengangguk, "Ya, Alexandria. Ibumu lah yang seorang demigod."