Pagi itu jalanan masih lengang. Jam menunjukkan pukul enam lewat sepuluh. Udara pagi terasa segar tapi agak lembap, sisa embun menempel di kaca mobil. Pak Fajar baru saja menyelesaikan absen dini hari di pool taksi. Tubuhnya masih kaku setelah shift malam yang panjang, tapi jam-jam seperti ini sudah biasa.
Ia menyalakan mesin mobil, menyalakan AC, dan membuka aplikasi order. Beberapa menit berlalu, belum ada order masuk. Biasanya jam segini sudah ada penumpang menuju kantor, stasiun, atau bandara.
Tiba-tiba muncul notifikasi order baru. Penjemputan di dekat perkantoran Kuningan. Saat Pak Fajar sampai, seorang bule berdiri di pinggir jalan, membawa ransel lusuh dan koper kecil. Wajahnya ramah, tapi tampak lelah.
“Good morning,” sapa bule itu saat masuk ke mobil.
“Pagi, Pak. Mau ke mana?” tanya Pak Fajar sambil menyesuaikan posisi spion.
“Hotel Ibis, dekat Semanggi,” jawab bule itu pelan.
Pak Fajar mengangguk. Ia bisa bahasa Inggris pas-pasan, cukup untuk mengantar penumpang. Ia memutar mobil, masuk ke jalan utama.
Perjalanan awal sunyi. Bule itu sibuk menatap ponsel, sesekali menulis sesuatu di buku catatan kecil. Pak Fajar mengamati. Terlihat seperti pekerja freelance atau wisatawan hemat.
Sesekali ia menanyakan hal-hal kecil. “Mau minum air, Pak?”
“Tidak, terima kasih,” jawab bule itu sambil tersenyum. “Saya sudah biasa.”
Pak Fajar menepuk dashboard pelan. Sering ia bertemu penumpang hemat, tapi tetap sopan, kadang membuatnya tersenyum sendiri.
Di persimpangan, lampu merah membuat mobil berhenti. Bule itu menoleh.
“By the way, how much?” tanyanya.
Pak Fajar menyiapkan jawaban. “Standard fare, Pak. Biasa saja.”
Bule itu menghitung receh di dompetnya. “Twenty… twenty-four?”
Pak Fajar tersenyum. “Cukup, Pak. Tidak apa-apa.”
Bule itu lega, tersenyum malu. Ia memberikan uang pas.
“Thank you. Sorry… I’m so cheap,” katanya sambil tertawa pelan.
Pak Fajar ikut tersenyum. “Tidak apa-apa, Pak. Yang penting sampai tujuan aman.”
Order selesai. Pak Fajar menyalakan aplikasi lagi. Hari masih panjang. Ia sadar, hari ini mungkin akan banyak penumpang seperti itu: hemat, memperhitungkan setiap rupiah, tapi tetap sopan.
Ia bergerak ke titik ngetem berikutnya. Jalan mulai ramai. Kendaraan pribadi, ojek online, dan beberapa sopir taksi lain sudah berseliweran. Pak Fajar berhenti di lampu merah, melihat sekeliling. Beberapa sopir lain menyalami satu sama lain, berbicara pelan tentang kondisi jalan dan tips spot penumpang.
Tiba-tiba seorang ibu muda melambai. Pak Fajar berhenti. Penumpang itu ingin ke sekolah anaknya. Pak Fajar membantu membawa tas sekolah yang cukup besar. Ia tersenyum.
“Terima kasih, Pak,” kata ibu itu. “Hari ini macet sekali.”
“Santai saja, Bu. Kita pasti sampai,” jawab Pak Fajar.
Perjalanan berlangsung lancar. Ibu itu bercerita sedikit tentang anaknya yang baru masuk sekolah menengah pertama. Pak Fajar mendengarkan sambil fokus menyetir. Ia menyadari, pekerjaan ini kadang bukan sekadar mengantar orang, tapi juga mendengar cerita mereka.
Setelah menurunkan ibu itu, Pak Fajar menerima order berikutnya. Kali ini penumpangnya bule lain, tampak lebih muda, membawa tas punggung dan ransel laptop. Bule itu tampak bingung dengan aplikasi. Pak Fajar harus menjelaskan langkah demi langkah.
“Click here, Pak. Now enter the amount,” ujar Pak Fajar sambil menunjuk layar.
Bule itu gemetar menekan tombol, tampak panik. Pak Fajar tertawa kecil. “Santai saja, Pak. Nggak usah panik.”
Bule itu tersenyum lega. “Thanks, man. You’re very patient.”
“Nothing, Pak. It’s my job,” jawab Pak Fajar.
Siang mulai terasa terik. Jalanan ramai dengan kendaraan. Penumpang mulai lebih banyak orang lokal. Pegawai kantoran, mahasiswa, ibu rumah tangga. Semua rutinitas biasa, tapi ada momen lucu: seorang pria yang terlihat terburu-buru masuk ke mobil sambil membawa tas belanja penuh plastik. Saat ia hendak duduk, plastiknya tersangkut di kursi. Pak Fajar harus membantunya sambil tertawa.
“Sorry, sorry,” kata penumpang itu.
“Tidak apa-apa, Pak. Biar saya bantu,” jawab Pak Fajar sambil mengatur posisi tas.
Beberapa menit kemudian, mobil melewati lampu merah. Bule tadi melihat keluar jendela dan tertawa melihat rombongan mahasiswa naik motor sambil membawa poster.
“Crazy students,” katanya sambil tertawa.
Pak Fajar tersenyum. “Ya, Pak. Mereka setiap hari begitu.”
Sore hari semakin ramai. Pak Fajar berpindah-pindah titik untuk mencari order. Kadang ke perkantoran, kadang ke pemukiman. Di lampu merah, ia melihat beberapa sopir lain mengobrol. Beberapa tertawa, berbagi cerita lucu tentang penumpang hari itu.
Pak Fajar menepuk dashboard. “Hari ini lucu-lucu juga ya,” gumamnya. Ia membuka jendela sebentar, menghirup udara sore yang panas tapi segar.
Menjelang malam, ia mendapat order agak jauh. Penumpangnya seorang wanita paruh baya yang baru pulang kerja. Ia duduk diam, wajah lelah.
“Capek ya, Pak?” tanyanya.
“Iya, Bu. Tapi namanya kerja,” jawab Pak Fajar.
“Ya, benar juga,” katanya sambil tersenyum tipis.
Perjalanan selesai. Wanita itu memberi tip sedikit. Pak Fajar tersenyum. “Terima kasih, Bu.”
Order selanjutnya datang, tapi jaraknya dekat. Penumpang lokal, anak muda, ingin ke mall. Pak Fajar mengantar dengan lancar. Ia menyadari, di kota besar ini, setiap penumpang punya cerita, dan setiap cerita berbeda.
Jam menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Hari ini hampir selesai. Pak Fajar kembali ke pool. Tubuhnya lelah, tapi hati ringan. Ia menyalakan AC sebentar untuk menenangkan diri sebelum turun.
Beberapa sopir lain masih duduk di bangku, bercakap pelan. Beberapa mengunyah gorengan, beberapa meneguk kopi. Mereka berbagi cerita tentang pengalaman lucu hari itu, tentang penumpang bule yang pelit, penumpang lokal yang cerewet, atau kejadian konyol di jalanan.
Pak Fajar duduk di bangku Pool sembari menyeruput kopi terakhirnya, menatap mobil-mobil yang sudah parkir rapi di pool. Beberapa sopir masih ngobrol pelan, beberapa meneguk minuman hangat sambil membuka ponsel. Malam itu kota terlihat tenang, suara kendaraan jauh, lampu jalan redup, hanya sesekali terdengar klakson di kejauhan.
Ia tersenyum sendiri. Hari ini bukan hari yang berat, tapi juga bukan yang paling mudah. Ada momen lucu, ada penumpang hemat, ada yang cerewet, ada yang ramah. Semua pengalaman itu seolah menempel di pikirannya, membuatnya sadar bahwa pekerjaan ini lebih dari sekadar angka setoran atau orderan.
Pak Fajar mengangkat ponsel, mengetik pesan singkat untuk istrinya: “Hari ini lucu-lucu, Bu. Banyak cerita. Besok siap lagi jam tiga dini hari.”
Istrinya membalas dengan emotikon senyum, membuat Pak Fajar ikut tersenyum lagi. Ia menutup aplikasi, menaruh kopi kosong ke samping, dan menarik napas panjang.
Sebelum pulang, ia menatap lagi deretan mobil yang berjajar. Ada rasa lega sekaligus bangga. Ia mungkin hanya sopir taksi biasa, tapi hari ini ia berhasil melewati semua momen kecil dengan sabar, tertawa, dan tetap profesional.
“Besok lagi,” gumamnya pelan. “Kota ini selalu punya cerita baru. Dan aku siap menghadapinya.”
Dengan itu, Pak Fajar menutup pintu pool, berjalan menuju motornya untuk pulang. Malam terasa lebih hangat dari sebelumnya. Meski lelah, ia tahu besok akan ada petualangan lain, tawa lain, dan pelajaran baru. Kota ini memang keras, tapi penuh cerita yang tak ternilai harganya.
Dan malam itu, di bawah lampu yang redup, Pak Fajar berjalan pulang dengan hati ringan, membawa pengalaman hari ini sebagai bagian dari perjalanan hidupnya sebagai sopir taksi.