"Kalau begitu seharusnya dia seperti Anda, bukan? Immortal," Lexie berkata tak terima karena jika ibunya benar seperti yang dikatakan Gavin, baginya seharusnya ibunya masih hidup seperti pria itu.
"Ingat aku pernah mengatakan padamu bahwa sekalipun aku immortal, aku tetap bukan undead?" Gavin tersenyum lembut sambil mengelus tangan Lexie yang terkepal tanpa disadari wanita itu.
"Ya, saya mengingatnya," tukas Lexie.
"Kami demigod sekalipun saat berhasil mendapatkan seluruh kekuatan kami sepenuhnya akan membuat kami berhenti menua, kekuatan itu bagai dua mata pedang," Gavin memulai.
"Dengan memiliki sebagian kecil kekuatan dewa, kami juga memiliki kelemahannya. Ada satu titik di tubuh demigod yang hanya diketahui olehnya sendiri. Titik yang jika kau menusuk atau melukai tepat disana, kau akan bisa membunuh anak dewa."
"Titik Achilles (istilah yang merujuk pada kisah achilles dan tumitnya yang menjadi titik penghantar kematiannya)" simpul Lexie.
"Ya." Jawab Gavin sambil mengangguk.
"Kalian tak akan bisa dibunuh kecuali tahu dimana titik itu." Ujar Lexie lagi yang membuat Gavin kembali mengangguk.
"Itu dan mungkin ramalan gila yang menyatakan kematian kami tanpa sebab jelas. Itu jelas permainan takdir buruk bagi kami," ujarnya.
Lexie lalu menatapnya ngeri ketika pemikiran lain terlintas di benaknya, "Kalau begitu, Ibuku bunuh diri?"
Gavin menghela nafasnya kasar, "Aku tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi padanya, tapi itu mungkin saja. Kau tahu apa yang menyebabkan banyak demigod mati selain monster yang tanpa sengaja menyerang titik lemah mereka?"
"Bunuh diri," tebak Lexie.
"Ya, karena keabadian ini bisa membuatmu gila, Alexandria. Terutama ketika kau jatuh cinta pada manusia fana, mereka menua tapi kau tidak. Mereka mati tapi kau tidak. Penderitaan itu yang membuat mereka mengakhiri hidupnya," tutur Gavin.
Lexie tertegun, tanpa disadarinya setetes air mata jatuh dari matanya. Gavin sendiri langsung mengusap air mata itu perlahan dan mengelus sisi wajah Lexie.
"Kita tak tahu pasti apa yang terjadi padanya, Alexandria. Bisa jadi dia meninggal karena ada monster yang menyerangnya," ujar Gavin menenangkan.
Lexie sontak menggeleng, "Tidak, Ibu sangat mencintai Ayah. Orang yang paling terpuruk saat itu adalah dirinya."
"Itu tetap tidak bisa membuktikan dia membunuh dirinya sendiri dan meninggalkanmu begitu saja," tukas Gavin.
"Oh, dia tentu akan meninggalkanku. Mengapa tidak? Dia pernah melakukannya dan bukan hanya satu kali. Dimatanya hanya ada Ayah," sahut Lexie sinis, gejolak emosi yang dirasakannya sampai membuatnya menanggalkan segala formalitas dalam kata-katanya.
Gavin menatapnya cukup lama sebelum bergerak memeluknya perlahan, "Menangislah, sudah berapa puluh tahun kau tak menangis, hem? Tak ada yang akan menyalahkanmu hanya karena kau menangis, Alexandria."
Mendengar itu, air mata langsung menetes dari kedua mata abu itu. Yang awalnya hanya berupa isakan, lama kelamaan berubah menjadi tangisan pilu. Lexie menumpahkan semua kesedihan, rasa frustasi dan amarahnya selama puluhan tahun dia mengalami reinkarnasi ini.
Semua gejolak emosi yang tak pernah bisa dilepasnya karena tak ada satu pun orang yang memahami kondisinya dan bisa membantunya. Sisi dirinya yang tak pernah ditunjukkan karena sibuk beradaptasi dengan kondisi tak menentu.
Gavin tak mengatakan apa pun dan hanya membiarkan Lexie menangis di dadanya. Jemarinya terus bergerak mengelus kepala Lexie lembut, berusaha membuat wanita itu tahu bahwa Gavin mengerti semua yang dirasakannya.
Cukup lama di posisi itu, Lexie akhirnya mulai bisa meredakan tangisnya. Dia sedikit mengurai pelukan mereka lalu menatap Gavin dengan penuh penyesalan karena telah membuat kemeja pria itu basah.
"Maafkan saya, Tuan Constantine." Ujarnya dengan suara serak.
"Tak apa, aku bisa menggantinya nanti," Gavin berkata sambil tersenyum.
Pria muda itu lalu bergerak membantu Lexie kembali berbaring, "Tidurlah, kau membutuhkannya."
Lexie mengangguk lalu mulai memejamkan matanya. Ketika dia merasakan Gavin beranjak pergi, Lexie membuka matanya dan tangannya refleks meraih lengan pria itu.
"Bisakah anda tetap di sini dulu sampai saya tertidur?" pintanya.
Gavin yang sempat terkejut pada akhirnya tersenyum lembut dan mengangguk, "Baiklah, aku akan menemanimu sampai kau tertidur."
Keesokan paginya, Lexie terbangun dengan tubuh lebih segar. Dia lalu menoleh dan mendapati sebuah catatan di atas nakas.
Aku akan menjemputmu pukul 8 untuk sarapan bersama. Kurasa aku harus membawamu ke markas kelompok mafiaku di sini untuk menjawab beberapa pertanyaanmu selama ini.
Lexie sedikit mengerutkan keningnya saat membaca catatan yang ditinggalkan Gavin untuknya. Dia lalu melirik ke arah jam dan terbelalak saat mendapati waktu menunjukkan pukul 7.40 pagi.
"Shit! Mati kau, Lexie" umpatnya dalam hati ketika menyadari dia hanya punya waktu kurang dari setengah jam untuk bersiap.
Dengan cepat, Lexie langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengganti pakaian dan mengeringkan rambutnya yang basah. Dia memutuskan untuk tak memoleskan apa pun di wajahnya, toh dia sudah tak punya waktu dan bukannya akan pergi bekerja atau semacamnya.
Tok .. tok .. tok ...
Tepat pukul 8, pintu kamarnya diketuk. Lexie memutar bola matanya karena tahu jelas si monster tepat waktu bernama Gavin Constantine itu lah yang ada di balik pintunya.
Ceklek ..
"Selamat pagi, Tuan Constantine." Ujar Lexie sambil tersenyum ramah.
"Tadinya kukira kau akan sedikit membuatku menunggu." Gavin berujar dengan senyum jahilnya.
"Ah, maafkan saya karena tepat waktu," sindir Lexie kesal.
Gavin terkekeh lalu mengulurkan tangannya, "Ayo, sayang."
Lexie sontak memicingkan matanya, "Bisa Anda hentikan itu? Tak ada manajer hotel untuk mempertontonkan drama kita dan panggilan itu membuat saya merinding."
"Lexie kalau begitu," sahut Gavin dengan santainya.
"Terserah Anda sajalah." Ketus Lexie yang dengan ekspresi terpaksa menerima uluran tangan Gavin.
"Haruskah aku mengingatkanmu kau lah yang memintaku tetap tinggal bersamamu semalam, Lexie?" goda Gavin sambil menggiring wanita cantik itu menuju lift.
"Saya mengingatnya, terimakasih." Ujar Lexie yang wajahnya sudah memerah menahan malu sekarang.
Dia sudah merutuki dirinya sejak bangun tadi pagi karena bisa-bisanya bukan hanya menangis di pelukan bosnya tapi juga meminta pria itu menemaninya sampai tertidur.
DING ..
Ketika pintu terbuka, Lexie sebenarnya sudah bersiap untuk melihat wanita cantik sang manajer hotel itu menyambut mereka lagi seperti kemarin. Tapi kali ini dia salah, wanita itu tak ada disana.
Gavin tak melepaskan tautan tangan mereka hingga mereka sampai di restoran dan memulai sarapan pagi bersama. Lexie sempat menghembuskan nafas lega karena paginya berlalu dengan damai sebelum matanya menangkap sang manajer hotel berjalan dengan pakaian kurang bahan menurutnya, menuju ke arah mereka.
"Pagiku yang damai rusak sudah" batinnya kesal.
"Kita tak akan lama di sini. Jika kau sudah selesai, kita bisa langsung pergi dan baru akan kembali nanti malam," tukas Gavin.
"Bukankah seharusnya saya disini untuk bekerja? Kenapa anda malah mengajak saya ke tempat lain?" tanya Lexie penasaran.
"Kita harus membicarakan banyak hal sekarang setelah aku tahu kau keturunan dewa seperti wanita yang sedang kau pelototi itu," tukas Gavin.
"Saya tidak memelototinya." protes Lexie.
"Kau tahu jelas tak bisa membohongiku, Lexie," ujar Gavin.
"Selamat pagi, Tuan. Apa saya boleh bergabung?" sang manajer hotel menyapa Gavin, lagi-lagi dengan mengabaikan Lexie yang jelas duduk di depan pria itu.
"Maaf, Anda nona Andrea?" Lexie berkata sambil menyipitkan matanya membaca name tag di pakaian wanita itu.
"Bisa tolong pergi dari meja kami? Aku sedang menikmati makan pagi dengan kekasihku dan kau sudah sangat menganggu sejak kemarin. Tolong miliki sedikit harga diri dan hentikan sikapmu yang seperti jalang itu," Lexie melanjutkan perkataannya kali ini dia tak lagi berusaha menyaring kata-katanya.
"Kau yang seharusnya pergi dari sini, Nona Greco," Andrea berujar penuh penekanan.
Ketika mendengar suara wanita itu, Lexie merasakan sensasi dingin di tengkuknya lalu dia merasakan sedikit dorongan untuk bangkit dan pergi dari sana sebelum akhirnya mendapat kesadarannya lagi.
"Apa itu barusan?" batinnya heran.
Gavin menyadari bahwa Andrea baru saja menggunakan kekuatannya untuk memaksa Lexie pergi dari sana tanpa disadari wanita itu.
"Nona Visconi, pergi dari hadapanku sebelum aku kehilangan kesabaran dan membunuhmu di sini sekarang juga!" Gavin berkata sarat amarah.
Andrea sontak gemetar takut, dia tahu itu bukan ancaman kosong karena seluruh tempat itu bergetar pelan sekarang. Pria itu sudah di ambang ledakan amarahnya yang bisa saja meruntuhkan seluruh bangunan itu.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Andrea berbalik dan pergi dari sana. Lexie yang melihat semua itu hanya bisa mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Apa yang terjadi barusan, Tuan Constantine? Saya merasa untuk sesaat seperti tak memiliki kendali atas diri saya sendiri," tanya Lexie.
Gavin menghela nafas kasar, "Itu adalah sebagian kekuatan Aphrodite yang dimiliki keturunannya. Untungnya kau memiliki cukup kekebalan karena kalian bisa dikatakan memiliki posisi darah yang sama."
"Jangan pernah kemana pun sendirian saat kau di hotel ini, jangan sembarangan mengangkat panggilan di telepon yang ada di kamarmu dan selalu periksa siapa yang mengetuk pintumu."
"Kau tahu aku bisa mendengar suara pikiranmu, kan? Gunakan itu saat kau membutuhkanku. Aku akan datang padamu, Lexie."