Matahari belum sepenuhnya naik ketika Pak Budi membuka pintu pool. Jam di ponselnya menunjukkan pukul tiga lewat lima menit. Udara pagi masih dingin, sisa embun menempel di kaca mobil. Beberapa sopir sudah menyalakan mesin, menunggu order masuk. Suasana tenang, hanya terdengar suara langkah kaki dan gesekan pintu mobil.
Pak Budi menatap deretan mobil yang berjajar rapi. Malam sebelumnya ia pulang dengan kepala berat. Setoran hari sebelumnya belum cukup untuk menutup KS yang masih menempel dari beberapa hari lalu. Rasanya masih ada beban di dada, tapi pekerjaan tetap harus jalan. Ia membuka pintu mobil, duduk, menarik napas panjang, lalu menyalakan mesin.
“Bismillah,” gumamnya.
Ia menyalakan AC sebentar untuk menghangatkan mobil. Tangannya menepuk setir. Tubuhnya masih terasa kaku setelah tidur yang pendek. Ia tahu, jam-jam pertama ini adalah waktu yang paling berat. Tubuh baru mulai bangun, tapi ia sudah harus berada di jalan.
Order pertama masuk pukul empat lewat dua puluh. Penumpangnya seorang pria paruh baya yang hendak ke kantor di kawasan perkantoran. Perjalanan singkat, tidak banyak bicara, hanya ucapan terima kasih saat turun. Pak Budi mencatat di kepala, awal yang lumayan.
Namun sejak itu, jalanan menjadi sunyi. Hari itu adalah hari libur nasional, efeknya terlihat jelas: orang-orang jarang keluar rumah, sekolah libur, banyak kantor tutup. Ia berpindah dari stasiun ke perempatan ramai, dari perempatan ke kawasan pemukiman. Semua tetap sepi. Kadang hanya melihat motor lewat, mobil pribadi melintas, tapi tidak ada yang memesan taksi.
“Dua penumpang saja sampai siang,” gumam Pak Budi, menarik napas panjang. “Ini berat. Semoga KS bisa ditutup besok.”
Ia menepi sebentar di tepi jalan. Membuka botol air, meneguk pelan. Tangannya mengusap wajah. Beberapa sopir lain terlihat santai, bercakap-cakap. Pak Budi hanya menatap dari jauh. Mereka mengerti, tapi tidak bisa membantu. Hari ini memang harus dihadapi sendiri.
Menjelang pukul sebelas, ponsel bergetar. Sebuah panggilan masuk dari kepala bagian. Pak Budi menahan napas, detak jantung meningkat.
“Pak Budi, bisa ke kantor sebentar?” suara di telepon terdengar formal.
“Baik, Pak. Segera saya ke sana,” jawabnya.
Dalam perjalanan menuju kantor, Pak Budi mengatur napas, mencoba menenangkan pikiran. Ia menghitung-hitung pendapatan hari ini. Hanya dua perjalanan, masing-masing jarak dekat. Lumayan untuk biaya bensin, tapi tidak cukup untuk menutup KS yang menempel. Kepala bagian selalu menekankan disiplin. Hari ini ia sadar, meski libur, kewajiban tetap berjalan.
Tiba di kantor, kepala bagian menatap serius.
“Pak Budi, saya lihat setoran hari ini dan KS yang belum lunas,” katanya. “Pendapatan turun drastis, KS menempel. Besok saya tidak bisa izinkan Pak Budi narik sebelum KS dibayar.”
Pak Budi menelan ludah, mengangguk pelan. “Iya, Pak. Hari ini memang sepi.”
Kepala bagian menatapnya tajam. “Hari libur begini memang jarang penumpang. Tapi KS tetap kewajiban. Kita tidak bisa membiarkan menempel terlalu lama. Besok harus lunas sebelum mulai narik.”
Pak Budi menarik napas panjang. Kepala terasa berat, tapi ia tahu ini bagian dari pekerjaannya. Hari ini tidak ideal, tapi harus dijalani.
Ia kembali ke mobil. Menghidupkan AC sebentar, menyesap kopi sachet dari termos kecil. Ia mencoba mengumpulkan tenaga. Sepanjang jalan kembali ke titik ngetem, pikirannya bercabang-cabang. Bagaimana jika besok tidak ada cukup uang untuk KS? Bagaimana jika pendapatan tetap rendah? Ia harus menyiapkan strategi.
Siang menjelang. Jalanan mulai ramai. Orang-orang keluar membeli kebutuhan sehari-hari, motor berlalu-lalang, mobil pribadi mulai padat. Pak Budi mengatur napas, menahan kantuk, mengingat kata kepala bagian: besok harus lunas KS. Hari ini hanyalah latihan kesabaran.
Pukul satu siang, ia menepi sebentar di dekat warung. Membeli gorengan dan teh manis. Duduk di dalam mobil, menikmati makanan sederhana. Beberapa sopir lain datang, menyapa, bercakap ringan.
“Sepi banget ya, Budi?” tanya Pak Toni, sopir senior.
“Iya, Pak. Dua penumpang saja sampai siang,” jawab Pak Budi. “Libur nasional memang beda.”
Pak Toni mengangguk, menepuk bahunya. “Yang penting tetap sabar. Besok bisa lebih ramai.”
Mereka berbincang sebentar tentang kehidupan. Tentang penumpang yang cerewet, penumpang baik yang memberi tip, tentang anak-anak yang sekolah dan tantangan hidup. Pak Budi merasa sedikit lega. Percakapan sederhana itu memberi semangat.
Menjelang sore, order mulai masuk sedikit demi sedikit. Perjalanan ke kantor, pemukiman, pasar. Lumayan untuk menambah pendapatan, tapi tetap belum bisa menutup KS. Pak Budi menghitung di kepala, mencatat satu per satu.
Pukul enam sore, ia berhenti sebentar. Membeli minum, duduk di mobil sambil menikmati angin sore. Jalanan lebih ramai, tapi masih belum cukup. Ia mencoba tetap fokus.
Pukul delapan malam, order terakhir datang. Seorang pria muda yang hendak ke rumah kerabatnya. Perjalanan lancar, tanpa drama. Penumpang turun sambil tersenyum, memberi ucapan terima kasih. Pak Budi mengangguk, merasa sedikit lega.
Jam mendekati sebelas malam. Waktu hampir habis. Pak Budi mengarahkan mobil kembali ke pool. Kepala terasa berat, tapi ia merasa lega. Hari ini meski pendapatan menurun, setidaknya ia tetap profesional.
Di pool, beberapa sopir tampak santai. Ada yang sudah selesai setoran, ada yang baru pulang. Pak Budi parkir rapi, mematikan mesin, duduk sebentar sebelum turun. Tarikan napas panjang.
Ia menyiapkan catatan setoran. Petugas memeriksa, menghitung, menyebutkan jumlah KS yang belum lunas. Pak Budi mengangguk. Ia menyerahkan sejumlah uang sebagai pelunasan KS untuk besok. Tidak banyak, tapi cukup untuk menutup kewajiban dan membuatnya bisa narik lagi esok pagi.
Setelah selesai, Pak Budi keluar dari pool. Malam terasa sunyi. Jalanan sepi. Ia duduk sebentar di bangku dekat pool, menatap lampu yang redup. Hati campur aduk. Lelah, tapi lega. Berat, tapi masih ada harapan.
Ia pulang dengan motor. Angin malam menyapu wajah, membangkitkan rasa segar sedikit. Di rumah, istrinya menyambut dengan senyum dan pertanyaan ringan.
“Bagaimana hari ini?”
Pak Budi tersenyum. “Sepi, Bu. Tapi sudah lunas KS. Besok siap narik lagi.”
Istrinya mengangguk. Tidak banyak bicara, hanya senyum dan tepukan di bahunya. Mereka terbiasa menghadapi hari baik dan hari buruk bersama.
Malam itu, Pak Budi tidur lebih cepat. Alarm disetel kembali untuk pukul dua dini hari. Jam tiga, ia akan kembali absen, kembali ke setir. Karena baginya, pekerjaan ini bukan hanya soal uang. Ini soal kesabaran, tanggung jawab, dan terus bertahan.
Dan selama setir masih bisa ia pegang, ia tahu, besok adalah hari baru. Rezeki bisa datang, order bisa bertambah, dan harapan tetap hidup.
Sementara itu, di pool, sopir lain mulai bercakap-cakap tentang pengalaman hari ini. Ada yang berbagi cerita lucu, ada yang mengeluh tentang order yang batal. Pak Budi mendengarkan sebentar sebelum pulang. Ia tersenyum pelan. Meski hari ini berat, setidaknya ia masih punya teman, cerita, dan semangat untuk terus menghidupi keluarganya.