Obrolan yang Terhenti

Penulis BurungBiru
17 January 2026

Malam itu pangkalan taksi di ujung jalan besar terasa lebih sepi dari biasanya. Lampu jalan yang kuning redup memantul di kap mobil. Udara lembap, angin bertiup pelan, membawa aroma bekas hujan semalam. Pak Roni menepikan mobilnya di dekat trotoar. Mesin dimatikan, ia menghela napas panjang.

Sudah hampir dua jam ia menunggu order, tapi panggilan di aplikasinya masih kosong. Hari libur memang membuat jalanan relatif sepi, meski beberapa kendaraan pribadi masih lewat. Ia menyalakan lampu kabin sebentar, menarik termos kopi, menyesap perlahan.

“Sepi banget malam ini,” gumamnya sendiri.

Tak jauh dari mobilnya, Pak Dewa dan Pak Imam, dua rekan sopir yang sering ngobrol bersamanya, juga tampak santai menunggu order. Mereka duduk di bangku lipat sambil menyeruput kopi hangat.

“Biarin saja, Ron. Kalau belum rezeki, ya sabar,” kata Pak Dewa sambil menatap jalan.

Pak Roni mengangguk. “Iya, tapi bosen juga kalau dua jam cuma nunggu doang. Udah perut keroncongan juga. Mulut asem ini, mau ngopi ngerokok kantong cekak."

Pak Imam terkekeh. “Iya, tapi kita sudah terbiasa. Jangan ngeluh nanti juga dikasih rezeki sama Allah, Ron. Yang penting jangan panik. Nanti kalau order masuk, harus siap.”

Mereka mulai ngobrol ringan. Tentang penumpang lucu, tentang pengalaman lucu ketika menjemput penumpang mabuk atau tersesat. Tentang tip yang kadang bikin senang, kadang bikin kesel. Pak Roni mulai tersenyum pelan. Obrolan sederhana itu membuatnya sedikit lega dari kantuk dan lelah menunggu.

“Eh, Ron,” kata Pak Dewa tiba-tiba. “Ingat nggak, minggu lalu yang nyasar ke daerah perumahan itu? Yang nangis-nangis karena takut ketinggalan kereta?”

Pak Roni tertawa. “Iya, ya ampun. Itu bikin mobil aku sampai bau parfum bayi, nggak bisa hilang seharian.”

Pak Imam ikut ketawa. “Aku juga pernah. Penumpang mabuk, muntah di kursi belakang. Untung ada kantong plastik cadangan.”

Mereka tertawa lagi. Suasana pangkalan terasa hangat meski malam semakin larut. Lampu jalan mulai bergetar perlahan, mobil-mobil jarang melintas.

Pak Roni menyesap kopi terakhirnya. “Senang juga bisa ngobrol kayak gini. Kadang sepi nggak terasa berat.”

Pak Dewa mengangguk. “Iya, ngobrol itu penting. Biar nggak stres sendirian di jalan.”

Namun, obrolan itu tiba-tiba terhenti. Pak Imam mengeluh pelan sambil memegang dadanya.

“Aduh, Ron… dada rasanya panas,” katanya dengan suara bergetar.

Pak Roni menoleh cepat. “Apa-apaan, Im? Santai, tarik napas dalam dulu.”

Pak Imam mencoba duduk lebih tegak, tapi wajahnya memucat. Matanya menatap kosong ke jalan. Pak Dewa berdiri cepat, memegang bahunya.

“Im, tenang, kita panggil ambulans sekarang,” kata Pak Dewa sambil mencari ponsel.

Pak Roni menekan tombol darurat di ponselnya. Jantungnya berdetak kencang. “Pak Imam, Pak Imam! Tarik napas, tarik napas!”

Pak Imam berusaha menggerakkan tangan, tapi tubuhnya lemas. Ia jatuh perlahan ke samping bangku. Pak Dewa menahan tubuhnya, Pak Roni menelpon ambulans.

“Lokasi… pangkalan taksi… ujung jalan besar… cepat!” suara Pak Roni tegang.

Mereka menunggu dengan napas tertahan. Beberapa sopir lain yang kebetulan lewat berhenti, menatap kaget. Mereka tahu Pak Imam sopir yang sehat, jarang sakit. Tiba-tiba saja ini terjadi.

Ambulans datang lima menit kemudian. Petugas membawa stretcher dan peralatan medis. Pak Roni dan Pak Dewa menyingkir sedikit. Pak Imam dibantu naik ke stretcher, wajahnya pucat, napas tersengal.

“Segera ke rumah sakit,” kata petugas dengan tegas.

Pak Dewa menepuk pundak Pak Roni. “Ron, kita harus tetap tenang. Ini bukan salah kita.”

Pak Roni hanya mengangguk pelan, tubuhnya gemetar. Ia menatap ambulans yang melaju menjauh. Hatinya campur aduk. Lelah, takut, dan tidak percaya.

Setelah ambulans pergi, suasana di pangkalan menjadi hening. Sopir-sopir yang lain menatap satu sama lain. Beberapa mencoba bercanda pelan, tapi tawa mereka terasa dipaksakan.

Pak Roni duduk kembali di mobilnya. Ia menyalakan mesin, tapi tidak melaju. Tangannya memegang setir, matanya kosong menatap dashboard. Pikiran tentang Pak Imam terus berputar.

“Aku nggak nyangka…,” gumamnya pelan.

Pak Dewa duduk di samping mobil Pak Roni. “Kita nggak bisa prediksi, Ron. Serangan jantung bisa datang tiba-tiba. Kita cuma bisa doain dia selamat.”

Mereka menunggu kabar dari rumah sakit. Beberapa sopir datang untuk bertanya dan menyemangati. Ada yang membawa air minum, ada yang sekadar duduk dekat mobil, menenangkan hati yang cemas.

Pukul satu malam, seorang sopir lain datang membawa kabar dari rumah sakit. Wajahnya muram.

“Pak Imam… sudah meninggal,” katanya singkat.

Pak Roni terdiam. Tangannya tetap di setir. Suasana pangkalan menjadi hening total. Bahkan suara kendaraan yang lewat di jalan terdengar terlalu keras.

Pak Dewa menepuk bahu Pak Roni lagi. “Ron… kita harus terima. Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Kita doakan saja.”

Pak Roni menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingat obrolan ringan malam itu, tawa, candaan tentang penumpang. Semuanya terasa seperti mimpi yang terhenti.

Malam itu, Pak Roni dan beberapa sopir lain duduk bersama di pangkalan. Mereka membicarakan kenangan Pak Imam. Bagaimana ia selalu tepat waktu, ramah dengan penumpang, suka membantu sopir baru. Semua mengingatnya dengan hangat dan sedih.

“Dia selalu bilang,” kata Pak Dewa, “’Jangan menyerah di jalan, Ron. Hari ini berat, besok pasti ada yang lebih ringan.’”

Pak Roni mengangguk pelan. “Iya… tapi sekarang aku nggak tahu harus gimana. Rasanya… hampa.”

Mereka duduk beberapa saat, membiarkan rasa kehilangan itu mengendap. Obrolan malam itu tidak lagi tentang penumpang, tidak lagi tentang order, tapi tentang hidup, kematian, dan arti persahabatan di jalan.

Setelah beberapa jam, mereka perlahan kembali ke mobil masing-masing. Pak Roni menyalakan mesin. Ia tahu besok harus kembali narik. Tapi malam itu, hati dan pikirannya masih berat. Ia menatap jalan panjang di depannya, memahami bahwa pekerjaan ini tidak hanya tentang uang dan setoran, tapi tentang manusia, persahabatan, dan ketidakpastian hidup.

Di sepanjang jalan pulang, Pak Roni mengingat pesan terakhir Pak Imam malam itu: tetap sabar, jangan menyerah, terus bertahan. Pesan itu kini terasa lebih berat dan lebih berharga dari sebelumnya.

Di rumah, Pak Roni duduk diam sebentar, menyeruput teh hangat, memikirkan teman yang baru saja pergi. Ia tahu besok akan kembali ke jalan, menerima order, menghadapi penumpang. Tapi malam ini, ia belajar bahwa hidup bisa berhenti tiba-tiba, dan kadang obrolan ringan yang biasa bisa menjadi kenangan terakhir yang tak tergantikan.

Dan dari malam itu, Pak Roni berjanji dalam hati. Setiap kali ia menyalakan mesin dan menginjak pedal gas, ia tidak hanya bekerja untuk setoran, tapi juga untuk menghargai hidup, menghargai persahabatan, dan menghargai setiap detik yang diberikan.