Malam itu kota terlihat lebih lengang dari biasanya. Lampu jalan memantul di aspal basah, meninggalkan bayangan mobil yang bergeser perlahan. Pak Wahyu menekan setir mobilnya sambil mengatur AC. Tubuhnya lelah setelah narik sejak subuh, tapi setoran belum mencapai target. Ia menarik napas panjang.
“Semoga malam ini ada penumpang yang lumayan,” gumamnya.
Ia menepi sebentar di persimpangan kecil, menunggu order masuk. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Order baru masuk. Ia tersenyum.
“Alhamdulillah,” katanya. “Akhirnya.”
Order itu jaraknya cukup jauh, dari kawasan perkantoran ke daerah pemukiman. Pak Wahyu mengangguk pada dirinya sendiri. Mesin dihidupkan, lampu sein menyala, ia melaju ke titik jemput.
Beberapa menit kemudian, penumpang muncul. Seorang wanita muda, membawa tas kerja besar. Ia tersenyum saat melihat Pak Wahyu membuka pintu.
“Selamat malam, Pak,” katanya.
“Selamat malam, Bu. Tujuannya ke mana?” tanya Pak Wahyu.
“Ke perumahan dekat Jalan Melati,” jawabnya.
Mereka mulai bergerak. Lalu lintas malam relatif lengang. Percakapan ringan terjadi. Wanita itu bercerita tentang hari kerjanya yang panjang, rapat yang tidak ada habisnya, dan pulang kantor dengan kepala pusing.
Pak Wahyu tersenyum mendengar cerita itu. Sesekali ia menimpali dengan kata-kata ringan, sekadar mengisi hening di dalam mobil.
Namun, saat mendekati perempatan yang agak sempit, nasib buruk datang. Sebuah motor keluar dari gang tanpa melihat. Pak Wahyu menekan rem mendadak, tapi sedikit mengenai spion motor itu. Motor itu terhenti dengan cepat, pengendara menoleh dan mengomel.
“Maaf, Pak! Maaf sekali!” seru Pak Wahyu sambil mengangkat tangan.
Penumpangnya terdiam, wajahnya tegang. “Apakah… apa yang mengenai?” tanya wanita itu pelan.
“Spion motor kena sedikit, Bu. Enggak apa-apa, saya yang tanggung jawab,” jawab Pak Wahyu sambil menatap motor yang berhenti di tepi jalan.
Pengendara motor terlihat marah, tapi setelah melihat Pak Wahyu menenangkan dirinya, ia hanya mengangguk dan pergi. Pak Wahyu menarik napas panjang. Jantungnya masih berdetak kencang.
Penumpangnya masih diam beberapa saat, kemudian berkata, “Hati-hati, ya, Pak.”
“Iya, Bu. Terima kasih sudah mengerti,” jawab Pak Wahyu.
Mereka melanjutkan perjalanan. Namun pikiran Pak Wahyu kacau. Ia tahu, sedikit lecet pada motor itu bisa membuat komisinya dipotong. Belum lagi setoran harian yang belum penuh.
Sesampainya di rumah penumpang, ia membantu menurunkan tas besar itu. Wanita itu tersenyum. “Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan.”
“Siap, Bu,” jawab Pak Wahyu. Ia menyalakan mesin lagi, mencoba menghapus rasa cemas di dada.
Perjalanan berikutnya tidak terlalu banyak. Order masuk sporadis. Sebagian pendek, sebagian menunggu lama. Pak Wahyu mencoba berpindah lokasi, dari perkantoran ke stasiun, dari stasiun ke kawasan perumahan. Tapi setoran masih kurang.
Pukul sembilan malam, Pak Wahyu memutuskan berhenti sebentar. Ia membeli minum, duduk di kap mobil, menarik napas dalam. Angin malam masuk dari jendela sedikit terbuka, menyejukkan tubuh yang sudah lelah.
“Ini nggak boleh lama-lama,” gumamnya. “Besok anak sekolah. Kebutuhan mereka harus terpenuhi.”
Pikiran tentang biaya sekolah, buku, seragam, dan makan siang anak-anak membuatnya cemas. Setiap rupiah sangat berarti. Ia menatap dashboard, menghitung ulang angka yang sudah dikumpulkan. Masih kurang.
Tak lama, order lain masuk. Tujuan jarak menengah. Penumpangnya seorang pria paruh baya dengan koper besar. Mereka mengobrol ringan, tentang pekerjaan pria itu dan situasi kota malam hari. Pak Wahyu mencoba tersenyum, menenangkan hati agar tetap fokus mengemudi.
Namun ketika melewati persimpangan lain, mobil lain mendadak menyalip dari kanan, terlalu dekat. Pak Wahyu menekan rem, tapi spion sebelah kanan sedikit mengenai pintu mobil yang lain.
“Haduuh,” gumam Pak Wahyu. “Ini apalagi sekarang.”
Penumpangnya mengangkat alis. “Apa yang terjadi, Pak?”
“Maaf, Bu. Hanya sedikit menyentuh mobil lain. Saya akan tanggung jawab,” jawabnya.
Hatinya semakin berat. Ia tahu, ini berarti komisinya akan dipotong untuk biaya perbaikan. Belum lagi kebutuhan anak-anak yang harus dipenuhi.
Sesampainya di tujuan, ia membantu menurunkan koper, menyerahkan struk pembayaran, dan berterima kasih. Penumpangnya tersenyum, tapi Pak Wahyu hanya mengangguk pelan.
Setelah beberapa jam, malam semakin larut. Order jarang masuk. Pangkalan tampak sepi. Sopir lain mulai pulang satu per satu. Pak Wahyu mencoba tetap menunggu. Ia tahu, setiap order bisa menambah sedikit rupiah yang sangat dibutuhkan.
Pukul sebelas malam, ia mendapat order terakhir. Jarak jauh, cukup lumayan untuk menutupi sebagian setoran yang kurang. Ia tersenyum kecil. “Ini kesempatan terakhir malam ini,” gumamnya.
Penumpangnya seorang wanita muda, tampak lelah dan membawa beberapa tas belanja. Mereka mulai perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka ngobrol ringan, wanita itu bercerita tentang kerjaan yang menumpuk, rutinitas kantor, dan sulitnya mencari waktu libur. Pak Wahyu menimpali dengan kisah ringan tentang sopir taksi, tentang hari-hari penuh order, dan kejadian lucu yang ia alami saat menjemput penumpang.
Wanita itu tertawa kecil. “Lucu juga ya Pak ceritanya. Rasanya nggak nyangka ada yang ngalamin semua itu.”
Pak Wahyu tersenyum. Hatinya terasa sedikit hangat. Ia merasa lega bisa berbagi cerita.
Sesampainya di tujuan, ia membantu menurunkan tas belanja, menerima pembayaran, dan mengangguk hormat. Penumpangnya tersenyum. “Terima kasih, Pak. Semoga malam ini lancar.”
Pak Wahyu menyalakan mesin lagi, mengarahkan mobil ke pool. Pikirannya campur aduk. Lelah, cemas, tapi ada sedikit rasa lega karena malam ini masih bisa menutupi sebagian kebutuhan.
Sesampainya di pool, beberapa sopir sudah pulang, sebagian menunggu setoran. Pak Wahyu memarkir mobil dengan rapi. Ia masuk ke ruang setoran, menyerahkan catatan dan pembayaran. Petugas menghitung, menatap angka, lalu menatap Pak Wahyu.
“Ini, Pak,” kata petugas. “Ada potongan karena body mobil kena sedikit. Dua kali kejadian. Total potongan lima ratus ribu.”
Pak Wahyu menunduk, menelan ludah. Angka itu cukup besar baginya. Ia tahu, harus KS atau memotong dari tabungan lain.
“Iya, Pak. Saya terima,” jawabnya pelan.
Petugas hanya mengangguk. Tidak ada komentar lain. Semua sopir tahu, hari seperti ini bisa menimpa siapa saja.
Setelah urusan selesai, Pak Wahyu keluar. Malam terasa lebih berat, tapi ia menarik napas panjang. Ia menatap langit gelap, lampu pool yang berkelap-kelip, dan menghela napas.
Di rumah, anak-anak sudah tidur. Istrinya menunggu dengan senyum lelah. Pak Wahyu duduk di sofa, menyerahkan sebagian uang untuk kebutuhan mendesak.
“Bagaimana hari ini, Pak?” tanya istrinya lembut.
“Lumayan… tapi banyak kejadian. Komisi ada yang dipotong,” jawab Pak Wahyu.
Istrinya mengangguk, menerima dengan tenang. “Yang penting kita masih bisa tidur, Pak. Besok siapa tahu ada rezeki lain.”
Pak Wahyu tersenyum lelah. Ia menatap anak-anak yang masih tidur pulas. Malam itu, ia belajar bahwa pekerjaan ini tidak selalu adil. Kadang lelah, kadang ada kejadian tak terduga. Tapi selama masih bisa bangun, mengemudi, dan berjuang, masih ada harapan.
Malam itu Pak Wahyu tidur cepat. Alarm diatur lagi untuk pukul dua dini hari. Esok, ia akan kembali absen, kembali duduk di setir, kembali menghadapi jalan dan takdirnya.
Karena bagi sopir taksi seperti Pak Wahyu, hidup berjalan dengan cara sendiri. Kadang tertawa, kadang lelah, kadang kecewa, tapi selama masih bisa mencoba, hari berikutnya selalu membawa kemungkinan baru.