Order Fiktif dan Paket Tak Terduga

Penulis BurungBiru
17 January 2026

Malam itu, jalanan kota tampak lengang. Lampu-lampu jalan berkelap-kelip, memantul di aspal yang baru diguyur hujan. Pak Budi menyalakan mobilnya, menarik napas dalam, dan memeriksa ponsel. Order pertama malam itu masuk, tapi ia menunggu beberapa menit sebelum bergerak, memastikan lokasi jemput benar.

“Semoga ini beneran,” gumamnya.

Order itu terlihat biasa di layar aplikasi. Titik jemput di sebuah perumahan pinggiran kota. Tujuan cukup jauh, bisa menambah setoran hari ini. Pak Budi menghidupkan mesin, memanaskan mobil sebentar, lalu melaju perlahan.

Beberapa menit kemudian, ia tiba di lokasi. Tidak ada siapa pun di depan rumah yang tertera di aplikasi. Ia menunggu. Lima menit, sepuluh menit, lalu lima belas. Ponsel bergetar. Pesan notifikasi muncul. Order dibatalkan.

“Ya Allah,” Pak Budi mengumpat pelan. “Udah capek-capek datang jauh, batal.”

Ia menutup kaca mobil, menyalakan AC, dan mencoba menenangkan diri. Beberapa sopir lain yang lewat menepuk bahunya.

“Eh, bro, dapet order fiktif ya?” tanya seorang sopir muda, sambil melirik layar ponsel Pak Budi.

“Yah, mana ada yang jemput,” jawab Pak Budi sambil menghela napas. “Batal pula.”

“Dunia sopir itu kadang gitu, Bro. Sabar aja,” kata sopir itu sambil tertawa ringan.

Pak Budi tersenyum tipis, tapi hatinya tetap kecewa. Setoran harian masih kurang, dan malam semakin larut. Ia memutuskan berpindah ke titik lain, berharap ada penumpang sungguhan.

Ia melaju ke kawasan perkantoran yang biasanya ramai jam pulang kantor malam. Beberapa kendaraan masih terjebak kemacetan ringan. Ia menepikan mobil, mencoba menunggu order.

Tak lama, ponselnya berbunyi lagi. Kali ini order berbeda, dari aplikasi yang sama, tapi berupa pengiriman paket. Pak Budi sedikit terkejut. Ia jarang menerima order paket, biasanya hanya orang tertentu atau saat sistem otomatis.

“Yah, lumayan lah,” gumamnya. “Setidaknya bisa tambah rupiah.”

Ia membaca alamat jemput dan tujuan. Paket itu tampak ringan, dibungkus rapih, dengan keterangan fragil. Pak Budi memperlambat mobil, menyesuaikan dengan GPS.

Setelah beberapa menit, ia tiba di titik jemput. Seorang pria paruh baya menyerahkan paket ke tangannya.

“Ini paket penting, Pak,” kata pria itu. “Tolong diantar dengan hati-hati.”

“Siap, Pak. Saya jaga baik-baik,” jawab Pak Budi. Ia memeriksa kemasan, memastikan aman sebelum menaruhnya di kursi belakang.

Perjalanan dimulai. Jalanan malam cukup sepi, tapi beberapa titik macet di persimpangan. Pak Budi mengemudi dengan hati-hati, sesekali menyalakan lampu hazard saat berhenti di lampu merah panjang.

Di tengah perjalanan, ia teringat order sebelumnya yang dibatalkan. Kecewa masih terasa, tapi mengantar paket memberinya semangat baru. Ia tahu, setiap rupiah penting. Setiap paket yang sampai bisa menutupi kebutuhan rumah, biaya sekolah anak-anak, dan cicilan yang menumpuk.

Sambil mengemudi, Pak Budi mengobrol ringan dengan diri sendiri. Kadang ia berbicara keras, kadang bergumam. Ini menjadi semacam ritual untuk tetap fokus.

“Pelan-pelan, Budi. Jangan sampai lecet,” katanya sambil mengatur posisi mobil di jalur.

Setengah perjalanan, ponsel bergetar lagi. Ada pesan masuk dari pengirim paket.

“Pak, nanti di tempat tujuan, ketuk pintu dua kali. Jangan langsung masuk.”

Pak Budi mengangguk, meskipun pria pengirim tidak bisa melihatnya. “Siap, Pak. Tenang saja.”

Ia melanjutkan perjalanan. Sesekali menyalip mobil yang melaju lambat, sesekali berhenti sebentar untuk memberi jalan. Setiap lampu merah, ia mengecek paket, memastikan tetap aman.

Akhirnya, setelah perjalanan sekitar tiga puluh menit, ia tiba di lokasi tujuan. Sebuah rumah besar di perumahan baru. Pak Budi mengetuk pintu sesuai instruksi, menunggu sebentar, lalu seorang wanita muda membuka pintu.

“Oh, ya ampun. Terima kasih sudah mengantar,” katanya sambil menerima paket. “Maaf ya, malam-malam repot.”

“Tidak apa-apa, Bu. Aman kok paketnya,” jawab Pak Budi sambil tersenyum.

Wanita itu menutup pintu, meninggalkan Pak Budi di mobil. Ia menarik napas panjang, merasa lega. Order paket ini sedikit mengembalikan semangatnya setelah kecewa order fiktif sebelumnya.

Ia menyalakan mesin lagi, memutuskan kembali ke pool untuk istirahat sebentar dan mengecek setoran. Jalanan malam makin sepi, tapi ia tetap waspada.

Di pool, beberapa sopir sedang berbincang ringan. Ada yang menceritakan order lucu, ada yang mengeluh soal macet, ada juga yang tertawa karena pengalaman absurd penumpang.

Pak Budi memarkir mobil, menyalakan lampu kabin, dan duduk sebentar. Ia mengeluarkan catatan harian, menghitung setoran, sambil meneguk kopi sachet hangat.

“Lumayan juga malam ini,” gumamnya. “Setidaknya paket itu nambah sedikit.”

Seorang sopir muda menepuk punggungnya. “Eh, Bro. Malam ini dapet order paket juga ya? Lumayan buat tambahan.”

Pak Budi tersenyum. “Iya, tapi tadi ada juga order fiktif. Untungnya masih bisa nutup setoran sedikit.”

Obrolan berlanjut. Mereka saling bertukar cerita tentang penumpang yang lucu, yang cerewet, atau yang suka memberi tip. Ada tawa, ada yang menghela napas panjang. Semuanya punya cerita masing-masing.

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Pak Budi menyalakan mesin lagi, keluar dari pool, dan memutuskan kembali menunggu order terakhir sebelum pulang. Jalanan malam semakin hening. Lampu-lampu kota memantul di aspal basah.

Tak lama, ponselnya berbunyi. Order baru masuk. Kali ini jaraknya cukup jauh, tapi lumayan untuk menambah setoran. Pak Budi mengangguk, menarik napas panjang, dan memulai perjalanan.

Order itu berjalan lancar. Penumpang seorang pria paruh baya dengan koper besar, tidak banyak bicara. Mereka hanya bertukar beberapa kalimat ringan. Pak Budi mengemudi dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang terjadi.

Sesampainya di tujuan, penumpang turun, membayar tarif, dan tersenyum. “Terima kasih, Pak. Malam ini lancar ya?”

“Alhamdulillah, Pak. Semoga hari-hari berikutnya juga begitu,” jawab Pak Budi sambil menyalakan mesin kembali.

Perjalanan kembali ke pool terasa lebih ringan. Hatinya lega karena setoran malam ini cukup untuk menutupi kebutuhan yang mendesak. Ia menarik napas panjang, menatap lampu-lampu pool yang berkelap-kelip.

Sesampainya di pool, ia memarkir mobil rapi. Petugas menghitung setoran, menatap catatan Pak Budi, lalu tersenyum.

“Lumayan lengkap, Pak,” kata petugas. “Bisa pulang lebih tenang.”

Pak Budi mengangguk. “Terima kasih, Pak. Malam ini memang banyak kejutan.”

Ia keluar dari mobil, menatap langit gelap, merasa lega. Malam ini ia belajar, bahwa menjadi sopir taksi bukan hanya soal mengantar orang atau menjemput paket. Tapi soal kesabaran, tentang menerima kejadian tak terduga, dan tetap mencoba menutupi kebutuhan keluarga meski banyak rintangan.

Di rumah, istrinya menyambut dengan senyum hangat. “Bagaimana malam ini, Pak?”

“Lumayan… banyak kejutan,” jawab Pak Budi sambil menaruh tas di meja. “Tapi semua bisa diatasi.”

Anak-anak masih tidur, tapi Pak Budi merasa lega karena malam ini ia bisa menutupi sebagian kebutuhan rumah. Malam itu ia tidur lebih cepat, alarm disetel untuk pukul dua dini hari, karena besok ia akan kembali absen, kembali duduk di setir, dan menghadapi jalanan serta takdirnya.

Karena bagi sopir taksi seperti Pak Budi, setiap malam selalu membawa cerita. Kadang mengecewakan, kadang membahagiakan. Tapi selama mereka masih bisa mengemudi, harapan tidak pernah hilang.