Dinikahi Paman Mantan - Perjanjian Baru - Bab 9

Penulis Nuvola
27 September 2025

Lily berdiri di balkon, memandangi langit gelap yang hanya diterangi cahaya bulan. Rambutnya yang panjang terurai, menambah kesan murung pada wajahnya. Sesekali, dia menghela nafas panjang, mencoba meredakan gejolak di dalam dada yang seolah tak mau reda.

Kabar tentang pernikahan Rafael dan Emma yang akan segera digelar membuat Lily merasa tak tenang. Dia tak ingin kembali bersama Rafael, hanya saja dia merasa bahwa semua ini tidaklah adil.

Kenapa orang yang berkhianat bisa bahagia dengan mudah? Batin Lily bertanya.

Helaan nafas terdengar seakan dia ingin mengurangi rasa sesak di dadanya. Suara pintu terbuka membuat Lily menoleh, Agam masuk ke dalam kamar dengan menenteng jas di tangan kanannya.

Uhuk… uhuk…

Suara batuk Agam membuat Lily melangkah mendekat. “Om sakit?” tanya Lily yang mengambil alih jas dari tangan Agam.

“Hanya flu biasa,” jawab Agam yang melepas dasinya lalu duduk di sofa. Terlihat wajah Agam yang tampak lelah dan hal itu bisa disadari oleh Lily.

“Udah minum obat? Atau perlu aku panggil dokter?”

“Nggak usah, tadi aku udah minum obat.”

“Ya udah aku siapkan pakaian untuk Om.”

“Boleh minta tolong siapkan air hangat, aku mau mandi.”

“Mandi? Tapi ini sudah tengah malam,” ucap Lily.

“Badanku lengket.”

“Hm yaudah tunggu bentar.”

Lily mengatur suhu air di kamar mandi agar pas untuk Agam yang sedang flu. Dengan gerakan lembut, dia mengambilkan handuk dan pakaian bersih untuk suaminya itu. Suara batuk Agam yang terdengar dari kamar mandi membuat Lily khawatir. Dia pun bergegas ke dapur, mengambil ketel dan menyiapkan teh dengan campuran jahe dan madu, percaya akan menghangatkan dan menenangkan tenggorokan Agam.

“Nyonya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Yuli ketika dia melihat Lily berada di dapur.

“Tidak ada, Mbak. Saya hanya membuat teh, Mbak Yuli istirahat saja ini sudah malam,” ucap Lily dengan tersenyum.

“Baik Nyonya, kalau begitu saya permisi,” pamit Yuli yang kemudian keluar dari dapur meninggalkan Lily disana.

Air mendidih menguap, Lily menuangkan teh hangat ke dalam cangkir, menghirup aroma herbal yang menenangkan. Dia berjalan pelan kembali ke kamar, meletakkan cangkir di atas nakas dekat tempat tidur. Suara air terdengar berhenti, tak lama Agam keluar dari kamar mandi.

“Om, aku buatkan teh dengan campuran jahe dan madu,” ucap Lily yang mengambil cangkir teh itu lalu memberikannya kepada Agam.

“Makasih,” ucap Agam yang menerima cangkir teh lalu dia menyeruput teh itu.

Lily mengangguk lalu dia naik ke atas tempat tidur, dia merebahkan dirinya dengan posisi membelakangi Agam. Tak lama Lily merasakan jika kasur di sampingnya bergerak menandakan jika Agam naik ke atas tempat tidur. Lampu utama telah dimatikan oleh Agam dan tersisa lampu tidur. Lily mencoba memejamkan matanya tapi dia tak kunjung bisa tidur.

Dia terus mengubah posisi tidur mencari kenyamanan, hingga helaan nafas terdengar keluar dari mulut Lily.

“Kamu kenapa?” Suara Agam mengagetkan dirinya, dia berpikir jika tadi Agam sudah tidur karena tidak terdengar suara batuk tapi ternyata itu belum tidur.

“Nggak papa, belum ngantuk saja,” jawab Lily berbohong sambil menarik selimutnya lebih tinggi ke dada. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar, seakan mencari alasan lain agar Agam tidak curiga.

“Karena Rafael?” suara Agam pelan, tapi cukup menusuk. Lily langsung menoleh ke arahnya. “Kamu mau kembali kepadanya?” lanjut Agam.

“Nggak!” sergah Lily cepat, hampir seperti refleks. Nada suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya, seolah ingin meyakinkan Agam—atau justru dirinya sendiri.

“Lalu, apa maumu sebenarnya?” Agam menatapnya dalam, matanya redup namun tajam, seperti menuntut jawaban yang jelas.

Lily menghela napas, berusaha tenang. “Kenapa sih tiba-tiba bahas dia? Aku nggak mau bahas dia lagi.”

Agam hanya mengangkat alis, lalu menatap wajah Lily yang sedikit menegang. “Wajah kamu kelihatan banget masih mikirin dia,” ucapnya lirih.

Lily menggigit bibir bawahnya, lalu segera membalikkan badan, membelakangi Agam. “Udahlah nggak usah dibahas. Aku nggak mau kita bertengkar,” katanya pelan, hampir seperti bisikan.

Keheningan sempat menguasai kamar, hanya terdengar detak jam dinding yang berdetak lambat. Cahaya lampu temaram membuat bayangan wajah Agam samar-samar jatuh di dinding.

“Jika kamu ingin kembali kepadanya, sekarang waktunya.” Suara Agam terdengar berat, penuh kesungguhan, seolah memberi izin. “Dia pasti akan nerima kamu,” lanjut Agam, meski suara itu terdengar patah di ujung kalimat.

Tak ada respon dari Lily. Hanya diam yang menjawab.

Agam pun tak lagi berbicara. Ia hanya menatap punggung Lily yang membeku dalam keheningan. Perlahan ia memalingkan wajahnya ke arah lain, menyembunyikan gejolak hatinya.

Dan malam itu, kamar mereka diselimuti keheningan yang lebih berat daripada ribuan kata.


Pagi itu Agam duduk disofa saat suara ketukan pintu terdengar membuat Agam bangkit dari duduknya, dia segera membuka pintu kamar. Terlihat Yuli yang berdiri di depan pintu dengan membawa amplop coklat.

“Maaf Tuan mengganggu waktunya, barusan ada pengacara Nyonya Lily beliau menitipkan amplop ini,” jelas Yuli yang menyerahkannya kepada Agam.

Agam segera menerima amplop itu. “Apa dia udah pulang?”

“Iya Tuan, pengacara Nyonya langsung pulang setelah menitipkan ini.”

Agam menganggukkan lalu kembali masuk ke dalam kamar. Dia menatap amplop coklat itu, tampak sangat penasaran.

Ceklek.

Suara pintu walk in closet dibuka membuat Agam menoleh, terlihat Lily yang mengenakan dress dengan tali kecil di pundak.

“Pengacara kamu datang, dia nitip ini,” ucap Agam yang menyerahkan amplop coklat kepada Lily.

Lily yang menerima itu langsung membukanya, selembar kertas dia keluarkan dari amplop itu. Beberapa saat setelah membacanya maka Lily menyodorkan kertas itu kepada Agam.

“Surat perjanjian baru,” ucap Lily tanpa ekspresi.

Agam tampak bingung dan dia pun membaca surat itu. “Apa maksud kamu?” tanya Agam.

“Seperti yang kamu baca, kita akan bercerai setelah 6 bulan dan aku nggak akan minta sepeserpun harta kamu.”

“Jangan main-main Lily.”

“Aku nggak main-main, aku cuman baru sadar niat kamu yang sebenarnya.”

“Maksudmu?” Wajah Agam tampak semakin bingung.

“Kamu mau kita menikah hanya untuk menepati perjanjian dua keluarga bukan? Kamu membuat perjanjian seolah-olah nggam akan berselingkuh dan meninggalkanku, tapi ternyata kamu ingin membuat aku meninggalkanmu.” Lily menatap Agam dengan tatapan yang tajam. “Kamu hanya perlu tanda tangani itu, dan tenang saja aku tidak akan merusak nama kamu meskipun kita bercerai.”

“Kamu pasti salah paham, dengarkan aku,” ucap Agam yang meraih tangan Lily saat gadis itu berjalan pergi.

“Aku nggak mau denger apapun!” seru Lily yang menepis tangan Agam.

“Begitu inginkah kamu bercerai?”

Pertanyaan Agam membuat Lily menghentikan langkahnya.

“Seharusnya pertanyaan itu ditujukan untuk kamu, Om!” ucap Lily menatap tajam ke arah Agam.

Tatapan Agam pun tak kalah tajamnya, hingga pria itu memilih pergi dari kamar meninggalkan Lily..

“Menyebalkan! Kenapa pergi begitu saja sih!” gerutu Lily yang menatap ke arah pintu yang kini telah tertutup.