Di Balik Sunyinya Apartemen

17 January 2026

Gelas jatuh ke lantai, pecah berserakan. Cairan kopi muncrat membasahi lantai dan sepatu Sisca. Arema terperanjat. Matanya membelalak, napasnya tercekat.

Sisca menatapnya dingin, lalu menyeringai tipis. "Ups," katanya sinis. "Kamu ceroboh banget sih. Cepet beresin, terus lap sepatu aku."

Arema menunduk menatap pecahan kaca di lantai, dadanya sesak. Ia mengepalkan tangan perlahan, menahan air mata yang hampir tumpah.

Tanpa membantah, ia berjongkok dan mulai memunguti pecahan gelas, tanpa tahu bahwa ini baru awal dari tekanan yang akan ia hadapi di tempat kerja barunya.

**

Sore itu, langkah Arema terasa lebih berat dari biasanya. Pintu apartemen tertutup perlahan di belakang punggungnya, disertai bunyi klik yang menggema di ruangan sunyi.

Sepatu dilepaskannya asal, tas kerja ia lempar ke kursi makan, lalu tubuhnya menjatuhkan diri ke sofa empuk yang sejak pagi tak sempat ia nikmati.

"Huft ...."

Napas panjang keluar dari bibirnya, seperti menumpahkan seluruh lelah yang ia tahan seharian.

Langit di balik jendela kaca apartemen berwarna jingga keemasan. Matahari perlahan turun, meninggalkan semburat cahaya yang menembus sela-sela gedung tinggi di seberang.

Biasanya pemandangan itu membuat Arema merasa tenang. Namun hari ini, kepalanya penuh. Ia menyandarkan kepala ke sofa, menatap langit-langit putih yang terasa asing.

Apartemen ini terlalu besar untuk satu orang seperti dirinya. Terlalu sunyi. Terlalu rapi. Bahkan bau ruangan ini pun masih terasa milik orang lain, bukan miliknya.

"Semua emang nggak ada yang bener-bener enak," gumamnya lirih. "Di mana pun tempatnya, pasti ada aja yang nggak suka."

Bayangan wajah Sisca kembali terlintas di kepalanya. Tatapan sinis itu. Suara dingin yang memerintah. Bunyi gelas pecah yang masih terngiang jelas di telinganya.

Arema menutup mata, menghela napas lagi. "Tapi nggak apa-apa deh," batinnya mencoba menenangkan diri. "Yang penting aku kerja sama Pak Jordi, bukan sama Sisca. Ngapain juga takut. Dia juga sama-sama karyawan."

Kalimat itu ia ulangi berkali-kali di dalam hati, seperti mantra. Namun semakin diulang, semakin terasa getir.

Ia bangkit perlahan, berjalan ke dapur kecil apartemen. Tangannya membuka lemari es. Kosong. Hanya ada beberapa botol air mineral yang dipesannya pagi tadi.

Arema tersenyum pahit. "Pantes dikasih amplop," gumamnya. "Orang aku juga belum sempat apa-apa."

Ia menuang air ke gelas, meminumnya pelan. Saat itulah pikirannya kembali melayang ke masa-masa sebelum semua ini terjadi.

Gerobak martabak yang selalu ia dorong setiap malam. Tangan yang lengket oleh adonan. Bau margarin dan cokelat. Lelah, tapi terasa jujur. Terasa miliknya sendiri.

Sekarang, ia berdiri di dapur apartemen mewah, mengenakan pakaian kantor yang dibelikan Jordi, bekerja di perusahaan besar. Hidupnya berubah terlalu cepat.

"Kalau Bunda sama Ayah lihat aku sekarang, mereka pasti bangga," bisiknya, mencoba tersenyum.

Namun rasa bangga itu tak sepenuhnya mampu menutup kegelisahan di dadanya. Arema kembali ke sofa, menarik lututnya ke dada. Ia memeluk bantal, membiarkan sunyi menyelimutinya.

Jam dinding berdetak pelan. Di luar, suara kendaraan samar terdengar dari kejauhan. Ponselnya bergetar di atas meja. Satu pesan masuk dari Jordi.

"Sudah sampai apartemen? Jangan lupa makan ya. Hari pertama pasti capek."

Arema membaca pesan itu beberapa kali. Ada rasa hangat yang menyelinap di dadanya. Perhatian sederhana itu entah kenapa terasa berbeda.

"Sudah, Pak. Terima kasih. Iya, ini mau istirahat dulu."

Pesan terkirim. Ia menatap layar ponsel sejenak sebelum meletakkannya kembali.

"Pak Jordi baik banget," gumamnya. "Terlalu baik malah."

Ia mengingat bagaimana pria itu membelikan gerobak baru, menawarkan pekerjaan, memberikan apartemen, membelikan baju, bahkan memikirkan uang makannya. Semua itu masih terasa tidak nyata.

"Kalau ini mimpi, jangan bangunin aku dulu," batinnya lirih.

Namun di balik semua kebaikan itu, ada rasa takut yang diam-diam tumbuh. Takut tidak mampu. Takut mengecewakan. Takut dianggap tidak pantas berada di tempat itu.

Dan takut pada satu hal lain yang belum berani ia akui sepenuhnya, perasaan asing yang muncul setiap kali ia berada dekat Jordi.

Arema menggeleng cepat, seolah ingin mengusir pikiran itu.

"Fokus kerja, Rema," katanya pada diri sendiri. "Jangan ke mana-mana."

Ia berdiri, berjalan ke kamar tidur. Tirai jendela belum ia pasang sepenuhnya, membiarkan cahaya senja masuk.

Ia duduk di tepi ranjang, melepas jam tangan yang terasa mengekang sejak pagi.

Bayangan kejadian siang tadi kembali muncul. Sisca. Nada ancamannya. Kebohongan tentang ayahnya. Arema menggigit bibir.

"Kalau nanti dia beneran lapor?"

"Kalau aku beneran dipecat?"

Jantungnya berdegup lebih cepat. Namun, kemudian wajah Jordi terlintas lagi. Tatapan tegas namun hangat itu. Cara ia berbicara dengan wibawa.

"Pak Jordi nggak mungkin semudah itu percaya," yakinnya dalam hati. "Dia kelihatan orang yang adil."

Ia merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar.

"Dan aku juga nggak salah apa-apa," lanjutnya. "Aku cuma kerja."

Pelan-pelan, ketegangan di tubuhnya mulai mengendur. Lelah fisik dan mental seharian akhirnya mengambil alih. Kelopak matanya terasa berat.

Sebelum tertidur, satu tekad terbentuk dalam benaknya. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan menyerah begitu saja.

Ia tidak akan lari hanya karena satu orang yang tidak menyukainya. Ia sudah terlalu jauh melangkah untuk mundur sekarang.

Di luar jendela, langit sepenuhnya gelap. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, seperti saksi bisu dari perubahan hidup seorang gadis sederhana bernama Arema.

Dan tanpa ia sadari, di balik ketenangan apartemen itu, ada benih konflik yang perlahan tumbuh, menunggu waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan.

Malam itu, Arema tertidur dengan lelah yang masih menggantung, membawa harapan, ketakutan, dan tekad yang belum sepenuhnya matang.

Babak baru dalam hidupnya telah dimulai. Dan jalan ke depan tak akan sesederhana yang ia bayangkan.

Akhirnya Arema tertidur lelap. Tubuhnya benar-benar kelelahan setelah hari panjang yang menguras fisik dan perasaan.

Napasnya teratur, wajahnya tampak tenang untuk pertama kalinya sejak pagi. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.

Tok … tok … tok .…

Suara ketukan pintu terdengar samar, lalu menguat. Arema mengerang pelan, mengerjap bingung. Ia menoleh ke arah jam di meja samping ranjang. Sudah malam.

"Hm, siapa sih malem-malem gini," gumamnya lirih.

Dengan langkah gontai, Arema bangkit. Rambutnya sedikit berantakan, matanya masih berat. Ia berjalan menuju pintu apartemen, mengintip sebentar lewat lubang kecil sebelum memutar kenop.

Pintu terbuka. Sekejap, Arema membeku. Di hadapannya berdiri Rino. Pria itu mengenakan kemeja kasual, wajahnya tampak lebih kurus dari terakhir kali Arema melihatnya.

Matanya menatap Arema dengan sorot iba, bercampur keterkejutan.

"Rema," panggil Rino pelan, seolah takut wanita di depannya menghilang.

Jantung Arema berdegup kencang. Tangannya refleks mencengkeram gagang pintu.

"Rino? Kamu ngapain di sini?" Suara Arema bergetar, antara marah dan tidak percaya.

Orang yang paling ingin ia hindari, kini berdiri tepat di depan pintunya.Gelas jatuh ke lantai, pecah berserakan. Cairan kopi muncrat membasahi lantai dan sepatu Sisca. Arema terperanjat. Matanya membelalak, napasnya tercekat.

Sisca menatapnya dingin, lalu menyeringai tipis. "Ups," katanya sinis. "Kamu ceroboh banget sih. Cepet beresin, terus lap sepatu aku."

Arema menunduk menatap pecahan kaca di lantai, dadanya sesak. Ia mengepalkan tangan perlahan, menahan air mata yang hampir tumpah.

Tanpa membantah, ia berjongkok dan mulai memunguti pecahan gelas, tanpa tahu bahwa ini baru awal dari tekanan yang akan ia hadapi di tempat kerja barunya.

**

Sore itu, langkah Arema terasa lebih berat dari biasanya. Pintu apartemen tertutup perlahan di belakang punggungnya, disertai bunyi klik yang menggema di ruangan sunyi.

Sepatu dilepaskannya asal, tas kerja ia lempar ke kursi makan, lalu tubuhnya menjatuhkan diri ke sofa empuk yang sejak pagi tak sempat ia nikmati.

"Huft ...."

Napas panjang keluar dari bibirnya, seperti menumpahkan seluruh lelah yang ia tahan seharian.

Langit di balik jendela kaca apartemen berwarna jingga keemasan. Matahari perlahan turun, meninggalkan semburat cahaya yang menembus sela-sela gedung tinggi di seberang.

Biasanya pemandangan itu membuat Arema merasa tenang. Namun hari ini, kepalanya penuh. Ia menyandarkan kepala ke sofa, menatap langit-langit putih yang terasa asing.

Apartemen ini terlalu besar untuk satu orang seperti dirinya. Terlalu sunyi. Terlalu rapi. Bahkan bau ruangan ini pun masih terasa milik orang lain, bukan miliknya.

"Semua emang nggak ada yang bener-bener enak," gumamnya lirih. "Di mana pun tempatnya, pasti ada aja yang nggak suka."

Bayangan wajah Sisca kembali terlintas di kepalanya. Tatapan sinis itu. Suara dingin yang memerintah. Bunyi gelas pecah yang masih terngiang jelas di telinganya.

Arema menutup mata, menghela napas lagi. "Tapi nggak apa-apa deh," batinnya mencoba menenangkan diri. "Yang penting aku kerja sama Pak Jordi, bukan sama Sisca. Ngapain juga takut. Dia juga sama-sama karyawan."

Kalimat itu ia ulangi berkali-kali di dalam hati, seperti mantra. Namun semakin diulang, semakin terasa getir.

Ia bangkit perlahan, berjalan ke dapur kecil apartemen. Tangannya membuka lemari es. Kosong. Hanya ada beberapa botol air mineral yang dipesannya pagi tadi.

Arema tersenyum pahit. "Pantes dikasih amplop," gumamnya. "Orang aku juga belum sempat apa-apa."

Ia menuang air ke gelas, meminumnya pelan. Saat itulah pikirannya kembali melayang ke masa-masa sebelum semua ini terjadi.

Gerobak martabak yang selalu ia dorong setiap malam. Tangan yang lengket oleh adonan. Bau margarin dan cokelat. Lelah, tapi terasa jujur. Terasa miliknya sendiri.

Sekarang, ia berdiri di dapur apartemen mewah, mengenakan pakaian kantor yang dibelikan Jordi, bekerja di perusahaan besar. Hidupnya berubah terlalu cepat.

"Kalau Bunda sama Ayah lihat aku sekarang, mereka pasti bangga," bisiknya, mencoba tersenyum.

Namun rasa bangga itu tak sepenuhnya mampu menutup kegelisahan di dadanya. Arema kembali ke sofa, menarik lututnya ke dada. Ia memeluk bantal, membiarkan sunyi menyelimutinya.

Jam dinding berdetak pelan. Di luar, suara kendaraan samar terdengar dari kejauhan. Ponselnya bergetar di atas meja. Satu pesan masuk dari Jordi.

"Sudah sampai apartemen? Jangan lupa makan ya. Hari pertama pasti capek."

Arema membaca pesan itu beberapa kali. Ada rasa hangat yang menyelinap di dadanya. Perhatian sederhana itu entah kenapa terasa berbeda.

"Sudah, Pak. Terima kasih. Iya, ini mau istirahat dulu."

Pesan terkirim. Ia menatap layar ponsel sejenak sebelum meletakkannya kembali.

"Pak Jordi baik banget," gumamnya. "Terlalu baik malah."

Ia mengingat bagaimana pria itu membelikan gerobak baru, menawarkan pekerjaan, memberikan apartemen, membelikan baju, bahkan memikirkan uang makannya. Semua itu masih terasa tidak nyata.

"Kalau ini mimpi, jangan bangunin aku dulu," batinnya lirih.

Namun di balik semua kebaikan itu, ada rasa takut yang diam-diam tumbuh. Takut tidak mampu. Takut mengecewakan. Takut dianggap tidak pantas berada di tempat itu.

Dan takut pada satu hal lain yang belum berani ia akui sepenuhnya, perasaan asing yang muncul setiap kali ia berada dekat Jordi.

Arema menggeleng cepat, seolah ingin mengusir pikiran itu.

"Fokus kerja, Rema," katanya pada diri sendiri. "Jangan ke mana-mana."

Ia berdiri, berjalan ke kamar tidur. Tirai jendela belum ia pasang sepenuhnya, membiarkan cahaya senja masuk.

Ia duduk di tepi ranjang, melepas jam tangan yang terasa mengekang sejak pagi.

Bayangan kejadian siang tadi kembali muncul. Sisca. Nada ancamannya. Kebohongan tentang ayahnya. Arema menggigit bibir.

"Kalau nanti dia beneran lapor?"

"Kalau aku beneran dipecat?"

Jantungnya berdegup lebih cepat. Namun, kemudian wajah Jordi terlintas lagi. Tatapan tegas namun hangat itu. Cara ia berbicara dengan wibawa.

"Pak Jordi nggak mungkin semudah itu percaya," yakinnya dalam hati. "Dia kelihatan orang yang adil."

Ia merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar.

"Dan aku juga nggak salah apa-apa," lanjutnya. "Aku cuma kerja."

Pelan-pelan, ketegangan di tubuhnya mulai mengendur. Lelah fisik dan mental seharian akhirnya mengambil alih. Kelopak matanya terasa berat.

Sebelum tertidur, satu tekad terbentuk dalam benaknya. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan menyerah begitu saja.

Ia tidak akan lari hanya karena satu orang yang tidak menyukainya. Ia sudah terlalu jauh melangkah untuk mundur sekarang.

Di luar jendela, langit sepenuhnya gelap. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, seperti saksi bisu dari perubahan hidup seorang gadis sederhana bernama Arema.

Dan tanpa ia sadari, di balik ketenangan apartemen itu, ada benih konflik yang perlahan tumbuh, menunggu waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan.

Malam itu, Arema tertidur dengan lelah yang masih menggantung, membawa harapan, ketakutan, dan tekad yang belum sepenuhnya matang.

Babak baru dalam hidupnya telah dimulai. Dan jalan ke depan tak akan sesederhana yang ia bayangkan.

Akhirnya Arema tertidur lelap. Tubuhnya benar-benar kelelahan setelah hari panjang yang menguras fisik dan perasaan.

Napasnya teratur, wajahnya tampak tenang untuk pertama kalinya sejak pagi. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.

Tok … tok … tok .…

Suara ketukan pintu terdengar samar, lalu menguat. Arema mengerang pelan, mengerjap bingung. Ia menoleh ke arah jam di meja samping ranjang. Sudah malam.

"Hm, siapa sih malem-malem gini," gumamnya lirih.

Dengan langkah gontai, Arema bangkit. Rambutnya sedikit berantakan, matanya masih berat. Ia berjalan menuju pintu apartemen, mengintip sebentar lewat lubang kecil sebelum memutar kenop.

Pintu terbuka. Sekejap, Arema membeku. Di hadapannya berdiri Rino. Pria itu mengenakan kemeja kasual, wajahnya tampak lebih kurus dari terakhir kali Arema melihatnya.

Matanya menatap Arema dengan sorot iba, bercampur keterkejutan.

"Rema," panggil Rino pelan, seolah takut wanita di depannya menghilang.

Jantung Arema berdegup kencang. Tangannya refleks mencengkeram gagang pintu.

"Rino? Kamu ngapain di sini?" Suara Arema bergetar, antara marah dan tidak percaya.

Orang yang paling ingin ia hindari, kini berdiri tepat di depan pintunya.