Ruangan perawatan bernuansa putih bersih terasa sunyi, hanya diiringi detak jam dinding yang berdetak teratur.
Aretha, terbaring di ranjang pasien, duduk bersandar dengan bantal penyangga. Wajahnya, meskipun masih tampak pucat karena luka di bahunya yang tertutup perban rapi, memancarkan senyum tipis.
Rambutnya yang pendek dan tergerai menambah kesan sederhana dan tetap anggun. Ia tampak tenang, dan sorot matanya berbinar-binar, menyimpan sebuah rahasia kecil yang hanya ia sendiri yang tahu. Di sampingnya duduk Wisnu.
Ketukan pelan terdengar dari balik pintu. Aretha tersenyum, sedikit mengangkat tubuhnya. "Masuk," sapa Aretha, suaranya lembut, dan terdengar penuh semangat.
Pintu terbuka, memperlihatkan Dimas dan Razak memasuki ruangan. Di belakang mereka, tiga pria lainnya menyusul masuk: Rian, Fahri, dan Reno.
Kelima pria itu adalah anggota tim Naufal, yang menyempatkan diri mengunjungi Aretha setelah menyelesaikan tugas mereka. Dimas, dengan senyum jahilnya yang khas, langsung mendekati ranjang Aretha.
"Wah, wajahnya terlihat sangat cerah sekalipun terluka," ejek Dimas, nada suaranya sedikit menggoda. Ia mendekat, duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang Aretha.
"Hati sedang berbunga-bunga ya? Di-gendong komandan tampan dan ditemani selama beberapa saat di rumah sakit," Dimas menyeringai, membuat yang lain tertawa. Razak, yang duduk di kursi satunya lagi, ikut tersenyum, menggelengkan kepala melihat tingkah Dimas.
Aretha tersipu malu, tangannya menutupi wajahnya sebentar. "Ah, Pak Dimas," protesnya pelan, dan senyumnya tak bisa disembunyikan. "Jangan menggoda terus."
Razak, ikut tersenyum. "Kami sudah menyiapkan hadiah istimewa jika kamu melenggang ke pernikahan dengan Pak Naufal." Ia tersenyum penuh arti.
Aretha tertawa kecil, matanya berbinar. "Jangan begitu, Bang Razak. Bang Naufal bukan siapa-siapa selain ketua tim."
"Tapi kau suka kan? Mana komandan kita yang menjadi incaran polwan satu kantor itu?" tanya Rian, salah satu anggota tim Naufal yang lain, mencoba mengalihkan perhatian. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, ikut-ikutan menggoda Aretha.
Aretha tertawa kecil lagi. "Keluar, Bang. Tadi menerima telepon. Tidak tahu dari siapa. Mungkin dari kantor, atau mungkin dari ibunya."
"Ah, paling ibunya," ucap Razak, menaikkan alisnya penuh arti. "Perempuan yang paling ia puja."
Fahri, anggota tim lainnya, menambahkan, "Dia single atau sudah punya calon sih? Tampan begitu, masa belum ada gandengan?"
Reno, yang selama ini hanya diam mengamati, ikut bersuara, "Betul juga, Fahri. Ah, kuharap masih single, biar berjodoh dengan Bripda Aretha."
Aretha kembali tersipu, kali ini lebih dalam. "Jangan menggodaku terus. Aku masih fokus pada pemulihan lukaku." Ia melirik ke arah bahunya yang diperban.
Dimas, yang selalu pandai membaca suasana, langsung mengubah topik pembicaraan. "Bagaimana keadaan lukamu, Aretha? Sakit sekali?"
"Sudah agak mendingan, Pak Dimas. Dokter bilang, beberapa hari lagi sudah bisa pulang." Aretha tersenyum lega. "Terima kasih atas kunjungan kalian semua. Kalian sudah sangat baik kepadaku."
"Sama-sama, Aretha," jawab Razak. "Kami senang bisa menjengukmu. Semoga cepat sembuh."
"Semoga cepat menikah juga," celetuk Dimas, membuat yang lain tertawa.
Tiba-tiba, pintu diketuk. Naufal masuk, wajahnya tampak sedikit lelah dan tetap ramah. "Eh, sudah ramai rupanya?" Ia menghampiri Aretha, tersenyum lembut. "Bagaimana?"
"Sudah tidak apa-apa, Bang."
"Syukurlah," ia mengeluarkan ponselnya yang bergetar, membaca nama yang tertera di layar, Sinta. "Saya ke kantor ya. Ayo, Wisnu."
"Siap, terima kasih, Bang," jawab Aretha, tersenyum.
Naufal mengangguk, lalu melirik ke arah anggota timnya yang lain. "Terima kasih juga atas kunjungan kalian. Jaga Aretha baik-baik ya. Oya, berkas tadi sudah di meja saya, Aipda Dimas?"
"Siap, sudah, Komandan."
"Ok," Naufal berjalan keluar sambil menjawab telpon,"Ya, Sayang.."
Sejenak, ruangan terasa hening setelah kepergian Naufal dan Wisnu. Keheningan yang terasa berat, dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Razak memandang Fahri, alisnya terangkat. "Aku tidak salah dengar tadi? Dia mengangkat telepon dan menyebut .… Ya, sayang?" ucap Razak, suaranya berbisik.
"Hush," Dimas mendorong bahu Razak. "Kecilkan suaramu."
Razak memandang Aretha yang tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum itu.
"Semoga senyum itu bukan tanda kekecewaan," bisik Dimas, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Razak. Ia mengamati Aretha dengan seksama.
Ada sesuatu yang berbeda dari Aretha hari ini, sesuatu yang lebih dari sekadar kesembuhan fisik. Ada sebuah kegelisahan yang tersirat di balik mata Aretha yang berbinar.
Rian, Fahri, dan Reno saling bertukar pandang. Mereka juga merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang tidak beres. Suasana riang yang sebelumnya terasa telah sirna, digantikan oleh keheningan yang berat.
Keheningan yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Hingga tak terasa satu jam mereka berada di ruangan itu dan pamit untuk kembali ke kantor. Ada banyak tumpukan berkas yang jadi PR mereka hari ini di kantor.
Setelah para anggota tim pergi, keheningan itu semakin terasa menusuk. Aretha merasa sesak. Ia meraih sebuah buku kecil dari nakas di samping ranjangnya. Ia membuka halaman yang ditandai dengan penjepit kertas berwarna merah muda. Di halaman itu, terdapat sebuah puisi yang ditulis tangan dengan tinta biru tua.
Puisi itu bukan sekadar bait-bait kata, tetapi curahan hati Aretha yang selama ini terpendam. Bait-bait puisi itu melukiskan kekagumannya pada sosok Naufal, kekuatannya, kelembutannya yang tersembunyi, dan cinta yang tumbuh diam-diam di hatinya.
Saat jari-jari Aretha menyentuh halaman puisi yang ditandai penjepit kertas merah muda itu, sebuah gelombang perasaan menerjangnya. Bukan sekadar kenangan, bukan sekadar kata-kata yang tertulis di atas kertas, tetapi sebuah banjir emosi yang selama ini ia bendung. Awalnya, ada rasa haru yang lembut, seperti angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.
Ia mengingat kembali momen-momen saat ia menulis puisi itu, momen-momen di mana ia diam-diam mengagumi Naufal, dari keberaniannya memimpin tim hingga kelembutannya yang tersembunyi di balik sikap tegasnya.
Setiap baris puisi seakan membawa Aretha kembali ke masa-masa itu, menghidupkan kembali detak jantungnya yang berdebar kencang setiap kali berpapasan dengan Naufal, senyum tipis Naufal yang mampu membuat harinya lebih cerah.
Namun, semakin dalam ia membaca, semakin berat pula perasaan yang ia rasakan. Bait-bait puisi yang melukiskan cinta terpendamnya untuk Naufal kini terasa seperti pisau yang menusuk hatinya.
Kata-kata yang ia tulis sendiri itu kini seakan menjadi pengingat akan kemustahilan perasaannya. Bayangan Naufal yang baru saja berbicara di telepon dengan lembut menyebut kata "sayang" menghantamnya keras.
Senyum tipis yang tadi menghiasi bibirnya memudar, digantikan oleh ekspresi wajah yang penuh keraguan dan kepedihan. Apakah cintanya hanya akan menjadi sebuah rahasia yang terpendam selamanya? Apakah Naufal akan pernah membalas perasaannya?
Baris-baris puisi yang sebelumnya terasa indah kini terasa pahit, seperti pil yang harus ia telan. Ia merasa terluka, bukan karena lukanya di bahu yang masih terasa nyeri, tetapi luka yang jauh lebih dalam, luka di hatinya.