Drama #crime #drama

Sebuah Ancaman

Penulis sanzfy
18 January 2026

Naufal mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya. Aroma kopi hitam pekat, seduhan ketiga malam ini, tak mampu mengalahkan bau menusuk sisa-sisa sabu yang masih melekat di pakaiannya. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, dan pekerjaannya belum usai.

Laporan penangkapan bandar besar yang baru saja mereka ringkus masih menumpuk di atas mejanya, berkas-berkas tebal berisi detail operasi, keterangan saksi yang masih gemetar ketakutan, dan foto-foto barang bukti yang mengungkap jaringan gelap tersebut.

Kelelahan fisik dan mental menghantamnya dengan keras, dan ia tak boleh lengah. Tanggung jawabnya begitu besar: melindungi masyarakat dari bahaya narkoba yang semakin merajalela.

Ponselnya berdering, memecah kesunyian ruangan yang hanya dihuni oleh tumpukan berkas dan aroma kopi pahit. Nomor Sinta, terpampang di layar.

Ia ragu sejenak sebelum mengangkatnya. Ia tahu Sinta menunggunya menelepon, seperti yang dijanjikan. Janji yang terucap di sela-sela kesibukan, janji yang terlupakan di tengah hiruk-pikuk operasi penangkapan beberapa jam yang lalu.

“Halo?” sahut Naufal, suaranya berat, terbebani oleh lelah dan rasa bersalah.

“Sayang.” Suara Sinta terdengar. “Katanya mau nelpon, tapi sampai sekarang mana?? Aku sudah menunggu berjam-jam. Kamu bahkan tidak memberi kabar. Aku seperti merasa kamu tidak pernah peduli.” Kekecewaan jelas tersirat dalam suaranya, menusuk hati Naufal.

Naufal menghela napas panjang, rasa bersalahnya menyesakkan dada. Ia memandang jam dinding lagi, menyadari betapa sibuknya hari ini hingga ia tak lagi menyadari bahwa malam sudah terlalu larut telah menyapa.

“Sinta, maaf. Operasi tadi sangat melelahkan, dan laporan ini harus segera selesai, aku tahu itu bukan alasan, tapi aku ….”

“Ah, sudahlah! Tadi ditelpon katanya lagi di jalan! Ada anggota yang terluka! Katanya mau nelpon tapi mana? Ujung-ujungnya aku juga yang telepon!” Sinta menutup telepon dengan kesal.

Naufal menghela napas panjang. Saat ia hendak kembali ke tumpukan berkas, ia mendapati Aipda. Dimas sudah berdiri di depannya.

“Sejak kapan Abang di sini?” tanya Naufal, suaranya datar.

“Sejak perempuan yang dipanggil Sinta seperti mengalihkan dunia Komandan dari keheningan ruangan ini,” jawab Dimas, senyum tipis terukir di wajahnya.

“Duduk, Bang.” Naufal menunjuk kursi di hadapannya.

Dimas, yang membawa berkas, duduk di hadapan Naufal. Lelaki berpangkat AIPDA itu usianya 42 tahun, dan karena pangkatnya lumayan jauh di bawah Naufal, ia selalu menyematkan panggilan "Pak” kepada lelaki muda itu.

“Orang-orang sudah pulang dari tadi. Hanya tinggal Pak Naufal saja di ruangan ini,” ucap Dimas, suaranya lembut, penuh pengertian. Ia tahu Naufal membutuhkan seseorang untuk berbagi beban.

“Aku merasa bersalah, bang,” ucap Naufal, suaranya hampir tak terdengar, mencoba menceritakan konflik dengan kekasihnya.

Dimas mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk. Setelah Naufal selesai bercerita, Dimas berkata, “Pak Naufal, tugas kita memang berat. Tapi jangan sampai kita melupakan hal-hal penting lainnya dalam hidup kita. Keluarga, kekasih itu semua juga bagian dari hidup kita.”

“Aku tahu. Tapi aku merasa, aku tidak bisa membagi waktu dengan baik. Aku selalu merasa kurang waktu,” jawab Naufal, suaranya masih berat.

“Kita harus belajar menyeimbangkan semuanya, Pak. Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas pekerjaan sampai melupakan hal-hal lain yang berharga,” Dimas memberikan nasihatnya.

Tiba-tiba, ponsel Naufal berdering. Nomor tak dikenal. Ia ragu sejenak sebelum mengangkatnya.

“Halo?”

“Ipda Naufal Hasbi?” Suara di seberang terdengar berat, mengancam. “Kami tahu tentang operasi tadi pagi. Kami tahu kamu menyita barang bukti yang cukup banyak. Kami ingin bagian kami. Jika tidak, adikmu, Akhzam, akan menjadi taruhannya.”

Degupan jantung Naufal berdebar kencang. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Ancaman itu jelas, dan ia tahu, ini bukan ancaman biasa.

Ini ancaman dari jaringan narkoba yang lebih besar, jaringan yang mungkin saja lebih berbahaya dari bandar yang baru saja mereka tangkap. Ancaman ini bukan hanya mengancam dirinya, tetapi juga Akhzam, adiknya yang baru berusia 8 tahun. Ia teringat wajah polos Akhzam.

“Siapa kamu?” tanya Naufal, berusaha tetap tenang, meskipun tangannya sudah berkeringat dingin.

“Kau tak perlu tahu siapa kami. Besok malam, pukul sepuluh, di Pelabuhan. Serahkan barang bukti yang kami minta, atau Akhzam akan hilang. Jangan coba-coba melawan kami. Nyawa adikmu akan menjadi taruhannya.”

Telepon terputus. Naufal terduduk lemas di kursinya. Ancaman itu begitu nyata, begitu mengerikan. Ia harus memikirkan strategi, ia harus melindungi Akhzam. Ia harus melapor ke atasannya, dan ia juga harus berhati-hati.

Ia tidak bisa gegabah. Ia harus merencanakan semuanya dengan matang. Ia harus memastikan, Akhzam aman. Namun, bagaimana caranya? Bayangan wajah Akhzam yang polos dan ceria terlintas di benaknya.

"Ada apa?" tanya Dimas hati-hati.

“Bang,” panggil Naufal, suaranya serak. Ia menceritakan ancaman telepon tersebut kepada Dimas, detail per detail, tanpa melewatkan satu kata pun.

Dimas mendengarkan dengan serius, raut wajahnya berubah menjadi tegang. Setelah Naufal selesai bercerita, Dimas berkata, “Pak Naufal, ini serius. Kita harus melapor ke atasan. Tapi kita juga harus berhati-hati. Mereka tahu tentang operasi kita, berarti mereka punya mata-mata di internal.”

“Dia mengancam lewat Azam."

Dimas menepuk pundak Naufal. “Tenang, Pak. Kita akan selesaikan ini. Kita akan melapor ke atasan, tapi kita harus punya rencana cadangan. Kita tak bisa langsung menyerbu Pelabuhan. Mereka pasti sudah menyiapkan segalanya."

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Naufal, putus asa.

Dimas berpikir sejenak. “Pertama, kita harus melapor ke atasan. Kedua, kita perlu memastikan lokasi tepatnya di Pelabuhan itu. Ketiga, kita perlu mengidentifikasi siapa mereka. Mungkin ada informasi dari berkas-berkas bandar yang kita tangkap tadi. Keempat, kita perlu menyiapkan tim penyergapan yang terlatih dan terencana. Kita tidak bisa gegabah.”

“Tapi bagaimana dengan Akhzam?” tanya Naufal lagi, suaranya dipenuhi kecemasan."Pastinya mereka sudah mencari tahu di mana Azam sekolah dan kapan waktu paling aman untuk menangkap Azam."

Dimas terlihat tenang. Pengalamannya berada di dunia reskrim selama 12 tahun terakhir, yang jauh lebih banyak dibanding Naufal, memang membuat pemikirannya lebih luas.

“Kita perlu mengalihkan perhatian mereka. Kita bisa menyebarkan informasi palsu. Kita bisa membuat mereka berpikir bahwa kita sudah siap menyerahkan barang bukti. Kita bisa menggunakan ini sebagai umpan. Kita akan menggunakan strategi penjebakan. Kita akan menyiapkan tim penyamaran di Pelabuhan Sungai Duku, sementara tim lain akan mengawasi Akhzam secara rahasia. Kita akan memastikan keselamatan Akhzam, Pak Naufal. Jangan khawatir.” Dimas menjelaskan rencananya dengan detail, menjelaskan peran masing-masing anggota tim, dan strategi yang akan mereka gunakan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerahasiaan rencana tersebut. Namun, di balik ketenangannya, Dimas juga merasakan beban berat.

Ia tahu, ini bukan hanya soal menangkap penjahat, tapi juga soal menyelamatkan nyawa seorang anak yamg tak lain adalah adik kandung pimpinan tim.

Naufal menatap Dimas, sedikit harapan kembali menyala di matanya.

Namun, sebuah pertanyaan menggantung di udara, sebuah pertanyaan yang mungkin hanya Dimas yang mampu menjawabnya. “Tapi, bagaimana jika mereka berhasil memiliki Azam?”