Sienna terbangun dengan napas teratur, tetapi kepalanya terasa ringan seakan ia baru selesai tidur setelah menangis semalaman. Padahal ia yakin tadi malam tidak menangis sama sekali. Sienna mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat kapan tepatnya ia tertidur, tetapi tak ada satu pun potongan waktu yang muncul.
Yang ia ingat hanyalah suara musik karaoke, rasa puas setelah berteriak sepuasnya, lalu … gelap.
“Aku tertidur secepat itu?” gumamnya pelan, hampir tidak percaya.
Ia memiringkan tubuhnya dan sontak membeku. Arden berada tepat di sampingnya, masih dalam posisi yang sama seperti tadi malam setengah miring ke arahnya, satu tangan di atas selimut, dan ponsel masih tergenggam longgar di tangannya. Layarnya masih menyala menampilkan game yang tertinggal, karakter berhenti di tengah arena seakan menunggu instruksi yang tidak pernah datang.
Sienna menutup mulutnya, menahan tawa kecil yang hampir lolos.
“Dia juga ketiduran,” bisiknya.
Rasanya ada sesuatu yang hangat merayap di dadanya. Arden, tampak begitu … manusiawi. Tertidur sambil memegang ponsel seperti anak kecil yang kelelahan bermain sepanjang hari. Sienna menghela napas pelan, dengan hati-hati ia mengulurkan tangan, mencoba mengambil ponsel itu agar tidak jatuh.
Jarinya baru menyentuh sisi ponsel ketika mata Arden tiba-tiba terbuka. Sienna terlonjak kecil.
Arden menatapnya dengan mata yang masih mengantuk, pupilnya belum sepenuhnya fokus. Rambutnya sedikit berantakan, dan suaranya melemah, serak karena baru bangun tidur.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya pelan. Sienna langsung menarik tangannya menjauh secepat refleks, pipinya memanas dalam sekejap.
“A-Aku … hanya … ponselmu masih menyala!” katanya terbata, lalu duduk tegak, memeluk bantal untuk menutupi canggung yang menusuk dadanya. “Aku takut baterainya habis. Itu saja.”
Keheningan jatuh begitu cepat, membuat seluruh kamar terasa seperti menonton adegan drama romantis yang terlalu intens. Arden menatapnya beberapa detik, lalu perlahan mengangkat tangannya, melihat ponsel itu. Layarnya memang masih menyala, game masih terbuka dan karakter diam terpaku.
Ia mengerjapkan mata lagi, lalu mengembuskan napas kecil. “Kupikir kau ingin memainkan gamenya,” ujarnya dengan nada polos, tetapi menggoda.
Sienna hampir tersedak napasnya sendiri. “Hah! Nggak! Buat apa aku main—”
Arden mematikan ponsel dan meletakkannya di meja samping, lalu kembali menatapnya dengan mata yang sudah lebih fokus. “Sienna.”
“H-Hm?”
“Kau terbangun lebih dulu pagi ini.”
Sienna mengangguk canggung. “Iya … karena aku … nggak ingat kapan aku tertidur.”
Arden mengangkat alis. “Kau tertidur sebelum aku selesai tahap pertama gamenya.”
“Ngg—itu terlalu cepat,” Sienna menunduk, merasa wajahnya panas. “Aku lelah. Karaoke-nya terlalu heboh.”
Arden mengangguk pelan, lalu mengusap wajahnya sendiri, berusaha menghilangkan sisa kantuk.
“Aku juga ketiduran rupanya.”
“Jelas,” gumam Sienna sebelum ia sadar suaranya terdengar terlalu jujur. Arden menoleh dan Sienna buru-buru menambahkan, “Maksudku … siapa pun pasti ketiduran… kalau sudah lelah … begitu.”
Arden hanya menatapnya cukup lama untuk membuat Sienna ingin menggali lubang dan masuk ke dalamnya. Wajahnya terlalu dekat. Nafasnya masih berat, hangat, dan … entah mengapa terasa terlalu intim.
Namun, alih-alih menggoda, Arden hanya tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah mau mematikan ponselku,” katanya lembut.
Sienna terdiam. Jantungnya memukul keras meski itu hanya kalimat sederhana. “Aku hanya … nggak ingin baterainya habis. Itu saja,” ulang Sienna cepat.
Arden mengangguk santai dan perlahan duduk. “Kalau begitu, kita sarapan. Aku lapar.”
Sienna memegangi dadanya yang masih berdetak cepat, dan tanpa sadar menggumamkan sesuatu saat Arden tidak melihay.“Kenapa dia harus bangun tepat saat aku menyentuh ponselnya?” Arden sudah duduk di kursi rodanya. Dengan satu tangan, ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, sementara tangan lainnya mendorong roda perlahan menuju pintu. Tanpa banyak bicara, ia keluar lebih dulu dari kamar, meninggalkan Sienna yang masih duduk di tempat tidur memegangi dada yang berdegup tak karuan. Sienna menutup pintu pelan-pelan, mencoba menenangkan diri. “Aduh … kenapa deg-degan kayak gitu sih,” gumamnya sambil mengusap wajah. Ia bahkan bisa merasakan pipinya masih panas akibat momen canggung tadi. Hanya karena hendak mengambil ponsel Arden, ia malah menatap wajah pria itu dari jarak yang terlalu dekat. Jantungnya memacu seperti habis berlari maraton. Ia menarik napas panjang, memaksakan tubuhnya bergerak kembali ke rutinitas. Tanpa membuang waktu, Sienna masuk ke dalam walk-in closet dan mulai memilih pakaian kerja. Kemeja biru pastel, celana bahan hitam, dan blazer simple, aman, formal, dan tidak mencolok. Ia mengganti pakaian dengan cepat, lalu mengikat rambutnya menjadi ponytail rapi. Sembari berdandan tipis di depan cermin, ia kembali teringat ekspresi Arden ketika membuka mata, setengah sadar, bingung, dan lebih dekat dari yang seharusnya. Sienna berdeham kecil menepis ingatan itu. “Fokus, Sienna. Kerja. Jangan mikirin yang aneh-aneh.” Begitu semuanya siap, ia mengambil tasnya dan melangkah keluar kamar. Ia menekan tombol lift dan menunggu dalam diam, mencoba menata napasnya. Begitu pintu terbuka, ia masuk dan memandangi bayangannya di dinding logam. Lift berhenti di lantai bawah, dan saat pintunya terbuka, langkah Sienna langsung terhenti. Arden sudah berada di meja makan, duduk tegap di kursi rodanya, tampak seolah sengaja menunggu kedatangannya. Di depannya sudah ada secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Tatapan Arden terangkat ketika melihat Sienna keluar dari lift. “Kamu akhirnya turun.” Suaranya terdengar tenang, berbeda dari kecanggungan pagi tadi. Sienna hanya mengangguk, mencoba senyum kecil. “Maaf, aku agak lama.” “Nggak masalah,” jawab Arden singkat, menandai kursi di hadapannya. “Duduklah.” Sienna menarik kursi dan duduk, sedikit canggung. Ia segera mengambil sepotong roti panggang di piring tengah, sebagai cara untuk mengalihkan diri dari tatapan Arden. Tangan Arden meraih gelas kopinya, kemudian ia bertanya dengan nada santai. “Jadi, kau akan langsung ke kantor?” “Ya,” jawab Sienna sambil mengoleskan selai tipis pada rotinya. “Banyak laporan yang harus kupastikan sebelum meeting siang.” Arden mengangguk pelan, lalu meletakkan gelasnya. “Kalau begitu, biar aku yang mengantar.” Sienna langsung menoleh cepat, hampir tersedak udara. “Hah? Jangan! Maksudku …” Arden menaikkan alis. “Kenapa?” Sienna mengibaskan tangan buru-buru. “Kamu pasti lelah sekali. Semalam kita nyanyi hampir dua jam tanpa berhenti. Kamu juga tidur terlalu malam karena main game. Nggak usah repot-repot antar aku.” Ada sedikit jeda sebelum Arden berbicara lagi, hampir seperti menahan tawa. “Aku nggak selemah yang kau pikirkan, Sienna.” Sienna memalingkan wajah sambil menggigit roti, berusaha menutupi pipinya yang memanas. “Bukan begitu … cuma … kamu harus istirahat.” Arden memperhatikan ekspresinya beberapa detik, kemudian akhirnya berkata, “Baik. Kalau begitu, minta Lucas antar.” Sienna mengangguk cepat. “Iya. Terima kasih.” Arden menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang, tetapi matanya tetap mengikuti gerakan Sienna. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara pria itu menatapnya pagi ini, lebih lembut, lebih memperhatikan. Sienna pura-pura tidak menyadarinya. Setelah beberapa saat selesai sarapan, ia bangkit dan merapikan tas. “Aku berangkat dulu.” Arden hanya berkata satu kalimat, tetapi cukup membuat langkah Sienna terhenti sesaat. “Hati-hati, Sienna.” Dan tanpa menoleh, Sienna tersenyum kecil sebelum melangkah pergi.