Bab 39. Beri Waktu Aku Sendiri

Penulis Rei_Moira
13 September 2025

Hanya karena pria memiliki insting berburu, bukan berarti ia bebas memburu siapa pun dan menerkamnya, kan? Ada aturan dan norma dalam sebuah hubungan—setidaknya bagi Aurora. Bercinta tanpa cinta, bagaimana bisa Kael melakukannya?

Pria itu tak mengejarnya. Cukup mengecewakan, tapi juga melegakan. Saat ini Aurora tak ingin menatap wajahnya. Bayangan Kael dan Celeste sedang bergelut di atas kasur, membuatnya murka. Bagaimana pria itu mengecup, mengecap, dan menghentak. Oh, shit! Aurora tak sanggup membayangkannya.

“Rora?”

Aurora buru-buru menghapus air matanya.

“Kau kah itu?” Ezra mendekat, menyusuri dermaga kayu menuju tepi danau—tempat Aurora dan Kael menikmati sunset waktu itu.

Tak ada jawaban, hanya dehaman pelan untuk menyamarkan suara yang serak setelah terisak.

“Benar kau,” ucap Ezra, lalu duduk di sebelah Aurora. “Sedang apa di sini? Ada masalah dengan Kael? Aku mendengar kalian saling teriak.”

Desah frustrasi menjadi jawaban pertama yang lolos dari bibir Aurora. Tangannya saling memilin, mengaburkan keresahannya. “Terlalu berisik, ya?”

Ezra memperhatikan sejenak sisi profil Aurora. Hidung mancung yang mencuat indah, terlihat kemerahan karena udara musim gugur yang menerpa. Ada rasa bersalah yang dirasa. Jika saja ia tak pernah terlibat dengan Bastien, pasti situasinya tidak akan seperti ini.

Bahkan jika takdir memang memaksanya untuk tetap jatuh cinta pada Aurora, setidaknya… jalan yang ditempuh akan lebih benar dari sekarang.

“Aku mencemaskanmu.” Ezra tulus mengatakannya.

Senyum tipis mengembang di wajah Aurora. Matanya tetap tertuju pada beriak kecil di tengah danau. “Tidak ada yang perlu kau cemaskan. Kau harusnya mencemaskan saja tanganmu. Masih sakit?”

Ezra melirik sekilas pada lengannya yang masih dibebat gips. “Lumayan. Mulai gatal.”

“Itu tandanya segera sembuh.”

Ezra menyipit. “Kau yakin?”

“Kata orang begitu.”

Ezra tertawa, membuat Aurora menoleh heran.

“Ada yang lucu?” tanya Aurora.

“Kau yang lucu.” Ezra menatap Aurora lekat-lekat. “Menyenangkan karena bisa berinteraksi seperti ini denganmu.”

Anggukan kecil diikuti senyum tipis dari Aurora. “Ya… menyenangkan karena masih memiliki keluarga. Aku senang karena masih memilikimu.”

“Memilikiku?”

“Kau adikku.” Aurora menghela napasnya panjang. “Serumit apa pun masalah yang kuhadapi, setidaknya aku masih memilikimu sebagai adik, keluarga… ah, coba dulu kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak sebelum papa bangkrut. Pasti menyenangkan tinggal di mansion bersamamu.”

Denyut nyeri terasa mengganggu di dada Ezra. Ia mulai tidak nyaman disebut sebagai adik oleh Aurora. Ia menginginkan hal yang lebih dari itu.

“Aku dulu suka berlama-lama di balkon mansion. Minum wine, sambil baca novel. Mungkin kalau dulu kau sudah ada, aku tidak akan merasa terlalu kesepian.”

“Kita bisa melakukannya lagi kalau kau mau.” Ezra bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Kita bisa melakukan apa pun yang kau inginkan.”

“I wish I could.” Terdengar tak memiliki harapan, Aurora menyunggingkan senyum tipisnya. “Yang kuinginkan hubunganku dengan Kael baik-baik saja. Tapi sepertinya impianku terlalu besar. Aku bahkan tidak pernah tahu apa saja yang telah dia lakukan sebelum bersamaku, bagaimana perasaan terdalamnya. Mungkin… masih ada perasaan untuk Celeste yang sedang dia coba tutupi.”

Ezra menegang. Ucapan Celeste kembali terjadi. Dari semua rencana yang telah ia lakukan, kontras dengan keinginannya untuk membuat Aurora aman dan bahagia. Nyatanya memang ia satu-satunya orang jahat yang sedang berusaha menghancurkan hidup wanita itu.

“Kau bisa bersandar padaku…” Ezra menoleh, sorot matanya meredup. “... kalau kau ingin.”

Aurora hanya tersenyum, tapi tak melakukan apa yang dikatakan Ezra. Kali ini ia ingin kuat dengan dirinya sendiri, tanpa bersandar pada siapa pun. Terakhir kali ia memutuskan untuk bersandar pada dekapan Kael, nyatanya tetap saja tersakiti.

Sementara itu, mereka tak menyadari jika selama mereka berinteraksi, Kael tak lepas menatap mereka dengan tangan terkepal. Cara Ezra yang masuk saat hubungannya dengan Aurora renggang membuatnya muak. Namun untuk saat ini, ia berusaha meredam emosi karena ada hal penting yang harus dilakukan selain menggampar wajah sialan itu.

Dengan gerakan enggan, Kael berbalik dari teras belakang villa menuju ke meja makan. Gelas bekas Ezra masih ada di sana, belum tersentuh siapa pun. Tangannya menarik selembar tisu dapur, lalu mengambil gelas itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik besar sebelum dimasukkan ke dalam tas kerjanya. Besok, ia akan langsung menyerahkannya pada Rudolf untuk diproses penyidikan lebih lanjut. Siapa pun Ezra sebenarnya, akan segera terungkap setelah ini.


Derak pintu sedikit menggema dalam ruangan kerja Bastien Vireaux. Tali jubah tidur yang menggantung berayun seiring dengan langkahnya, nyaris seirama dengan detak jam.

Pria itu, masih dengan tatapan dinginnya meraih gagang telepon di atas meja. Hampir seluruh transaksi gelapnya dibicarakan melalui benda itu. Nada sambung segera terdengar setelah satu angka berputar.

[Ya, Tuan.]

“Lakukan besok. Aku tidak mau ada kesalahan sedikit pun.”

[Baik, kami mengerti.]

Sambungan berakhir.

Bastien kembali meletakkan gagang telepon pada tempatnya, kemudian bersandar sambil menengadah, menatap langit-langit. Matanya memejam sejenak, diikuti helaan napas dalam-dalam. Sebentar lagi, semua hal yang seharusnya menjadi miliknya akan kembali.


“Sudah malam, ayo masuk.” Ezra berdiri, mengulurkan sebelah tangannya yang bebas pada Aurora.

Puncak hidung Aurora sudah memerah, tapi gelengan pelan justru satu-satunya jawaban yang ia berikan.

“Rora, please… kau bisa sakit kalau terus berada di sini.” Ezra terdengar frustrasi.

“Sebentar lagi. Masuklah dulu.” Aurora kembali melempar pandangannya pada pantulan bulan di tengah danau.

Bersamaan dengan itu, Kael telah berdiri tepat di sebelah Ezra. Rahangnya mengetat, gemeretak giginya beradu saat melihat wajah pria itu. Sementara Ezra memicingkan mata, kemudian memilih berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Rora, masuk.” Suara berat itu mengambil alih.

Kepala Aurora menoleh cepat, tak menyangka Kael telah berdiri di belakangnya. “Oh… masih peduli rupanya.”

Kael menangkupkan coat tebal di pundak Aurora sebelum berputar, menduduki tempat Ezra tadi. “Tentu saja aku peduli padamu. Kau istriku.”

Aurora tertawa pelan. “Istri kontrak, lebih tepatnya.” Nada sinisnya terlalu kuat.

“Perlu kuulangi kalau kontrak itu sudah tidak sah semenjak kita saling mengungkapkan perasaan?” Kael berusaha keras untuk tidak meledak seperti tadi, tapi yang terdengar justru geraman.

“Jangan pedulikan aku.” Aurora tak berniat untuk menatap wajah pria itu sedikit pun. “Masuk saja sana, aku sedang tidak ingin mendengar bentakan lagi.”

Kael meraih tangan Aurora, tapi segera ditarik oleh wanita itu.

“Please… beri waktu aku untuk sendiri.”

“Tidak jika kau berada di luar dalam cuaca seperti ini. Masuk, tidur di kamar. Aku akan tidur di luar malam ini.” Kael menjaga nada bicaranya tetap pelan, tak ingin menyenggol titik sensitif istrinya lagi.

Tak ingin mendebat, Aurora berdiri, meninggalkan Kael sendirian di tepi dermaga kayu. Langkahnya cepat, menjejak kasar pada deretan kayu yang berderak seirama. Dan ketika ia telah masuk ke dalam kamar, pintu dikunci.

Sementara itu, Kael menghela napasnya dalam-dalam sebelum beranjak dari kursi di pinggir dermaga. Untuk malam ini, ia akan mengalah. Namun besok, semua hal yang harus diungkap, akan ia ungkap tanpa peduli respon apa yang akan dikeluarkan oleh Aurora. Kesabarannya sudah habis.