Ada satu kejadian ekstrim yang akan Rama ingat sepanjang hidup dan tak akan pernah bisa terhapus dalam ingatannya. Meskipun sudah berulang kali Ia mencoba bernyanyi lagu Geisha “Lumpuhkanlah Ingatanku” berulang-ulang kali. Tetap saja kejadian itu gak bisa hilang dan terlupakan dari ingatannya. ....
Waktu itu Rama masih bocah kecil di umur 8 tahun dan duduk di kelas 3 SD. Masih tidak tahu dan belum kenal yang namanya bahaya. Pokoknya apapun yang ingin Rama lakukan dan selama Ia yakin bisa melakukannya, pasti Rama lakukan tanpa berpikir panjang resiko bahayanya.
Masa anak-anak itu memang indah, dan terkadang ekstrim. Bisa dikatakan seperti itulah masa anak-anak Rama. Mungkin juga semua anak-anak lainnya di dunia ini.
....
Rama pernah ramai-ramai bersama temennya, mencuri buah mangga orang di pinggir jalan. Sampai akhirnya ketahuan, dikejar, dan dilempar pemiliknya pakai batu yang beterbangan di atas kepalanya dan temen-temennya. Beruntungnya waktu itu Ia sangat lincah. Lebih lincah dari Sun Go Kong. Jadi tak ada batu yang mendarat darurat di kepalanya dengan ekstrim.
TOLONG ADEGAN INI JANGAN DITIRU!
....
Rama pernah bersama temen-temennya menyembunyikan sandal orang-orang di masjid. Sandal yang parkir di teras masjid bisa hilang satu persatu ketika Ia dan temen-temen nakalnya beraksi. Tanpa memikirkan perasaan pemiliknya yang kebingungan pulang kerumah tanpa sandal.
Beruntungnya Rama dan temen-temen aksi kriminalnya itu tidak berhasil dilacak oleh polisi. Dan lebih beruntung lagi sekarang Rama telah sadar. Tapi tak tau bagimana dengan temen-temennya.
CERITA INI JANGAN DITIRU !
....
Rama juga pernah menjadi anak-anak masjid. Dulu, hampir semua waktu Ia habiskan di dalam masjid. Bukan buat baca qur-an atau dzikir di masjid, tapi untuk main kejar-kejaran, tidur-tiduran di dalam masjid bareng temen-temen nakalnya tadi. Di balik itu semua ada pesan spiritual yang bisa di petik dari kenakalan masa anak-anak itu, yaitu ketika sudah waktu untuk sholat, Rama dan temen-temennya bisa tiba-tiba insyaf. Mereka selalu berebutan untuk mengumandangkan Adzan di Masjid.
ADEGAN INI BOLEH DITIRU.
Tapi, bukan ketiga cerita tadi yang tak pernah terlupakan dalam hidup Rama. Ada yang lebih ekstrim dari itu.
....
Siang itu. Rama bersama kakak perempuan dan mamanya lagi kumpul bernostalgia dengan ngobrol-ngobrol di teras rumah. Sementara papanya, Oma dan Opa nya lagi nyenyak-nyenyaknya tidur siang. Entah kenapa siang itu Ia tidak bisa ikutan tidur, Ia juga gak tahu. Padahal Ia sudah diajak tidur bareng Omanya, tapi Rama gak bisa tidur dan memutuskan untuk bergabung dengan kakaknya dan mama nge-rumpi di teras rumah. Firasat buruk belum terasa waktu itu.
Rama ingat sekali waktu itu, sedang musim buah mangga. Kebetulan di depan rumah mereka ada 2 pohon mangga milik pribadi berjenis manalagi yang manis sedang berbuah lebat-lebatnya.
Ketika asyik-asyiknya mereka bertiga berbincang sambil tertiup angin sepoi-sepoi di teras rumah, tiba-tiba muncul satu ide dan gagasan yang sangat menarik siang itu.
“Ayo ambil mangga, kita buat rujak..” kata mamanya.
Ide membuat “Rujak Buah” pada siang hari yang terik adalah sebenar-benarnya firasat buruk. Di sinilah awal mula kejadian ekstrim itu dimulai.
....
Diantara kami bertiga, sangat tidak mungkin mama yang akan ngambil mangga dengan memanjat pohon yang tingginya sekitar 12 meter dengan mengenakan daster. ITU BAHAYA BANGET !
Enggak mungkin juga kakak perempuan Rama yang phobia ketinggian disuruh manjat pohon. Dia naik meja yang tingginya hanya 30 cm aja, kadang langsung pingsan, apalagi memanjat pohon dengan ketinggian 12 meter. Bisa jadi dia kena stroke dan asma di atas pohon kemudian jadi menu santapan makan siang manusia guling bagi semut-semut merah. INI JUGA BAHAYA BANGET !
Tak ada pilihan lain. Tak lain tak bukan, pilihannya tinggal Rama.
Sekarang beban dan tanggung jawab besar berada di tangan Rama untuk memenuhi hasrat keinginan membuat “Rujak Buah” hasil ide dan gagasan yang tiba-tiba dari nge-rumpi siang bolong.
Dengan jiwa keberanian seorang cowok mantan perampok dan demi terlihat maco serta hebat di depan mama dan kakaknya. Rama mengIYAkan. Rama siap untuk memanjat dan menaklukan pohon mangga di depan rumah itu.
....
Persiapan pertama yang Rama lakukan adalah melihat dan memandang pohon mangga itu dari akar sampai pucuk pohon. Dalam hatinya mendongkol, KAMPRET! INI TINGGI !
Persiapan kedua adalah pemanasan. Merenggangkan otot tangan, kaki dan kepala yang akan sangat berfungsi ketika memanjat nanti. Persiapan ini terlihat hampir sama dengan persiapan melawan monyet berjudul pertandingan “RAMA VS MONYET MENGAMBIL MANGGA”. Kira-kira seperti itu.
Persiapan ketiga adalah berdoa. Ini sangat penting karena semua yang kita lakukan akan aman dan baik-baik saja jika kita berdoa dan berserah diri kepada tuhan (tumben lurus otaknya).
....
Ketika ketiga persiapan tadi telah terlaksana. Mari masuk ke bagian ke-empat. Bagian ke empat adalah BERUSAHA.
Dengan perlahan tapi pasti Rama mulai memanjat. Ia merasa bagaikan seorang cowok maco memerankan peran menjadi seekor monyet, sementara mama dan kakaknya menyemangati dan mendukung aksi yang Ia lakukan dengan bersorak dari bawah.
“AYO RAMA ! KAMU PASTI BISA ! KAMU LEBIH LINCAH DARI SEEKOR MONYET!”
Rama jadi makin semangat disamain dengan monyet.
....
Satu menit berlalu, Rama sudah berhasil memanjat sampai di ketinggian 4 meter. Beberapa buah mangga telah berhasil Ia jatuhkan ke mama dan kakaknya yang ada di bawah (bukan lempar ke kepala mereka. BUKAN).
Kata mama dan kakaknya kompak dari bawah.
“Rama, uwes! wes cukup! medon aee, turun!” teriak mereka dengan nada jawa khasnya.
Tapi Rama seperti masih terlalu asyik memerankan peran seekor monyet di atas pohon mangga siang itu.
“Sek buk, onok seng mateng kii (tunggu mah, ada yang matang nih)” balasnya ke mama.
Hening.
Mama dan kakaknya tidak membalas kata-kata Rama.
Mereka telah asyik mencuci buah dan konsentrasi siap membuat rujak.
FIX. Rama dicuekin.
Sekarang Rama jadi mirip monyet kesepian di atas pohon mangga tanpa ada lagi support dari mama dan kakaknya.
Rama segera berusaha naik lebih ke atas. Mencoba mengambil satu buah mangga yang terlihat matangnya bener-bener membuatnya ngiler. Tapi sangat susah. Tangannya kesulitan menjangkau posisi buah mangga itu.
Rama tetep berusaha.
Dan terus berusaha.
Rama menginjakkan kaki dari ranting ke ranting yang kecil. Ia berusaha menggunakan jurus meringankan diri di udara. Ini jurus yang hanya di miliki oleh seekor monyet dan Ia bisa lakukan. HEBAT KAN?
....
Semakin dekat jangkauan tangan Rama ke buah mangga itu.
Dan semakin dekat ...
Semakin dekat ...
Lebih dekat ...
Dekat ..
Kat ..
...
TIBA-TIBA.
....
“PRAAAAAAKKKKK...!!!! ”
RANTING YANG RAMA INJAK PATAH.
....
“MAAMAAAAAAAAAAAAAH ...!!!!!!!”
RAMA BERTERIAK DI UDARA.
Rama berharap mama dan kakaknya segera secepat mungkin menyiapkan kasur empuk di bawah pohon.
“BRRUUUUUUUUKKKK ....!!!!!!!!”
RAMA JATUH DI TANAH.
....
Matanya tertutup.
Rama sukses mendarat dengan ekstrim di tanah. Gak ada kasur empuk yang Ia harapkan tadi.
Pertama kali Ia membuka mata, ada segerombolan ayam-ayam berlari mendekat kepadanya. Beruntung. Mungkin mereka bisa segera menolong.
Dalam hatinya “Syukurlah... ternyata ada tim AYAM-AYAM MEDIS deket sini.”
Atau malah mungkin ayam-ayam itu mengira kalo Ia adalah buah mangga busuk raksasa yang jatuh dari pohon.
Rama diem. Kayak pemain film.
Masih tetap dalam posisi jatuhnya yang ekstrim. Ia merasakan sakitnya dan merasakan keseleo di tangan kirinya. Tapi hebatnya Ia gak nangis waktu itu. SUMPAH INI SERIUS !
....
Kemudian berselang beberapa detik dari ayam-ayam yang mendekatinya, mama dan kakaknya datang dengan syok. Mereka langsung menolong dan mengangkatnya dari posisi jatuh yang ekstrim saat itu.
BENER. Tangan kirinya keseleo.
Gak bisa digerakin. Beruntungnya bukan patah.
Di siang itu Rama sadar satu hal.
IA GAGAL MEMERANKAN PERAN SEEKOR MONYET YANG LINCAH.
....
Malamnya adalah malam teriakan.
“AAAAAAAAAHHHHHHH .....” Rama teriak berkali-kali. Tangannya dikuasai tukang urut.
@#$%^&*(+_)