Moderator di Tengah Jalan

Penulis BurungBiru
18 January 2026

Pukul tiga dini hari ketika Pak Darto sampai di pool, udara masih dingin dan sepi. Lampu neon di atas area parkir menyala pucat, memantul di permukaan aspal basah dari hujan semalam. Beberapa sopir sudah memarkir mobil mereka, ada yang duduk di kursi lipat sambil menyeruput kopi sachet, ada yang mengecek layar ponsel, atau menulis catatan kecil di buku setoran. Suasana hening, hanya terdengar desah angin dan suara mesin yang baru selesai dimatikan. Pak Darto menyalakan mesin mobilnya, memanaskan sebentar, lalu menutup pintu. Tangannya menepuk setir pelan, menenangkan diri. Jam tiga pagi selalu jadi ritual yang sama. Bangun dari tidur yang sebentar, mandi cepat, pamit ke istri yang masih tertidur, kemudian berangkat. Rutinitas ini bukan hanya soal pekerjaan, tapi soal hidup. Beberapa menit kemudian, order pertama masuk. Penumpangnya di perempatan dekat pool. Pak Darto melaju pelan, menyalakan lampu sein, menunggu di tepi jalan. Tidak lama, terlihat seorang pria muda melambai dari trotoar. Ia tampak cemas, membawa tas ransel, dan sesekali menatap ke jam di pergelangan tangan. “Selamat pagi, Pak,” sapa penumpang ketika masuk mobil. “Maaf, agak telat, tadi agak ribet di jalan.” “Tidak apa-apa, Mas. Semua orang punya hari sibuk,” jawab Pak Darto sambil tersenyum. “Mau ke mana?” “Ke Stasiun Senen, Pak. Naik kereta ke Bogor,” jawab pria itu. Perjalanan berjalan normal, tapi tidak sampai lima menit setelah mobil melaju, Pak Darto melihat di kejauhan dua mobil lain berhenti mendadak di perempatan. Dari arah suara klakson dan teriakan, ia langsung sadar ada masalah. Seorang sopir taksi tampak marah-marah pada penumpangnya sendiri. Penumpang itu berdiri di samping mobil, wajah memerah, menunjuk sesuatu di layar ponselnya. Pak Darto mendekat pelan, memperhatikan situasi. Sopir itu menegur dengan nada tinggi, sementara penumpang membalas dengan kesal. Beberapa pejalan kaki berhenti menatap, lalu kembali melanjutkan langkah mereka. Jakarta dini hari memang biasanya sepi, tapi ketika konflik muncul, semua terlihat lebih jelas. Tanpa menunggu lama, Pak Darto menepi, menurunkan kaca. “Permisi, Pak, Bu… sepertinya ada salah paham. Bisa saya bantu?” Sopir yang marah menoleh. “Ini penumpang saya, Pak. Mau saya antar, tapi dia ribut terus,” jawabnya. Nada suara masih tinggi. Penumpang di samping mobilnya ikut bicara, agak panik. “Pak, saya sudah bayar di aplikasi, tapi dia bilang belum! Saya harus buru-buru ke bandara!” Pak Darto menghela napas, menenangkan diri. Ia tahu betul situasi ini bisa melebar kalau tidak ada yang mengendalikan. “Oke, tenang dulu. Pak, Bu, saya bukan siapa-siapa selain sopir juga. Tapi kalau kita bicara baik-baik, biasanya semua bisa kelar.” Sopir taksi itu masih gelisah, tapi akhirnya menurunkan nada. “Baik, Pak. Silakan… kalau bisa cepat.” Pak Darto mengangguk. “Terima kasih. Kita mulai dari sini. Bu, bisa tolong tunjukkan bukti pembayaran?” Penumpang membuka aplikasi, menunjukkan tanda centang pembayaran. Sopir taksi itu menatap layar, lalu menghela napas. “Oh… iya, ini memang sudah bayar. Maaf, Pak. Saya terlalu cepat menilai.” Pak Darto tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Yang penting sekarang semua jelas. Masalah selesai.” Penumpang dan sopir itu saling menatap, lalu tersenyum canggung. Pak Darto menepuk bahu sopir itu. “Kalau ada kesalahan, yang penting kita koreksi cepat, jangan sampai bikin orang panik atau kesal. Pagi-pagi kan semua masih segar, jadi hati-hati.” Setelah itu, Pak Darto melanjutkan perjalanan penumpangnya ke stasiun. Dalam hati ia bersyukur, situasi bisa ditenangkan tanpa ada yang naik darah. Di jalan menuju stasiun, penumpang itu mulai bercerita. “Pak, makasih banget tadi. Saya benar-benar panik. Ada beberapa sopir lain yang nggak mau dengar penumpang, langsung ribut di jalan.” Pak Darto mengangguk. “Ya, kadang begitu. Tapi kalau kita tetap tenang, semua bisa kelar. Saya sudah terbiasa menghadapi ini.” Sesampai di stasiun, penumpang turun, membayar dengan pas. Ia menepuk bahu Pak Darto. “Terima kasih, Pak. Anda sopir yang sabar. Semoga hari Anda lancar.” Pak Darto tersenyum, menutup pintu, lalu menatap mobil lain yang masih parkir di pool. Beberapa sopir lain mulai keluar, beberapa baru datang dari titik lain. Ia menyadari, di pekerjaan ini, bukan hanya soal cepat mendapatkan order, tapi juga mengatur emosi, menenangkan orang, dan menjaga agar Jakarta tetap bergerak meski ada konflik kecil di tengah jalan. Jam menunjukkan pukul delapan pagi ketika order berikutnya masuk. Kali ini penumpang di daerah Sudirman, seorang ibu dengan anak kecil di kursi belakang. Ia tampak gelisah, menanyakan rute tercepat. Pak Darto tetap santai. Ia menawarkan saran jalur, memberi sedikit humor agar suasana tidak tegang. Perjalanan lancar, anak kecil tertawa, ibu tersenyum lega. Pukul sepuluh pagi, Pak Darto mendapat order dari seorang mahasiswa yang tampak panik karena terlambat ke kampus. Di tengah perjalanan, mahasiswa itu menelepon teman-temannya, menanyakan tugas, sambil menatap layar laptop di pangkuannya. Pak Darto menyesuaikan kecepatan, berhati-hati menghadapi motor dan mobil di jalanan padat Jakarta. Satu kejadian menarik terjadi ketika sebuah kendaraan pribadi menyalip secara sembrono, hampir menabrak mobil Pak Darto. Tanpa menimbulkan konflik, ia memberi klakson pendek, menenangkan penumpang, dan menyesuaikan posisi mobil. Semua berjalan normal, tapi bagi Pak Darto, setiap momen di jalan adalah latihan kesabaran dan pengendalian diri. Menjelang siang, Pak Darto kembali ke pool. Ia memarkir mobil dengan rapi, mematikan mesin. Di ruang setoran, beberapa sopir terlihat sedang menghitung hasil setoran, beberapa duduk sambil menyeruput kopi. Pak Darto mencatat semua order yang diterima, termasuk beberapa penumpang yang lupa bayar. Ia yakin, semuanya akan selesai, karena komunikasi dan catatan selalu membantunya menutup setoran. Pukul satu siang, sebuah insiden kecil terjadi. Dua sopir berbeda rute bertemu di perempatan sempit, sama-sama hendak memutar balik, saling berebut jalur. Pak Darto yang kebetulan lewat menepi, membuka jendela. “Pak, Mas, sabar dulu. Kita bisa bergantian. Jalan ini cukup untuk semua, tidak perlu tarik suara.” Keduanya menatap, terdiam beberapa detik, lalu tersenyum malu. “Iya, Pak. Maaf,” kata salah satu sopir. Pak Darto mengangguk, melanjutkan perjalanan ke titik berikutnya. Hari itu, ia merasa seperti mediator jalanan. Menenangkan sopir yang marah, penumpang yang panik, mahasiswa yang terlambat, hingga ibu dengan anak kecil. Semua pengalaman itu menambah kesabaran, memperkuat mental, dan memberi pelajaran bahwa menjadi sopir taksi bukan sekadar mengantar orang, tapi menjaga ritme kota tetap berjalan. Malam menjelang, mobil Pak Darto kembali ke pool. Lampu neon memantul di aspal yang mulai basah karena gerimis tipis. Ia mematikan mesin, duduk sebentar, menatap catatan hari itu. Semua penumpang yang lupa bayar akhirnya menghubungi. Setoran harian lengkap. Hati Pak Darto lega. Sambil menyesap kopi panas, ia tersenyum. Hari ini bukan hanya tentang uang, tapi tentang kesabaran, pengendalian emosi, dan kemampuan menjadi mediator. Mobil-mobil lain sudah masuk pool, beberapa sopir tertawa kecil, ada yang ngobrol soal order berikutnya, ada yang menghela napas lelah. Pak Darto menutup pintu mobilnya, menaruh tas di dashboard. Ia tahu, besok pukul tiga dini hari, ia akan kembali absen, kembali memegang setir. Tapi malam ini, ia pulang dengan hati ringan, karena hari ini ia tidak hanya menyelesaikan order, tapi juga membantu orang lain mengendalikan emosi mereka di jalan Jakarta.