Pagi itu, udara kota masih basah dari hujan semalam. Pak Tanga, sopir taksi yang biasanya narik shift malam atau “ngalong”, menyalakan mesin mobilnya di pool jam tiga dini hari. Lampu neon di area parkir menyinari barisan mobil biru pucat, sementara beberapa sopir lain baru saja pulang dari setoran. Tubuhnya terasa berat, tapi ia sudah terbiasa. Rutinitas ini sudah seperti irama yang melekat: absen, cek mesin, start, dan menunggu order pertama.Sekitar pukul tiga tiga puluh, order pertama masuk. Tidak jauh, hanya ke sebuah hotel kecil di kawasan Mangga Besar. Penumpangnya seorang pria dan perempuan, sepasang sejoli yang terlihat sedang terburu-buru. Pak Tanga menyalakan lampu sein, mengatur spion, dan menurunkan kaca. “Selamat pagi, Pak, Bu. Silakan masuk,” sapanya ramah. Mereka masuk, duduk di kursi belakang, dan segera mulai berbicara dengan suara rendah.Seiring mobil melaju keluar dari pool, Pak Tanga mulai memperhatikan tingkah mereka. Pada awalnya, percakapan biasa, tapi tak lama kemudian, gerak-gerik mereka mulai berubah. Tangan mereka saling menyentuh, bahu bersentuhan, dan perlahan mulai saling merangkul. Pak Tanga menahan napas, matanya tetap di jalan, tapi rasa risih mulai tumbuh. Ia mengeraskan sedikit suara, “Permisi, Bu, Pak, tolong jaga etika di dalam mobil. Ini bukan tempat untuk mesra-mesraan.”Pasangan itu menoleh, sedikit tersenyum, dan terus melakukan apa yang mereka lakukan. Pak Tanga menarik napas dalam, menegaskan lagi, “Kalau tidak nyaman menjaga sopan santun, saya bisa hentikan mobil dan kalian bisa turun di sini.” Suasana tegang beberapa detik. Wanita di belakang mengangkat alis, pria di sebelahnya menatap tajam. “Apa maksudmu, Pak? Kita hanya duduk di sini,” katanya dengan nada mendongkol.Pak Tanga menatap kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan di belakang, lalu berkata tegas, “Saya sopir. Saya bertanggung jawab atas kondisi di mobil ini. Jika tingkah laku kalian membuat saya risih, saya tidak bisa lanjut. Saya minta kalian menghargai aturan atau turun di sini. Saya serius.” Pasangan itu saling berpandangan, mulut terkatup, dan setelah beberapa detik hening, wanita itu akhirnya berdiri dengan geram, membuka pintu, dan melompat keluar. Pria itu ikut turun, wajah merah, menuding, “Ini tidak adil! Kita mau bayar, tapi diperlakukan seperti ini? Saya akan lapor ke kantor pusat kalian!”Pak Tanga tetap tenang. Ia menyalakan mesin, menatap mereka berjalan menjauh, lalu berkata pelan untuk dirinya sendiri, “Ya sudah, lakukan saja. Saya tetap benar. Tidak ada yang bisa memaksa sopir merasa nyaman dengan keadaan yang salah.” Ia membuka catatan kecil di dasbor, mencatat alamat penurunan terakhir dan nomor telepon mereka, lalu mencatat bahwa mereka akan membayar langsung atau transfer ke kantor pusat jika mengadu. Semua dilakukan dengan hati-hati, tapi tanpa rasa takut atau ragu.Setelah kejadian itu, Pak Tanga melanjutkan perjalanan. Order berikutnya datang, dan kali ini penumpang normal. Seorang perempuan tua ingin ke rumah sakit, seorang mahasiswa ingin ke kampus, beberapa perjalanan singkat ke stasiun dan perkantoran. Jalanan pagi mulai ramai, tapi bagi Pak Tanga, pengalaman dengan pasangan itu tetap membekas. Ia merenung, bahwa sebagai sopir, menjaga etika adalah bagian dari pekerjaan, sama pentingnya seperti sampai tepat waktu atau berhati-hati di jalan.Jam demi jam berlalu. Order masuk sporadis, tapi ia tetap fokus, sesekali menyesap kopi panas di sela-sela waktu tunggu. Pikirannya masih kembali ke pasangan tadi. Ia sadar, banyak orang tidak mengerti bahwa sopir juga punya batas nyaman. Ia pun menceritakan kejadian itu kepada beberapa sopir di pool ketika break siang, mereka tertawa campur prihatin. “Memang kadang orang lupa sopan, tapi kamu tetap benar, Tanga,” kata Pak Ardi sambil mengangguk. Pak Tanga tersenyum, merasa sedikit lega.Sore menjelang. Jakarta masih macet seperti biasa. Pak Tanga harus berhati-hati menavigasi jalan-jalan sempit, motor berseliweran, klakson berbunyi bersamaan. Ia memperhatikan setiap rambu, setiap persimpangan, karena hari ini satu kesalahan kecil bisa berimbas pada setoran. Tapi pikirannya tetap kembali pada etika sopir: bahwa menjaga kenyamanan dan rasa aman di mobil adalah bagian dari profesi ini, tidak bisa ditawar.Saat senja mulai turun, ia berhenti sebentar di pinggir jalan untuk menyesap air dan menenangkan diri. Angin sore membawa aroma hujan semalam. Ia membuka catatan di dasbor lagi, memeriksa semua order yang belum dibayar, termasuk yang transfer atau janji bayar di kantor pusat. Rasanya ada beban di pundaknya, tapi bukan beban yang membuatnya takut atau menyesal. Ini beban tanggung jawab, dan ia tahu bagaimana menanganinya.Malam tiba. Lampu-lampu jalan menyala, suara kendaraan mulai menipis. Pak Tanga mendapat beberapa order terakhir: seorang mahasiswa yang buru-buru ke kosan, seorang ibu yang ingin ke stasiun untuk menjemput anaknya, dan seorang pria tua yang sakit ringan. Semua perjalanan normal, tidak ada insiden, tapi setiap penumpang memberinya pelajaran berbeda. Kadang tersenyum karena cerita lucu, kadang terdiam karena canggung, kadang berterima kasih dengan tulus.Akhirnya, sekitar pukul sebelas malam, Pak Tanga memutuskan untuk kembali ke pool. Mesin mobil berhenti, lampu dimatikan, dan ia duduk sebentar menatap langit malam di atas barisan mobil biru yang sepi. Tubuhnya lelah, tangan pegal, tapi hati terasa ringan. Hari itu panjang, penuh cerita, ada insiden, ada ketegangan, ada kelegaan. Ia tahu, besok dini hari, rutinitas itu akan dimulai lagi. Tapi rasa percaya diri dan keyakinan akan benar tetap menemaninya.Sambil turun dari mobil, Pak Tanga menatap sopir lain yang sedang duduk di bangku pool. Mereka saling tersenyum, seperti memberi pengertian satu sama lain tanpa kata-kata. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua tahu, menjadi sopir taksi bukan soal cepat kaya atau selalu dapat penumpang baik. Ini soal sabar, menjaga etika, dan tetap bertanggung jawab atas keputusan sendiri, meskipun harus menghadapi kemarahan atau keluhan orang lain.Ia menutup pintu mobil, menyandarkan diri sejenak, dan menatap catatan kecil yang ia pegang. Tanggal, jam, tujuan, nominal, dan catatan tentang pasangan tadi. Semuanya tertulis rapi. Ia merasa lega. Semua sudah dilakukan dengan benar. Tidak ada yang tersisa untuk diragukan. Dengan napas panjang, ia berjalan menuju kantor pool, menyerahkan catatan pada petugas malam, memastikan semua sesuai prosedur.Malam itu, Pak Tanga pulang dengan sepeda motor. Angin malam menyapu wajahnya, dan kota terasa sepi setelah hujan semalam. Ia mengingat semua kejadian hari itu: pasangan yang melawan aturan, penumpang yang bayar langsung, penumpang yang transfer. Semua pengalaman berbeda, tapi semuanya mengajarkan kesabaran, kewaspadaan, dan pentingnya menjaga integritas sebagai sopir. Sesampainya di rumah, istri menyambut dengan senyum. “Bagaimana hari ini, Pak?” tanyanya. Pak Tanga tersenyum, meletakkan tas di meja, dan menjawab, “Lumayan, Bu. Ada insiden, tapi sudah selesai dengan baik.”Malam itu, sebelum tidur, ia menatap langit-langit rumah, merasakan tubuh capek, mata lelah, tapi hati ringan. Ia tahu, besok pukul tiga dini hari, ia akan kembali absen, kembali di balik setir, menghadapi jalanan, penumpang, dan semua cerita yang mungkin datang. Tapi selama setir masih bisa digenggam, selama jalan masih bisa ditempuh, semuanya belum berakhir. Hari-hari seperti ini, dengan tantangan kecil tapi nyata, membuatnya tetap merasa hidup dan berguna.
Kesaksian Tidak Terduga
Penulis
BurungBiru
18 January 2026