Malam datang membawa hukuman yang paling kutakuti: kesadaran penuh.
Aku terbangun dengan rasa nyeri berdenyut di telapak tangan kanan. Mataku mengerjap, menyesuaikan diri dengan kegelapan. Tidak ada lampu yang menyala. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendaran lampu kota Jakarta yang masuk malu-malu lewat jendela yang gordennya masih terbuka lebar.
Aku tidak di tempat tidur. Aku di lantai. Punggungku menempel pada dinginnya ubin parket.
Perlahan, ingatanku kembali menyusun dirinya sendiri. Teriakan. Banting barang. Wajah hantu yang glitch. Dan kepergiannya.
Aku mencoba bangun, menumpukan berat badan pada tangan kanan.
"Aaargh!"
Aku mendesis kesakitan. Telapak tanganku perih luar biasa. Aku mengangkatnya mendekati cahaya jendela. Darah sudah mengering, membentuk kerak cokelat tua yang kaku di sekitar luka goresan panjang. Ada serpihan kaca kecil yang masih menancap di sana.
Aku duduk bersila, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Apartemenku terlihat seperti lokasi pasca-bencana alam.
Pecahan keramik bertebaran di mana-mana, memantulkan sedikit cahaya dari luar. Bingkai foto yang hancur tergeletak di dekat kaki meja TV. Buku-buku berserakan dengan halaman yang terlipat kacau. Vas bunga, cangkir kopi, piring hias—semua benda yang dulu kujaga mati-matian agar tidak lecet, kini hanyalah sampah tajam yang berbahaya.
Tapi yang paling menyita perhatianku bukanlah kekacauan di lantai.
Melainkan kekosongan di sofa.
Mataku otomatis melirik ke sana. Refleks otot yang sudah terlatih selama berbulan-bulan. Biasanya, di jam segini, Hantu Luna akan duduk diam di sana, berpendar dalam gelap, memberikan ilusi kehangatan.
Sekarang, sofa itu hanya gumpalan busa dan kain velvet biru. Gelap. Mati. Benda mati.
Tidak ada lagi suara napas halus (atau imajinasiku tentangnya). Tidak ada lagi suara halaman dibalik.
Hening yang ada di ruangan ini benar-benar mutlak. Hening yang menusuk telinga. Rasanya seperti tuli mendadak.
"Lun?" panggilku pelan.
Suaraku terdengar asing, memantul di dinding-dinding kosong. Tidak ada jawaban. Tentu saja. Aku sendiri yang mengusirnya. Aku sendiri yang berteriak padanya untuk pergi.
Sekarang dia pergi, dan aku merasakan sensasi aneh di dada. Bukan lega. Belum lega. Rasanya seperti seseorang baru saja mencabut paksa organ tubuhku tanpa bius. Ada lubang menganga yang mengalirkan angin dingin ke dalam rongga dada.
Aku memaksakan diri berdiri. Kakiku goyah, menginjak remah-remah beling yang berderak di bawah sol sepatu kets-ku.
Aku berjalan terpincang-pincang menuju sakelar lampu.
Klik.
Cahaya lampu neon putih membanjiri ruangan.
Pemandangan di depanku jauh lebih menyedihkan saat terang benderang. Apartemen ini bukan hanya berantakan, tapi terlihat sakit. Noda darah kering di lantai, pecahan barang antik yang harganya mungkin setara gaji tiga bulan, dan buku Hutan yang Menangis yang tergeletak pasrah di dekat kaki sofa dengan sampul sobek.
Aku menatap buku itu. Benda yang menjadi pemicu kiamat kecil ini.
Aku memungutnya. Sampulnya kotor terkena debu lantai. Aku membuka halaman 42.
Kertas biasa. Tinta hitam biasa.
"Di tengah hutan itu, dia menyadari bahwa jalan pulang sudah tertutup semak belukar..."
Kalimat itu tertera di sana. Kalimat yang dibaca hantu Luna ribuan kali. Kalimat yang tidak pernah dia mengerti, dan tidak pernah dia pedulikan.
Aku menutup buku itu dan melemparnya ke tempat sampah di dapur. Bunyi buk saat buku itu mendarat di dasar tong sampah plastik terdengar final.
Sekarang, aku harus mengurus diriku sendiri.
Aku berjalan ke wastafel dapur, menyalakan keran. Air mengucur deras. Aku menaruh tangan kananku di bawah aliran air.
Perihnya membuat mataku berair. Air bercampur darah merah muda mengalir masuk ke saluran pembuangan. Aku mengambil pinset dari kotak P3K di laci dapur—kotak yang untungnya tidak ikut kubanting.
Dengan tangan kiri yang gemetar, aku mencabut serpihan kaca di telapak tangan kananku.
Satu. Dua. Tiga.
Setiap tarikan adalah hukuman kecil atas kebodohanku.
Setelah membalut tangan dengan perban seadanya, aku kembali menatap ruang tengah.
Aku seorang Restorator. Insting pertamaku saat melihat barang pecah adalah: kumpulkan serpihannya, nomori, lalu sambung kembali.
Aku berlutut di lantai, memungut pecahan vas bunga Dinasti Qing (replika) yang hancur lebur.
Aku mengambil satu keping besar yang memiliki motif naga biru. Lalu aku mencari pasangannya. Ketemu.
Aku mendekatkan kedua kepingan itu. Cocok.
Tapi kemudian aku berhenti.
Untuk apa?
Untuk apa aku menyambungnya lagi?
Vas ini pecah bukan karena kecelakaan. Vas ini pecah karena aku memilih untuk memecahkannya. Ini adalah pernyataan sikap. Jika aku menyambungnya lagi sekarang, itu artinya aku menganulir kemarahanku tadi sore. Itu artinya aku kembali mencoba memperbaiki sesuatu yang seharusnya dibiarkan rusak.
Tanganku lemas. Kepingan keramik itu jatuh lagi ke lantai. Tring.
Aku tidak bisa merestorasi ruangan ini. Tidak malam ini.
Aku butuh sapu. Aku butuh pengki. Aku butuh membuang sampah, bukan memperbaikinya.
Aku mengambil sapu ijuk dari sudut dapur. Gerakan menyapu ini terasa kasar. Srek. Srek. Bunyi beling beradu dengan lantai. Aku menyapu semuanya—pecahan keramik mahal, pecahan bingkai foto murah, debu, dan sisa-sisa harga diriku—menjadi satu gundukan besar di tengah ruangan.
Saat aku sedang menyapu di dekat sofa, mataku menangkap sesuatu di kolong.
Sebuah benda kecil berkilau.
Aku membungkuk, merogoh kolong sofa yang penuh debu itu.
Jariku menyentuh logam dingin. Aku menariknya keluar.
Sebuah anting.
Anting perak berbentuk bintang kecil.
Napas ku tertahan. Ini anting milik Luna. Luna yang asli.
Dia menghilangkannya enam bulan yang lalu, jauh sebelum kami putus. Dia mencarinya ke mana-mana, membongkar tas, membongkar mobil, bahkan menuduhku tidak sengaja menyedotnya dengan vacuum cleaner. Kami bertengkar kecil gara-gara anting ini.
"Kamu tuh nggak peduli barang aku!" katanya waktu itu.
"Kamu yang teledor, Lun!" balasku.
Ternyata anting itu ada di sini. Tergelincir di kolong sofa, bersembunyi di kegelapan, menunggu saat yang tepat untuk ditemukan.
Aku menggenggam anting kecil itu. Logamnya nyata. Keras.
Berbeda dengan hantu tadi. Hantu tadi adalah ilusi. Tapi anting ini adalah bukti sejarah. Bukti bahwa Luna pernah ada di sini secara fisik. Bahwa dia pernah duduk di sofa ini, tertawa, marah, dan kehilangan barang.
Ini adalah residu yang asli.
Aku duduk bersandar di kaki sofa, memutar-mutar anting itu di antara jemari tangan kiriku.
Rasa sepi kembali menyerang, kali ini lebih brutal.
Saat ada hantu, aku merasa punya teman. Sekarang, aku sendirian dengan sebuah anting dari wanita yang sudah tidak mencintaiku.
Keinginan itu muncul. Keinginan untuk meneleponnya.
Lun, anting kamu ketemu.
Itu alasan yang bagus, kan? Alasan yang logis untuk memulai percakapan. Mungkin dia akan senang. Mungkin dia akan datang mengambilnya. Mungkin kami bisa ngobrol sebentar, dan siapa tahu...
Aku menggeleng kuat-kuat. Mengusir pikiran beracun itu.
Jangan bodoh, Arya. Dia baru saja tertawa di toko buku bersama kliennya. Dia bahagia. Anting ini cuma sampah logam buat dia sekarang.
Aku tidak boleh menghubungi Luna. Tidak dalam kondisi menyedihkan seperti ini.
Tapi aku tidak bisa sendirian. Dinding-dinding apartemen ini mulai terasa menghimpit lagi. Aku takut jika aku diam terlalu lama, otakku akan mulai memproyeksikan hantu itu lagi karena tidak tahan dengan kesepian.
Aku butuh suara manusia lain. Suara yang nyata.
Aku mengambil ponselku yang layarnya retak (korban bantinganku juga tadi).
Pukul 21.45.
Aku membuka daftar kontak. Melewati nama Luna_Amara yang kontaknya masih ku-pin di paling atas (kebiasaan bodoh).
Jariku turun ke bawah. Mencari satu nama yang tadi siang kuusir dengan kasar.
Bagas.
Tanganku melayang di atas tombol panggil.
Ego lelakiku berontak. Aku malu. Tadi siang aku berlagak sok kuat, sok sibuk, bahkan membohonginya soal thinner. Sekarang aku harus meneleponnya dan mengakui bahwa aku hancur?
Tapi kemudian aku melihat sekeliling. Ke gundukan sampah beling di tengah ruangan. Ke tanganku yang diperban asal-asalan.
Aku sudah kalah. Tidak ada gunanya mempertahankan gengsi di tengah reruntuhan.
Aku menekan tombol panggil.
Tut... Tut... Tut...
Nada sambung itu terdengar sangat lama. Setiap detiknya membuatku ingin mematikan telepon.
Klik.
"Halo? Ar?" Suara Bagas terdengar di seberang sana. Latar belakang suaranya ramai, mungkin dia sedang nongkrong di kafe atau main game.
Aku membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokanku tercekat.
"Halo? Arya? Kepencet ya lo?" tanya Bagas lagi.
Aku menarik napas panjang, menahan getaran di bibirku.
"Gas..." panggilku. Suaraku parau, pecah, dan sangat kecil.
Hening sejenak di seberang sana. Suara latar belakang di tempat Bagas tiba-tiba mengecil, seolah dia baru saja menjauh dari keramaian atau menutup pintu.
"Kenapa, Ar? Lo oke?" Nada suaranya berubah. Siaga. Tidak ada nada bercanda atau menyindir.
Aku memejamkan mata, membiarkan air mata bodoh menetes lagi membasahi pipi.
"Gue..." Aku menelan ludah, mencoba menyusun kalimat yang masuk akal. "Gue butuh bantuan, Gas."
"Lo di mana? Di apartemen?" Bagas bertanya cepat. Terdengar suara kunci motor bergemerincing dan langkah kaki terburu-buru.
"Iya."
"Kenapa? Lo sakit? Ada yang luka?"
"Tangan gue luka dikit," jawabku jujur. "Tapi... bukan itu."
"Terus?"
Aku menatap gundukan pecahan keramik di lantai. Menatap sofa kosong yang dingin. Menatap anting kecil di tanganku.
"Rumah gue berantakan, Gas," bisikku. "Gue pecahin semuanya. Semuanya hancur. Dan... dia udah pergi. Hantunya udah pergi."
Hening lagi di ujung telepon. Bagas tidak bertanya "Hantu apa?" atau "Lo gila ya?". Sebagai sahabat, dia mungkin sudah menduga kegilaanku sejak lama, meski tak pernah kuucapkan.
"Oke," kata Bagas tegas. Suara mesin motor dinyalakan. "Tunggu di situ. Jangan ngapa-ngapain. Jangan megang benda tajem lagi. Gue nyampe dua puluh menit."
"Gas, sorry gue tadi—"
"Diem dulu, Ar. Simpen tenaga lo. Gue otw."
Klik. Sambungan terputus.
Aku menurunkan ponsel, meletakkannya di lantai.
Dua puluh menit.
Aku hanya perlu bertahan hidup dua puluh menit lagi di dalam keheningan ini.
Aku kembali bersandar pada sofa, menarik lutut ke dada. Mataku menatap pintu depan, menunggu ketukan yang nyata. Bukan ketukan kenangan, bukan ketukan halusinasi.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku menunggu seseorang yang benar-benar hidup untuk masuk ke dalam benteng pertahananku.
Aku menatap anting bintang di tanganku sekali lagi, lalu meletakkannya di atas meja kopi yang miring.
Benda itu kecil, tapi beratnya luar biasa. Aku belum siap membuangnya, tapi aku juga tidak mau menggenggamnya lagi. Biarkan dia di situ. Sebagai artefak dari peradaban yang sudah runtuh.
Aku memejamkan mata, dan mendengarkan suara yang paling indah malam ini:
Suara sirene ambulan di kejauhan, suara tetangga yang sedang menonton TV di unit sebelah, suara lift yang berdenting.
Suara kehidupan yang terus berjalan, tidak peduli seberapa hancurnya aku di dalam sini. Dan untuk pertama kalinya, aku bersyukur kehidupan itu tidak peduli. Karena itu artinya, aku masih punya tempat untuk kembali, jika aku sanggup merangkak keluar dari puing-puing ini.