Dua puluh menit itu terasa seperti dua puluh tahun.
Aku duduk mematung di lantai, memeluk lutut, dengan pandangan kosong menatap pintu depan. Setiap detak jarum jam dinding terdengar seperti palu hakim yang mengetuk meja, menghitung mundur sisa kewarasanku.
Lalu, suara itu datang.
Bukan suara ketukan sopan. Tapi suara kunci motor yang dimatikan kasar, diikuti langkah kaki berat di koridor, dan gedoran pintu yang nyaris merobohkan engsel.
"ARYA! BUKA!"
Teriakan Bagas. Suara paling merdu yang pernah kudengar malam ini.
Dengan sisa tenaga, aku merangkak bangun, menyeret kakiku yang lemas menuju pintu. Begitu kunci kupurar, pintu langsung didorong dari luar.
Bagas berdiri di sana, napasnya memburu, helm masih terpasang miring di kepalanya. Dia tidak membawa kantong belanjaan kali ini. Dia membawa kepanikan.
Matanya langsung menyapu ruangan di belakangku. Dia melihat pecahan keramik, serpihan kaca, buku yang robek di tempat sampah, dan noda darah di lantai.
Lalu matanya kembali padaku. Pada wajahku yang sembab, bajuku yang kotor, dan tangan kananku yang diperban asal-asalan dengan tisu dapur dan selotip.
"Anjing," umpatnya pelan. Dia melepas helm dan melemparnya sembarangan ke sofa—sofa yang sejam lalu masih diduduki hantu. Helm itu mendarat dengan bunyi bug yang nyata.
Bagas tidak bertanya "Lo kenapa?". Dia langsung bertindak.
Dia mencengkeram bahuku, menuntunku duduk di kursi makan (satu-satunya furnitur yang masih utuh dan aman).
"Duduk diem. Jangan gerak," perintahnya. Nadanya tegas, seperti sersan pada prajurit yang terluka.
Bagas berjalan ke dapur, membuka laci, mengambil kotak P3K yang sesungguhnya. Dia menarik kursi lain, duduk di depanku, dan menarik tangan kananku.
"Ini lo apain?" tanyanya sambil mengelupas tisu berdarah yang menempel di lukaku.
"Kena beling," jawabku lirih. "Pas lagi... bersih-bersih."
"Bersih-bersih pake cara apa? Pake tinju?" Bagas mendengus, tapi tangannya bekerja cekatan. Dia membersihkan lukaku dengan alkohol. Perihnya minta ampun, tapi aku tidak meringis. Rasa sakit ini membuatku tetap sadar.
Setelah lukaku diperban dengan rapi dan benar, Bagas bersandar di kursinya. Dia menatapku lurus-lurus.
"Oke," katanya. "Sekarang cerita. Lo ngapain? Perang dunia ketiga?"
Aku menunduk, menatap perban putih di tanganku. Aku harus mengatakannya. Aku harus mengeluarkannya dari sistemku, atau racun ini akan membunuhku pelan-pelan.
"Gue liat dia, Gas," bisikku.
"Liat siapa? Luna?"
"Bukan. Hantunya."
Bagas tidak tertawa. Dia diam, menunggu.
"Selama sebulan ini... dia ada di sini. Di sofa itu." Aku menunjuk sofa biru yang kini diduduki helm Bagas. "Dia duduk di situ tiap hari. Baca buku. Senyum sama gue. Dia... dia nemenin gue, Gas."
Aku memberanikan diri menatap mata Bagas, mencari tanda-tanda dia akan memanggil ambulans RSJ. Tapi mata Bagas hanya memancarkan empati yang lelah.
"Dia nyata banget," lanjutku, air mata mulai menggenang lagi. "Gue bikinin dia kopi tiap pagi. Gue ajak ngobrol. Gue ngerasa... selama dia ada di situ, gue nggak bener-bener putus. Gue masih punya dia."
"Terus sekarang?" tanya Bagas pelan.
"Tadi siang gue ketemu Luna yang asli. Di Cikini."
Mata Bagas membelalak sedikit. "Lo ketemu?"
Aku mengangguk. "Dia beda banget, Gas. Dia bahagia. Dia sibuk. Dan... dia bilang dia nggak pernah suka buku yang dibaca sama hantu di rumah gue. Ternyata hantu itu cuma imajinasi gue. Cuma kebohongan yang gue bikin sendiri."
Aku menarik napas panjang, mencoba meredakan isak tangis yang mulai naik.
"Gue pulang, gue marah. Gue ngamuk. Gue usir dia. Gue pecahin semua barang biar dia pergi. Dan dia pergi, Gas. Dia ilang."
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Bahuku berguncang hebat.
"Sekarang sepi banget. Gue sendirian. Gue gila, ya? Gue skizofrenia?"
Tangan besar Bagas menepuk bahuku. Berat dan hangat.
"Lo nggak gila, Ar," kata Bagas. Suaranya rendah. "Lo cuma patah hati. Dan otak lo itu pinter banget, saking pinternya, dia bisa visualisasiin apa yang paling lo butuhin biar lo nggak hancur. Itu mekanisme pertahanan diri. Coping mechanism lo emang agak... ekstrim. Tapi lo nggak gila."
"Rasanya sakit banget, Gas," racauku.
"Gue tau. Makanya gue di sini."
Bagas berdiri. Dia melepas jaketnya, menyingsingkan lengan kemejanya.
"Udah nangisnya?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan, mengusap wajah dengan lengan baju.
"Oke. Sekarang kita kerja," kata Bagas. Dia berjalan ke sudut ruangan, mengambil sapu dan pengki. "Gue nggak bakal biarin lo tidur di tempat sampah kayak gini. Kita beresin malam ini juga."
"Gas, itu banyak beling..."
"Diem. Lo duduk aja. Lo mandornya, gue kulinya."
Dan begitulah malam itu berlalu.
Bagas, sahabatku yang biasanya malas gerak dan hobi mengeluh, berubah menjadi mesin pembersih. Dia menyapu pecahan keramik. Dia memungut serpihan kaca satu per satu. Dia memasukkan buku-buku yang rusak ke dalam kardus.
Aku mencoba membantu dengan tangan kiri, memungut sampah-sampah besar.
"Ini vas Qing yang lo bangga-banggain itu kan?" tanya Bagas sambil mengangkat kepingan keramik bermotif naga. "Mahal nih."
"Palsu kok," jawabku. "Replika. Bagus sih, tapi tetep aja palsu. Kayak hubungan gue."
Bagas terkekeh pelan. "Bagus. Selera humor lo udah balik dikit."
Kami bekerja dalam diam yang nyaman. Suara srek-srek sapu dan bunyi beling masuk ke kantong sampah menggantikan suara hantu membalik halaman buku.
Satu jam kemudian, ruang tengah apartemenku bersih. Kosong melompong. Karpet yang penuh serbuk kaca sudah digulung Bagas dan ditaruh di balkon. Lantai parket sudah di-pel.
Tidak ada lagi jejak keramik antik. Tidak ada lagi jejak foto berdua.
Ruangan ini tampak lebih luas, tapi juga lebih dingin. Seperti ruang tunggu rumah sakit.
"Udah," kata Bagas sambil mengikat kantong sampah plastik hitam besar. "Besok pagi gue buang ke bawah."
Dia berjalan ke kulkas, mengambil dua botol air mineral (yang untungnya masih ada sisa stok lama), dan melemparkan satu padaku.
Kami duduk di lantai, bersandar pada dinding, menghadap ke sofa kosong itu.
"Lo mau gue nginep?" tawar Bagas setelah meneguk airnya.
Aku menatap sofa itu. Helm Bagas masih di sana. Kehadiran benda asing itu entah kenapa membuat sofa itu tidak lagi terlihat "sakral". Itu cuma furnitur biasa.
"Nggak usah, Gas. Gue udah ngerepotin banget," tolakku. "Lo kerja besok pagi."
"Gue bisa cuti setengah hari. Bos gue nyantai."
"Serius, Gas. Gue oke," kataku meyakinkan. "Gue cuma butuh tidur. Fisik gue capek banget."
Bagas menatapku tajam, mencari kebohongan. Tapi kali ini aku jujur. Amukanku tadi menguras semua energi emosionalku. Aku merasa kosong, tapi tenang.
"Oke," kata Bagas akhirnya. Dia berdiri, mengambil jaket dan helmnya dari sofa.
Saat dia mengambil helm, dia berhenti sejenak, menatap area tempat duduk itu.
"Ar," panggilnya.
"Ya?"
"Tadi pas gue dateng pertama kali... emang hawanya beda sih," aku Bagas sambil nyengir kuda. "Sekarang udah enak. Udah nggak ada 'penumpang gelap'-nya."
Aku tersenyum tipis. "Makasih udah ngusir sisanya."
Bagas menepuk bahuku sekali lagi sebelum berjalan ke pintu.
"Besok gue telepon lagi. Kalau lo butuh apa-apa, atau kalau lo mulai liat yang aneh-aneh lagi, telepon gue. Jangan sok kuat."
"Siap."
"Dan Ar..." Bagas menunjuk saku celanaku. "Hape lo. Jangan dipake buat stalking. Kalau perlu, hapus Instagram-nya."
"Iya, Bapak."
Bagas keluar. Pintu tertutup. Kunci diputar.
Aku kembali sendirian.
Tapi kali ini berbeda.
Aku berjalan ke tengah ruangan yang sudah bersih. Aku berbaring telentang di lantai yang dingin, menatap langit-langit.
Tanganku merogoh saku, mengeluarkan anting bintang kecil yang tadi sempat kusembunyikan sebelum Bagas melihatnya.
Aku mengangkat anting itu, membiarkannya menangkap cahaya lampu neon.
Ini adalah satu-satunya benda yang tersisa. Hantu sudah pergi. Foto sudah pecah. Barang-barang sudah di kantong sampah.
Hanya tinggal aku, dan satu buah anting kecil.
Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan benda ini. Mengembalikannya terasa seperti alasan murahan. Membuangnya terasa sayang.
Jadi, aku meletakkannya di atas meja kopi. Tepat di tengah-tengah.
"Malam ini lo tidur di sini," gumamku pada anting itu. "Besok kita pikirin lagi."
Aku mematikan lampu ruang tengah, menyisakan lampu dapur yang redup. Lalu aku berjalan masuk ke kamar tidur.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, aku tidur tanpa memimpikan Luna. Aku tidur seperti orang mati karena kelelahan fisik, dan itu adalah istirahat terbaik yang pernah kumiliki.