“Bis! Tolongin gue! Ini mata gue perih!” Teriakan Sandra dari arah kamar mandi tamu membuat Bisma yang sedang push-up di ruang tengah (karena gym langganannya juga diblokir aksesnya) terlonjak kaget. “Kenapa? Ada kecoa lagi?” tanya Bisma, berlari kecil mendekati pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. “Bukan! Shower-nya mati! Tiba-tiba airnya nggak keluar pas gue lagi sampoan!” seru Sandra panik. “Mana gue pake sampo menthol lagi, perih banget kalau masuk mata!” Bisma menepuk jidatnya. “Oh, iya. Gue lupa bilang. Water heater dan pompa booster kamar mandi tamu itu dayanya gede. Karena kita lagi mode hemat listrik, gue matiin sekring khususnya di panel belakang.” “Hah?! Terus gue bilas pake apa? Air liur?!” “Pake air di dapur,” kata Bisma santai. “Keran dapur itu salurannya beda, langsung dari toren utama. Nggak pake pompa listrik.” “Lu nyuruh gue keramas di dapur?! Di tempat kita nyuci piring?!” “Ya daripada mata lu buta kena menthol? Buruan keluar, gue tuntun.” Pintu kamar mandi terbuka. Sandra keluar dengan handuk melilit tubuhnya dan rambut penuh busa yang menetes-netes ke lantai. Matanya terpejam rapat, wajahnya meringis. “Awas jatoh,” Bisma memegang lengan Sandra, menuntunnya melewati ruang tengah yang penuh rintangan (koper, bantal sofa yang jatuh) menuju dapur. Pemandangan itu sangat absurd. Seorang aktor papan atas sedang menuntun istrinya yang seperti monster busa menyeberangi penthouse miliaran rupiah. Sesampainya di dapur, Bisma mendudukkan Sandra di kursi bar, lalu memintanya menunduk ke arah bak cuci piring stainless steel yang besar. “Siap ya. Airnya agak dingin,” peringat Bisma. Dia menyalakan keran leher angsa yang elegan itu. Air mengucur deras. Bisma dengan hati-hati mengarahkan aliran air ke rambut Sandra, menggunakan tangannya untuk membantu membilas busa. “Dingin, Bis!” pekik Sandra. “Tahan. Daripada perih.” Tangan Bisma bergerak lembut di kulit kepala Sandra, memijat pelan untuk memastikan sisa sampo hilang. Gerakan itu... intim. Tanpa sadar, Bisma menikmati tekstur rambut Sandra yang halus di sela-sela jarinya. “Udah bersih belum?” tanya Sandra, masih memejamkan mata. “Dikit lagi. Masih ada busa di kuping,” kata Bisma, membersihkan telinga Sandra dengan telaten. Sandra terdiam. Dia bisa merasakan napas Bisma yang hangat di tengkuknya. Dia bisa merasakan betapa hati-hatinya pria itu memperlakukannya, seolah dia adalah barang pecah belah yang berharga. “Udah,” kata Bisma akhirnya, mematikan keran. Dia mengambil handuk kecil yang tergantung di handle oven, lalu membungkus rambut Sandra. Sandra membuka matanya. Bulu matanya basah. Wajahnya segar dan bersih tanpa makeup. Bisma menatapnya. Jarak mereka sangat dekat. “Makasih,” bisik Sandra. “Sama-sama. Jasa salon: lima puluh ribu,” canda Bisma, berusaha mencairkan ketegangan aneh yang tiba-tiba muncul. Sandra tertawa, mencipratkan sisa air di tangannya ke wajah Bisma. “Nih, bayarannya.”
Siang harinya, tantangan baru muncul. Bisma harus menghadiri zoom meeting dengan sutradara film OPIA untuk membahas revisi naskah darurat. Tapi masalahnya, kemeja putih andalannya kusut parah karena ditumpuk asal di koper. “San, setrikaan di mana?” tanya Bisma panik. “Mana gue tau? Ini rumah lu,” jawab Sandra yang sedang sibuk mengetik novel di laptopnya (di Wilayah Keong). “Gue nggak pernah nyetrika! Biasanya laundry yang ngerjain!” Sandra menghela napas. Dia berdiri, berjalan ke ruang utilitas tersembunyi di dekat dapur. Dia keluar membawa papan setrika dan setrika uap portable. “Sini. Gue ajarin sekali aja. Besok-besok lu kerjain sendiri,” kata Sandra. Sandra mulai menyetrika kemeja Bisma dengan cekatan. Bisma duduk di sebelahnya, memperhatikan seperti murid yang tekun. “Licinin kerahnya dulu, baru lengan, terus badan,” jelas Sandra. “Jangan didiemin di satu titik, nanti gosong. Baju lu ini mahal, kalau bolong gue nggak sanggup ganti.” “Lu jago banget sih, San. Istri idaman,” puji Bisma tulus. “Ini namanya skill bertahan hidup, bukan istri idaman,” koreksi Sandra. “Dulu pas kuliah, gue nyetrika baju temen-temen kosan buat nambah uang jajan.” Bisma terdiam. Dia selalu lupa betapa kerasnya hidup Sandra dulu. “Nih, udah rapi,” Sandra menyerahkan kemeja itu. “Pake. Jangan sampe kusut lagi.” Bisma menerima kemeja itu. “Makasih, San.” Saat Bisma memakai kemeja itu, Sandra tidak sengaja melihat punggung Bisma. Ada bekas merah panjang di sana. “Bis, punggung lu kenapa?” Bisma menoleh ke belakang. “Oh, ini? Kegores pas ngangkat koper kemarin. Perih dikit sih.” “Sini gue liat.” Sandra mendekat, menyingkap sedikit kemeja Bisma. Lukanya tidak dalam, tapi cukup panjang. “Ini harus dikasih antiseptik. Duduk.” Bisma menurut. Sandra mengambil obat merah dan kapas. Dengan telaten, dia mengobati punggung Bisma. “Aww... pelan-pelan, Keong.” “Cengeng. Tahan.” Saat Sandra meniup luka itu, Bisma merasakan desiran aneh di hatinya. Desiran yang bukan karena rasa sakit, tapi karena rasa nyaman. Dia merasa... diurus. Dia merasa diperhatikan. Sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan dari Regina yang dingin. “San,” panggil Bisma pelan. “Apa?” “Gue... gue seneng lu di sini.” Tangan Sandra berhenti. “Maksud lu?” “Maksud gue... gue seneng kita kejebak bareng. Kalau gue sendirian ngadepin semua ini... mungkin gue udah gila.” Sandra tersenyum tipis di belakang punggung Bisma. “Sama. Gue juga seneng ada temen susah.”
Malam harinya, hujan deras mengguyur Jakarta. AC di penthouse dimatikan total untuk hemat listrik. Udara terasa lembap dan dingin. Sandra keluar dari kamar dengan piyama beruang andalannya, membawa selimut tebal. Dia melihat Bisma duduk di sofa ruang tengah, menggigil kedinginan hanya dengan kaos tipis. “Lu ngapain?” tanya Sandra. “Kedinginan. Selimut di kamar gue tipis, yang tebel lagi di-laundry dan belum diambil,” jawab Bisma, giginya gemeretuk. Sandra memutar bola matanya. “Geser.” “Hah?” “Geser! Gue juga kedinginan. Di kamar gue AC-nya mati tapi jendelanya bocor angin.” Bisma menggeser duduknya. Sandra duduk di sebelahnya, lalu membentangkan selimut tebal yang dia bawa. Dia menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut itu. Kini mereka duduk bersisian di bawah satu selimut, di sofa yang sama, menonton hujan yang memukul-mukul kaca jendela. Kehangatan tubuh mereka saling berbagi. “Piyama lu lucu,” komentar Bisma, melirik gambar beruang di lengan Sandra. “Diem. Ini piyama keberuntungan gue.” “Kenapa keberuntungan?” “Karena gue pake ini pas pertama kali dapet kabar novel gue bakal difilmin,” jawab Sandra menerawang. “Waktu itu gue seneng banget. Gue pikir hidup gue bakal berubah jadi indah.” “Ternyata malah ketemu Komodo,” sambung Bisma. “Iya. Ketemu Komodo yang nyusahin,” Sandra terkekeh. “Tapi... Komodo yang ternyata bisa bikin kopi enak.” Bisma tersenyum bangga. “Gue belajar cepet.” Hening sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar. Tanpa sadar, kepala Sandra perlahan miring dan bersandar di bahu Bisma. Bisma tidak menolak. Dia justru menyandarkan kepalanya di atas kepala Sandra. “Bis,” bisik Sandra. “Hm?” “Gue takut besok.” “Kenapa?” “Besok kan deadline bayar kartu kredit lu yang satu lagi. Kalau nggak dibayar, debt collector bakal nelpon.” “Tenang aja. Gue udah jual jam tangan gue ke temen tadi siang. Cash,” kata Bisma. “Besok kita bayar. Kita aman.” Sandra mendongak, menatap Bisma takjub. “Lu jual Rolex lu?” “Cuma barang, San. Nggak penting,” jawab Bisma enteng. “Yang penting kita nggak diganggu.” Sandra menatap mata Bisma. Di bawah cahaya remang lampu jalanan yang masuk lewat jendela, mata itu terlihat tulus dan... melindungi. Jantung Sandra berdegup kencang. Dia menyadari satu hal yang berbahaya. Dia mulai merasa nyaman. Terlalu nyaman. “Udah malem. Tidur yuk,” kata Sandra buru-buru, menarik diri dari bahu Bisma. “Di sini aja,” tahan Bisma, memegang tangan Sandra di bawah selimut. “Anget.” Sandra ragu. Tapi dinginnya malam dan hangatnya tangan Bisma adalah kombinasi yang mematikan. “Oke. Tapi jangan macem-macem. Garis perbatasan imajiner tetep berlaku,” kata Sandra. “Siap, Nyonya.” Malam itu, mereka tertidur di sofa ruang tengah, di bawah satu selimut, dengan tangan yang saling menggenggam erat. Dua orang yang kehilangan segalanya, tapi menemukan sesuatu yang baru di antara reruntuhan hidup mereka: kebersamaan. Dan di luar sana, badai Regina masih mengintai, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan kedamaian rapuh ini.