“Aduh... pinggang gue. Remuk. Fix remuk.” Bisma mengerang panjang saat dia mencoba bangkit dari sofa L di ruang tengah. Tidur berdua di sofa dalam posisi meringkuk di bawah satu selimut ternyata bukan ide yang bagus untuk kesehatan tulang belakang pria setinggi 185 cm. Sandra, yang masih setengah sadar dengan kepala bersandar di dada Bisma, menggumam pelan. Rambutnya yang berantakan menggelitik hidung Bisma. “Jangan gerak... masih ngantuk...” gumam Sandra, mengeratkan pelukannya di pinggang Bisma seolah Bisma adalah guling raksasa yang hangat. Bisma terpaku. Rasa sakit di pinggangnya mendadak tidak terasa, digantikan oleh desiran hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Dia menunduk, menatap puncak kepala Sandra. Bau stroberi dari rambut Sandra yang kemarin dia cuci di wastafel dapur tercium samar. “San,” bisik Bisma. “Kalau lu nggak bangun sekarang, tangan gue bakal mati rasa permanen. Ini udah kesemutan parah.” Sandra membuka matanya perlahan. Dia mendongak, menemukan wajah Bisma yang berjarak hanya beberapa sentimeter. Wajah bantal aktor termahal Indonesia itu terlihat lucu; ada bekas lipatan bantal sofa di pipinya dan matanya bengkak. “Pagi, Komodo,” sapa Sandra dengan suara serak khas bangun tidur. “Pagi, Keong. Minggir. Gue mau pipis,” jawab Bisma, merusak momen romantis dengan sangat sukses. Sandra mendengus, mendorong dada Bisma dan bangkit duduk. “Dasar nggak ada romantis-romantisnya.” “Romantis nggak bisa nahan kandung kemih,” Bisma berdiri, meregangkan tubuhnya hingga tulang-tulangnya berbunyi kretek. “Mandi gih. Hari ini kita punya misi penting.” “Misi apa? Nyuci baju di bathtub?” tanya Sandra sarkas. “Bukan. Misi mencari protein. Gue butuh daging. Gue nggak bisa makan mi instan lagi atau gue bakal berubah jadi keriting,” kata Bisma serius sambil berjalan ke kamar mandi pribadinya.
Siang harinya, matahari Jakarta bersinar terik tanpa ampun. Di dalam penthouse yang AC-nya dimatikan, udara mulai terasa pengap. Bisma dan Sandra duduk di meja makan, menghitung sisa uang tunai di dompet Sandra. “Tinggal seratus ribu,” lapor Sandra, menatap lembaran uang biru dan hijau itu dengan sedih. “Sisa belanja kemarin abis buat beli deterjen, obat merah, sama pulsa.” Bisma menatap uang itu. “Seratus ribu. Buat dua orang. Buat... berapa hari?” “Sampai Doni berhasil ngejual koleksi sneakers lu,” jawab Sandra. Bisma meringis. Koleksi Air Jordan-nya. Anak-anak kesayangannya. “Oke. Seratus ribu,” Bisma menegakkan punggung. “Kita harus makan enak. Gue beneran craving daging ayam atau ikan. Tapi kalau beli di supermarket mahal. Masaknya juga boros gas.” “Terus?” “Kita makan di luar,” putus Bisma. “Di mana? Di restoran Padang sebungkus bagi dua?” “Nggak. Gue mau... itu,” Bisma menunjuk ke arah jendela kaca, ke bawah, ke jalanan di belakang gedung apartemen. “Tenda-tenda pinggir jalan itu. Pecel Lele.” Sandra melongo. “Lu? Bisma Adijaya? Makan di tenda pecel lele? Lu tau kan di sana nggak ada AC, banyak asep, dan makannya pake tangan?” “Gue tau! Gue pernah liat di film!” bela Bisma. “Lagian murah kan? 15 ribu dapet ayam plus nasi. Kita bisa makan kenyang sisa duitnya buat beli es krim.” “Lu yakin nggak bakal culture shock?” “Gue aktor watak, San. Gue bisa adaptasi di mana aja. Ayo berangkat. Gue laper banget.”
Transformasi pun dimulai. Untuk menghindari serbuan massa, mereka kembali melakukan penyamaran. Bisma mengenakan kaos kampanye partai (bekas cleaning service apartemen yang tertinggal di ruang utilitas—entah bagaimana ceritanya), celana pendek kolor, sandal jepit, dan topi kumal. Dia bahkan menambahkan kumis palsu tipis menggunakan pensil alis Sandra. Sandra memakai daster longgar, jepit rambut besar, dan masker. “Kita kelihatan kayak pasangan suami istri yang lagi buron dari pinjol,” komentar Sandra saat melihat cermin. “Perfect. Ayo turun.” Mereka turun menggunakan lift barang (lagi), menyelinap lewat pintu belakang, dan berjalan kaki menuju deretan tenda kaki lima di belakang kompleks elit itu. Aroma asap bakaran ayam dan sambal terasi langsung menyambut mereka. Perut Bisma berbunyi nyaring. “Itu! Yang spanduknya gambar ayam sama lele lagi senyum!” tunjuk Bisma semangat. Mereka masuk ke dalam tenda ‘Pecel Lele Mas Budi’. Suasananya ramai, panas, dan berasap. Pengamen sedang menyanyikan lagu dangdut dengan suara sumbang. Bisma duduk di bangku plastik panjang dengan kaku. Dia menatap meja yang agak berminyak dengan tatapan ngeri. “Lap dulu, Tuan Muda,” bisik Sandra, menyodorkan tisu. Bisma mengelap meja itu dengan gerakan cepat dan higienis. “Mas! Ayam goreng dua! Nasi uduk dua! Es teh manis dua!” teriak Sandra memesan. Saat pesanan datang, mata Bisma berbinar. Ayam gorengnya besar, sambalnya merah menggoda, dan lalapannya segar. Tapi kemudian, pelayan menaruh mangkuk kecil berisi air dan potongan jeruk nipis di depan mereka. Bisma menatap mangkuk itu. Lalu dia mengambil sendok. “Eh! Eh! Jangan diminum!” Sandra menahan tangan Bisma yang hendak menyendok air dari mangkuk itu. “Kenapa? Ini sup jeruk nipis kan? Appetizer?” tanya Bisma polos. Sandra menepuk jidatnya. Beberapa pengunjung di meja sebelah menahan tawa. “Itu kobokan, Bisma. Buat cuci tangan. Lu mau minum air bekas cuci tangan?” Wajah Bisma memerah padam di balik kumis palsunya. “Oh... gue kira... sup. Di restoran Prancis biasanya ada lemon water buat palate cleanser...” “Ini Kalibata, bukan Paris. Cuci tangan lu.” Bisma mencuci tangannya dengan canggung. Lalu dia melihat Sandra makan dengan lahap menggunakan tangan. Bisma mencoba. Dia mencuil daging ayam, mencocolnya ke sambal, dan menyuapkannya. Detik berikutnya, mata Bisma melotot. “Hahh... Hahhh... PEDES!” “Enak nggak?” “Pedes tapi... ENAK BANGET!” seru Bisma. Dia makan dengan lahap, melupakan sopan santun, melupakan sendok garpu perak, melupakan fakta bahwa dia adalah aktor termahal. Dia makan seperti orang yang kelaparan (memang iya). Keringat bercucuran di pelipisnya. Bibirnya dower kepedasan. Sandra menatapnya sambil tersenyum. Dia mengambil tisu, mengelap keringat di dahi Bisma. “Pelan-pelan. Nggak ada yang minta.” Bisma berhenti mengunyah sejenak. Dia menatap Sandra. Di tengah asap pecel lele, dengan daster butut dan wajah tanpa makeup, Sandra terlihat... bercahaya. “San,” kata Bisma, mulutnya penuh nasi. “Makasih udah ngajak gue ke sini.” “Sama-sama. Murah meriah, kan?” “Bukan soal murahnya,” kata Bisma. Dia menelan makanannya. “Dulu... Bokap gue nggak pernah bisa ngajak Nyokap makan beginian. Nyokap selalu nolak. Dia bilang tempat kayak gini kotor, nggak level. Bokap gue... dia kesepian di istananya sendiri.” Bisma menatap nasi uduk di tangannya. “Gue seneng gue nggak kayak Bokap. Gue punya lu. Yang mau diajak makan gembel.” Sandra tersenyum haru. “Gue bukan mau diajak makan gembel, Bis. Gue emang gembel.” “Lu gembel kesayangan gue.” Tiba-tiba, cahaya flash menyilaukan mata mereka. JEPRET! Seorang remaja putri yang duduk di meja seberang menurunkan ponselnya dengan wajah kaget. “OMG! ITU KAK BISMA ADIJAYA KAN?!” teriak remaja itu. Satu tenda langsung hening. Semua mata tertuju pada pria berkumis palsu yang sedang memegang paha ayam. Penyamaran terbongkar. Bisma membeku. Sandra panik. “Lari?” bisik Sandra. “Nggak,” kata Bisma. Otaknya berputar cepat. Dia ingat strategi mereka: Kuasai Narasi. Bisma meletakkan ayamnya. Dia melepas topi dan kacamata hitamnya. Dia tersenyum—senyum maut Bisma Adijaya—kepada remaja itu dan seluruh pengunjung tenda. “Iya, ini saya,” kata Bisma ramah. “Lagi nge-date sama istri. Sori ya kalau berantakan, sambelnya nendang banget.” Remaja itu histeris. “KAK BISMA MAKAN PECEL LELE?! GANTENG BANGET MESKI BELEPOTAN SAMBEL!” Dalam sekejap, mereka dikerubungi. Minta foto. Minta tanda tangan di kertas bungkus nasi. Bisma melayani mereka semua. Dia merangkul Sandra, memamerkan kemesraan mereka yang sederhana. “Kak, kok makan di sini? Katanya bangkrut?” tanya seorang ibu-ibu kepo. “Lagi pengen suasana baru, Bu,” jawab Bisma diplomatis. “Dan istri saya ngidam pecel lele. Suami siaga harus nurut.” Sandra mencubit pinggang Bisma diam-diam. Ngidam?! Satu jam kemudian, foto dan video itu viral di TikTok. @BismaAdijaya makan pecel lele pake tangan! Humble parah! Definisi bahagia itu sederhana: Liat Bisma sama Sandra makan di pinggir jalan. Fix no debat, mereka pasangan tercocok tahun ini. Nadine, yang melihat video itu di apartemennya, membanting ponselnya lagi. Rencananya untuk membuat mereka terlihat menyedihkan malah berbalik membuat mereka terlihat relatable dan dicintai rakyat.
Sore harinya, Bisma dan Sandra berjalan pulang menuju apartemen. Perut kenyang, hati senang. Tapi saat mereka sampai di lobi private lift di basement... Bisma menempelkan kartu aksesnya. Tiiiit. Access Denied. Lampu indikator berwarna merah. Bisma mencoba lagi. Tiiiit. Merah lagi. “Kenapa, Bis?” tanya Sandra. “Nggak bisa. Kartunya nggak kebaca.” Bisma berjalan ke pos satpam basement. “Pak, kartu saya kenapa ya?” Satpam itu menunduk takut. “Maaf, Pak Bisma. Perintah dari manajemen atas... akses lift Bapak diblokir sementara karena... tunggakan maintenance fee yang belum dibayar.” Bisma mengepalkan tangannya. Regina. Ini pasti ulah ibunya. Dia memblokir akses lift pribadi. “Terus saya naik pake apa? Terbang?” tanya Bisma geram. “Tangga darurat, Pak. Itu satu-satunya akses yang nggak pake kartu,” cicit satpam. Bisma menatap pintu tangga darurat. Lantai 50. “Gila,” desis Bisma. “Dia mau nyiksa kita fisik.” Sandra memegang lengan Bisma. “Kita bisa, Bis. Anggep aja olahraga. Bakar kalori pecel lele tadi.” “50 lantai, San! Kaki lu lecet pake sendal jepit!” “Gue gendong kalau lu capek,” canda Sandra. Bisma menatap Sandra. Wanita ini... benar-benar keras kepala. “Oke. Kita naik.” Perjalanan mendaki 50 lantai itu adalah siksaan yang sesungguhnya. Di lantai 10, mereka masih bercanda. Di lantai 20, napas mereka mulai habis. Di lantai 30, kaki mereka gemetar. Di lantai 40, Sandra hampir menyerah. Dia duduk di anak tangga, keringat membasahi dasternya. “Gue... gue nggak kuat, Bis. Lutut gue mau copot,” rintih Sandra. Bisma, yang kaosnya sudah basah kuyup oleh keringat, berlutut di depan Sandra. Dia juga lelah setengah mati. Tapi dia tidak mau menyerah di depan ibunya (secara metafora). “Naik ke punggung gue,” kata Bisma. “Apa? Lu juga capek, Bis!” “Naik. Gue masih kuat sepuluh lantai lagi. Gue sering gendong barbel lebih berat dari lu.” “Bisma...” “Naik, Keong! Atau gue seret lu!” Sandra akhirnya naik ke punggung Bisma. Bisma berdiri, mengerang sedikit, lalu mulai menaiki tangga lagi. Langkah demi langkah. Berat. Panas. Melelahkan. “Kenapa lu lakuin ini, Bis?” bisik Sandra di telinga Bisma. Keringat Bisma menetes ke lengan Sandra. “Karena gue nggak mau kalah,” jawab Bisma, napasnya tersengal. “Mama gue mau liat gue nyerah. Gue mau liat gue balik ngemis ke dia. Tapi gue nggak akan ngemis. Selama gue masih punya kaki, gue bakal jalan.” “Lu keras kepala.” “Kita sama.” Akhirnya, mereka sampai di lantai 50. Pintu darurat menuju penthouse terbuka (untungnya dikunci manual dari dalam, dan Sandra punya kuncinya). Mereka masuk ke ruang tamu yang dingin (AC mati, tapi masih sejuk). Bisma menurunkan Sandra di sofa, lalu dia sendiri ambruk di lantai karpet. Terlentang. Napasnya memburu seperti lokomotif uap. Sandra merosot dari sofa, berbaring di sebelah Bisma di lantai. Mereka berdua menatap langit-langit. Hening. Hanya suara napas mereka. “Kita... sampe...” desah Bisma. “Kaki gue... mati rasa...” keluh Sandra. Lalu, Bisma tertawa. Tawa lelah, tapi puas. “Pecel lele 30 ribu. Naik tangga 50 lantai. Kencan kita hari ini... memorable banget, ya?” Sandra ikut tertawa. Dia menoleh, menatap profil wajah Bisma yang penuh keringat. “Bis,” panggil Sandra. Bisma menoleh. “Gue rasa... gue mulai suka sama hidup gembel ini. Asal sama lu.” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Bisma terdiam. Dia memiringkan tubuhnya menghadap Sandra. Dia mengulurkan tangan, menyeka keringat di dahi Sandra. “Gue juga,” bisik Bisma. “Gue lebih suka capek naik tangga sama lu daripada duduk nyaman di lift sendirian.” Jarak wajah mereka menipis. Momen di lantai 50, dengan tubuh lelah dan bau keringat, terasa lebih intim daripada gala premiere manapun. Namun, sebelum bibir mereka bertemu... Kruuuuuk. Perut Bisma bunyi lagi. “Laper lagi,” keluh Bisma. “Kalorinya abis dipake naik tangga.” Sandra tertawa terbahak-bahak, mendorong wajah Bisma menjauh. “Makan mi instan sana! Masak sendiri!” “Jahat lu!” Malam itu, mereka tidur dengan kaki ditempel koyo di mana-mana, bau balsem memenuhi kamar. Tapi mereka tidur dengan senyum kemenangan. Regina boleh mematikan lift, mematikan uang, tapi dia tidak bisa mematikan semangat mereka.