Mendadak Kawin-Pengorbanan-Bab 36

18 January 2026

Setelah melewati hari demi hari, malam demi malam di dalam keterbatasan dan kegelapan, mereka masih saling menggenggam satu sama lain. Tidak ada yang berubah. Masih dengan gengsi namun saling perhatian, cinta yang berkedok benci yang manis, saling mencintai dalam diam dengan cara masing-masing. Cinta itu memang tidak pernah pergi dan hilang, dunia hanya memanipulasi cinta itu menjadi sebuah kecewa yang semu. Kini, mereka sudah mulai sedikit demi sedikit mengerti semuanya, di saat semesta memaksa mereka tanpa ada pilihan lain. Pagi hari di penthouse terasa sunyi. Aroma balsem dan minyak kayu putih yang mereka tempelkan di kaki semalam, kini bersaing dengan aroma kopi buatan Bisma. Sandra sedang merebus mi instan sebagai sarapan andalan mereka selama seminggu terakhir—di dapur. Sementara itu, Bisma duduk di meja makan, wajahnya serius. Di depannya tergeletak selembar surat wasiat lama ayahnya, dan sebuah surat kuasa yang masih kosong. “Bis, nih sarapan lu,” kata Sandra, meletakkan semangkuk mi di depan Bisma. Bisma tidak menyentuhnya. Dia hanya menatap kertas-kertas di depannya. “San, gue butuh ngobrol serius,” kata Bisma tanpa basa-basi. Sandra duduk di seberangnya, ikut menatap kertas-kertas itu. “Mama nggak akan berhenti di lift,” lanjut Bisma. “Dia akan terus nyiksa kita pelan-pelan. Matiin air, matiin gas, sampai kita beneran nggak punya pilihan selain keluar dari sini dan ngemis ampun ke dia.” “Terus?” “Kita butuh uang. Banyak. Bukan cuma buat bayar kartu kredit atau biaya maintenance,” jelas Bisma, menunjuk surat wasiat ayahnya. “Papa gue dulu pernah beli saham mayoritas di salah satu perusahaan post-production kecil di Jakarta. Perusahaan itu dulu diurus sama Papa, nggak pernah disentuh Mama.” “Maksud lu, aset itu nggak terblokir?” “Nggak. Karena ini bukan aset perusahaan keluarga, ini aset pribadi Papa yang diwariskan ke gue sebelum Papa nikah sama Mama. Itu kenapa Papa nulisnya di surat wasiat yang lain, bukan yang di notaris,” Bisma menjelaskan. “Masalahnya, saham itu nggak bisa dicairin cepat. Butuh minimal dua minggu buat pengalihan hak, dan gue nggak punya kuasa penuh karena gue harus ngurus dokumen dari luar kota.” “Terus lu mau ngapain?” tanya Sandra. Bisma mengambil surat kuasa kosong itu, lalu mendorongnya ke depan Sandra. “Gue mau lu jadi kuasa hukum gue. Sementara gue ke luar kota ngurus dokumen aset itu, lu yang urus di sini. Lu yang jadi tameng gue.” Sandra menatap Bisma tak percaya. “Lu... lu mau gue ngurus aset miliaran lu? Lu percaya sama gue?” “Gue percaya sama lu,” jawab Bisma mantap. “Sejak kita tidur bareng di lantai dapur, gue tau lu bukan musuh gue. Lu satu-satunya yang waras di hidup gue.” Sandra terdiam. Ini adalah pengakuan kepercayaan terbesar yang pernah ia terima. “Tapi gue nggak ngerti hukum. Apalagi post-production,” Sandra keberatan. “Nanti gue ajarin. Doni bakal kirim file-nya. Lu cuma perlu jadi face di sini, biar Regina nggak curiga. Dia nggak akan nyangka gue ninggalin aset ke lu.”


Dua hari kemudian, Bisma menghilang. Dia benar-benar pergi ke luar kota untuk mengurus warisan ayahnya. Sandra ditinggal sendirian di penthouse lantai 50, dengan setumpuk berkas corporate law yang tidak dia mengerti, dan ancaman nyata dari Regina. Regina tidak bodoh. Dia tahu Bisma sedang merencanakan sesuatu. Pagi itu, Sandra menerima paket di depan pintunya (diantar oleh staf yang naik tangga, karena lift Bisma masih diblokir). Kotak itu besar, terbuat dari kayu mewah. Sandra membukanya. Di dalamnya, terbungkus kain beludru hitam, ada mahkota yang sangat familiar. Itu adalah Mahkota Pangeran yang digunakan Bisma dalam film debutnya yang legendaris, OPIA, film yang melambungkan namanya ke puncak karir. Di bawah mahkota itu, ada sepucuk surat dari Regina: Sandra sayang, Aku tahu Bisma meninggalkannya. Dia pengecut. Tapi aku juga tahu dia meninggalkanmu dengan harapan palsu. Kamu kira Bisma rela kehilangan mahkotanya (karirnya) demi kamu? Film "OPIA" adalah segalanya bagi Bisma. Itu adalah mahkota kemenangannya. Kalau kamu masih di sana saat aku pulang, aku akan menghancurkan master film aslinya. Aku akan pastikan Bisma Adijaya menjadi aktor tanpa mahkota. Pilihanmu, Sayang. Antara keselamatanmu, atau mahkota suamimu. — Regina. Tangan Sandra gemetar. Regina tidak main-main. Dia mengancam untuk menghancurkan warisan terbesar Bisma. Sandra menelepon Bisma. Ponselnya tidak aktif. Dia panik. Dia melihat Mahkota Pangeran itu. Lalu dia melihat berkas hukum yang harus dia pelajari. Ini bukan lagi tentang mi instan dan keramas di dapur. Ini adalah pertarungan skala besar yang melibatkan kehormatan dan karir. Sandra tahu, dia harus bertindak. Tapi bagaimana cara melawan ratu tanpa mahkota?


Di Luar Kota, di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah... Bisma berdiri di depan sebuah kantor notaris kumuh. Dia berhasil mengumpulkan semua dokumen yang dibutuhkan. Satu tanda tangan lagi, dan aset ayahnya akan cair. Dia menelepon Doni. “Gimana kabar di Jakarta?” tanya Bisma. “Aman, Bis. Sandra udah mulai nelpon gue buat nanya-nanya berkas post-production. Dia serius banget. Kayaknya dia bakal jadi CEO beneran,” lapor Doni sambil tertawa. “Bagus. Jaga dia, Don. Jangan sampai Mama tau gue ke mana,” Bisma memperingatkan. “Pasti. Oh, iya, satu lagi. Regina kirim paket ke penthouse.” “Paket apa?” “Mahkota OPIA. Sama surat ancaman,” kata Doni. “Dia bilang mau hancurin master film itu kalau Sandra nggak pergi.” Bisma terdiam. Jantungnya mencelos. Master film itu adalah satu-satunya peninggalan ayahnya di dunia film. Nilainya bukan uang, tapi emosional. “Master film itu kan di vault di rumah lama Mama, gimana dia mau hancurin?” tanya Bisma. “Nggak tau, Bis. Tapi Sandra panik. Dia nggak mau lu kehilangan itu.” Bisma menutup telepon. Dia menatap pena di tangannya. Tinggal tanda tangan, dia akan punya uang untuk mengalahkan Regina. Tapi jika dia terlambat, Regina akan menghancurkan mahkotanya. Dia ingat janji ayahnya: Temukan kebahagiaanmu sendiri. Jangan jadi seperti Papa yang hidup dalam sangkar emas. Bisma menatap berkas-berkas itu. Warisan uang. Kekuatan. Lalu dia ingat Sandra di dapur, tertawa saat mencipratkan air kobokan ke wajahnya. Sandra yang tertidur di bahunya setelah mendaki 50 lantai. “Master film itu cuma barang,” gumam Bisma, mengulang kata-kata yang pernah ia ucapkan pada Sandra saat menjual Rolex-nya. Dia menandatangani berkas itu dengan mantap. Dia tidak lagi memilih harta. Dia memilih Sandra. Bisma bangkit. “Uang sudah diurus. Sekarang... gue harus pulang dan ngurus mahkota gue yang asli.” Dia membeli tiket pesawat pertama kembali ke Jakarta. Perang sudah dimulai, dan Bisma Adijaya datang untuk memenangkan semuanya.