Mendadak Kawin-Kamu Mahkotaku-Bab 37

18 January 2026

Sandra menatap Mahkota Pangeran di dalam kotak kayu mewah itu. Permukaan emas replika itu berkilauan di bawah cahaya penthouse yang redup. Ini adalah simbol karir, warisan, dan satu-satunya hal yang paling dihargai Bisma dari ayahnya. Regina mengancam akan menghancurkan master film aslinya. Ancaman itu nyata. Sandra mengambil ponselnya. Dia tidak bisa menghubungi Bisma, yang berada dalam penerbangan tanpa sinyal. Dia hanya punya Doni. Di kantor Doni, 15:00 WIB “Gila, Sandra. Regina bener-bener psycho,” desis Doni di seberang telepon. “Tapi dia nggak akan beneran hancurin itu. Master film itu juga aset perusahaannya, nilainya gede.” “Don, lu nggak kenal Regina,” kata Sandra, suaranya tenang tapi tajam. “Buat dia, menghancurkan Bisma lebih berharga daripada uang. Kalau dia tahu Bisma berhasil cairin dana di Jogja, dia akan melakukan apa pun untuk bikin Bisma nyesel pulang.” “Terus lu mau ngapain?” “Gue butuh lu. Sekarang juga. Bawa flash disk yang isinya semua file aset perusahaan Gema Visual. Lu kan yang sering bantuin Bisma buat dokumen itu.” “Lu serius mau ngurus itu sekarang? Sendirian?” “Gue udah baca semua berkas yang Bisma kirim, Don. Gue tahu kelemahan aset Regina di Gema Visual. Regina hanya memegang saham kecil di sana, tapi dia mengontrol operasinya karena master film OPIA disimpen di vault mereka.” “Jadi?” “Gue mau negosiasi. Tawar-menawar gila. Tapi gue nggak punya apa-apa buat ditukar.” Sandra menatap mahkota di depannya. Lalu sebuah ide gila muncul di benaknya. Ide yang sangat berisiko, tapi bisa melindungi Bisma. “Don, lu kenal tukang gadai perhiasan kelas atas, nggak?” Doni terdiam lama. “Lu mau gadai mahkota OPIA?!” “Bukan gadai,” jawab Sandra dingin. “Jual. Jual putus. Replika ini juga terbuat dari emas murni. Harganya lumayan. Gue butuh uang tunai yang sangat besar. Cepat.” “Sandra, lu gila! Bisma bakal bunuh lu!” “Don, master film itu nggak ternilai harganya buat Bisma. Replika ini cuma barang. Master film itu warisan ayahnya. Jual replika ini, gue bisa dapat modal. Tolong, Don. Percaya sama gue. Bisma lagi dalam perjalanan pulang. Gue harus amankan Mahkotanya yang asli.” Doni, yang selalu patuh pada Bisma, kali ini merasa harus patuh pada Ratu sementara Bisma tidak ada. “Oke. Gue bawa teman gue, si Ivan. Dia punya koneksi gelap ke pasar barang antik.” Tiga jam kemudian. Di sebuah kedai kopi tersembunyi, Sandra, yang kembali mengenakan penyamaran jaket kebesaran dan topi, bertemu dengan Doni dan seorang pria bertato rapi bernama Ivan. Ivan menimbang Mahkota Pangeran itu dengan timbangan digital kecil. “Emasnya bagus, 18 karat. Ada beberapa berlian imitasi di sini. Tapi desainnya ikonik. Kalau dijual sebagai barang koleksi, harganya bisa... hampir 2 M,” bisik Ivan. “Tapi kalau jual cepat sebagai emas batangan, paling cuma dapet 800 juta.” “Jual cepat,” potong Sandra. Doni dan Ivan kaget. “800 juta? Lu yakin, San? Ini uang receh buat Bisma!” “Ini bukan buat bayar utang Bisma,” jelas Sandra. “Ini uang perang.” Transaksi gila itu selesai dalam 15 menit. Sandra berjalan keluar dari kedai kopi itu dengan tas belanja kertas berisi tumpukan uang tunai tebal. Tangannya gemetar. Ini adalah uang tunai terbesar yang pernah ia pegang seumur hidupnya. “Sekarang, lu mau ngapain?” tanya Doni. Sandra tersenyum tipis. Senyum itu tidak seperti Sandra si penulis. Senyum itu dingin, menghitung, dan mematikan. “Gue mau beli mahkota baru. Mahkota yang terbuat dari kebebasan Bisma,” jawab Sandra. Pukul 19:00 WIB. Kantor Pusat Gema Visual, Jakarta Selatan. Gedung perusahaan post-production kecil itu sepi. Hanya ada Direktur Operasional, Pak Bima, yang terlihat panik di mejanya. Tiba-tiba pintu kantornya terbuka. Masuklah Sandra Gunawan, kali ini tanpa penyamaran. Dia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok pensil, rambutnya diikat rapi. Dia memegang flash disk berisi berkas Gema Visual dan tas belanja berisi uang tunai. “Selamat malam, Pak Bima,” sapa Sandra ramah. “Saya Sandra Gunawan. Istri Bisma Adijaya. Pemegang kuasa saham mayoritas Bisma Adijaya di Gema Visual.” Pak Bima berdiri, wajahnya pucat. “Mbak Sandra? Ada apa? Saya tidak bisa memberi informasi apa pun...” “Saya tahu, Bapak ditekan oleh Nyonya Regina. Beliau mengancam akan menyita aset dan memecat Anda,” potong Sandra. “Jangan khawatir. Saya datang untuk menyelesaikan masalah.” Sandra mendorong berkas itu ke depan Pak Bima. “Bisma sudah menyelesaikan proses pengalihan saham ayahnya. Dia sekarang pemegang saham utama. Tapi ini bukan tentang saham, Pak.” Sandra membuka tas belanja kertas, menumpahkan semua uang tunai 800 juta di atas meja Pak Bima. Uang itu menggunung. Mata Pak Bima membelalak. “Ini... ini uang apa, Mbak?” “Uang saku,” jawab Sandra santai. “Saya tahu Anda takut dipecat oleh Regina. Saya tahu Anda yang memegang kunci vault di mana master film OPIA disimpan. Dan saya tahu Regina akan datang mengambil master film itu besok.” “Tolong, Mbak! Saya nggak bisa kasih kuncinya!” “Saya nggak minta kuncinya,” kata Sandra, tersenyum licik. Dia mengeluarkan flash disk Doni. “Saya mau Anda melakukan dua hal, Pak. Sekarang juga.” 1. Segera transfer semua master film OPIA yang ada di vault ke server cloud milik Gema Visual. Simpan salinan yang tidak terenkripsi di flash disk ini. 2. Tukar master film OPIA yang asli yang ada di vault dengan master film lain yang rusak atau sudah usang. “Anda akan menjaga aset Bisma yang tak ternilai harganya. Setelah Regina mengambil barang yang dia kira master film itu dan menghancurkannya, Anda akan selamat.” “Tapi kalau Regina tahu... saya bisa dipenjara!” “Regina tidak akan tahu,” janji Sandra. “Dia akan terlalu sibuk merayakan kemenangannya. Dan begitu aset Bisma cair penuh, Anda akan jadi CEO perusahaan post-production terbesar di Jakarta. Anda akan dapat bagian 800 juta ini untuk menutup mulut dan mencari pengacara terbaik.” Sandra mencondongkan tubuhnya ke depan. “Pilih. Dikeluarkan oleh Regina dan hidup tanpa uang. Atau membantu suami saya, mendapatkan 800 juta sekarang, dan jabatan CEO seumur hidup?” Pak Bima menatap uang di depannya. Matanya beralih ke flash disk berisi salinan master film. Dia adalah pria yang lelah dengan teror Regina. Dia menghela napas panjang. “Saya perlu waktu 30 menit. Kopi ada di sana.” Sandra duduk, menatap Pak Bima yang bergegas menuju vault. Dia berhasil. Di Bandara Soekarno-Hatta, 20:30 WIB Bisma turun dari pesawat dengan tergesa-gesa. Dia tidak membawa apa-apa selain tas punggung kecil. Uang warisan ayahnya sudah aman, tapi pikiran Bisma hanya tertuju pada ancaman Regina. Dia menyalakan ponselnya. Pesan dari Doni langsung masuk. Doni: Bis, lu di mana?! Sandra gila! Dia jual mahkota replika OPIA! 800 juta! Bisma terkejut. Dia ingin menelepon Sandra, tapi Doni mengirim pesan lagi. Doni: Jangan telepon dia! Dia lagi di kantor Gema Visual! Dia bikin transaksi gila buat nyelamatin master film asli lu! Buruan ke sana! Bisma berlari. Dia tahu Sandra pasti melakukan sesuatu yang sangat berisiko. Ketika Bisma tiba di kantor Gema Visual, dia melihat dari jendela, Sandra dan Pak Bima sedang berjabat tangan di atas meja yang kini bersih dari uang. Sandra menoleh, melihat Bisma berdiri di ambang pintu. “Hai, Komodo,” sapa Sandra, senyumnya lelah tapi bangga. Bisma tidak menjawab. Dia berjalan cepat ke arah Sandra, tidak marah, tapi khawatir. Dia melihat wajah Sandra, yang sekarang terlihat seperti pejuang yang baru saja memenangkan perang. “Lu... lu kenapa jual mahkota itu?” bisik Bisma. Sandra menatapnya lurus. “Gue jual yang palsu, Bis, buat nyelamatin yang asli. Gue nggak mau lu jadi aktor tanpa mahkota.” “Mahkota gue yang asli ada di sini,” Bisma memegang pipi Sandra. “Dan gue nggak akan pernah ngebiarin lu masuk penjara karena nyogok pejabat.” “Gue nggak nyogok. Gue bayar jasa pengamanan aset,” jawab Sandra, matanya berkilau licik. “Dan Regina... dia udah siap makan umpan palsu itu besok.” Bisma mencium kening Sandra lama sekali. Dia tidak menyangka, penulis naskah yang polos ini bisa menjadi Ratu licik yang mengungguli ibunya sendiri. “Ayo pulang, partner,” kata Bisma. “Kita siapin kejutan buat Mama. Sekarang gue punya uang, dan lu punya master OPIA.”