Badai yang Berkumpul
Hujan di Jakarta tidak pernah turun setengah hati. Malam ini, langit menumpahkan segalanya. Air membanting atap seng rumah petakku, menciptakan kakofoni yang menenggelamkan suara pikiranku sendiri. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma aspal panas dan selokan meluap—merembes masuk melalui celah ventilasi.
Aku duduk di lantai. Lututku gemetar. Bukan karena dingin, melainkan sisa adrenalin yang belum tuntas terurai.
Di hadapanku, tergeletak bangkai masa depan. Pecahan plastik hitam, kabel tembaga yang terurai seperti usus terburai, dan papan sirkuit yang retak menjadi dua. Walkman Sony kesayanganku. Bukan sekadar pemutar kaset; itu adalah nyawaku. Raka tidak hanya menginjaknya tadi siang di parkiran sekolah; dia memutarnya dengan tumit sepatu kulit mahalnya, memastikan setiap komponen hancur lebur di samping ban Toyota Corolla DX merah marun miliknya.
"Anak kampung nggak usah mimpi jadi penyiar," katanya waktu itu. Tawanya, yang diikuti oleh koor tawa anggota tim basket lain, masih berdenging di telingaku. Lebih nyaring dari guntur di luar.
Tapi dia salah. Dia hanya menghancurkan penerima (receiver). Dia lupa bahwa aku adalah seorang perakit.
Tanganku meraih solder yang sudah panas. Ujungnya mendesis saat menyentuh timah. Asap tipis mengepul, membawa aroma tajam resin yang bagiku lebih wangi daripada minyak Nyong-nyong yang dipakai bapak-bapak di kantor kelurahan. Aku memungut sisa-sisa komponen yang masih bisa diselamatkan. Sebuah osilator tua. Beberapa transistor 2N3055 yang kupotol dari amplifier rusak milik Pak RT minggu lalu. Dan sebuah mikrofon kecil yang kubongkar dari telepon bekas.
Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam.
Di sekolah, di aula besar yang berjarak tiga kilometer dari sini, lampu-lampu disko pasti sudah dinyalakan. Prom Night. Malam perpisahan. Gadis-gadis akan mengenakan gaun dengan bahu menggelembung, rambut disasak tinggi dan dikeraskan dengan hairspray sampai kaku melawan gravitasi. Laki-laki akan memakai jas kedodoran dengan dasi kupu-kupu atau dasi kulit tipis. Mereka akan berdansa diiringi lagu "Careless Whisper" atau hentakan "Take On Me".
Mentari ada di sana. Atau seharusnya ada di sana.
Kabar terakhir yang kudengar dari Sari, ayah Mentari mengurungnya. Raka, dengan segala kelicikan manipulatifnya, mengadu pada orang tua Mentari bahwa nilai gadis itu turun karena bergaul dengan "anak jalanan". Itu aku. Kambing hitam yang sempurna.
Aku menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Panas solder mulai terasa membakar kulit, tapi aku tidak peduli.
"Tunggu aku, Tar," bisikku. Suaraku serak, tenggelam oleh suara hujan.
Rencana ini gila. Nekat. Bunuh diri sosial. Tapi ini satu-satunya cara. Aku tidak bisa menemui Mentari secara fisik. Raka pasti menempatkan kaki tangannya di setiap pintu masuk aula. Satpam sekolah juga sudah disogok rokok kretek satu slop untuk melarangku masuk.
Jadi, aku akan masuk lewat satu-satunya celah yang tidak bisa mereka jaga: Gelombang udara.
Aku merakit pemancar darurat. Bukan radio amatir biasa yang jangkauannya luas. Ini adalah pemancar FM short-range yang dimodifikasi untuk menimpa frekuensi. Aku menargetkan frekuensi 100.2 MHz. Itu adalah frekuensi stasiun radio sekolah yang malam ini akan digunakan panitia untuk menyiarkan musik ke speaker di seluruh area parkir dan lobi, tempat anak-anak yang tidak suka berdansa biasanya nongkrong.
Tanganku bergerak cepat, namun presisi. Menghubungkan emitter ke base, memastikan collector mendapatkan tegangan yang tepat. Mata ini menyipit, memindai jalur tembaga yang tipis. Satu kesalahan kecil, dan alat ini hanya akan menjadi sampah yang menghasilkan statis.
"Kau harus bekerja," gumamku pada rangkaian kabel yang semrawut itu. "Sekali ini saja."
Aku mengambil kaset terakhir dari laci. Kotaknya bening, plastiknya masih mulus. Tidak ada label pabrikan. Hanya ada tulisan tangan dengan spidol hitam di stikernya: Untuk Mentari.
Di dalamnya bukan lagu Top 40. Bukan Madonna atau Michael Jackson. Di dalamnya ada Tatsuro Yamashita. Ada Mariya Takeuchi. Ada suara ombak yang kurekam di Ancol saat subuh. Ada sunyi yang kami bagi bersama di perpustakaan.
Aku memasukkan kaset itu ke dalam mekanisme pemutar yang kucabut paksa dari tape deck mobil rongsokan. Kabel-kabelnya menjuntai keluar, terhubung secara kasar ke pemancar rakitanku. Ini adalah monster Frankenstein. Buruk rupa, berbahaya, tapi memiliki jantung yang berdetak.
Aku memasukkan semuanya ke dalam tas ransel kanvas lusuhku. Aki kering sepeda motor 12 volt yang berat kumasukkan terakhir sebagai sumber daya.
Di luar, hujan mulai mereda menjadi gerimis, menyisakan kabut yang memeluk aspal Jakarta. Lampu-lampu jalan berwarna kuning natrium mulai memantul di genangan air, menciptakan lukisan abstrak yang suram.
Aku mengenakan jaket denim kedodoran milik kakakku. Menarik ritsleting sampai ke leher. Sepatu kets putihku sudah kotor oleh lumpur, tapi kakiku terasa ringan.
Aku keluar rumah, mengunci pintu kayu yang engselnya sudah berkarat. Angin malam menampar wajahku, dingin dan basah. Aku berjalan menembus gang-gang sempit, melompati selokan, menghindari tatapan orang-orang yang sedang merokok di pos ronda.
Tujuanku satu: Atap gedung sekolah. Titik tertinggi. Tempat di mana sinyal bisa menyebar tanpa halangan. Tempat di mana aku akan meneriakkan bisu yang selama ini mencekik leherku.
PUNCAK GELOMBANG
Gedung sekolah berdiri megah dalam kegelapan, seperti benteng kuno yang dikepung oleh cahaya modern. Dari kejauhan, aku bisa melihat bias lampu warna-warni memancar dari jendela aula utama. Dentuman bass terdengar samar, getarannya merambat lewat tanah, menggelitik telapak kakiku.
Musik New Wave. Synthesizer yang mendominasi. Suara tawa dan jeritan histeris remaja yang merasa dunia ada di genggaman mereka.
Aku menyelinap lewat pagar belakang, di dekat kantin yang baunya selalu mengingatkanku pada soto ayam dan minyak goreng jelantah. Kawat berduri di atas tembok bata itu sudah lama putus di satu sisi—jalur tikus yang biasa dipakai anak-anak nakal untuk bolos. Kali ini, jalur itu menjadi gerbang penentu nasibku.
Halaman belakang sepi. Gelap gulita. Hanya ada bayang-bayang pohon mangga yang bergerak-gerak ditiup angin, seolah hantu-hantu masa lalu sedang menari. Aku berlari-lari kecil, membungkuk rendah, meniru gerakan tentara di film Rambo yang sering kutonton lewat layar tancap.
Jantungku memukul-mukul rusuk. Dug. Dug. Dug. Lebih kencang dari beat lagu yang kini terdengar makin jelas.
Aku mencapai tangga besi di samping gedung laboratorium fisika. Tangga ini menuju ke atap dak beton, tempat tangki air sekolah berada. Besinya dingin dan licin karena sisa hujan. Karatnya menusuk telapak tanganku saat aku mulai memanjat.
Satu anak tangga. Dua anak tangga.
Di bawah sana, aku melihat mobil Raka terparkir di posisi VIP. Mengkilap, sombong. Beberapa temannya sedang duduk-duduk di kap mobil, merokok dan tertawa-tawa. Botol minuman keras—yang entah bagaimana bisa mereka selundupkan—berpindah tangan. Mereka adalah raja-raja kecil di kerajaan semu ini.
Aku menahan napas, takut suara nafasku terdengar. Jika mereka mendongak, tamatlah riwayatku. Aku akan ditarik turun dan dihajar habis-habisan sebelum sempat menyalakan sakelar.
Tapi mereka terlalu sibuk dengan ego mereka sendiri. Aku terus memanjat, menyeret beban berat di punggungku. Otot bahuku menjerit, memohon istirahat. Tidak sekarang, bentakku dalam hati.
Sampai di atap, angin bertiup kencang tanpa penghalang. Jakarta terhampar di kejauhan, lautan lampu pijar yang berkedip-kedip. Monas terlihat samar di utara, seperti lilin raksasa yang menjaga kota.
Aku berlari menuju sisi atap yang menghadap langsung ke area parkir dan aula. Di sinilah panggungku. Bukan di bawah sorotan lampu sorot, melainkan di bawah naungan awan mendung.
Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan peralatan. Aki motor, pemancar rakitan, pemutar kaset telanjang. Aku merangkainya di atas lantai beton yang basah.
Kabel antena kulemparkan ke atas toren air, mengikatnya seadanya agar posisinya setinggi mungkin. Kabel ground kujepitkan ke pagar besi pengaman atap. Ini adalah instalasi gila. Tidak ada safety grounding. Jika petir menyambar, aku akan hangus bersama alat-alat ini.
Aku menekan tombol Power.
Lampu LED merah kecil pada papan sirkuit menyala redup. Hidup. Dia hidup. Terdengar dengungan halus dari trafo.
Aku memutar tuning knob perlahan. Mencari celah kosong untuk menimpa frekuensi sekolah. Aku tahu sistem sound system di bawah sana terhubung dengan receiver radio FM agar musik bisa didengar di area luar. Jika aku cukup kuat, aku bisa "membajak" siaran mereka.
Klik. Kaset masuk ke dalam mekanisme.
Aku menarik napas panjang. Udara malam terasa asin di lidahku. Aku memegang mikrofon butut itu erat-erat, seolah itu adalah jimat penyelamat.
Di bawah sana, lagu "Karma Chameleon" dari Culture Club sedang memudar. MC sekolah, mungkin si Doni yang cerewet itu, sedang bersiap mengumumkan sesuatu.
"Tes... satu... dua..." bisikku. Jarum VU meter di alatku bergerak.
Sekarang.
Aku memutar potensiometer volume ke arah maksimal. Full power. Transistor 2N3055 menjadi panas seketika.
"Selamat malam, Jakarta," suaraku keluar, bukan lewat mulutku, tapi lewat gelombang elektromagnetik. "Ini bukan siaran resmi. Ini... sebuah pembajakan hati."
Aku menekan tombol Play.
Lagu pembuka mengalun. Bukan musik ajeb-ajeb. Tapi intro piano yang lembut, disusul petikan gitar funk yang renyah dan elegan. City Pop. Lagu "Plastic Love" versi panjang mulai mengudara, menimpa keheningan jeda lagu di pesta bawah sana.
Aku mengintip ke bawah.
Reaksi itu instan. Di parkiran, anak-anak yang sedang nongkrong di dekat mobil Raka tiba-tiba berhenti bicara. Mereka menoleh ke arah speaker toa di tiang bendera. Suara MC di aula tiba-tiba lenyap, digantikan oleh suara Mariya Takeuchi yang jernih dan melankolis.
Kekacauan terjadi. Aku melihat Raka melompat turun dari kap mobilnya, berteriak-teriak marah pada temannya, menunjuk-nunjuk ke arah ruang operator sound system.
Tapi mereka tidak bisa menghentikannya dari sana. Sumber suaranya ada di sini, di bawah langit, bersamaku.
Aku mendekatkan bibir ke mikrofon lagi, menimpa intro lagu (teknik talk-over yang kupelajari dari mendengarkan Prambors setiap malam).
"Untuk seseorang yang sedang melihat hujan dari balik jendela kamar..." suaraku bergetar, tapi aku memaksanya stabil. "Mereka bisa mengurung fisikmu, tapi mereka tidak bisa menahan frekuensimu. Lagu ini untukmu, Matahari Kecil. Kau tidak sendiri."
Aku melepaskan tombol bicara. Lagu mengalun penuh.
Aku duduk bersandar pada dinding toren air, memeluk lutut. Tugasku selesai. Pesan sudah terkirim. Entah dia mendengarnya atau tidak, itu urusan semesta. Aku hanya seorang kurir yang mengantarkan perasaan lewat elektron.
Tiba-tiba, pintu akses atap berderit.
Jantungku berhenti. Raka? Satpam?
Aku menoleh cepat, siap untuk lari atau berkelahi—meski aku tahu aku akan kalah dalam keduanya.
Bayangan itu muncul dari kegelapan tangga. Bukan postur tegap Raka yang mengancam. Bukan seragam satpam.
Gaun biru muda. Renda yang robek di bagian bawah. Sepatu high heels yang ditenteng di tangan kiri. Rambut yang sedikit berantakan karena angin dan... lari?
Mentari.
Dia berdiri di sana, terengah-engah. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya pucat, tapi matanya... matanya menyala lebih terang dari semua lampu neon di Jakarta.
Di tangannya, dia menggenggam sebuah Walkman kecil. Earphone-nya masih terpasang di satu telinga.
Dia mendengar.
Guguran Debu
Keheningan di antara kami lebih bising daripada lagu yang masih berputar dari pemancarku. Angin atap memainkan ujung gaunnya, membuatnya berkibar seperti bendera gencatan senjata.
"Bimo," panggilnya. Suaranya bukan lagi suara primadona sekolah yang sering kudengar saat dia memimpin sorak. Ini suara asli Mentari. Rapuh, jujur, dan lelah.
"Kamu... kabur?" tanyaku bodoh. Otakku masih memproses kehadirannya sebagai sebuah anomali data.
Dia melangkah maju, kakinya yang telanjang tidak peduli pada dinginnya lantai beton. Dia melempar sepatu hak tingginya sembarangan ke dekat pipa air.
"Jendela kamarku di lantai dua," katanya, setengah tertawa, setengah menangis. "Ada pohon jambu. Ayah lupa kalau aku dulu sering manjat pohon waktu kecil sebelum dia memaksaku jadi putri boneka."
Dia mendekat. Aroma melati dan keringat. Kombinasi yang anehnya menenangkan. Dia berlutut di depanku, di depan tumpukan sampah elektronik yang sedang menyiarkan lagu cinta ke seluruh sekolah.
"Raka ada di bawah," kataku, panik mulai merayap lagi. "Kalau dia tahu kamu di sini..."
"Persetan dengan Raka," potongnya tajam. Aku terbelalak. Aku belum pernah mendengar Mentari mengumpat. "Persetan dengan mereka semua, Bim. Aku capek. Aku capek jadi piala bergilir buat Raka. Aku capek jadi pajangan buat Ayah."
Dia menunjuk ke alat rakitanku. Lagu sudah berganti. Sekarang Midnight Pretenders.
"Kamu gila, Bim," bisiknya, kali ini dengan senyum yang membuat sudut matanya berkerut indah. "Kamu membajak sound system Prom Night cuma buat muterin lagu Jepang?"
"Bukan cuma lagu Jepang," belaku, suaraku masih tercekat. "Itu... pesan."
"Aku tahu." Mentari menyentuh tanganku yang masih memegang mikrofon. Jari-jarinya dingin. "Aku dengar di radio saku-ku. Sari yang ngasih kode kalau ada gangguan sinyal aneh. Aku langsung tahu itu kamu. Cuma kamu yang cukup nekat dan cukup pinter buat ngelakuin ini."
Di bawah, teriakan Raka terdengar makin jelas. "MATIIN! SIAPA YANG DI ATAS?! WOI!"
Langkah kaki berat terdengar menaiki tangga besi. Dung. Dung. Dung. Getarannya terasa sampai ke tulang keringku.
"Mereka datang," kataku. Ketakutan itu nyata. Raka dan kaki tangannya tidak akan memberiku ampun kali ini.
Mentari menoleh ke arah pintu atap, lalu kembali menatapku. Tidak ada ketakutan di wajahnya. Hanya ada ketenangan aneh. Kepasrahan yang memberontak.
"Biarin," katanya.
Dia mengambil satu sisi earphone dari Walkman-nya yang dia bawa, lalu memasangkannya ke telingaku.
"Dengar," perintahnya.
Aku mendengarnya. Bukan musik dari pemancarku. Tapi suara statis. Desis putih white noise.
"Kosong?" tanyaku bingung.
"Belum," jawabnya. Dia memutar gelombang di Walkman-nya perlahan. Jari-jarinya yang lentik memutar roda tuning dengan penuh perasaan.
Tiba-tiba, di antara desis statis, terdengar suara. Suara rekaman. Suaraku.
Itu rekaman lamaku. Saat aku pura-pura jadi penyiar di kamar, merekam ocehan tak penting tentang bintang dan resistor. Kaset yang kupikir sudah hilang setahun lalu.
"...dan kalau kamu merasa sepi, ingat aja, gelombang radio itu nggak pernah mati. Dia cuma merambat, nunggu ditangkap. Kayak perasaan, mungkin?"
Suaraku di rekaman itu terdengar muda dan naif.
"Kamu... nyimpen ini?" mataku terasa panas.
"Selalu," jawab Mentari. "Setiap kali aku merasa sendirian di tengah keramaian teman-teman palsu itu, aku dengerin ini. Kamu 'Mata Air'-ku, Bim. Sumber kewarasanku."
Suara gedoran di pintu besi atap menggelegar. Pintu itu terkunci dari dalam—aku sempat mengganjalnya dengan balok kayu tadi. Tapi kayu itu tidak akan bertahan lama melawan bahu atletis Raka dan teman-temannya.
BRAKK!
Kayu penyangga mulai retak.
"Bimo," Mentari meraih wajahku dengan kedua tangannya. Tatapannya mengunci mataku, memaksaku melupakan ancaman di balik pintu. "Dunia kita mungkin beda. Kamu di frekuensi AM, aku di FM. Tapi malam ini, kita tuning di gelombang yang sama."
Aku tidak bisa menjawab. Kata-kata tersangkut di tenggorokan.
Dia tidak menunggu jawabanku. Dia mencondongkan tubuhnya. Di bawah langit Jakarta yang mendung, di atas atap sekolah yang dikepung kebisingan, di antara kabel-kabel semrawut dan ancaman kekerasan yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari kayu yang pecah, dia menciumku.
Bukan ciuman nafsu seperti di film-film Hollywood. Ini ciuman yang rasanya seperti menyolder dua logam berbeda menjadi satu kesatuan yang kuat. Ciuman epoxy. Rasanya asin air hujan, manis lipstik murahan, dan pahit ketakutan.
BRAKK!
Pintu terbuka paksa.
Resolusi
Raka berdiri di ambang pintu. Napasnya memburu. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol. Di belakangnya, dua temannya siap menerkam. Jas mahalnya basah oleh keringat.
Dia melihat kami.
Aku, si anak elektronik kurus kering. Dan Mentari, trofi yang dia anggap miliknya. Duduk berdekatan di lantai basah, dikelilingi sampah kabel. Tangan Mentari masih di pipiku.
Musik dari pemancarku masih mengalun keras ke seluruh sekolah. Lagu terakhir. Sebuah balada instrumental yang sedih namun megah.
Raka maju selangkah, tangannya mengepal. "Lu..." geramnya. "Dasar tikus got!"
Aku bersiap menerima pukulan. Menutup mata, melindungi Mentari dengan bahuku yang sempit.
Tapi pukulan itu tidak pernah datang.
"Berhenti!" teriak Mentari.
Aku membuka mata. Mentari berdiri. Dia tidak lagi terlihat seperti putri yang butuh diselamatkan. Dia berdiri tegak, menghadap Raka. Tubuhnya kecil, tapi bayangannya seolah raksasa.
"Jangan sentuh dia," katanya dingin. "Atau aku bakal teriak ke mikrofon itu sekarang juga. Aku bakal cerita ke semua orang di bawah sana, ke orang tua murid, ke kepala sekolah, tentang apa yang kamu lakuin ke Bimo selama ini. Tentang kamu yang nyogok satpam. Tentang nilai-nilaimu yang dimanipulasi."
Dia menunjuk mikrofon yang masih menyala On Air.
Raka terdiam. Matanya beralih ke mikrofon, lalu ke Mentari. Wajahnya pucat. Reputasi. Itu satu-satunya hal yang dia takuti. Anak orang kaya ini bisa membeli hukum, tapi dia tidak bisa membeli rasa malu.
Teman-teman Raka saling pandang, ragu.
"Cabut kabelnya," desis Raka pada temannya, suaranya turun satu oktaf. "Matiin alat sialan itu."
"Nggak usah," kataku. Aku berdiri perlahan, kakiku masih gemetar tapi kali ini bukan karena takut. "Baterainya udah mau habis kok."
Lampu LED di pemancarku memang sudah berkedip-kedip lemah. Musik mulai melambat, suaranya merendah seperti kaset kusut, lalu perlahan menghilang menjadi desis.
Hening.
Hanya suara angin dan napas kami yang terdengar.
Raka menatap Mentari dengan tatapan yang sulit diartikan. Kecewa? Marah? Atau mungkin sadar bahwa dia tidak pernah benar-benar memiliki gadis ini.
"Lu bakal nyesel, Tar," kata Raka pelan. "Lu milih sampah kayak dia daripada masa depan cerah."
"Masa depan cerah menurut siapa, Ka?" balas Mentari tenang. "Menurut bapakmu? Aku lebih suka masa depan yang aku rakit sendiri. Walaupun dari barang bekas."
Raka meludah ke lantai, lalu berbalik. "Ayo cabut. Muak gue."
Mereka pergi. Turun kembali ke dunia hingar-bingar mereka yang dangkal.
Kami ditinggalkan sendirian lagi di atap.
Hujan sudah benar-benar berhenti. Awan mulai tersingkap, memperlihatkan satu-dua bintang yang berani menampakkan diri di langit polusi Jakarta.
Aku berjongkok, membereskan alat-alatku. Memasukkan kembali bangkai pemancar itu ke dalam tas.
"Jadi..." kataku canggung. "Sekarang gimana? Ayahmu bakal marah besar."
"Pasti," Mentari tertawa kecil. Dia duduk di bibir atap, kakinya menjuntai ke bawah. "Mungkin aku bakal dikurung sampai lulus SMA. Atau dikirim ke asrama putri di Bandung."
"Maaf," gumamku.
"Jangan minta maaf," potongnya. Dia menepuk tempat kosong di sebelahnya. "Duduk sini."
Aku duduk di sampingnya. Jarak kami dekat, bahu kami bersentuhan.
Dia merogoh saku gaunnya yang tersembunyi. Mengeluarkan sebuah kaset. Kaset kosong merek Maxell.
"Buat apa?" tanyaku.
"Kita kan mau pisah," katanya. Matanya menatap lurus ke cakrawala kota. "Lulus nanti, aku pasti dipaksa kuliah Hukum atau Ekonomi. Kamu... kamu pasti ambil Teknik Elektro kan?"
Aku mengangguk. "Rencananya."
"Dunia kita bakal makin beda, Bim. Lingkungan kita, teman-teman kita." Dia menoleh padaku. Ada genangan air di pelupuk matanya. "Aku takut lupa rasanya malam ini. Aku takut lupa suara desis solder kamu."
Dia menyerahkan kaset itu padaku.
"Rekam dunia kamu, Bim. Terus kirim ke aku. Jangan berhenti kirim sinyal, oke? Walaupun aku nggak bisa bales cepet. Walaupun jalurnya macet."
Aku menerima kaset itu. Benda plastik persegi panjang yang terasa lebih berat dari emas batangan.
"Janji," kataku. "Aku bakal jadi stasiun relay kamu. Sejauh apa pun kamu pergi, frekuensiku bakal selalu nyari kamu."
Mentari tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah kulihat.
Di bawah kami, pesta Prom sudah berakhir. Lampu-lampu aula mulai dipadamkan satu per satu. Mobil-mobil mulai meninggalkan parkiran.
Tapi di atap ini, di antara antena karatan dan sisa hujan, kami baru saja memulai siaran kami sendiri. Sebuah siaran sunyi yang hanya bisa didengar oleh dua orang, yang tidak membutuhkan izin frekuensi dari pemerintah.
Kami duduk di sana sampai pagi menjelang, melihat matahari terbit perlahan menyapu Jakarta yang abu-abu menjadi keemasan. Rambut mullet-ku yang berantakan tertiup angin, dan gaun pestanya yang kotor menjadi saksi.
Masa depan mungkin menakutkan. Gelap dan penuh gangguan statis. Tapi selama aku memegang kaset ini, dan selama dia memegang Walkman-nya, aku tahu kami akan baik-baik saja.
Kami adalah dua komponen yang berbeda, disatukan dalam satu sirkuit tertutup yang abadi.
"Camar ganti, di sini Elang. Siaran selesai. Sampai jumpa di gelombang berikutnya."
Dan untuk pertama kalinya, tidak ada noise. Hanya sinyal yang jernih. Sangat jernih.