Kusuma Tower pagi itu tampak seperti sarang lebah yang sibuk. Di lantai delapan belas, ruangan Najwa Kusuma menjadi pusat gravitasi dari segala kesibukan itu. Najwa duduk di balik meja kerja jati besarnya, dikelilingi oleh tumpukan berkas desain proyek yang harus diselesaikan sebelum masa cuti panjangnya dimulai. Namun, di atas tumpukan cetak biru gedung apartemen itu, kini terselip katalog vendor katering kelas atas dan sampel undangan yang elegan.

​"Naj, katering batch ketiga sudah kirim penawaran terakhir. Mereka setuju ada pojok khusus menu Jawa Timur kayak yang kamu minta kemarin. Tapi, mereka tanya lagi soal food testing terakhir. Masa cuma kita-kita lagi yang ngerasain? Calonmu beneran nggak mau terbang ke Jakarta sebentar cuma buat pilih menu?" Selvi masuk ke ruangan dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, meletakkan tablet di atas meja Najwa.

​Najwa mengangkat wajahnya dari layar monitor dan terlihat tersenyum dengan tenang, senyum yang sudah ia latih agar terlihat sempurna tanpa celah ragu. "Beliau sangat sibuk di pesantren, Sel. Santrinya kan ribuan dan ini mendekati akhir semester di madrasah. Aku sudah bilang ke Gus Azam kalau aku dan keluarga sanggup urus semua persiapan pernikahan di sini dan Beliau percaya penuh pada pilihanku."

​Desi yang baru saja masuk sambil membawa tiga cup kopi mahal, langsung menyambar percakapan itu. "Percaya penuh atau emang lepas tangan, Naj? Maaf ya, kita ini sahabatan sudah lama Najwa. Hal ini jadi membuat aku gemas sendiri. Ini itu pernikahan mewah, semua biaya memang dari pihak sana, tapi orangnya masak nggak muncul sama sekali. Bahkan kalau kamu telpon atau kirim pesan ke nomornya buat tanya soal lighting favorit, dia nggak pernah balas."

​Najwa menerima kopi dari Desi dengan anggun lalu menyesapnya pelan, mencoba menutupi getaran kecil di hatinya. "Gus Azam itu tipe pria yang sangat menjaga lisan dan pandangan, Des. Beliau lebih suka berkomunikasi lewat Umi atau Abi jika itu menyangkut hal-hal teknis begini. Lagipula, bukankah bagus kalau calon suami nggak banyak menuntut dan menyerahkan konsep pada wanitanya?"

​"Ya tapi nggak membisu juga kali, Naj," gumam Desi sambil duduk di sofa. "Maksudku, apa kamu nggak ngerasa sepi? Kita lagi nyiapin pesta di hotel bintang lima dengan ribuan tamu VVIP, tapi suasananya kayak kamu lagi nikah sama bayangan."

​Najwa meletakkan kopinya, matanya menatap tajam namun tetap lembut pada kedua sahabatnya. Inilah saat di mana ia harus menjaga marwah Gus Azam. "Setiap orang punya cara mencintai yang berbeda, Des, Sel. Gus Azam mencintai lewat doa-doa yang dia panjatkan ke langit di sana. Dia pria yang dalam, tidak suka pamer atau banyak bicara hal-hal yang tidak darurat. Bagiku, itu justru sebuah kewibawaan yang jarang aku temukan di Jakarta."

​Selvi dan Desi saling pandang, mereka merasa ada tembok yang dibangun Najwa untuk melindungi pria itu.

​"Oke-oke, kalau kamu bilang begitu kita hargai," ujar Selvi akhirnya.

"Terus soal permintaan Umi Fatimah gimana? Serius kamu mau pakai hijab syar'i nanti? Naj, kolega Papa Hendra itu menteri, pengusaha, sampai tamu luar negeri. Kamu itu fashion icon di Kusuma Group. Apa nggak kaget mereka nanti?"

​"Justru itu momennya, Sel," jawab Najwa mantap. "Aku ingin menunjukkan kalau menjadi muslimah yang baik itu tidak menghalangi kita untuk tetap terlihat berkelas. Umi berpesan karena nanti banyak ulama dan kyai sepuh yang hadir. Aku ingin menghormati tamu-tamu suamiku. Aku nggak mau Gus Azam menanggung malu karena istrinya tampil tidak pantas di depan guru-gurunya."

​"Waduh 'suamiku' katanya," goda Desi, mencoba mencairkan suasana. "Tapi Naj, soal seragam yang bakal datang H-3 itu beneran? Kamu nggak takut kalau ukurannya nggak pas atau modelnya... ya, kamu tahu sendiri kan selera pesantren?"

​Najwa tertawa kecil suara tawa yang ia buat senormal mungkin. "Umi sudah minta ukuran detailku. Beliau pakai penjahit khusus yang biasa menangani keluarga bangsawan di Jawa Timur. Dan soal model, aku percaya selera Umi Fatimah. Beliau itu wanita yang sangat elegan. Justru aku senang beban pilih baju pengantin jadi hilang satu. Aku tinggal fokus ke hal lain."

​"Tapi Naj," Selvi memutar kursi kerjanya mendekat ke meja Najwa.

"Semua biaya ini... aku masih nggak habis pikir. Pihak Gus Azam kirim dana yang jumlahnya gila-gilaan. Om Hendra aja sampai kaget pas cek rekening khusus pernikahan ini. Mereka bilang semua harus yang terbaik, harus yang termewah di Jakarta. Itu uang dari mana ya? Pesantren segede itu pendapatannya dari mana sampai bisa biayain pernikahan semegah ini tanpa bantuan Papa kamu?"

​Najwa menarik napas dalam. "Keluarga Abi Ahmad bukan cuma punya pesantren, Sel. Mereka punya banyak unit usaha, tanah wakaf yang dikelola profesional, sampai ekspor hasil bumi. Tapi mereka sangat low profile. Uang itu adalah bentuk kehormatan mereka untuk keluarga kita. Mereka ingin menyambutku dengan cara terbaik yang mereka bisa."

​Percakapan terhenti saat pintu ruangan terbuka. Mama Ratna masuk dengan wajah ceria, membawa selembar daftar panjang.

​"Najwa Sayang, Papa sudah kirim supir untuk sebar undangan ke luar kota hari ini. Papa juga baru saja telepon kolega di Singapura, mereka konfirmasi hadir!" Mama Ratna duduk di samping Desi. "Gimana persiapannya? Selvi, Desi, tolong bantu Najwa ya, jangan sampai dia kelelahan sebelum hari-H."

​"Beres, Tante!" jawab Desi semangat. "Kita lagi bahas soal baju pengantin yang katanya bakal syar'i dan datangnya mepet itu."

​Mama Ratna mengangguk-angguk. "Mama awalnya juga khawatir, tapi Umi Fatimah terus meyakinkan Mama kalau hasilnya bakal cantik. Umi bilang kainnya ditenun sendiri dengan doa di setiap helainya. Mama jadi makin nggak sabar."

​Najwa hanya mendengarkan sambil tersenyum. Di dalam hatinya, ada rasa haru yang beradu dengan kegelisahan. Ia benar-benar menjaga rahasia bahwa calon suaminya belum pernah mengucapkan satu patah kata pun padanya sejak pertemuan di taman melati itu.

Baginya, itu adalah aib yang tidak boleh diketahui siapapun, termasuk orang tuanya. Ia ingin semua orang melihat Gus Azam sebagai sosok sempurna yang ia gambarkan.

​"Naj, katering tanya soal dessert corner," Selvi kembali ke urusan teknis.

​"Samakan dengan menu utama saja Sel. Berikan yang terbaik ya, jangan ada yang kurang satu pun. Aku ingin tamu-tamu Papa dan tamu-tamu Gus Azam merasa dihormati," perintah Najwa tegas.

​Selama hampir dua jam mereka tenggelam dalam diskusi vendor. Mulai dari pemilihan jenis bunga melati yang harus segar, urutan masuk pengantin, hingga pengaturan tempat duduk tamu VVIP agar tidak terjadi kecanggungan antara kolega bisnis Jakarta dan para kyai dari daerah. Najwa memimpin diskusi itu dengan sangat profesional, seolah-olah ia sedang mengerjakan proyek properti terbesar dalam hidupnya.

​"Aku nggak nyangka ya," ujar Desi di sela-sela melihat katalog dekorasi. "Najwa yang dulu paling malas kalau diajak ke acara pengajian, sekarang malah mau nikah sama Gus dan pakai baju syar'i. Cinta emang bisa ngerubah orang ya?"

​Najwa tertegun sejenak. "Apakah ini cinta?." batinnya. "Atau ini hanya bentuk pengabdian atas rasa hutang budi?." Namun di depan sahabatnya, ia hanya menjawab singkat, "Hati manusia itu milik Tuhan, Des. Kita nggak pernah tahu kapan Dia mau memutarnya."

​Sore harinya, saat Selvi dan Desi sudah kembali ke meja kerja masing-masing, Najwa berdiri di tepi jendela kaca raksasa kantornya. Ia menatap matahari yang mulai tenggelam di balik gedung-gedung Jakarta. Ia meraba ponselnya, melihat ruang obrolannya dengan Gus Azam yang masih sepi. Tidak ada pesan 'semangat' atau sekadar tanya 'sudah makan?'.

​Najwa teringat lagi wajah Gus Azam yang kesal saat khitbah diputuskan. Ia tahu pria itu dipaksa. Namun, sebagai calon istri yang baik, Najwa bertekad untuk tidak pernah mengeluh. Ia akan membangun citra suaminya setinggi langit di depan semua orang. Ia akan menunjukkan pada dunia bahwa ia bangga menjadi milik Gus Azam, meskipun ia harus berjuang sendiri dalam mempersiapkan pesta ini.

​"Tunggu aku, Gus," bisiknya pada kaca jendela yang dingin. "Aku akan datang dengan mahkota yang berbeda, seperti permintaan Umi dan aku harap, saat mata kita bertemu nanti di pelaminan, kamu tidak lagi melihatku sebagai orang asing."

​Tiba-tiba Ponselnya Najwa bergetar dan itu bukan dari Gus Azam, melainkan pesan singkat dari Umi Fatimah: "Nak Najwa, seragam keluarga sudah di proses di tukang jahit. Nanti kalau sudah jadi kami kirim lewat kurir khusus. H-3 akan sampai di tanganmu. Jaga kesehatan ya, Sayang. Gus Azam selalu mendoakanmu di setiap sujudnya."

​Najwa tersenyum getir membaca kalimat terakhir itu. Ia tidak tahu apakah itu benar atau hanya cara Umi untuk menghibur hatinya.

Namun, bagi Najwa, itu sudah cukup. Cukup untuk menjadi bahan bakar baginya agar tetap berdiri tegak menghadapi segala tanya dari para sahabat dan dunia di sekelilingnya.

​