Keringatku menetes. Asin. Perih di mata. Aku menyekanya dengan punggung tangan yang terbungkus sarung tangan kulit murahan.
Pasar Rebo mendidih. Bukan hanya karena matahari Jakarta yang memanggang aspal retak di bawah sol sepatuku, tapi karena amarah yang menggantung di udara. Tebal. Pekat. Seperti mendung yang menolak hujan tapi menjanjikan petir. Mei 1998. Tanggal di kalender dinding rumahku dilingkari spidol merah. Batas waktu. Pengusiran. Ibuku butuh obat. Pemilik kontrakan butuh uang. Aku butuh jalan keluar.
Dan jalan keluar itu ada di seberang jalan. Toko Mas Sinar Jaya.
"Ujang, posisi?" suaraku parau.
Ujang menyandar di tiang listrik berkarat. Topi kumal menutupi separuh wajahnya. Dia tidak menatapku. Matanya menyisir kerumunan ibu-ibu yang menawar kangkung dan tukang ojek yang merokok gelisah. Dia anak pasar. Dia napas tempat ini.
"Rusli baru geser ke Pos Polisi," gumam Ujang tanpa menoleh. Bibirnya hampir tidak bergerak. "Lima belas menit. Maksimal."
Aku mengangguk. Lima belas menit. Cukup untuk hidup, atau cukup untuk mati.
Aku menoleh ke Gani. Dia duduk di atas jok motor RX-King yang mesinnya masih hangat. Tas kanvas hitam di pangkuannya berisi neraka kecil: linggis, bor tangan, dan alat las portabel. Wajahnya keras. Rahangnya mengatup rapat sampai otot pipinya berkedut. Dia mantan tukang las pelabuhan. Dia baru di-PHK. Istrinya lari membawa anak. Dia tidak punya apa-apa selain amarah dan keahlian membakar logam.
"Sekarang," kataku.
Kami bergerak.
Aku memimpin. Langkahku terukur. Tidak boleh lari. Lari menarik perhatian. Kami berjalan membelah kerumunan. Bau amis ikan bercampur aroma knalpot bus kota. Kami hantu di siang bolong. Tidak ada yang peduli. Semua orang sibuk menyelamatkan diri dari inflasi yang mencekik. Harga beras naik dua kali lipat pagi ini. Siapa peduli tiga laki-laki berjalan menuju toko emas?
Toko Mas Sinar Jaya berdiri angkuh di sudut blok A. Pintu kacanya tebal. Di balik etalase, kilauan kuning menggoda. Emas. Logam mulia yang tidak mengenal krisis.
Aku mendorong pintu. Lonceng kecil berdenting. Suara yang terlalu ceria untuk niat kami.
Haji Mansur ada di sana. Tua. Enam puluh dua tahun. Peci hitam miring sedikit ke kiri. Dia sedang mengelap etalase dengan kain chamois. Matanya tajam. Mata pedagang yang sudah melihat seribu penipu. Dia mendongak. Instingnya bekerja lebih cepat daripada otaknya.
Tangannya bergerak ke bawah meja.
"Jangan," kataku. Datar. Dingin.
Aku mengeluarkan pistol rakitan dari balik jaket denimku. Logam dingin itu terasa asing di tangan mantan manajer logistik. Tapi kemiskinan adalah guru yang keras. Aku belajar beradaptasi.
Haji Mansur membeku. Tangannya berhenti di udara, inci dari laci laci meja yang kutahu menyimpan Revolver S&W tua.
"Tutup pintu, Gani," perintahku.
Gani membanting rolling door setengah tertutup. Suara logam beradu membuat jantungku melompat. Dia membalik tulisan di kaca: TUTUP.
"Ke belakang," bentak Gani. Dia melompati etalase. Kakinya mendarat berat di lantai keramik.
Haji Mansur mundur. Napasnya memburu. "Kalian gila," desisnya. Suaranya bergetar, tapi bukan karena takut. Karena marah. "Kalian tidak tahu apa yang terjadi di luar?"
"Kami tidak peduli," potongku. Aku menodongkan moncong pistol ke dadanya. "Kunci brankas. Sekarang."
Haji Mansur menatapku. Dia menilai nyaliku. Dia melihat keraguan di mataku? Kuharap tidak. Aku memikirkan ibu yang terbatuk darah di kasur tipis. Keraguanku menguap.
"Cepat!"
Dia berbalik. Brankas itu model lama. Chubb tua setinggi lemari es. Besi padat.
"Buka," kata Gani. Dia sudah mengeluarkan alat lasnya. Apinya menyala biru, mendesis lapar.
"Kuncinya rumit," kata Mansur. "Butuh dua putaran—"
"Minggir." Gani menendang kaki orang tua itu. Mansur terjerembab. Gani tidak butuh kunci. Dia akan memotong engselnya.
Waktu berjalan lambat. Detik merambat seperti siput. Suara desis api las mengisi ruangan pengap itu. Bau logam terbakar menusuk hidung. Aku menjaga Mansur di sudut ruangan. Mataku bolak-balik antara dia dan celah rolling door.
Ujang di luar. Dia mata kami.
Lima menit berlalu.
"Dikit lagi," geram Gani. Keringat bercucuran di wajahnya yang berminyak. Logam brankas mulai memerah.
Tiba-tiba, suara itu datang.
Bukan sirine polisi. Bukan peluit Iptu Rusli.
Suara gemuruh. Seperti ombak besar menghantam tebing. Tapi ini bukan air. Ini suara manusia. Ribuan manusia.
DUM! DUM! PRANG!
Suara kaca pecah. Teriakan. Jeritan histeris.
"BAKAR! BAKAR! BAKAR! JARAH!"
Darahku membeku. Aku melangkah ke celah rolling door.
Dunia di luar sudah gila.
Pasar Rebo bukan lagi pasar. Itu medan perang. Asap hitam membumbung tinggi dari arah terminal. Massa bergerak seperti air bah. Ratusan. Ribuan. Wajah-wajah beringas. Mata merah. Mereka membawa kayu, batu, besi, apa saja. Mereka menghancurkan segalanya. Toko elektronik di seberang sudah jebol. Televisi, kipas angin, kulkas digotong keluar.
Dan mereka menuju ke sini. Toko emas adalah gula bagi semut-semut lapar ini.
"Bas!" Suara Ujang terdengar dari celah bawah pintu. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya gemetar hebat. Dia merayap masuk lewat celah sempit rolling door.
"Lari, Bas! Rusuh! Jakarta rusuh!" Ujang terengah-engah. Napasnya putus-putus. "Massa... massa gila. Mereka bakar Mal Cijantung. Sekarang mereka ke sini."
Aku menoleh ke Gani. "Kita harus pergi. Sekarang."
"Sedikit lagi!" Gani meraung. Dia tidak peduli. Matanya terpaku pada lelehan besi brankas. "Emasnya di depan mata, bangsat!"
"Kita mati kalau diam di sini!" teriakku.
BLAM!
Sesuatu menghantam rolling door. Keras. Pintu besi itu penyok ke dalam.
Kami terdiam.
Suara di luar semakin jelas.
"INI TOKO CINA! BAKAR!"
"AMBIL EMASNYA!"
"DOBRAK!"
Haji Mansur, yang sedari tadi diam di sudut, tiba-tiba tertawa. Tawa kering. Pahit. "Kalian pikir kalian perampok?" katanya serak. "Kalian cuma tikus yang terjebak di lumbung padi yang sedang dibakar."
Gani berbalik, moncong api las masih menyala. "Diam lu tua bangka!"
"Mereka tidak akan membedakan aku atau kalian," kata Mansur. Dia berdiri perlahan. Martabatnya kembali. "Bagi mereka, siapa pun di dalam toko ini adalah target. Kita semua panggangan daging sekarang."
Aku menurunkan pistolku. Dia benar. Rencana kami hancur. Bukan oleh polisi, tapi oleh sejarah.
BRAK! BRAK! BRAK!
Hantaman bertubi-tubi. Rolling door berderit menyedihkan. Mur dan bautnya mulai longgar. Cahaya matahari dan asap masuk lewat celah-celah yang koyak. Aku bisa melihat mata-mata liar mengintip dari luar. Tangan-tangan kotor berusaha meraih, mencakar, menarik besi.
"Tahan pintunya!" teriakku.
Aku lari ke depan. Menabrakkan bahuku ke rolling door. Panas. Besi itu panas terpanggang matahari dan mungkin api di luar.
"Ujang! Bantu!"
Ujang tersentak dari ketakutannya. Dia berlari, menahan sisi kiri pintu. Tubuh kurusnya gemetar, tapi dia menekan sekuat tenaga.
"Gani! Lupakan emas itu!"
Gani menatap brankas yang sudah terbuka sedikit. Emas batangan berkilau di dalam sana. Gelap. Menggoda. Dia mengerang, suara binatang yang terluka. Dia mematikan lasnya, menyambar linggis, dan berlari ke arah kami.
"Minggir!" Gani menyelipkan linggis ke pegangan pintu, memalang pintu itu seadanya.
Tapi tekanan dari luar terlalu kuat. Massa seperti hydra. Satu mundur, sepuluh maju.
"Ada senjata?" tanyaku pada Mansur. Aku tidak lagi menodongnya. Hirarki perampok dan korban sudah runtuh. Sekarang hanya ada: Kami di Dalam vs Mereka di Luar.
Mansur menatapku. Dia mengerti. Dia merogoh laci mejanya. Mengeluarkan S&W .38 Special. Dia tidak mengarahkannya padaku. Dia mengokangnya.
"Ada pintu belakang?" tanyaku.
"Terkunci mati. Gembok dari luar. Gudang beras Pak Somad di belakangnya," jawab Mansur cepat. "Satu-satunya jalan keluar cuma ini... atau ventilasi atas."
Aku mendongak. Ventilasi kecil di langit-langit. Empat meter di atas. Terlalu tinggi. Terlalu sempit.
KRAK!
Penyangga rolling door patah. Pintu terangkat sepuluh senti.
Sebuah tangan masuk. Tangan kasar memegang batu bata.
"Hajar!" teriak Gani. Dia mengayunkan palu besarnya. Menghantam tangan itu. Terdengar bunyi tulang remuk. Teriakan kesakitan dari luar. Tangan itu ditarik paksa.
Tapi kemudian, sesuatu menggelinding masuk.
Botol. Sumbu api menyala.
Bom molotov.
"AWAS!"
Botol itu pecah di tengah ruangan. Api menyembur. Menjilat karpet merah toko. Bau bensin menyeruak. Asap hitam langsung mengepul, menyesakkan dada.
"Matikan! Matikan!" teriak Mansur. Dia menyambar kain chamois basahnya, memukuli api. Sia-sia. Api menjalar ke meja kayu.
Panas meningkat drastis. Kami terjebak di oven. Di depan massa yang haus darah, di dalam api yang mulai membesar.
"Emasnya..." gumam Gani. Dia malah berlari kembali ke brankas. Dia gila. Dia benar-benar gila. Dia mulai mengeruk perhiasan, memasukkannya ke dalam tas kanvas. Kalung, cincin, logam mulia. "Kita kaya, Bas! Kita kaya!"
"Kita mati gosong, Goblok!" teriakku. Aku batuk. Asap memerihkan mata.
Ujang menarik lengan bajuku. "Bas... gang tikus."
Aku menatapnya. "Apa?"
"Saluran air," kata Ujang. Matanya liar mencari-cari. "Toko ini bangunan tua zaman Belanda. Ada saluran pembuangan air di bawah lantai gudang belakang. Tembusnya ke kali Cipinang."
Aku menoleh ke Mansur. "Benar ada?"
Mansur ragu. Dia menutup hidung dengan sapu tangan. "Ada. Tapi sudah ditutup semen sepuluh tahun lalu."
"Gani!" Aku berteriak memanggil si tukang las. "Bawa alat lu! Ke belakang! Sekarang!"
Gani menoleh. Tasnya sudah penuh. Berat. Dia menyeringai gila. "Oke, Bos. Kita pergi."
Kami mundur ke ruang belakang. Asap semakin tebal. Jarak pandang tinggal dua meter. Suara massa di depan semakin bising, sorak sorai kemenangan karena pintu depan mulai jebol total.
Di gudang belakang, lantai semen itu terlihat retak-retak.
"Di sini!" tunjuk Ujang. Ingatannya tentang struktur pasar ini memang luar biasa. Dia pernah jadi kuli angkut saat renovasi pasar.
"Hancurkan!" perintahku.
Gani menghantamkan palu godamnya. Sekali. Dua kali. Semen tua itu retak. Tiga kali. Lubang menganga. Bau busuk selokan menyeruak, melawan bau asap.
Lubang itu sempit. Gelap. Basah.
"Masuk!"
Ujang masuk duluan. Tubuhnya kecil, dia meluncur mudah.
"Kau duluan, Haji," kataku pada Mansur.
Mansur menatapku aneh. "Kenapa?"
"Karena kalau kau di belakang, kau bisa nembak punggung gue," jawabku jujur.
Mansur mendengus. Dia menyelipkan pistolnya di pinggang, lalu masuk ke lubang itu dengan susah payah.
Giliran Gani. Tapi dia berhenti. Tas kanvas berisi emas itu tersangkut.
"Tinggalin tasnya sebagian, Gan! Berat!" teriakku. Suara reruntuhan terdengar dari toko depan. Mereka sudah masuk.
"Gak sudi!" Gani memaksa. Dia mendorong tas itu. Urat lehernya menonjol.
Tiba-tiba, pintu gudang didobrak. Tiga orang penjarah masuk. Wajah tertutup kain. Mata merah. Golok di tangan.
Mereka melihat kami. Mereka melihat tas emas Gani.
"Itu emasnya!" teriak salah satu dari mereka.
Mereka menerjang.
Gani panik. Dia mencabut linggis. "Maju lu anjing!"
Aku tidak punya pilihan. Aku angkat pistol rakitanku.
DOR!
Suara ledakan memekakkan telinga di ruang sempit itu. Salah satu penjarah jatuh. Bahunya berlubang. Dua temannya berhenti sejenak, kaget melihat senjata api.
"Masuk, Gani!" Aku menendang bokong Gani. Dia terperosok masuk ke lubang got, menyeret tas emasnya.
Aku melompat menyusul.
Sebuah tangan menarik kakiku. Penjarah itu.
"Mau lari kemana, bangsat!"
Cengkeramannya kuat. Kukunya menancap di betisku. Aku menendang wajahnya dengan tumit sepatu botku. Sekali. Hidungnya patah. Dia melepaskan.
Aku meluncur ke dalam kegelapan.
BYUR!
Air limbah setinggi pinggang. Hitam. Kental. Bau tahi dan sampah busuk.
"Jalan! Jalan!" suaraku menggema di lorong beton sempit itu.
Kami merangkak di kegelapan. Hanya ada cahaya senter kecil dari korek gas Gani di depan. Ujang memimpin. Kami seperti tikus got yang sebenarnya. Di atas kami, suara gemuruh langkah kaki ribuan massa terdengar seperti guntur yang tidak berhenti.
Lututku perih tergesek beton kasar. Luka di kakiku berdenyut. Tapi adrenalin memati rasa.
Kami berjalan mungkin sepuluh menit, mungkin satu jam. Waktu kehilangan makna. Hanya ada bau busuk dan napas berat.
Cahaya.
Ada cahaya di ujung. Cahaya abu-abu suram.
Mulut saluran pembuangan Kali Cipinang.
Kami keluar satu per satu. Jatuh berguling di lumpur bantaran kali.
Udaranya masih panas, tapi lebih segar daripada di dalam sana. Langit Jakarta oranye. Bukan karena matahari terbenam, tapi karena api. Di kejauhan, asap hitam membumbung dari mana-mana. Glodok, Jatinegara, Klender. Kota ini sedang membakar dirinya sendiri.
Kami terbaring di ilalang tinggi. Napas kami memburu. Tubuh kami hitam oleh lumpur got.
Haji Mansur duduk bersandar di pohon pisang. Dia menatap pasar di kejauhan. Tokonya. Warisan bapaknya. Kini hanya terlihat kepulan asap tebal dari arah sana. Habis. Ludes.
Gani tertawa. Tawa yang mengerikan. Dia memeluk tas kanvasnya. "Kita berhasil... Kita berhasil, Bas!" Dia membuka resleting tas. Emas batangan, kalung, gelang. Berkilauan kotor terkena lumpur. "Lihat ini! Milyaran!"
Aku menatap emas itu. Lalu menatap tanganku yang gemetar.
Ujang muntah di sampingku. Dia tidak kuat menahan bau dan stres.
Haji Mansur berdiri perlahan. Dia membersihkan pecinya yang sudah tidak berbentuk.
"Kalian ambil lah," katanya pelan.
Kami bertiga menoleh.
"Ambil emas itu," kata Mansur lagi. Dia menatap Gani, lalu aku. "Toko saya sudah habis. Asuransi tidak akan ganti rugi kerusuhan. Kalau saya bawa emas itu pulang, massa di jalan akan bunuh saya sebelum sampai rumah."
Dia benar. Membawa emas di Jakarta hari ini adalah vonis mati.
"Bapak mau kemana?" tanya Ujang lirih.
"Pulang. Jalan kaki. Lewat gang kampung. Menjadi orang miskin seperti yang lain," Mansur tersenyum kecut. "Mungkin itu satu-satunya cara selamat hari ini."
Dia berbalik. Berjalan tertatih-tatih menjauh, menyusuri pinggiran kali, menghilang di balik semak-semak. Sosoknya rapuh, ditelan kota yang sedang runtuh.
Tinggal kami bertiga.
Gani menatap tas itu dengan rakus. Tapi kemudian dia menatap sekeliling. Jalan raya di atas jembatan macet total. Orang-orang berlarian. Truk tentara lewat dengan sirine meraung.
"Kita gak bisa bawa ini semua," kataku.
"Maksud lu apa?" Gani melotot. "Ini hak gue! Gue yang las! Gue yang gotong!"
"Lu bawa tas itu naik ke jalan, lu mati dibantai massa, Gani. Lu dikira penjarah. Lu dikira Cina. Lu dikira provokator. Gak ada hukum sekarang," jelasku dingin.
Gani terdiam. Dia tahu aku benar.
"Terus gimana?"
"Kita kubur," kataku. "Di sini. Tandai tempatnya. Kita ambil kalau Jakarta sudah dingin."
Gani menggeleng kuat. "Gak! Gak bisa! Gue butuh duit sekarang! Anak gue..."
"Lu mau duit atau lu mau nyawa?" bentakku.
Kami saling tatap. Ketegangan yang sama seperti saat di toko tadi.
Akhirnya, Gani kalah. Bahunya turun. Dia melempar tas itu ke tanah becek.
Kami menggali lubang dengan tangan kosong dan sisa linggis. Di bawah pohon beringin tua di tepi kali. Tanah basah bercampur sampah plastik. Kami memasukkan tas itu. Menimbunnya. Emas murni. Kekayaan yang bisa mengubah nasib tujuh turunan. Terkubur di bawah lumpur busuk Kali Cipinang.
Kami selesai saat adzan Maghrib berkumandang. Suara adzan terdengar menyayat hati di tengah suara sirine dan tembakan peringatan yang sesekali terdengar.
Kami berdiri di sana. Kotor. Bau. Luka-luka.
Aku meraba saku. Surat pengosongan rumah itu sudah hancur jadi bubur kertas kena air got.
"Sekarang apa, Bas?" tanya Ujang. Dia terlihat seperti anak kecil yang tersesat.
Aku menatap langit yang memerah oleh api. Jakarta sedang menangis darah.
"Sekarang kita pulang," kataku. "Kita berpura-pura tidak pernah ke sini. Kita berpura-pura menjadi korban. Kita berbaur."
"Dan emasnya?" tanya Gani, matanya masih tertuju pada gundukan tanah basah itu.
"Itu tabungan masa depan," jawabku. "Kalau kita punya masa depan."
Kami berpisah di situ. Ujang ke arah Ciracas. Gani menyusuri kali ke arah utara.
Aku berjalan sendirian menaiki tanggul. Menuju jalan raya. Bergabung dengan ribuan orang lain yang berjalan kaki dengan wajah ketakutan.
Di saku celanaku, aku merasakan benda keras. Kecil.
Sebuah cincin emas polos.
Aku mengambilnya dari etalase sebelum kaca pecah tadi. Hanya satu. Bukan untuk dijual.
Aku menggenggamnya erat.
Aku memikirkan ibuku.
Aku memikirkan Haji Mansur yang kehilangan segalanya.
Aku memikirkan Gani yang kehilangan akal sehatnya.
Kami merampok toko emas, tapi kamilah yang dirampok. Dirampok oleh keadaan. Dirampok oleh negara yang gagal menjaga kami.
Aku melangkah ke dalam kerumunan, menjadi satu titik anonim di tengah lautan manusia yang marah dan kalah. Wajahku tertunduk. Tanganku di saku.
Di Pasar Rebo, api masih menyala. Membakar dosa dan harapan menjadi abu yang sama hitamnya.
Aku selamat.
Tapi ada bagian dariku mati di dalam brankas itu.