Daging dan Mesin

Penulis djoedo
19 January 2026

Suara itu merobek kewarasannya lebih tajam daripada sekop yang baru saja memisahkan pergelangan tangannya. "Bram... anakku sayang..." Nada bicaranya lembut, mendayu, kontras dengan jeritan logam berkarat yang mendominasi ruangan itu. Namun, intonasinya salah. Terlalu datar. Seperti rekaman pita kaset rusak yang diputar di dalam rongga dada yang kosong.

Bram mundur. Tumitnya menggerus lantai besi yang licin oleh campuran oli dan darahnya sendiri. Ia mendekap puntung lengan kirinya. Darah tidak menyembur, melainkan merembes pelan, hitam dan kental seperti aspal cair. Tidak ada rasa sakit fisik yang wajar. Hanya dingin. Rasa dingin yang menusuk sumsum, seolah syaraf-syarafnya telah terhubung langsung dengan kehampaan di luar dinding bus.

Pak Tua tidak bergeming. Sosok itu jika masih bisa disebut manusia, berdiri kaku di depan tungku. Wajahnya rata. Kulit pucat membentang tanpa mata, tanpa hidung. Hanya celah vertikal itu yang terus bergerak-gerak basah, meludahkan kata-kata penghibur dengan suara ibunya yang sudah mati tiga tahun lalu.

"Sudah makan, Le? Jangan lupa berdoa..."

Sekop di tangan Pak Tua terangkat. Di ujungnya, potongan tangan kiri Bram tergeletak pucat. Jari-jarinya masih mengejang, membuat gerakan mencengkeram udara, seakan masih berusaha meraih tas uang yang tertinggal di sudut ruangan.

Bram ingin berteriak, menyuruh makhluk itu diam. Tapi tenggorokannya tersumbat empedu.

Dengan gerakan mekanis yang kaku, Pak Tua melempar potongan daging itu ke dalam api ungu.

Sreeet. Blarr.

Api tidak membakar tangan itu menjadi abu. Tidak. Api itu memakannya. Lidah api ungu menjilat, melilit jari-jemari, dan menyerapnya.

Pada detik yang sama, sebuah memori di kepala Bram lenyap.

Ia tersentak. Matanya membelalak nanar. Ia tahu ia baru saja kehilangan sesuatu yang vital. Bukan sekadar daging. Ia lupa warna cat tembok rumah masa kecilnya. Ia lupa rasa masakan ibunya. Memori itu terhapus, digantikan oleh statik putih yang menyakitkan di otak belakang.

Bus Laju Sanjaya tidak meminum bensin. Ia meminum kemanusiaan.

Bram merangkak mundur, menjauhi panas yang paradoks itu—api yang membekukan tulang. Ia menendang tas berisi uang miliaran rupiah itu. Tas itu terasa berat, seolah berisi batu nisan, bukan kertas berharga. Ia menyeretnya dengan tangan kanan. Obsesi itu masih ada, meski alasannya mulai kabur.

Dinding ruang mesin berdenyut. Pipa-pipa penyalur bahan bakar tidak terbuat dari karet atau logam, melainkan usus raksasa yang berdenyut lambat, mengalirkan cairan keruh ke seluruh tubuh bus. Bram harus keluar. Ia harus kembali ke kursi penumpang. Setidaknya di sana, gila itu masih terlihat seperti normal.

Ia menemukan celah sempit di antara himpitan roda gigi yang berputar tanpa suara. Celah itu berlendir, berbau apek seperti ruangan arsip yang terendam banjir. Bram memaksakan tubuhnya masuk.


Di balik dinding daging itu, realitas terlipat.

Bram bisa melihat tembus pandang, seolah dinding bus adalah selaput ketuban tipis. Di sisi lain, di lorong penumpang yang remang-remang, drama lain sedang berlangsung. Jarak dan perspektif tidak berlaku di sini. Ia melihat mereka dari sudut pandang cacing tanah, menatap ke atas.

Siti duduk di kursi 4A. Kebaya lusuhnya tampak semakin pudar, warnanya terserap oleh jok bus yang kusam. Wajah wanita itu abu-abu. Matanya cekung, menatap kosong pada buntalan kain jarik di pangkuannya.

Jaka, sang kondektur, berdiri menjulang di hadapannya. Seragamnya kotor, penuh bercak minyak yang membentuk pola wajah-wajah menjerit. Ia tidak lagi meminta tiket dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangan. Jari-jarinya panjang, tidak wajar, dengan kuku-kuku hitam yang melengkung tajam.

"Bayarannya, Nduk," suara Jaka terdengar seperti gesekan amplas kasar. "Perhentian berikutnya butuh ongkos lebih."

Siti mendekap buntalan itu erat-erat. "Bayiku tidur, Mas. Jangan ribut."

"Itu bukan bayi," desis Jaka.

"Ini bayiku!" Siti menjerit histeris, suaranya pecah. "Dia cuma tidur! Bapaknya janji mau jemput di Semarang!"

Bram, dari celah persembunyiannya di dimensi antara ruang mesin dan kabin, melihat kenyataan yang disembunyikan Siti. Kain jarik itu sedikit tersingkap. Bukan kulit bayi yang menyembul.

Itu batu.

Sebuah batu sungai yang dingin, keras, dan berlumut. Siti sedang menimang batu nisan tanpa nama, menyusuinya dengan kasih sayang yang membusuk menjadi delusi.

Jaka tidak peduli. Tangan cakar kondektur itu menyambar buntalan tersebut. Siti meronta, mencakar lengan Jaka, tapi kulit kondektur itu keras seperti kulit pohon tua. Kuku Siti patah. Darah menetes ke lantai bus, dan lantai itu langsung menyerapnya dengan suara slurp yang samar.

Jaka merenggut "bayi" itu. Ia mengangkat batu tersebut tinggi-tinggi. Siti meraung tanpa suara, mulutnya terbuka lebar dalam jeritan bisu yang mengerikan.

Jaka melemparkan batu itu ke belakang, ke arah kegelapan di mana Bram bersembunyi. Benda itu menembus dinding ilusi dan jatuh menggelinding tepat di depan wajah Bram.

Batu itu berdenyut. Ada detak jantung lemah di dalamnya.

Bram menahan napas. Kengerian baru merayapi tengkuknya. Di Laju Sanjaya, benda mati pun dipaksa hidup untuk menderita.


Bram memalingkan wajah, merangkak menjauh dari batu hidup itu. Lorong sempit yang ia lalui mulai berubah bentuk. Lantai berlendir berganti menjadi karpet kantor yang basah dan berjamur. Dinding usus mengeras menjadi sekat-sekat kubikel partisi berwarna biru kusam.

Ia tidak lagi di ruang mesin. Ia berada di kantornya. Kantor di Jakarta.

Tapi ini adalah versi bangkai dari tempat kerjanya. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, mengeluarkan suara dengungan lalat yang marah. Meja-meja kerja tersusun berantakan, tertumpuk seperti barikade. Dan baunya... bau kertas basah bercampur dengan bau bangkai tikus yang sudah meledak perutnya.

"Laporan, Bram. Laporan..."

Suara itu datang dari segala arah. Suara bosnya. Suara rekan kerjanya. Suara-suara yang dulu memujinya saat ia berhasil memanipulasi anggaran.

Bram mencoba berdiri. Kakinya gemetar. Ia masih mendekap tas uang dengan tangan kanannya. Tangan kirinya yang buntung berdenyut nyeri. Ia melihat ke ujung lorong kubikel. Pintu keluar ada di sana. Pintu kaca bertuliskan "EMERGENCY EXIT".

Ia berlari tertatih-tatih. Hampir sampai. Sedikit lagi.

Ia menabrak pintu itu. Terkunci.

Di balik kaca, ia melihat wajahnya sendiri. Tapi pantulan itu tersenyum lebar, seringai jahat yang memamerkan gigi-gigi emas. Pantulan itu memiliki kedua tangan utuh.

"Kau tidak bisa keluar sebelum audit selesai," kata pantulan itu.

Bram memukul kaca dengan tangan kanannya. "Buka! Buka, bangsat!"

Kaca itu tidak pecah. Justru melunak. Tinjunya tenggelam ke dalam permukaan kaca yang berubah menjadi gel dingin. Kaca itu menyedot tangannya.

"Tidak... tidak..." Bram menarik sekuat tenaga.

Lantai di bawah kakinya mulai miring. Kubikel-kubikel bergeser. Ruangan ini bukan bangunan statis. Ini adalah perut yang sedang mencerna.


Di sudut ruangan, di balik tumpukan berkas yang membusuk, ada pergerakan.

Bram menoleh, napasnya memburu. Di sana, menyatu dengan meja mahoni besar yang separuh hancur, adalah Darma.

Pengusaha itu tidak duduk di kursi. Ia adalah kursi.

Tubuh bagian bawah Darma telah meleleh, menyatu dengan kayu dan busa kursi kantor. Kakinya telah menjadi kaki kursi, berakar ke lantai karpet yang basah. Jas mahalnya robek-robek, memperlihatkan kulit yang melepuh dan menyatu dengan kain pelapis sandaran.

Darma masih sadar. Wajahnya berkeringat minyak. Matanya liar, bergerak cepat ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya terus-menerus mengetuk permukaan meja—yang kini adalah perpanjangan dari paha kanannya sendiri.

Tik. Tik. Tik. Tik.

"Jam dua belas," racau Darma. Air liur menetes dari sudut bibirnya, kental dan hitam. "Tenggat waktu. Harus tanda tangan. Harus cair. Kalau tidak cair, mereka akan ambil anakku."

Ia menatap Bram. Tatapan itu penuh dengan pengakuan dosa yang terlambat.

"Bram?" Darma mengenkalinya. Suaranya serak, seperti gesekan logam. "Bram, tolong. Jam tanganku mati. Tolong putar jamnya. Kalau jamnya jalan, bisnis jalan."

Bram melihat pergelangan tangan Darma. Jam tangan mewah Rolex emas itu tidak lagi melingkar di kulit. Logam emas itu telah tertanam, drupuk masuk ke dalam daging, menjadi bagian dari tulang pergelangan tangannya. Kaca jam itu retak, jarumnya berhenti tepat di angka dua belas. Di bawah kaca arloji, terlihat darah menggenang.

"Bantu aku, Bram!" Darma menjerit. Tubuhnya mengejang. Kayu meja berderit keras. Lantai di sekitar Darma mulai retak, membuka mulut lebar yang gelap.

"Tiketmu belum lunas, Pak Darma," suara Jaka menggema dari langit-langit kantor yang bocor.

Lantai di bawah Darma runtuh.

Tidak ada teriakan panjang. Hanya suara krak basah saat tubuh Darma yang setengah furnitur itu patah dan ditarik paksa ke dalam kegelapan di bawah lantai bus. Lubang itu menguarkan bau knalpot dan belerang.

Bram terpaku. Ia melihat ke bawah, ke arah lubang tempat Darma menghilang.

Di kedalaman sana, jauh di bawah struktur "kantor" yang absurd ini, ia melihat roda-roda gigi raksasa berputar. Di antara gerigi besi yang berminyak itu, wajah-wajah manusia terjepit, melumas mesin dengan lemak dan dosa mereka.

Bus ini berjalan di atas penderitaan penumpangnya.

Bram mundur, punggungnya menabrak dinding kubikel. Tas uang di tangannya tiba-tiba terasa panas. Ia melihat ke bawah.

Uang di dalam tas itu... bergerak.

Lembaran-lembaran merah bergambar pahlawan itu mulai menggeliat. Mereka bukan kertas. Mereka adalah lapisan kulit tipis yang dikeringkan. Wajah-wajah pahlawan di uang itu berkedip, menatap Bram dengan tatapan menuduh.

"Giliranmu sebentar lagi, Pak Bram," bisik dinding-dinding kantor itu.

Lantai di bawah kakinya mulai melunak. Karpet basah berubah menjadi lumpur hisap. Bram sadar, negosiasi dengan Tuhan atau Iblis tidak berlaku di sini.

Ia harus membayar. Atau ia akan menjadi suku cadang.