Neraca Daging

Penulis djoedo
19 January 2026

Suku cadang. Kata-kata itu menggantung di udara yang berbau ozon dan darah basi, berat seperti vonis mati. Lantai di bawah kaki Bram bukan lagi keramik dingin bus, pun bukan karpet sintetis kantornya di lantai dua puluh. Itu adalah daging. Daging abu-abu yang berdenyut pelan, meniru tekstur anyaman karpet murahan, namun basah dan hangat.

Bram mencoba menarik kaki kanannya. Sia-sia.

Zat itu menghisapnya. Bukan sekadar lumpur, tapi ribuan mulut mikroskopis yang melahap serat celana bahan yang ia kenakan, mencerna kain, mencari kulit. Ia terhuyung, tangan kirinya menggapai pinggiran meja kerjanya, sebuah meja mahoni kokoh yang kini tampak melepuh, permukaannya bergeser seperti kulit ari yang terkelupas akibat luka bakar.

"Lepaskan!" jeritnya. Suaranya tidak memantul. Ruangan ini menelan suara sama lahapnya seperti ia menelan cahaya.

Tas hitam di tangan kanannya terasa semakin berat. Uang itu. Uang sialan itu. Seharusnya benda mati. Kertas dan polimer. Namun kini, tas itu terasa seperti organ yang diamputasi namun masih memiliki nyawa. Kulit tas yang tadinya kulit sintetis mengilap kini terasa berpori, berkeringat minyak yang lengket.

Bram merasakan gerakan di dalam tas.

Gumpalan uang itu bergeser. Berhimpitan. Seperti cacing yang berebut ruang di dalam bangkai. Bram ingin melemparnya. Insting purbanya berteriak bahwa benda itu adalah parasit yang sedang menjangkiti inangnya. Namun, keserakahan adalah rantai yang lebih kuat dari baja. Jari-jarinya kaku, terkunci dalam cengkeraman mati pada gagang tas yang kini terasa hangat seperti menggenggam pergelangan tangan demam.

Dinding kubikel di sekelilingnya mulai merapat. Ruang kantor yang luas itu menyusut. Langit-langit plafon gipsum meneteskan cairan hitam kental. Tetesan itu jatuh ke tumpukan dokumen di meja sebelah, dokumen penggelapan dana yang ia palsukan dan mendesis. Kertas itu tidak terbakar api, melainkan membusuk seketika menjadi bubur cokelat yang bau.

Bau anyir menyeruak. Bau rumah sakit yang ditinggalkan. Bau formalin dan ketakutan.

Di sudut ruangan, di mana seharusnya berdiri mesin fotokopi, bayangan itu muncul. Bukan Darma. Darma sudah habis, sudah menjadi bagian dari jok kulit di baris depan. Ini Siti.

Wanita itu duduk bersimpuh di atas tumpukan berkas yang menggunung seperti bukit sampah. Kebayanya yang lusuh tampak kontras dengan kilap steril perabotan kantor yang surealis ini. Wajahnya sepucat kertas HVS, matanya dua lubang hitam tanpa dasar yang menatap menembus Bram, menembus dinding, menembus realitas.

Buntalan kain di pelukannya bergerak-gerak gelisah.

"Siti?" Bram memanggil. Suaranya serak, tercekat di tenggorokan yang kering.

Siti tidak menjawab. Ia hanya mengayun-ayunkan buntalan itu.

"Ssttt... diamlah, Nak," bisiknya. Suaranya bukan suara manusia. Itu suara angin yang melewati celah jendela pecah di gedung kosong. "Bapak sedang sibuk. Bapak sedang dihitung."

"Dihitung?" Bram menarik kakinya lagi. Nyeri hebat menjalar dari betis ke paha. Zat di lantai itu mulai melarutkan sol sepatunya. Kulit kakinya terasa perih, seperti dicelupkan ke dalam asam lambung.

"Hutang harus dibayar, Mas," Siti menoleh perlahan. Lehernya berbunyi krek, patah namun tetap berputar. "Bukan dengan kertas."

Ia menunjuk tas di tangan Bram dengan dagunya.

"Ini uang!" bentak Bram, panik bercampur marah. "Ini cukup untuk membeli sepuluh bus rongsokan ini! Cukup untuk menyuap siapa saja!"

Siti tersenyum. Senyum yang terlalu lebar. Bibirnya robek di ujung, menampakkan gusi yang menghitam.

"Di sini, kertas tidak laku. Di Laju Sanjaya, mata uangnya adalah..." Siti menunduk, menatap buntalan kainnya. Ia menyibakkan sedikit kain itu. Bram memicingkan mata, berharap melihat wajah bayi.

Tidak ada bayi.

Di dalam buntalan kain kumal itu, tergeletak sebuah jantung mesin yang berkarat, dililit oleh usus manusia yang masih segar. Benda itu berdetak. Dug-dug. Ck-lek. Dug-dug. Ck-lek. Suara piston yang pincang.

"Pengabdian," desis Siti.

Bram mundur selangkah, namun "lantai" di belakangnya meninggi, membentuk gundukan daging yang menghalanginya. Ia terjebak. Ilusi kantor ini semakin tidak stabil. Lampu neon di atas kepala berkedip liar, memancarkan cahaya stroboskopik yang membuat gerakan Siti terlihat patah-patah, seperti film lama yang terbakar proyektor.

Tiba-tiba, suara logam beradu memecah kebisingan dengung lampu.

Kring. Kring.

Suara alat pelubang tiket.

Dari balik bayangan lemari arsip, sosok itu melangkah keluar. Jaka.

Seragam kondekturnya kotor oleh oli dan noda merah gelap yang mengering. Topinya miring, menutupi separuh wajah yang tampaknya tidak memiliki kulit, hanya otot merah yang basah. Jaka tidak berjalan; ia meluncur di atas permukaan daging itu seolah lantai tersebut adalah bagian dari tubuhnya sendiri.

Tangan kanannya memegang pelubang tiket logam perak yang berkilau tajam. Tangan kirinya terulur. Kuku-kukunya hitam panjang, melengkung seperti cakar burung pemakan bangkai.

"Tiket," suara Jaka terdengar seperti gesekan besi berkarat.

Bram gemetar. Ia merogoh saku celananya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih mati rasa mencengkeram tas uang. Ia menarik keluar tiket yang ia dapatkan di terminal. Tiket itu kini terasa lembek, berlendir. Tulisan "PO. LAJU SANJAYA" di atasnya tidak lagi dicetak dengan tinta, melainkan diukir seperti tato di atas potongan kulit manusia.

"Sudah... aku sudah punya tiket!" Bram menyodorkan benda menjijikkan itu.

Jaka tidak mengambilnya. Ia menepis tangan Bram dengan gerakan kilat.

"Itu tiket masuk," geram Jaka. Matanya yang kuning menyala dalam keremangan. "Sekarang bayar untuk perjalanan."

"Bayar apa lagi?!" Bram histeris. Kakinya sudah tenggelam sampai lutut. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah tulang keringnya sedang digergaji perlahan.

"Kelebihan muatan," Jaka menunjuk tas di tangan kanan Bram.

Tas itu bereaksi. Tiba-tiba, resleting tas terbuka sendiri dengan suara sobekan basah. Tumpukan uang di dalamnya menyembul keluar. Tapi itu bukan lagi uang.

Wajah-wajah pahlawan pada lembaran rupiah itu hidup. Mereka menjerit tanpa suara. Angka-angka nominal berubah menjadi barisan gigi taring kecil. Tumpukan uang itu menggeliat, melilit lengan Bram, menggigit jas mahalnya, menembus kemeja, dan menancap ke daging lengan bawahnya.

"Aaaargh!" Bram berteriak. Ia mencoba mengibaskan tas itu, tapi benda itu kini menyatu dengannya. Uang-uang itu menjahitkan diri ke kulitnya.

"Kau membawanya. Kau memberinya makan," kata Jaka dingin. Ia melangkah maju. Pelubang tiket di tangannya berbunyi klik-klak penuh ancaman. "Benda itu berat. Bus ini tua. Kami butuh bahan bakar."

Jaka tidak meminta uangnya. Jaka menatap lengan Bram yang sedang dimangsa oleh uangnya sendiri.

"Potong," perintah Jaka.

"Apa?" Napas Bram memburu.

"Potong bebanmu. Atau bus ini yang akan memotongmu." Jaka mengangkat pelubang tiketnya. Alat itu membesar, berubah bentuk menjadi gunting raksasa pemotong besi yang biasa ada di bengkel, namun bilahnya bergerigi seperti rahang hiu.

Bram menatap lengannya. Uang-uang itu kini telah menjadi parasit, menghisap darahnya, mengubah warna kulitnya menjadi hijau pucat kertas. Rasa sakit dari kakinya yang larut dan lengannya yang dimangsa beradu di pusat syaraf, menciptakan simfoni penderitaan yang membuatnya hampir pingsan.

Tapi ia tidak bisa pingsan. Dunia ini terlalu tajam.

"Tidak..." Bram menggeleng. Egonya, sisa-sisa kesombongan priayi Jakarta-nya, menolak tunduk. "Ini milikku. Aku yang curi! Aku yang ambil risiko!"

"Milikmu?" Jaka tertawa. Tawa yang kering, tanpa humor. "Di sini, kau adalah milik kami."

Lantai daging itu menyentak. Bram terperosok lebih dalam, kini sampai paha. Ilusi kantor itu mulai runtuh sepenuhnya. Dinding-dinding meleleh, menampakkan kerangka besi bus yang berkarat di baliknya. Jendela kantor pecah, dan di luar sana bukan pemandangan kota, melainkan kegelapan abadi hutan jati yang bergerak mundur dengan kecepatan mustahil.

Bram melihat pantulan dirinya di logam pelubang tiket Jaka. Wajahnya... wajahnya mulai kabur. Hidungnya rata. Matanya melebar. Ia mulai terlihat seperti manekin. Atau boneka crash test.

"Waktu habis," kata Jaka.

Ia mengayunkan alat pemotong itu ke arah lengan kanan Bram.

Bukan untuk memotong tasnya. Tapi untuk mengambil "pajak" dari daging yang memegang dosa itu.

Bram menjerit, sebuah teriakan panjang yang ditelan oleh deru mesin bus yang meraung seperti binatang buas yang kelaparan. Di sudut mata, ia melihat Siti tersenyum, meninabobokan mesin berdarah di pangkuannya, sementara dunia Bram menyempit menjadi rasa sakit yang putih dan menyilaukan.

Di Laju Sanjaya, tidak ada yang gratis. Dan Bram baru saja membayar angsuran pertamanya.