Tawa itu bukan sekadar gema memori, melainkan riuh rendah yang fisik, menjalar lewat besi-besi berkarat kursi bus, merambat naik ke tulang punggung Bram, dan meledak di dalam tempurung kepalanya. Suara itu bercampur dengan derum mesin Laju Sanjaya yang meraung seperti binatang sekarat, sebuah orkestra cacat yang dimainkan di dasar jurang.
Bram mencengkeram lengan kursi. Buku-buku jarinya memutih. Bus tidak meluncur di aspal. Tidak ada gesekan ban. Hanya sensasi jatuh bebas. Gravitasi seolah ditarik paksa dari ruangan itu. Perutnya mual, teraduk-aduk oleh inersia yang tak wajar. Di luar jendela, kegelapan bukan lagi sekadar absennya cahaya. Kegelapan itu hidup. Kental. Berdenyut. Seperti dinding kerongkongan raksasa yang menelan mereka bulat-bulat.
"Tolong! Hentikan! Demi Tuhan, hentikan!" Jeritan Darma di kursi depan memecah kebisingan.
Bram menoleh, lehernya kaku seperti engsel yang karatan. Pemandangan di depannya meruntuhkan sisa logika yang ia pertahankan mati-matian sejak terminal.
Darma tidak sedang duduk. Pria itu menggeliat, tubuh gemuknya terpasung oleh sabuk pengaman yang kini menyerupai usus basah, melilit pinggang dan dadanya erat-erat. Kulit leher pengusaha itu melepuh, merah padam dan bergelembung. Bukan keringat yang keluar dari pori-porinya, melainkan kepingan logam. Uang koin. Emas. Kuningan. Logam-logam itu mendesak keluar dari balik epidermis, merobek daging, berdenting jatuh ke lantai bus yang bergetar hebat.
Klontang. Klontang. Klontang.
Suara logam menghantam lantai besi terdengar begitu jernih, kontras dengan raungan mesin yang memekakkan telinga.
"Panas! Panas!" Darma meraung, tangannya mencakar leher sendiri, mencoba menghentikan aliran "keringat" emas itu. Darah bercampur nanah kuning meleleh, menetesi kemeja mahalnya yang kini compang-camping.
Bram ingin memalingkan wajah, muntah, atau pingsan. Tapi matanya terkunci. Ia adalah penonton tunggal dalam teater penyiksaan ini. Rasa sakit menjalar di lengan kanannya sendiri. Ia menunduk.
Tas berisi uang hasil korupsi itu masih ia peluk erat. Namun, batas antara kulit lengannya dan tumpukan uang kertas di dalam tas yang terbuka itu mulai kabur. Uang pecahan seratus ribu bergambar proklamator itu tidak lagi kering. Kertasnya basah, berlendir, menempel pada kulit lengan bawahnya seperti lintah. Tinta merah pada uang itu merembes masuk ke pori-pori Bram, membentuk pola pembuluh darah baru yang menjijikkan.
Ia mencoba menarik tangannya.
Lengket.
Menyatu.
"Tidak..." desis Bram. Suaranya hilang ditelan gemuruh. Ia menyentak lebih keras. Rasa perih menyengat, seolah ia sedang menguliti dirinya sendiri. Uang itu telah menjadi daging. Daging itu telah menjadi uang.
Jaka, sang kondektur, melangkah perlahan di lorong bus. Tubuhnya tidak terpengaruh oleh guncangan atau kemiringan bus yang sedang menukik tajam. Kakinya menapak mantap, sepatu bot militernya menginjak genangan darah dan koin yang berserakan dari tubuh Darma.
Wajah Jaka datar. Matanya yang cekung menatap Darma tanpa belas kasihan, tanpa kebencian. Kosong. Hanya ada tugas.
"Jatuh tempo," suara Jaka serak, seperti gesekan kertas pasir kasar. Ia membungkuk di samping Darma.
"Ambil saja! Ambil semuanya!" Darma melolong, air matanya bercampur darah. "Saya bayar! Saya bayar lunas!"
Jaka tidak menjawab. Tangan kondektur itu, yang jari-jarinya panjang dan berkuku hitam, terulur. Ia tidak mengambil koin di lantai. Ia merogoh langsung ke leher Darma yang menganga.
Bram menahan napas. Paru-parunya terasa seperti diisi serbuk kaca.
Jaka menarik segenggam koin yang masih tertanam di daging leher Darma. Suara krek basah terdengar saat logam ditarik paksa dari jaringan otot. Darma menjerit—suara yang melampaui batas pita suara manusia, melengking tinggi hingga akhirnya putus menjadi gurgel tersedak.
"Bunga berbunga," gumam Jaka, memasukkan koin-koin berlumur darah itu ke dalam tas kulit lusuh di pinggangnya. "Pokok utang belum tersentuh."
Bus menghantam sesuatu.
Bukan tanah. Rasanya seperti menabrak tumpukan daging busuk raksasa. Guncangan hebat melempar Bram ke depan. Dahinya menghantam sandaran kursi Darma. Gelap sesaat. Kunang-kunang menari di pandangannya.
Bau amis menyerbu hidung. Bau tembaga. Bau selokan mampet. Bau dosa yang dibiarkan membusuk terlalu lama.
Bus berhenti. Mesin mati mendadak. Kesunyian yang datang tiba-tiba jauh lebih mengerikan daripada kebisingan sebelumnya.
Hanya ada suara napas. Napas Darma yang putus-putus, berbunyi seperti peluit bocor. Dan suara senandung.
"Lelo... lelo... ledung..."
Siti.
Wanita itu masih duduk di kursi belakang, tak tersentuh oleh kekacauan. Kebaya lusuhnya tampak semakin kusam, warnanya memudar menjadi abu-abu seperti kain kafan lama. Ia menimang buntalan kain jarik di pangkuannya dengan ritme yang lambat dan hipnotik.
Bram menegakkan tubuh, mengabaikan pusing yang menghantam kepala. Ia harus keluar. Pintu. Di mana pintunya?
Pintu lipat hidrolik di bagian depan mendesis. Terbuka perlahan.
Tidak ada terminal. Tidak ada Rest Area Sari Asih.
Di luar sana adalah koridor.
Bukan koridor biasa. Dindingnya terbuat dari tumpukan berkas kertas yang menguning, basah dan berjamur. Lantainya adalah karpet kantor murahan yang lembap, dipenuhi noda tinta hitam yang menggenang seperti oli. Lampu neon di langit-langit yang entah menggantung di mana karena tidak ada atap yang jelas, berkedip-kedip, mengeluarkan suara dengung bzzzt yang menyakitkan telinga.
Itu kantornya. Kantor tempat ia bekerja di Jakarta. Tempat ia memalsukan tanda tangan. Tempat ia memindahkan angka-angka digital ke rekening pribadinya. Tapi tempat ini telah dikunyah, dikunyah, dan dimuntahkan kembali dalam bentuk yang mengerikan.
"Silakan," suara berat muncul dari kursi pengemudi.
Pak Tua menoleh. Untuk pertama kalinya, Bram melihat sedikit wajah di balik bayangan topi pet itu. Kulitnya seperti kulit pohon tua, retak-retak dan kering. Matanya tidak memiliki pupil, hanya putih susu yang keruh. Mulutnya menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi yang runcing dan hitam akibat nikotin abadi.
"Pemberhentian Bapak," kata Pak Tua. Asap rokok klembak menyan mengepul dari mulutnya, membentuk wajah-wajah kecil yang menjerit sebelum pudar di udara.
Bram menggeleng. "Ini... ini salah. Saya mau ke Jawa Tengah. Saya mau pulang."
"Sudah sampai," sahut Jaka, kini berdiri tepat di samping kursi Bram. Bau tubuhnya apek, campuran kapur barus dan tanah kuburan. "Rumah adalah tempat di mana hatimu tertinggal. Dan hatimu... tertinggal di brankas itu, bukan?"
Jaka menunjuk ke luar pintu bus. Di ujung koridor kertas basah itu, berdiri sebuah pintu mahoni kokoh. Pintu ruang direktur. Pintu yang selalu Bram pandang dengan rasa iri dan lapar.
Saku celana Bram bergetar hebat. Panas.
Ia merogoh saku, panik. Dompetnya. Ia menarik dompet kulit itu keluar. Benda itu membara, membakar telapak tangannya. Ia membukanya. Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya berpendar dengan cahaya oranye redup.
Foto wajahnya di KTP itu bergerak. Wajah di foto itu menjerit tanpa suara, matanya melotot ketakutan, seolah sedang melihat hantu. Lalu, perlahan, wajah itu meleleh. Hidungnya merosot, matanya mencair menjadi lubang hitam, mulutnya menyatu dengan dagu.
Identitasnya sedang dihapus.
"Bukan!" Bram melempar dompet itu ke lantai. "Aku Bram! Aku masih hidup!"
"Hidup?" Siti di belakang tertawa kecil. Tawa yang terdengar seperti gesekan pisau di piring keramik. "Mas Bram lucu. Di sini tidak ada hidup atau mati, Mas. Yang ada hanya lunas atau belum."
Bram menatap lengannya yang menyatu dengan uang. Uang itu sekarang berdenyut seirama dengan jantungnya. Dug-dug. Dug-dug. Setiap detak mengirimkan rasa sakit yang ngilu ke seluruh tubuh. Uang itu bukan lagi benda mati. Ia parasit. Ia kanker. Dan ia lapar.
Ia mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Lututnya gemetar hebat. Insting purbanya berteriak: Lari. Jangan keluar. Tetap di bus. Tapi logika sakitnya membantah: Di dalam bus ada monster. Di luar mungkin ada jalan keluar.
"Keluar," perintah Jaka. Nadanya tidak bisa dibantah. Ia mengokang alat pembolong tiket di tangannya. Klik-klak. Suaranya seperti suara tulang patah.
Bram menyeret kakinya. Ia memeluk tas uang—atau apa yang tersisa dari tas itu yang belum menyatu dengan dagingnya. Ia melangkah menuju pintu terbuka. Udara di luar bus dingin, menusuk tulang, berbau toner fotokopi dan keputusasaan.
Ia turun dari tangga bus. Kakinya mendarat di karpet basah yang mengeluarkan bunyi crut. Cairan hitam merembes ke sepatunya. Tinta.
Ia menoleh ke belakang. Bus Laju Sanjaya tampak seperti rongsokan raksasa yang terdampar di tengah lautan kertas. Catnya mengelupas, memperlihatkan rangka besi yang menyerupai tulang rusuk. Jendela-jendelanya gelap, tapi ia bisa melihat siluet Darma yang masih menggeliat di dalam, dan Jaka yang berdiri di ambang pintu, mengawasi seperti sipir penjara neraka.
"Jangan lama-lama, Pak," kata Jaka datar. "Meteran argo tetap jalan. Semakin lama Bapak di luar, semakin mahal bayarannya."
Pintu bus tertutup dengan bantingan keras.
Bram sendirian. Di koridor memori yang membusuk.
Suara telepon berdering.
Kringgg... Kringgg...
Bunyinya bergema di lorong sempit itu. Sumbernya dari balik pintu mahoni di ujung sana. Pintu ruang direktur.
Tangan kanan Bram, tangan uangnya bergerak sendiri. Kejang. Jari-jarinya yang kaku dan bengkak oleh kertas uang mencengkeram udara, menarik tubuh Bram mendekat ke arah suara itu.
"Tidak, aku tidak mau..." rintih Bram. Tapi tubuhnya mengkhianati otaknya. Kakinya melangkah. Satu langkah. Dua langkah.
Dinding kertas di kiri-kanannya mulai berbisik. Tulisan-tulisan pada dokumen usang itu bergerak-gerak. Angka-angka berjatuhan dari kertas seperti serangga, merayap di lantai, mengerubungi sepatu Bram.
Korupsi... Manipulasi... Penggelapan...
Kata-kata itu bukan dibaca, tapi didengar. Bisikan ribuan suara yang menuduh.
Bram sampai di depan pintu mahoni. Gagang pintunya terbuat dari tulang manusia yang dipoles mengkilap.
Dering telepon di dalam semakin keras, memekakkan telinga, seolah memanggilnya pulang ke dalam dosa yang ia coba tinggalkan.
Bram mengangkat tangan kirinya yang masih normal untuk membuka pintu, tapi tangan kanannya—tangan iblis itu—lebih dulu bergerak, menghantam daun pintu dengan kekuatan yang bukan miliknya.
Pintu terbuka lebar.
Dan di dalam sana, duduk di kursi besar direktur, bukanlah bosnya. Bukan polisi. Bukan jaksa.
Yang duduk di sana, membelakangi Bram, adalah sosok yang mengenakan kemeja yang sama persis dengan yang Bram pakai saat ini. Potongan rambut yang sama. Postur bahu yang sama.
Kursi itu berputar perlahan.
Bram menahan napas, siap berteriak.
Sosok itu tidak memiliki wajah. Rata. Seperti manekin yang belum selesai dipahat. Namun, di tempat mulut seharusnya berada, terdapat sobekan vertikal yang dijahit kasar dengan benang emas. Di tangannya, sosok itu memegang gagang telepon yang kabelnya terputus, menjuntai seperti usus yang terburai.
Suara dari gagang telepon itu bukan nada sambung. Melainkan suara Bram sendiri, terekam dari masa lalu: "Tenang saja, tidak akan ada yang tahu. Sistemnya sudah saya atur."
Sosok tanpa wajah itu mengangkat gagang telepon ke arah Bram, seolah menawarkannya. Jahitan emas di mulutnya merenggang, mengeluarkan cairan hitam pekat.
Bram mundur selangkah. Tumitnya tersandung tumpukan kertas. Ia jatuh terduduk di genangan tinta.
Di belakangnya, suara klakson bus Laju Sanjaya terdengar. Panjang. Mengancam. Mengingatkan bahwa tidak ada tempat untuk lari. Bus itu menunggu. Tagihan itu menunggu. Dan Bram baru saja menyadari, ia bukan penumpang. Ia adalah kargo. Dan pengirimannya baru saja dimulai.