Lantai itu bergetar, mengirimkan gelombang mual yang merambat naik dari perut Bram hingga ke kerongkongan. Bukan gempa. Itu adalah detak jantung raksasa. Lantai ubin kantor yang dingin dan berlendir tinta itu berdenyut selaras dengan irama mesin bus yang sayup-sayup terdengar di kejauhan, seolah dinding realitas ini hanyalah selaput tipis yang memisahkan mimpi buruk dari mimpi buruk lainnya.
Sosok tanpa wajah itu tidak bergerak. Ia hanya menyodorkan gagang telepon yang pecah itu lebih dekat. Kabel telepon meliuk di udara seperti usus yang terurai, meneteskan cairan hitam pekat.
"Ambil," suara itu tidak datang dari mulut sosok itu, karena ia tidak memilikinya. Tapi terasa bergema langsung di dalam batok kepala Bram. Suara itu terdengar basah. Seperti daging yang diaduk.
Bram mundur. Tumitnya terpeleset di atas genangan tinta. Tangan kanannya, gumpalan daging yang telah menyatu dengan gepokan uang kertas, terasa panas. Uang-uang itu bukan lagi benda mati. Mereka adalah parasit. Serat kertas menembus pori-pori, menjahit dirinya dengan pembuluh darah. Denyut nadinya kini berwarna merah muda dan abu-abu.
"Aku bilang, ambil."
Gagang telepon itu melayang sendiri, menempel paksa ke telinga Bram.
Klik.
Suara statis memekakkan telinga. Lalu, suara itu muncul. Suaranya sendiri. Rekaman dari masa lalu.
"Tenang saja, Pak. Angkanya sudah saya atur. Nol-nya bisa kita geser. Sisanya masuk ke rekening 'dana taktis'. Aman."
Itu percakapan enam bulan lalu. Saat ia menjual integritasnya seharga renovasi rumah dan mobil baru.
"Siapa yang peduli? Mereka cuma angka di laporan, bukan manusia."
Bram memekik. Ia mencoba menepis telepon itu, tapi tangan kirinya kaku. Tangan kanannya, tangan uang itu justru bergerak sendiri. Jari-jari yang membengkak dan kaku mencengkeram lehernya sendiri. Uang itu mencekik tuannya.
"Kau membayarnya dengan murah," bisik sosok tanpa wajah itu. Ia berdiri. Tubuhnya yang mengenakan setelan jas mahal mulai meleleh. Kain wol Italia itu meluruh menjadi cairan aspal panas, menampakkan kerangka yang terbuat dari pipa besi berkarat dan kabel tembaga. "Sekarang, bunganya jatuh tempo."
Ruangan kantor itu mulai menyempit. Dinding-dinding merapat. Lukisan abstrak di dinding berubah menjadi jendela bus yang berembun, memperlihatkan kegelapan abadi di luar sana.
Tiba-tiba, jeritan lain membelah udara. Bukan dari telepon. Bukan dari Bram.
Itu suara Darma.
Dinding di sebelah kiri Bram menjadi transparan, seperti kulit bawang yang dikelupas. Di balik lapisan realitas itu, Bram melihat pemandangan yang membuat akalnya retak.
Darma tidak berada di kursi bus. Pengusaha tambun itu terpasung pada sebuah mekanisme jam raksasa yang berkarat. Gigi-gigi roda besi yang tajam berputar lambat, menggilas tubuhnya inci demi inci. Darah Darma tidak merah, melainkan emas cair yang mendidih. Ia meraung, memohon ampun, tapi mulutnya disumpal dengan arloji-arloji mewah yang terus berdetak mundur.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Setiap detik adalah sayatan baru. Waktu yang selama ini Darma kejar, waktu yang ia curi dari karyawannya, kini memakan dagingnya.
"Lihat," desis kerangka besi di depan Bram. "Dia membayar dengan waktu. Kau... kau membayar dengan apa yang kau genggam."
Rasa sakit di tangan kanan Bram meledak. Kulit di sekitar pergelangan tangannya robek. Uang kertas itu tumbuh, memanjang seperti jamur liar, menyerap darahnya untuk menjadi lebih tebal. Wajah Soekarno-Hatta di lembaran uang itu menyeringai, matanya berkedip menatap Bram dengan tatapan menghakimi.
"Tidak!" Bram berteriak. Naluri bertahan hidupnya yang purba mengambil alih.
Ia tidak berpikir. Ia menerjang.
Bram menabrakkan bahunya ke sosok kerangka besi itu. Benturan keras terjadi. Tulang bertemu logam. Sosok itu goyah, kehilangan keseimbangan. Bram tidak berhenti. Ia berlari menuju pintu kantor bertuliskan "KELUAR" yang kini berpendar merah menyerupai lampu rem kendaraan.
Lantai di bawah kakinya berubah tekstur. Dari ubin licin menjadi karpet kasar yang berdebu. Bau tinta dan aspal memudar, berganti dengan aroma apek, keringat basi, dan kemenyan.
Bram menendang pintu itu sekuat tenaga.
BRAKK!
Cahaya menyilaukan menerpa matanya. Angin dingin menampar wajahnya.
Ia terhuyung ke depan, jatuh berlutut di atas aspal kasar. Suara jangkrik. Bau tanah basah. Dingin.
Bram terengah-engah, menghirup udara malam yang segar. Ia meraba aspal di bawahnya. Kasar, nyata, solid. Ia menoleh ke belakang. Tidak ada kantor. Tidak ada monster tinta. Hanya kegelapan hutan jati di pinggir jalan Pantura.
"Aku keluar..." bisiknya, suaranya parau. Air mata merebak di sudut matanya. "Aku berhasil keluar..."
Ia melihat sekeliling. Sunyi. Hanya ada jalan raya panjang yang kosong. Ia bebas. Ia bisa membuang tas berisi uang ini, lari ke desa terdekat, dan memulai hidup baru. Persetan dengan uang. Persetan dengan korupsi. Ia masih hidup.
Bram mencoba bangkit. Namun, ada yang aneh.
Kakinya tidak bisa digerakkan.
Ia melihat ke bawah. Aspal itu... aspal itu menyatu dengan celana bahannya. Bukan, ia tidak berlutut di jalan raya.
Ia duduk.
Pandangannya menjernih. Ilusi hutan jati dan jalan raya itu pecah seperti kaca yang dipukul palu. Pecahan-pecahan visual itu runtuh, memperlihatkan kembali interior bus yang suram dan berkarat.
Bram tidak pernah keluar. Ia masih duduk di kursi 4A. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin. Pintu "KELUAR" yang ia tendang tadi hanyalah sandaran kursi di depannya.
"Mimpi indah, Mas?"
Suara serak itu datang dari lorong.
Jaka, sang kondektur, berdiri tegak di sana. Seragamnya kotor oleh noda oli dan darah kering. Matanya yang cekung menatap Bram tanpa emosi, seperti lubang hitam yang menelan cahaya. Di tangannya, ia memegang alat pembolong tiket logam yang berkarat.
Cklek-cklek.
Suara alat itu tajam, mengiris kesunyian kabin bus.
"Penumpang dilarang turun sebelum sampai tujuan," kata Jaka datar. Ia melangkah mendekat. Sepatu bot-nya beradu dengan lantai bus yang terbuat dari pelat besi berkarat, menimbulkan bunyi glodak yang berat.
Bram mundur, menekan punggungnya ke sandaran kursi. Ia melirik ke arah kursi Darma.
Kosong.
Hanya ada bercak basah berwarna keemasan di jok kursinya yang sobek. Dan sebuah jam tangan Rolex yang hancur, jarumnya berputar gila-gilaan berlawanan arah jarum jam.
Darma sudah diambil.
"Temanmu sudah bayar cicilan pertama," kata Jaka, mengikuti arah pandangan Bram. Ia menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang runcing dan hitam seperti paku berkarat. "Sekarang giliranmu, Mas Bram. Tiketnya harus divalidasi."
Jaka tidak meminta uang. Ia menatap tangan kanan Bram.
Tangan itu kini mengerikan. Uang kertas itu telah mengeras, membentuk cangkang pelindung yang menyakitkan. Jari-jarinya tidak lagi terlihat, tertutup sepenuhnya oleh lapisan uang yang membatu. Itu bukan lagi tangan. Itu adalah tumor keserakahan yang membusuk.
"Jangan..." Bram merintih. Ia mendekap tangan cacatnya ke dada. Bau busuk mulai tercium dari balik lapisan uang itu. Bau daging yang mengalami nekrosis.
"Kami tidak terima penolakan," Jaka membungkuk. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Bram. Napasnya bau belerang dan tanah kuburan. "Bus Laju Sanjaya selalu menagih tepat waktu."
Bus tiba-tiba mengerem mendadak. Ban mencicit, berdecit ngilu seolah karet bergesekan dengan tulang belulang, bukan aspal. Penumpang lain, sosok-sosok diam yang duduk di kegelapan, serentak menoleh ke arah Bram. Leher mereka berbunyi krak saat berputar dengan sudut yang tidak wajar.
Siti, wanita pucat di kursi depan, menoleh. Matanya putih semua. Buntalan kain di gendongannya bergerak-gerak liar, dan suara tangisan bayi terdengar, tapi bukan tangisan manusia. Itu suara kucing yang terjepit.
"Sudah sampai," bisik Siti.
Di luar jendela, kabut menipis. Tidak ada terminal. Tidak ada rumah makan.
Hanya ada tebing curam dengan batu-batu nisan yang mencuat miring dari tanah tandus. Dan di tengah-tengahnya, sebuah meja kantor tua berdiri kokoh di bibir jurang, lengkap dengan tumpukan berkas yang terbakar.
Jaka menegakkan tubuh, menunjuk ke pintu bus yang perlahan terbuka dengan suara hidrolik yang mendesis seperti ular.
"Silakan, Mas Bram. Rapat direksi sudah dimulai."