Bram tidak punya pilihan selain menuruti perintah itu.
Tubuhnya bergerak bukan karena kemauan sendiri, tapi ditarik benang-benang tak kasat mata yang dikendalikan rasa takut purba. Ia bangkit dari kursi. Sendi-sendinya berderit, memprotes kaku yang merayap seperti racun. Di lorong bus yang sempit, Jaka menyeringai. Gigi-gigi kondektur itu tampak terlalu banyak untuk mulut manusia, berdesakan, kuning, dan runcing seperti pecahan keramik toilet umum yang tidak terawat.
Bram menyeret kakinya. Langkah demi langkah. Berat. Setiap inci pergerakan terasa seperti berjalan di dasar rawa.
Tangan kanannya, benda asing yang dulu adalah tangan kanannya, terasa berdenyut liar. Rasa sakitnya bukan lagi sekadar ngilu, tapi panas membara. Uang kertas yang menempel di kulitnya telah bermutasi. Kertas-kertas merah bergambar pahlawan itu kini basah, berlendir, menyatu dengan daging. Mereka bukan lagi sekadar tempelan. Mereka adalah kista. Mereka adalah tumor yang hidup, memompa nanah berbau logam yang kini menetes pelan ke lantai bus yang berkarat.
Tess. Tess. Tess.
Bunyi tetesan itu terdengar nyaring di tengah keheningan bus.
Bram mencapai pintu keluar. Kabut tebal menunggu di luar, bergulung-gulung seperti ombak susu basi. Ia menoleh sekilas ke belakang. Siti masih duduk di bangku depan. Wanita itu tidak menoleh. Ia menunduk menatap buntalan kain di pangkuannya. Tangannya membelai kain lusuh itu dengan gerakan ritmis, obsesif.
"Sstt... diam ya, Nak. Bapak lagi kerja," bisik Siti. Suaranya kering, seperti gesekan daun mati.
Bram merinding. Ia membuang muka dan melompat turun.
Kakinya mendarat di tanah yang lunak. Bukan aspal. Bukan semen terminal. Ini tanah humus hutan, basah dan dingin. Namun, saat Bram mendongak, pemandangan di hadapannya membuat otaknya tersentak, gagal memproses logika visual.
Ini bukan hutan biasa.
Pepohonan jati raksasa menjulang tinggi, batang-batangnya hitam legam seolah hangus terbakar. Namun, di antara akar-akar yang menonjol keluar seperti urat nadi bumi, terdapat perabotan kantor. Lemari arsip besi yang penyok tertanam setengah badan di dalam lumpur. Kursi putar dengan busa yang menyembur keluar tergantung di dahan pohon seperti buah-buahan busuk. Ribuan kertas HVS berserakan di tanah, basah, tintanya luntur membentuk rorschach test yang mengerikan.
Dan di tengah pembukaan lahan sempit itu, tepat di bibir jurang yang menganga gelap, sebuah meja mahoni besar berdiri kokoh.
Itu meja direkturnya. Meja Pak Handoko.
Di atas meja, sebuah lampu belajar tua berkedip-kedip, satu-satunya sumber cahaya selain sorot lampu depan Bus Laju Sanjaya yang pucat di kejauhan. Di belakang meja itu, sebuah kursi direksi membelakangi Bram, menghadap ke kegelapan jurang.
"Silakan duduk, Saudara Bramantyo," suara itu datang dari kursi. Berat. Berwibawa. Tapi ada gema ganjil di dalamnya, seolah suara itu diucapkan dari dalam sumur tua.
Bram gemetar. Ia mengenali suara itu. Itu suara Pak Handoko. Tapi, Pak Handoko masih hidup di Jakarta, menikmati cerutu mahalnya. Tidak mungkin dia ada di sini.
"S-Saya... Saya mau pulang," cicit Bram. Nyalinya ciut menjadi seukuran biji jagung.
"Pulang?" Kursi itu berputar perlahan. Engselnya memekik, suara logam berkarat yang menyayat telinga. "Bukankah ini yang kamu inginkan? Posisi puncak? Kekuasaan? Uang?"
Kursi itu kini menghadap penuh ke arahnya.
Bram menahan napas. Paru-parunya serasa diperas.
Tidak ada orang di kursi itu.
Hanya ada setumpuk jas Armani yang rapi, kemeja putih yang licin, dan dasi sutra merah. Di mana seharusnya ada kepala dan tangan, hanya ada kegelapan pekat yang berputar. Asap hitam mengepul tipis dari kerah kemeja, membentuk siluet kepala yang terus berubah bentuk, kadang menyerupai wajah ayahnya yang kecewa, kadang wajah polisi yang mengejarnya, kadang wajahnya sendiri yang sedang menjerit.
"Laporan keuangannya, Bram," suara itu muncul langsung di dalam kepala Bram, melewati telinga, menusuk langsung ke korteks otaknya. "Neraca tidak seimbang. Ada defisit moral yang harus ditutupi."
Bram mundur selangkah. Tumitnya menabrak akar pohon yang mencuat. Ia jatuh terduduk di lumpur.
Tangan kanannya bereaksi. Tumor uang itu berdenyut kencang, seolah mengenali tuannya. Tas berisi uang curian yang ia bawa, yang kini telah menyatu dengan lengan kanannya terasa semakin berat, seolah berisi batu nisan, bukan kertas.
"Ambil!" teriak Bram histeris. Ia mencoba melepaskan tas itu. Ia menariknya sekuat tenaga. "Ambil semuanya! Aku nggak butuh! Lepasin aku!"
Tapi tas itu tidak bergerak. Tali kulit tas itu telah menjadi kulitnya. Ritsleting besinya telah menjadi tulang rusuk tambahan yang menembus daging lengan bawahnya. Ketika ia menariknya, rasa sakit yang luar biasa meledak. Kulitnya robek, tapi tidak ada darah merah yang keluar. Cairan yang muncrat berwarna emas kental, berbau bensin dan tembaga.
Makhluk jas kosong itu tidak bergerak, tapi suasana di sekitar mereka berubah.
Pohon-pohon di sekeliling mulai bergeser mendekat. Suara hutan malam, jangkrik, burung hantu, lenyap, digantikan oleh suara yang jauh lebih urban dan menekan: dering telepon yang tak kunjung diangkat, bunyi mesin fotokopi yang macet, dan suara ketikan keyboard yang panik dan tak berujung.
Tik-tik-tik-tik-tik.
Suara itu datang dari segala arah. Ribuan pegawai tak terlihat sedang mengetik vonis kematiannya.
"Aset tidak bisa dilepaskan begitu saja, Bram," suara itu terdengar geli. "Uang itu bukan lagi milikmu. Uang itu adalah kamu. Kamu makan dari uang haram, kamu minum dari keringat orang lain. Sekarang, kamu menjadi apa yang kamu makan."
Sosok itu mencondongkan tubuh atau setidaknya, jas itu condong ke depan. Lengan kemeja kosong itu terulur, menunjuk ke arah tangan kanan Bram yang membusuk.
"Kami butuh pembayaran angsuran pertama. Darma sudah melunasi bagiannya. Sekarang giliranmu."
Bram teringat Darma. Pengusaha tamak itu hilang begitu saja. Hanya menyisakan jam tangan yang pecah. Apakah Darma dimakan? Atau Darma menjadi salah satu dari pohon-pohon hitam ini?
"Apa... apa yang kalian mau?" Bram terisak. Air matanya bercampur dengan keringat dingin.
"Potong," perintah sosok itu.
Sebuah pisau pemotong kertas (paper cutter) tua muncul di atas meja mahoni. Bilahnya berkarat, bernoda cokelat tua yang jelas bukan tinta.
"Potong saldo berlebih itu. Serahkan pada manajemen."
Bram menatap tangan kanannya. Uang-uang kertas yang menjadi tumor itu kini bergerak-gerak seperti insang ikan yang sekarat. Di sela-sela lipatan uang Rp 10.000 yang basah, ia melihat sebuah mata kecil terbuka. Mata manusia. Mata itu miliknya sendiri, menatap balik padanya dengan tatapan memohon.
Ia harus memotong tangannya sendiri.
Jika tidak, infeksi keserakahan ini akan menjalar ke jantungnya. Ia bisa merasakannya—akar-akar uang itu mulai merambat naik ke bahu, menuju leher, mencekik alur pernapasannya.
"Cepat, Bram," desak suara itu, kali ini terdengar seperti Jaka si kondektur. "Bus mau berangkat. Kami tidak menunggu penumpang yang telat administrasi."
Bram merangkak mendekati meja. Bau lumpur bercampur dengan bau kertas tua yang apek. Ia meraih pisau pemotong kertas itu dengan tangan kirinya yang masih normal. Besi itu dingin, sedingin mayat.
Ia meletakkan lengan kanannya di atas meja mahoni. Tumor uang itu menggeliat, mencoba menarik diri, seolah tahu akan dieksekusi. Mata kecil di antara uang kertas itu berkedip panik.
"Maafkan aku," bisik Bram. Entah pada siapa. Pada Tuhan, pada ibunya, atau pada bagian dirinya yang masih manusia.
Ia mengangkat pisau itu tinggi-tinggi.
Dari arah bus, klakson berbunyi. Panjang. Rendah. Seperti lolongan binatang purba yang memanggil kawanannya untuk pesta makan malam.
Di kejauhan, di balik kabut, Bram melihat sesuatu yang lain. Di tepi jurang, bayangan-bayangan mulai bermunculan. Mereka bukan manusia. Mereka adalah bentuk-bentuk yang gagal. Sosok-sosok yang terbuat dari tumpukan faktur pajak, manusia yang terjerat kabel telepon, makhluk yang mulutnya dijahit dengan staples.
Para "karyawan" terdahulu.
Mereka menonton. Menunggu. Lapar akan potongan daging berlapis uang yang akan segera tersaji.
Bram memejamkan mata dan mengayunkan pisau itu ke bawah.
CRAK.
Bukan suara daging yang terpotong. Suaranya lebih mirip dompet kulit tebal yang dirobek paksa.
Jeritan Bram tertahan di tenggorokan, tersedak oleh gumpalan kertas yang tiba-tiba memenuhi mulutnya. Ia tidak bisa berteriak. Ia hanya bisa membelalak saat melihat bahwa yang keluar dari lukanya bukanlah tulang, melainkan koin-koin emas yang menggelinding jatuh, berdenting nyaring menghantam meja, satu per satu, menggelinding menuju kegelapan jurang sebagai persembahan bagi entitas yang lapar di bawah sana.
Sosok jas kosong itu bertepuk tangan. Pelan. Sarkastik.
"Transaksi diterima. Tapi bunganya... masih berbunga, Mas Bram."
Bus Laju Sanjaya menderu di belakangnya. Mesinnya menyala kembali, terdengar seperti perut raksasa yang keroncongan. Pintu bus terbuka, mengundang Bram kembali masuk untuk perjalanan menuju neraka berikutnya. Karena potongan tangan ini, ternyata, barulah uang muka.