Rasa sakit itu tidak datang seketika, melainkan merambat lambat seperti rayap yang menggerogoti tiang kayu basah. Bram ternganga. Mulutnya terbuka lebar dalam jeritan bisu yang tertelan kabut hutan jati. Ia menatap ujung lengan kanannya. Di sana, di tempat di mana pergelangan tangannya seharusnya berada, tidak ada semburan merah hangat yang memuncrat.
Tidak ada darah.
Yang keluar dari irisan daging itu adalah kepingan-kepingan logam emas. Ting. Ting. Ting...
Koin-koin itu berjatuhan ke tanah lembap, menimpa akar-akar pohon mahoni yang mencuat seperti jari-jari mayat. Bunyinya ganjil. Terlalu nyaring untuk hutan yang senyap. Potongan tangan kanannya masih menggenggam erat pulpen emas curian, tergeletak kaku di atas meja direktur itu. Benda itu kini tampak asing. Sebuah objek mati. Namun, jari-jarinya masih bergerak-gerak pelan, seolah sedang menghitung uang yang tak kasat mata.
"Lunas untuk tahap ini," suara itu bukan berasal dari telinga, tapi bergetar langsung di batang otak Bram. Sosok 'Jas Kosong' itu tidak memiliki kepala, namun kerah kemeja putihnya yang kaku seakan menunduk hormat.
Bram mundur terhuyung. Kakinya tersandung akar. Keseimbangannya hilang karena bobot tubuh yang kini tak simetris. Ia jatuh terduduk di lumpur yang berbau tinta busuk.
Klontang.
Satu keping emas menggelinding dari lukanya, jatuh tepat di depan sepatu kulitnya yang berlumpur. Bram memungutnya dengan tangan kiri yang gemetar hebat. Keping itu dingin. Sedingin es. Di permukaannya bukan tercetak wajah pahlawan atau lambang negara, melainkan wajahnya sendiri yang sedang menjerit kesakitan.
"Naiklah," suara serak memecah kesunyian.
Bram menoleh. Bus Laju Sanjaya masih di sana. Mesinnya menderu rendah, seperti napas binatang buas yang sedang tidur ayam. Pintu lipat berkarat itu terbuka dengan desisan hidrolik yang menyerupai desah napas orang sekarat. Di ambang pintu, Jaka berdiri. Kondektur itu menatap Bram dengan mata yang selaput putihnya terlalu dominan.
Tidak ada belas kasihan di wajah Jaka. Hanya ketidaksabaran mekanis. Ia mengetuk-ngetukkan alat pembolong tiket ke tiang besi bus. Tek. Tek. Tek. Irama itu selaras dengan denyut nyeri di ujung lengan buntung Bram.
Dengan sisa tenaga yang dipaksa dari sumsum ketakutan, Bram bangkit. Ia memeluk sisa lengan kanannya ke dada. Ia harus kembali ke bus. Hutan kantor ini, dengan meja-meja birokrasi yang tumbuh dari tanah dan laci-laci arsip yang tertanam di batang pohon mulai melarut. Kabut asam mulai naik, melelehkan vernis meja mahoni tempat tangannya tergeletak.
Bram melangkah tertatih menaiki tangga bus. Logam dingin tangga itu terasa menusuk telapak kakinya yang terbungkus sepatu tipis.
"Tiket," tagih Jaka. Tangannya menengadah. Kuku-kukunya hitam, seperti habis menggali tanah kuburan.
Bram tertegun. "A-aku sudah bayar..." Ia mengangkat puntung lengannya. Emas masih menetes satu-satu. Tik. Tik.
Jaka tidak melihat ke arah luka itu. Ia menatap mata Bram. "Itu pembayaran untuk keluar dari sana. Ini tiket untuk masuk kembali. Jangan rancu."
Bram merogoh saku celananya dengan tangan kiri. Kosong. Dompetnya ada di tas yang tertinggal di kursi... atau mungkin sudah menyatu dengan daging bus itu sendiri. Ia panik. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipis.
Jaka menyeringai. Deretan giginya tampak seperti paku-paku berkarat yang ditanam sembarangan di gusi yang bengkak. Ia mengulurkan tangan, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia menyeka tetesan emas yang baru saja keluar dari luka Bram dengan jari telunjuknya.
Ia menjilat emas cair itu.
"Manis," gumam Jaka. Matanya terpejam sesaat, menikmati rasa penderitaan murni. "Duduklah. Di belakang. Jangan kotori lantai dengan remah-remahmu."
Bram menyeret kakinya menyusuri lorong bus. Suasana di dalam Laju Sanjaya terasa lebih padat dari sebelumnya. Udara berbau kamper, keringat basi, dan tembakau menyengat, bau Pak Tua yang tak pernah beranjak dari kursi kemudi.
Penumpang lain tidak menoleh. Mereka seperti patung lilin yang hampir leleh.
Darma, si pengusaha, duduk meringkuk di kursi 4A. Ia menggumamkan angka-angka tak jelas. Matanya terpaku pada jam tangan mahalnya. Kaca jam itu retak. Jarumnya bergetar hebat di angka dua belas, seolah ingin melepaskan diri dari porosnya tapi tertahan oleh gaya magnet tak terlihat.
"Belum waktunya... belum jatuh tempo..." bisik Darma berulang-ulang. Air liur menetes dari sudut bibirnya, membasahi kerah kemeja sutranya yang kini tampak kusam dan berjamur.
Bram melewatinya. Ia melihat kulit wajah Darma. Pori-porinya membesar, dan di dalamnya tampak ada sesuatu yang bergerak. Seperti cacing-cacing halus di bawah epidermis. Darma tidak sedang berkeringat; ia sedang bocor.
Di kursi seberang, Siti masih menimang buntalan kainnya. "Ssst... jangan menangis, Nak. Bapakmu cuma pergi sebentar. Dia cuma pergi beli rokok..." Ia menyenandungkan lagu pengantar tidur yang nadanya sumbang. Salah satu ujung kain buntalan itu tersibak sedikit.
Bram memalingkan wajah. Ia sempat melihat sekilas. Tidak ada bayi di sana. Hanya sebongkah batu nisan tua yang retak, dibungkus kain jarik yang penuh noda tanah merah.
Bram menghempaskan tubuhnya di kursi paling belakang. Kursi itu dingin dan lembap, teksturnya kasar seperti lidah sapi. Ia menekan sisa lengannya ke sandaran kursi di depannya, mencoba menghentikan aliran koin emas itu. Sakitnya kini berubah. Bukan lagi perih irisan pisau, melainkan rasa gatal yang menjalar ke dalam tulang. Rasa gatal yang menuntut untuk digaruk, tapi sumber gatalnya ada di sumsum.
Bus tersentak...
Pak Tua menginjak gas. Roda-roda bus melindas kerikil, atau mungkin tulang belulang saat Laju Sanjaya kembali bergerak menembus kabut pekat Jalur Pantura yang tak berujung.
Bram memejamkan mata, mencoba mengatur napas. Aku selamat, pikirnya. Aku mengorbankan tangan itu, tapi aku masih hidup. Uangnya... uangnya masih ada di dalam diriku.
Ironi itu menghantamnya. Ia melarikan diri untuk menyelamatkan uang hasil korupsinya. Sekarang, tubuhnya memproduksi uang itu, tapi ia harus memotong tubuhnya sendiri untuk membelanjakannya. Ia adalah mesin ATM yang rusak dan berdarah.
"Jangan senang dulu, Mas," suara wanita terdengar dari samping.
Bram tersentak. Siti sudah berdiri di lorong, tepat di samping kursinya. Wajahnya pucat pasi, seperti bedak yang dipoleskan di atas kulit mayat yang sudah diawetkan formalin. Matanya hitam total, tanpa sklera.
"Kenapa?" tanya Bram, suaranya parau.
"Tangan itu..." Siti menunjuk dengan dagunya ke arah buntung lengan Bram. "Itu cuma uang muka. Bunganya berjalan harian."
"Maksudmu?"
"Laju Sanjaya tidak pernah memberikan tumpangan gratis. Kau pikir kau sudah bayar? Kau baru saja membuka rekening utang." Siti tersenyum sedih. Bibirnya robek di bagian sudut, memperlihatkan daging yang kelabu. "Setiap kilometer di sini dihitung dengan dosa. Semakin berat dosamu, semakin mahal tiketnya."
Bus berguncang hebat. Lampu kabin berkedip-kedip, mati nyala, mati nyala. Setiap kali lampu mati, kegelapan di dalam bus terasa hidup. Bayangan-bayangan di sudut kabin memanjang, membentuk siluet tangan-tangan yang ingin meraih.
Bram merasakan sesuatu yang aneh pada lukanya. Lukanya tidak menutup. Daging di ujung potongan itu mulai mengeras. Bukan menjadi keropeng, tapi menjadi logam solid. Kulitnya berubah warna menjadi keemasan kusam. Transformasi itu merambat naik, perlahan, menuju sikunya.
Ia akan berubah menjadi patung emas jika ia tidak hati-hati. Ia akan menjadi monumen keserakahannya sendiri, terpajang abadi di dalam bus hantu ini.
"Kita mau ke mana?" tanya Bram putus asa. Ia mencengkeram lengan kursi. Kulit jok kursi itu terasa hangat dan berdenyut di bawah telapak tangan kirinya.
Jaka muncul dari kegelapan di depan, berjalan mundur menyusuri lorong dengan gerakan patah-patah. Suaranya menggema, tumpang tindih dengan suara mesin bus yang menderu seperti jeritan ribuan orang.
"Pemberhentian berikutnya," seru Jaka lantang, layaknya kondektur normal di terminal siang hari, namun nadanya penuh ancaman. "Rest Area Penagihan! Bagi penumpang bernama Darma, persiapkan aset Anda!"
Darma menjerit di kursinya. Ia melompat berdiri, tapi kakinya seolah terpaku ke lantai bus. "Tidak! Belum! Jamku belum berbunyi! Jamku masih berhenti!" Ia memukul-mukul jam tangannya ke kaca jendela. Prang. Prang. Kaca itu tidak pecah, malah melengkung elastis seperti karet, memantulkan wajah Darma yang terdistorsi.
Bram melihat pemandangan di luar jendela berubah. Hutan jati yang gelap gulita lenyap. Digantikan oleh dinding-dinding beton yang tinggi menjulang di kiri kanan jalan. Dinding itu penuh dengan loket-loket kecil yang tertutup teralis besi. Di balik teralis itu, tangan-tangan pucat menjulur keluar, meminta-minta.
Jalanan yang dilalui bus bukan aspal. Itu adalah tumpukan dokumen. Kertas-kertas tagihan, surat sita, dan sertifikat tanah yang terbakar. Bus melaju di atas puing-puing kebangkrutan.
"Tolong saya!" Darma menoleh ke belakang, menatap Bram. Matanya membelalak, urat-urat lehernya menonjol biru. "Bram! Kau bawa uang tunai, kan? Pinjami saya! Saya ganti sepuluh kali lipat! Seratus kali lipat! Bayarkan tiket saya!"
Bram membeku. Ia menatap buntung tangannya. Emas itu adalah darahnya sekarang. Jika ia memberikan "uang" itu pada Darma, itu artinya ia harus memotong bagian tubuhnya yang lain. Kaki? Telinga? Atau mungkin... matanya?
"Tidak bisa," bisik Bram. Egoismenya kembali mengambil alih. Rasa takut akan kehilangan diri sendiri lebih besar daripada rasa kasihan.
Darma meraung. Tubuhnya mulai tersedot ke dalam kursi. Jok bus itu, yang tadi terasa seperti kulit kering, kini membuka seperti mulut raksasa yang lapar. Jahitan-jahitannya meregang, menjadi gigi-gigi benang yang tajam. Kursi itu menelan kaki Darma.
"Bram! Bajingan kau!" maki Darma. "Kau pikir kau aman? Kau antrean selanjutnya! Kau dengar? Selanjutnya!"
Bus mengerem mendadak.
Bram terlempar ke depan, menabrak sandaran kursi. Rasa sakit meledak di bahu kanannya. Kepingan emas kembali berhamburan dari lukanya, menggelinding di lorong bus, bercampur dengan teriakan Darma yang mulai tenggelam ditelan kursi 4A.
Pintu bus terbuka.
Di luar, tidak ada rest area. Yang ada hanyalah sebuah jurang menganga dengan api biru yang menyala jauh di dasarnya. Dan di tepi jurang itu, berdiri sosok-sosok tinggi besar membawa buku besar dan cambuk api. Penagih utang dari neraka.
Jaka berdiri di samping Darma yang kini hanya tinggal separuh badan tertelan kursi. Kondektur itu mencengkeram kerah Darma dan menariknya paksa keluar dari 'mulut' kursi, lalu menyeretnya ke arah pintu terbuka.
"Saatnya bayar, Pak," bisik Jaka.
Bram hanya bisa menonton, menggigil di sudut, sambil mendekap lengannya yang terus menerus meneteskan kekayaan yang mematikan. Ia sadar, perjalanan ini baru saja dimulai, dan tarifnya akan semakin mahal.
Bus Laju Sanjaya tidak pernah kehabisan bahan bakar, selama penumpangnya masih memiliki dosa untuk dibakar.