Sentakan itu tidak memberinya ampun, melempar tubuhnya melewati ambang pintu bus yang berkarat, langsung menghantam permukaan dingin yang bukan aspal, melainkan genangan pekat berbau tengik.
Bram terjerembap. Cairan hitam itu menciprat ke wajahnya, masuk ke mulutnya. Rasanya asin. Seperti darah tua dicampur tinta stempel. Ia terbatuk, memuntahkan cairan asing itu sambil berusaha bangkit. Lututnya menghantam sesuatu yang keras di dasar genangan. Ubin. Ubin keramik putih standar pemerintah, kini retak-retak dan tertutup lumpur berminyak.
Ia tidak berada di jalan raya. Ia berada di sebuah koridor panjang tanpa ujung.
Cahaya lampu neon di langit-langit berkedip-kedip sekarat, mengeluarkan dengungan listrik yang terdengar seperti lalat yang terjebak di dalam telinga. Dinding-dinding di kiri dan kanannya terkelupas, memamerkan beton yang basah dan berjamur. Di sepanjang lorong itu, tumpukan lemari arsip besi berkarat berdiri miring, memuntahkan ribuan kertas basah yang mengambang di permukaan air setinggi betis.
Ini kantornya. Atau setidaknya, bangkai dari kantornya.
Bram merangkak mundur, matanya terbelalak liar. Napasnya memburu, uap putih keluar dari hidungnya meski udara terasa lembap dan panas. Ia menoleh ke arah bus Laju Sanjaya. Kendaraan raksasa itu masih di sana, mesinnya menderu rendah seperti binatang buas yang sedang mengunyah tulang. Roda-roda bus terendam dalam lumpur hitam koridor ini, seolah bus itu telah tumbuh dari lantai birokrasi yang busuk ini.
Jaka berdiri di tangga pintu bus. Seragam kondekturnya yang kusam tampak kering sempurna, kontras dengan kekacauan basah di sekeliling Bram. Pria itu tidak tersenyum. Wajahnya datar, matanya kosong seperti lubang sumur tua. Ia hanya menatap Bram yang menggigil di dalam kubangan.
"Tunggu! Jangan tinggalkan saya!" Bram berteriak, suaranya pecah. Ia mencoba berdiri, tetapi tubuhnya miring ke kanan. Berat. Terlalu berat.
Ia menoleh ke lengan kanannya.
Lengan itu bukan lagi daging dan tulang. Emas kasar yang menyelimutinya kini telah memadat sepenuhnya, membentuk patung lengan yang grotesk. Jari-jarinya terkunci permanen dalam posisi mencengkeram, posisi seorang pencuri. Logam mulia itu tidak berkilau indah; warnanya kusam, berpori, dan ditumbuhi lumut hijau di sela-sela persendiannya. Beratnya luar biasa, seolah ia sedang menyeret jangkar kapal.
Bram mencoba mengangkat tangannya, tetapi otot bahunya menjerit kesakitan. Tulang selangkanya terasa mau patah menahan beban dosa yang ia kumpulkan sendiri. Ia jatuh lagi. Wajahnya kembali menghantam air keruh. Kali ini, ia melihat sesuatu di bawah permukaan air.
Wajah.
Bukan pantulan wajahnya sendiri. Wajah seorang lelaki tua, bengkak karena air, matanya putih tanpa pupil. Wajah itu terbenam di antara tumpukan formulir perizinan yang basah. Mulut mayat itu terbuka, mengeluarkan gelembung udara kecil.
Bram memekik, mundur dengan panik menggunakan kaki dan tangan kirinya. Ia menabrak lemari arsip. Suara logam beradu menggema di lorong sunyi itu. Klang.
Di dalam bus, di balik punggung Jaka, Bram bisa melihat Siti. Wanita itu masih duduk di bangku kayu reyotnya, memeluk buntalan kain kumal itu semakin erat. Siti tidak melihat ke arah Bram. Ia menatap kosong ke arah jendela yang gelap, bibirnya bergerak-gerak melantunkan sesuatu yang tak terdengar. Namun, dari gestur tubuhnya yang kaku, Bram tahu wanita itu ketakutan. Buntalan di pelukannya bergerak—bukan gerakan bayi manusia, melainkan geliat sesuatu yang lunak dan tak bertulang. Kain itu basah, merembeskan cairan kuning kejijikan.
Bram sadar. Siti tidak akan menolongnya. Tidak ada yang akan menolongnya.
"Jaka! Tolong!" Bram merangkak mendekati tangga bus, menyeret lengan emasnya yang mati rasa di atas ubin licin. Suara gesekan logam emas dengan keramik terdengar ngilu, kreeek yang panjang dan menyayat hati. "Aku punya uang! Di tas itu! Ambil semua! Biarkan aku naik lagi!"
Jaka tidak bergeming. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan peluit perak yang sudah penyok. Ia meniupnya.
Tidak ada suara peluit yang keluar. Yang terdengar justru suara jeritan wanita dari kejauhan. Melengking, penuh penderitaan.
Suara itu datang dari ujung lorong gelap di belakang Bram.
Bram menoleh kaku. Di kegelapan koridor yang tak terjangkau cahaya neon, bayangan-bayangan mulai bermunculan. Mereka tidak berjalan. Mereka mengambang, terseret arus air hitam yang perlahan naik. Sosok-sosok dengan pakaian dinas yang robek, petani dengan caping hancur, ibu-ibu yang menggendong anak kurus kering.
Mereka adalah orang-orang yang dananya ia sunat. Orang-orang yang izin usahanya ia persulit demi amplop tebal. Orang-orang yang mati perlahan karena keserakahan yang ia anggap sebagai "komisi wajar".
Bau anyir darah tiba-tiba menyeruak, mengalahkan bau apek kertas basah.
"Pak Bram..."
Bisikan itu datang serentak, bergema dari dinding ke dinding. Bukan dari mulut mereka, tapi langsung ke dalam kepala Bram. Suara itu basah, berlendir.
"Berkasnya belum lengkap, Pak..." "Tanda tangannya kurang, Pak..." "Anak saya lapar, Pak..."
Bram menjerit, "Diam! Itu bukan salahku! Itu sistem! Semua orang melakukannya!"
Ia mencoba berdiri lagi, memacu adrenalin yang tersisa. Dengan sisa tenaga, ia menerjang ke arah tangga bus. Tangan kirinya yang masih manusia berhasil mencengkeram besi pegangan pintu. Dinginnya besi itu menusuk kulit, tapi itu adalah satu-satunya tali penyelamatnya.
"Naikkan aku, bangsat!" maki Bram, matanya melotot menatap Jaka.
Jaka menunduk perlahan. Ia menatap jari-jari Bram yang memutih mencengkeram besi. Lalu, dengan gerakan santai, kaki Jaka yang bersepatu bot militer terangkat.
Bruk.
Tumit bot itu menginjak jari-jari Bram. Tidak keras, tapi cukup untuk meremukkan ego dan tulang.
"Tiket hangus," suara Jaka terdengar parau, seperti gesekan dua batu nisan. "Muatan berlebih."
Bram melolong kesakitan, refleks melepaskan pegangannya. Ia jatuh kembali ke dalam banjir limbah birokrasi. Air hitam itu kini sudah naik setinggi pinggang. Arus menjadi lebih deras, menariknya menjauh dari bus.
Mesin Laju Sanjaya meraung. Asap hitam pekat menyembur dari knalpotnya, memenuhi koridor sempit itu, membuat mata perih dan napas sesak. Pintu lipat bus itu mulai menutup perlahan, berdecit seolah engselnya menangis.
"Tunggu! Jangan!" Bram menggapai-gapai. Lengan emasnya yang berat menariknya ke bawah, membenamkannya ke dalam air yang menjijikkan.
Di sela-sela celah pintu yang menyempit, Bram melihat Darma. Pengusaha tamak itu berdiri di lorong bus, wajahnya pucat pasi. Ia menatap Bram bukan dengan rasa kasihan, tapi dengan teror murni, menyadari bahwa nasib yang sama sedang mengantre untuknya. Jam tangan di pergelangan Darma, yang tadinya mati, kini jarum detiknya bergetar hebat, berputar mundur dengan kecepatan gila.
Pintu tertutup rapat. Bam.
Klakson bus berbunyi. Bukan suara klakson, melainkan suara terompet sangkakala yang sumbang dan rendah. Bus itu mulai bergerak mundur, rodanya menggilas tumpukan arsip, menjauh dari Bram.
Bram sendirian.
Tidak, tidak sendirian.
Arus air berhenti mengalir. Keheningan yang tiba-tiba turun lebih menakutkan daripada kebisingan mesin tadi. Cahaya neon di atasnya mati satu per satu, dari ujung lorong menuju ke tempatnya berdiri, menyisakan kegelapan total.
Hanya ada satu suara sekarang. Suara kecipak air. Sesuatu sedang berjalan mendekat dari dalam kegelapan. Langkah kaki yang berat, basah, dan menyeret.
Bram meraba-raba saku celananya dengan tangan kiri yang gemetar, mencari korek api, mencari apa saja yang bisa memberi cahaya. Lengan kanannya terasa panas, seolah emas itu kini meleleh membakar kulitnya. Rasa sakit itu nyata. Rasa takut itu purba.
"Materai..." suara itu berdesis tepat di belakang telinganya. Dingin. Bau tanah kuburan. "Kami butuh materai darah..."
Sesuatu yang dingin dan licin melingkar di leher Bram. Bukan tali. Itu usus.
Bram mencoba berontak, tapi lengan emasnya memaku posisinya di tempat. Ia sadar, di kegelapan abadi koridor kantornya sendiri, tidak ada tempat untuk sembunyi dari mereka yang ia hisap hidup-hidup. Birokrasi neraka baru saja membuka loketnya.