Timbangan Tak Berkesudahan

Penulis djoedo
19 January 2026

Bram mencakar lehernya sendiri. Kuku-kukunya merobek kulit, berusaha mengurai lilitan basah itu, namun sia-sia. Bau busuk menyeruak. Amis darah bercampur aroma formalin tua. Usus itu mengetat. Menekan batang tenggorokan hingga tulang rawannya bergemeretak.

Ia tersedak. Air hitam pekat, campuran tinta, lumpur, dan daki birokrasi terasa membanjiri mulutnya. Asin. Pahit.

Tangan kanannya, bongkahan emas murni yang kini seberat jangkar kapal, menyeretnya ke dasar. Ia tenggelam. Bukan ke lantai keramik kantor yang dulu ia injak dengan sepatu mengkilap, melainkan ke dalam lubang tanpa dasar. Arsip-arsip basah melayang di sekelilingnya seperti ubur-ubur mati. Wajah-wajah pucat menyembul dari balik tumpukan kertas. Mata mereka putih. Mulut mereka menganga, menjeritkan bisu dalam air keruh.

Itu rekan kerjanya. Itu klien yang ia tipu. Itu orang-orang yang gajinya ia potong demi komisi haram.

Mereka tidak berenang. Mereka menunggu.

Satu tangan pucat mencengkeram kaki kirinya. Dinginnya menembus celana kain, membakar kulit. Tangan lain menyusul. Mencengkeram pinggang. Menarik bahu. Mereka menginginkan emas itu. Mereka menginginkan daging yang menempel pada emas itu.

Paru-paru Bram menjerit minta udara. Pandangannya memutih. Di ambang kesadaran yang memudar, ia melihat sesuatu di atas permukaan air. Bukan langit-langit kantor.

Dua titik cahaya kuning. Redup. Menyakitkan mata.

Suara klakson membelah keheningan bawah air. Telolet yang sumbang, berat, dan terdengar seperti terompet sangkakala dari neraka. Getarannya merambat lewat air, menghantam dada Bram, merontokkan cengkeraman mayat-mayat di kakinya.

Lilitan usus di lehernya mengendur, seolah takut pada suara itu.

Bram menendang sekuat tenaga. Tangan emasnya terasa ingin mematahkan bahunya sendiri saking beratnya, tetapi ia terus mengayuh. Ia memecah permukaan air.

"Hah... Hah..."

Ia terbatuk hebat. Memuntahkan cairan hitam ke lantai bus yang berkarat.

Bukan air. Bukan kantor.

Ia kembali terkapar di lorong bus Laju Sanjaya. Basah kuyup. Bau bangkai.

Pintu lipat bus menutup dengan bantingan keras. Brak. Suara hidrolik tua mendesis panjang, seperti desah napas terakhir orang sekarat.

Jaka berdiri di sana. Seragam kondekturnya kucel, berminyak di bagian ketiak dan leher. Ia menatap Bram dari ketinggian dengan mata yang tersembunyi di balik bayangan topi. Tidak ada belas kasihan. Hanya kalkulasi dingin.

"Belum sampai," suara Jaka serak, seperti gesekan kertas amplas kasar. "Duduk."

Bram mencoba bangkit. Tubuhnya gemetar hebat. Tangan kanannya—lengan emas itu—menghantam lantai besi bus. Teng! Suaranya nyaring, bergema di kabin yang sempit. Logam mulia itu kini telah merambat naik melewati siku. Urat-urat di lengan atasnya mulai mengeras, berubah warna menjadi kuning tembaga yang menjijikkan.

Sakitnya bukan main. Seperti ada timah panas yang dialirkan perlahan menggantikan darah.

"Tolong..." rintih Bram. Ego priyayinya lenyap. Ia hanyalah binatang yang ketakutan.

Jaka tidak bergerak. Ia hanya menunjuk kursi kosong di barisan belakang dengan dagunya. Gerakan mekanis. Kaku. Seperti wayang yang ditarik dalang tak terlihat.

Bram menyeret tubuhnya. Setiap inci pergerakan adalah siksaan. Lengan emasnya menyangkut di kaki kursi, memaksanya menarik dengan tenaga sisa. Ia akhirnya jatuh terduduk di kursi pelapis vinil yang robek-robek. Busa kursi itu lembap, berbau apek dan keringat lama yang tak pernah kering.

Bus mulai bergerak.

Mesin menderu kasar. Getarannya merasuki tulang ekor Bram. Di luar jendela, pemandangan kantor yang banjir tadi sudah lenyap. Tidak ada lagi lemari arsip atau mayat mengapung.

Hanya kabut.

Kabut abu-abu tebal yang berputar-putar, sesekali membentuk siluet pohon-pohon raksasa dengan dahan menyerupai lengan manusia yang memohon. Hutan pegunungan Jawa Tengah yang tidak terpetakan. Atau mungkin bukan Jawa Tengah lagi.

Bram menoleh ke samping.

Darma mendadak duduk dua baris di depannya. Pengusaha itu tidak lagi melihat jam tangannya. Ia menatap lurus ke depan dengan mata melotot. Keringat sebesar biji jagung mengalir deras di pelipisnya. Mulutnya komat-kamit tanpa suara.

Bram merasakan dia sudah mulai kehilangan kewarasannya. Bukankah Darma tadi sudah?

Di tangan Darma, ada segumpal tanah merah yang ia remas-remas. Tanah kuburan.

"Pak..." panggil Bram lemah.

Darma menoleh patah-patah. Lehernya berbunyi krek.

Tatapan Darma jatuh pada lengan emas Bram. Matanya melebar. Bukan takut. Lapar. Ada kilatan keserakahan murni yang menembus lapisan teror di wajahnya.

"Indah..." bisik Darma. Suaranya bergetar. "Murni..."

Bram menyembunyikan lengan itu di balik jasnya yang basah dan kotor. Ia merasa jijik. Bukan pada Darma, tapi pada dirinya sendiri. Emas ini adalah kanker.

Di kursi paling belakang, suara senandung lirih terdengar.

Lelo... lelo... ledung...

Siti.

Wanita itu menimang buntalan kain jariknya lebih erat. Kain itu kini basah di bagian bawah. Cairan kental berwarna merah gelap menetes pelan ke lantai bus. Tetes. Tetes. Tetes. Iramanya sinkron dengan detak jantung Bram yang memburu.

"Ssttt... jangan nangis, Nak. Bapakmu sebentar lagi datang," bisik Siti pada buntalan itu.

Tidak ada suara tangisan bayi. Hanya suara gemericip basah, seperti daging yang diaduk.

Bram memalingkan wajah ke jendela. Kaca bus itu dingin, berembun di bagian dalam. Ia mengusapnya dengan tangan kirinya yang masih normal.

Di luar, di tengah kabut yang bergulung, ia melihat sesuatu berlari sejajar dengan bus.

Sosok tinggi. Kurus. Hitam legam. Kakinya terbalik.

Makhluk itu tidak memiliki wajah, hanya lubang hitam vertikal di tempat seharusnya hidung berada. Ia berlari dengan kecepatan mustahil, melompati parit dan batu besar tanpa suara. Tangannya yang panjang sesekali menggaruk kaca jendela tepat di samping telinga Bram.

Srekkk.

Bram tersentak mundur. Jantungnya serasa mau copot.

Bus tidak melambat. Pak Tua di kursi kemudi tetap tenang, seolah ia sedang menyetir di jalan tol lengang, bukan di jalan setapak neraka yang diapit jurang dan entitas tak bernama. Asap rokok klembak menyan mengepul dari balik kemudi, menyebar ke seluruh kabin, menyamarkan bau amis darah dan busuknya air limbah.

Jaka berjalan menyusuri lorong. Ia memegang alat pembolong tiket—sebuah benda logam tua yang berkarat. Ia berhenti di samping kursi Bram.

"Tiket," tagih Jaka.

Bram meraba saku celananya dengan tangan kiri. Kosong. Tiket kulit manusianya hilang saat ia tenggelam tadi.

"Hi... hilang," gagap Bram. "Jatuh di air tadi."

Jaka membungkuk. Wajahnya mendekat. Bau napasnya seperti kapur barus dan tanah basah.

"Tidak ada yang hilang di sini, Mas Bram," bisik Jaka. "Hanya berubah bentuk."

Jaka menunjuk lengan emas Bram.

Bram menunduk. Di permukaan emas kasar yang menutupi lengannya, di antara tekstur logam yang bergelombang, tercetak samar sebuah tulisan timbul. Huruf-hurufnya kuno, seperti ukiran pada nisan Belanda.

LAJU SANJAYA - KELAS EKSEKUTIF - SATU JALAN.

Tiket itu kini menjadi bagian dari dagingnya. Menyatu dengan kutukannya.

"Pembayaran selanjutnya di pos depan," kata Jaka tegak kembali. "Persiapkan diri. Bukan uang yang laku di sana."

"Pos apa?" tanya Bram putus asa. "Kita mau ke mana?"

Jaka tidak menjawab. Ia berjalan menuju Darma.

"Pak Darma," panggil Jaka. Nada suaranya sedikit lebih tinggi, lebih mendesak.

Darma tersentak. Gumpalan tanah di tangannya hancur berhamburan.

"Belum! Belum waktunya!" teriak Darma histeris. Ia berdiri, menabrak sandaran kursi di depannya. "Jamku mati! Lihat! Jamku mati di angka dua belas! Belum ganti hari!"

Jaka mencengkeram bahu Darma. "Waktu Bapak sudah habis sejak tikungan Alas Roban tahun lalu."

Darma menjerit. Jeritan yang bukan berasal dari pita suara manusia, melainkan dari jiwa yang sadar ia sedang dikuliti.

Bus mendadak oleng ke kiri. Ban karetnya melindas sesuatu yang besar dan keras. Guncangannya melempar Bram hingga kepalanya membentur kaca jendela.

Tas berisi uang ratusan juta milik Bram tergelincir dari bawah kursi. Tas itu terbuka sedikit.

Bukan uang bergambar pahlawan yang mengintip dari sana.

Kertas-kertas itu telah berubah menjadi daun kering yang rapuh dan abu rokok. Ratusan juta rupiah yang ia pertaruhkan nyawanya, yang membuatnya lari meninggalkan anak istrinya, kini tak lebih berharga dari sampah di musim kemarau.

Bram mematung. Emas di lengannya memberat. Uangnya menjadi sampah. Realitasnya runtuh.

Ia sendirian. Di dalam kaleng kerupuk berjalan yang melaju menembus dimensi kegilaan, dikelilingi orang mati, dengan tiket yang terukir di dagingnya sendiri.

Pak Tua membunyikan klakson lagi. Kali ini nadanya panjang. Menyayat.

Di depan sana, kabut mulai tersibak. Sebuah gerbang tua dari besi berkarat tampak menjulang. Di atasnya, tergantung papan kayu lapuk dengan tulisan cat merah yang meleleh:

POS PEMBAYARAN I: HUTANG NYAWA.

Bus tidak mengerem. Malah, Pak Tua menginjak gas lebih dalam. Mesin meraung lapar. Laju Sanjaya meluncur masuk ke dalam kegelapan mulut gerbang itu.