Pos Penagihan Pertama

Penulis djoedo
19 January 2026

Gelap itu bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan materi hidup yang pekat, menekan gendang telinga hingga berdenging ngilu, dan berbau anyir seperti besi berkarat yang dijilat lidah basah. Tidak ada guncangan tabrakan, tidak ada bunyi logam beradu dengan batu. Hanya sensasi jatuh. Sensasi perut yang teraduk seolah Laju Sanjaya tengah terjun bebas ke dalam sumur tanpa dasar, padahal raungan mesin tua itu menjeritkan upaya menanjak yang menyiksa.

Bram mencengkeram sandaran kursi di depannya. Kulit sintetis kursi itu terasa lembap dan hangat, berdenyut pelan di bawah jemarinya. Itu bukan getaran mesin. Itu denyut nadi.

Di luar jendela, kabut abu-abu yang semula memagari jalanan Jalur Pantura telah bermetamorfosis. Kaca bus yang buram kini menampilkan dinding-dinding tebing tanah merah yang basah, seolah bus ini sedang merayap di dalam liang lahat raksasa. Akar-akar pohon yang pucat menjuntai dari kegelapan di atas, menyapu atap bus dengan bunyi srek, srek, srek seperti kuku panjang yang menggaruk peti mati.

"Tolong! Aku mau turun! Turunkan aku di sini, bangsat!" Teriakan Darma memecah keheningan ganjil itu.

Pengusaha itu berdiri terhuyung di lorong bus. Wajahnya yang berminyak kini sewarna kertas koran bekas, matanya melotot liar menatap kegelapan di luar jendela. Tanah yang tadi digenggamnya kini berjatuhan ke lantai bus, namun anehnya, butiran tanah itu tidak diam. Mereka bergerak, menggeliat seperti ribuan belatung hitam yang mencari inang. Jam tangan mahalnya berdentang satu kali—suara logam yang terlalu keras, terlalu final.

Jaka, sang kondektur, tidak berjalan mendekatinya. Ia meluncur. Gerakannya patah-patah, seolah sendi lutut dan pinggulnya digerakkan oleh kawat yang tak terlihat. Seragam abunya tampak lebih lusuh dari sebelumnya, dengan noda gelap yang merembes lebar di bagian dada.

"Tiket," suara Jaka parau, seperti gesekan batu nisan. "Sudah sampai di pos, Pak Darma. Waktunya bayar tunggakan."

"Aku punya uang! Di tas! Di bagasi!" Darma merogoh saku jasnya dengan panik, mengeluarkan dompet kulit buaya yang tebal. Ia menghamburkan lembaran puluhan ribu ke udara. "Ambil! Ambil semuanya! Biarkan aku keluar!"

Uang kertas itu melayang, namun sebelum menyentuh lantai, kertas-kertas itu layu. Warnanya memudar, teksturnya berubah menjadi cokelat kering, lalu hancur menjadi daun-daun jati kering yang rapuh. Bau apek hutan tua seketika menyeruak, mengalahkan bau kemenyan rokok Pak Tua.

Bram menahan napas, menekan punggungnya ke sandaran kursi sekuat mungkin. Ia ingin memejamkan mata, tapi kelopak matanya terasa kaku, dipaksa menyaksikan teater kekejian ini. Tangan kanannya yang kini berlapis emas dan bertuliskan aksara kuno terasa panas, seolah logam mulia itu sedang meleleh dan menyatu dengan dagingnya. Ia sadar, emas di tangannya beresonansi dengan ketakutan Darma.

"Bukan kertas yang kami minta," Jaka menyeringai. Bibirnya robek melebar hingga ke pipi, memperlihatkan deretan gigi yang hitam dan runcing. "Tanah sengketa itu. Kau janji membayarnya dengan nyawa petani yang kau gusur, bukan? Kau ambil tanah mereka, sekarang tanah meminta bagiannya."

Lantai bus di bawah kaki Darma mulai melunak. Logam berkarat itu berubah menjadi lumpur hisap yang pekat dan berbuih. Darma menjerit, mencoba mengangkat kakinya, tapi sepatu kulit mahalnya sudah tertelan. Lumpur itu hidup. Ia mendesis, mengeluarkan uap berbau belerang dan daging busuk.

"Tidak! Itu kecelakaan! Alat berat itu... remnya blong!" Darma meraung, air mata dan ingus bercampur di wajahnya yang putus asa. "Aku tidak menyuruh melindas gubuk itu! Aku tidak tahu ada orang di dalamnya!"

"Bohong," bisik Siti dari kursi belakang.

Bram menoleh cepat. Wanita itu masih menimang buntalan kainnya, tapi kini ia mendongak. Wajahnya yang pucat pasi tersenyum mengerikan. Matanya sepenuhnya putih, tanpa pupil. "Kau dengar teriakannya, Darma? Kau dengar tulang-tulang mereka patah saat bulldozer-mu meratakan semuanya demi pabrik semenmu? Bayiku juga mendengarnya."

Lumpur di lantai bus itu naik dengan cepat, melilit betis Darma, lalu lututnya. Bukan hanya lumpur. Di dalam adukan tanah basah itu, Bram melihat sesuatu yang membuatnya nyaris memuntahkan isi perutnya. Tangan-tangan kecil. Potongan tulang rusuk yang masih merah. Rahang manusia yang retak. Mereka mencuat dari dalam lantai bus, mencengkeram celana bahan Darma, menariknya ke bawah.

"Tolong aku! Mas! Mas Bram!" Darma menatap Bram, matanya memohon belas kasih yang mustahil. Tangannya terulur ke arah Bram.

Bram terpaku. Insting kemanusiaannya berteriak untuk menolong, untuk menarik tangan pria itu. Tapi logika menahan tubuhnya tetap di kursi. Jika kau sentuh dia, kau ikut ditarik. Emas di lengan Bram berdenyut menyakitkan, sebuah peringatan. Jangan ikut campur urusan penagih.

Bus Laju Sanjaya berguncang hebat. Bukan karena jalanan, tapi karena bus itu sendiri sedang mengunyah. Dinding-dinding bus berkerut dan memuai seirama dengan jeritan Darma. Lampu kabin berkedip-kedip, memancarkan cahaya kuning sakit-sakitan yang membuat bayangan tangan-tangan dari lantai itu terlihat memanjang dan menari di langit-langit.

"Ahhhggghhh!"

Darma terperosok pinggang ke bawah. Suara krak basah terdengar saat panggulnya remuk ditarik paksa ke dalam dimensi lantai yang tak masuk akal secara fisika. Ia tidak lagi berada di atas bus; ia sedang diserap menjadi bagian dari struktur bus itu sendiri. Wajah Darma mulai meleleh, kulitnya mengelupas seperti cat tembok tua, memperlihatkan lapisan daging merah yang langsung menghitam.

Jaka berdiri di samping lubang lumpur itu, mencatat sesuatu di buku kecil yang terbuat dari kulit manusia. Ia menjilat ujung pensilnya yang berlumuran darah hitam.

"Satu lunas. Sisa hutang: Lunas dengan bunga," gumam Jaka datar.

Dengan satu sentakan terakhir yang memilukan, kepala Darma tersedot ke dalam lantai. Tidak ada cipratan darah. Hanya suara slurp yang menjijikkan, seperti kaki yang ditarik dari lumpur sawah yang dalam. Lantai bus kembali menutup. Logam berkarat itu kembali padat, menyisakan gundukan kecil yang menyerupai nisan tanpa nama di tengah lorong.

Hening.

Hanya suara mesin bus yang menderu rendah dan nyanyian lirih Siti yang kini terdengar seperti mantra pemanggil hujan.

Bram gemetar hebat. Keringat dingin membasahi kemejanya yang sudah kusut. Ia melihat ke tempat Darma tadi berdiri. Kosong. Hanya ada setumpuk daun jati kering dan jam tangan mewah yang kacanya pecah, jarumnya berputar mundur dengan kecepatan gila.

Bus itu terus melaju. Dinding tebing tanah di luar jendela perlahan surut, digantikan kembali oleh kabut pekat, namun kali ini ada bentuk-bentuk samar di dalam kabut itu. Siluet bangunan-bangunan tinggi yang terbengkalai. Kerangka beton. Jakarta? Bukan. Ini adalah memori kota yang mati.

Jaka berbalik perlahan. Lehernya berputar dengan sudut yang sedikit terlalu jauh untuk anatomi manusia normal. Tatapan kosongnya kini terkunci lurus pada Bram.

Bram merasakan jantungnya berhenti sesaat. Ia meremas lengan kanannya yang berlapis emas. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi, seolah tulisan kuno di sana sedang diukir ulang dengan pisau panas.

Sang kondektur melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Sepatu bot tentara yang dipakainya meninggalkan jejak basah berwarna merah gelap di lantai.

"Perjalanan masih jauh, Mas Bram," suara Jaka tidak lagi serak, melainkan bergema ganda, seolah ada dua entitas yang bicara sekaligus dari tenggorokannya. "Pos Pembayaran Kedua ada di depan. Tiketmu... istimewa."

Jaka menunjuk lengan emas Bram dengan dagunya. "Berat. Sangat berat. Dosa yang dibawa lari, biasanya yang paling mahal ongkosnya."

Bram ingin bicara, ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa dia hanya mengambil apa yang menjadi haknya, bahwa sistemlah yang korup, bukan dirinya. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan. Ia sadar, di dalam Laju Sanjaya, alibi hukum tidak berlaku. Hakim di sini adalah memori, dan jaksanya adalah dendam.

"Apa... apa yang akan terjadi di pos berikutnya?" Bram akhirnya berhasil mengeluarkan suara, meski terdengar seperti cicit tikus yang terpojok.

Jaka menyeringai lagi, kali ini seringainya lebih mirip luka sayatan yang menganga. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Bram. Bau napasnya adalah campuran formalahida dan uang kertas yang terbakar.

"Tergantung," bisik Jaka. "Seberapa besar kau mencintai beban di tasmu itu dibandingkan nyawamu sendiri? Karena di pos depan, kita tidak berhenti untuk mengambil penumpang. Kita berhenti untuk membuang muatan."

Pak Tua di kursi pengemudi membunyikan klakson. Suaranya bukan telolet yang ceria, melainkan raungan panjang seperti terompet sangkakala yang pecah. Bus berbelok tajam ke kiri, menembus kabut, menuju turunan curam yang tidak terlihat dasarnya.

Bram memeluk tas berisi uangnya erat-erat. Uang itu, atau apa pun yang tersisa darinya terasa berat seperti batu nisan. Ia sadar, Darma hanyalah pembuka. Menu utamanya belum disajikan. Dan dia ada di daftar menu itu.