Beban yang Membusuk

Penulis djoedo
19 January 2026

Daftar menu itu terpatri di dalam benak Bram, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang memburu. Kata-kata Jaka menggantung di udara yang berbau apek, sisa dari napas Darma yang baru saja ditelan lantai bus. Bram menunduk. Tas ransel di pangkuannya terasa semakin berat. Bukan berat fisik semata. Ada gravitasi yang salah di sana. Seolah tas itu memiliki inti besi yang menariknya ke pusat bumi, atau lebih buruk lagi, ke perut neraka.

Ia mencengkeram pegangan tas itu erat-erat. Jari-jari tangan kanannya yang kini telah bermutasi, kulit yang mengeras, berwarna emas kusam dengan ukiran aksara kuno yang menggeliat di bawah permukaan dermis terasa panas. Logam bertemu kain sintetis. Rasa sakit itu menjalar naik ke lengan, sebuah peringatan.

"Jangan dilihat terus," suara itu datang dari samping.

Bram menoleh patah-patah. Siti.

Wanita itu masih di sana, duduk tenang di bangku seberang lorong. Kebaya lusuhnya tampak semakin pudar, warnanya terserap oleh kegelapan bus. Ia menimang buntalan kain itu dengan ritme yang ganjil. Naik, turun, jeda. Naik, turun, jeda.

"Dilihat pun, isinya bukan lagi milik Mas," bisik Siti. Bibirnya tidak tersenyum. Matanya kosong, dua lubang sumur tanpa dasar yang menatap menembus tulang tengkorak Bram.

"Diam kau," desis Bram. Suaranya parau. Tenggorokannya kering, rasanya seperti menelan serbuk gergaji. "Kau tidak tahu apa-apa."

"Bayiku tahu," balas Siti. Ia menunduk, mendekatkan telinganya ke buntalan kain. "Dia bilang baunya enak. Bau bangkai segar."

Bram ingin muntah. Ia memalingkan wajah, kembali menatap tasnya. Rasa penasaran bercampur horor memaksanya. Jari-jari emasnya gemetar saat menarik ritsleting tas. Logam beradu dengan logam. Bunyinya nyaring, bergema seperti lonceng kematian di dalam kabin yang sunyi.

Terbuka.

Bram menahan napas. Tumpukan uang itu masih ada. Gepokan merah dan biru. Ratusan juta rupiah. Tiketnya menuju hidup baru di kampung halaman. Alat untuk menyuap jaksa, membayar pengacara, membeli kebebasan.

Tapi ada yang salah.

Uang itu basah.

Cairan kental berwarna hitam merembes dari sela-sela kertas. Baunya bukan bau uang kertas yang khas, campuran tinta dan serat kapas. Ini bau got. Bau daging yang lupa dimasukkan ke kulkas selama seminggu. Bau dosa.

Bram menyentuh satu gepok. Teksturnya lembek. Di bawah sentuhannya, gambar pahlawan nasional pada uang kertas itu tampak bergerak. Wajah-wajah itu menyeringai. Mata mereka melotot, menuduh. Kertas itu terasa seperti kulit manusia yang dikuliti tipis-tipis.

"Tidak..." Bram menarik tangannya. Lendir hitam menempel di jari emasnya, mendesis saat bersentuhan dengan logam itu.

Bus Laju Sanjaya berguncang hebat. Bukan karena jalan berlubang. Jalanan di luar sana halus, terlalu halus, seperti meluncur di atas minyak. Guncangan itu berasal dari denyut nadi bus itu sendiri. Dinding-dinding bus mulai berkerut, cat yang mengelupas kini tampak seperti pembuluh darah yang menonjol.

Pemandangan di luar jendela berubah. Hutan jati dan kabut tebal perlahan memudar, digantikan oleh dinding beton yang kusam. Lampu neon berkedip-kedip di kejauhan. Suara jangkrik berganti dengan dering telepon yang tak henti-henti.

Bram terbelalak. Itu bukan hutan.

Itu kantornya.

Lantai 12. Gedung di Jakarta Pusat. Tempat ia memalsukan tanda tangan. Tempat ia memindahkan angka-angka di rekening perusahaan ke rekening pribadinya.

Namun, kantor itu telah dimakan waktu. Meja-meja kerjanya berjamur. Kursi ergonomis mahal itu patah-patah, busanya menyembul keluar seperti usus terburai. Tumpukan dokumen berserakan di lantai bus, basah dan kuning.

"Laporan keuangannya belum selesai, Pak Bram..."

Suara itu muncul dari bangku belakang. Bram berputar. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya jok kosong yang kulitnya sobek. Tapi ia kenal suara itu. Rina. Sekretarisnya. Wanita yang ia kambinghitamkan agar ia bisa kabur.

"Rina?" panggil Bram.

"Angkanya tidak klop, Pak..." Suara itu datang lagi, kali ini dari atap bus. "Bapak ambil berapa? Nolnya banyak sekali..."

Cairan hitam menetes dari langit-langit, jatuh tepat di atas tas uang Bram. Plok. Plok.

Bram panik. Ia mencoba membersihkan tasnya, tapi cairan itu lengket seperti aspal. Semakin ia menggosok, semakin uang-uang di dalamnya menyatu menjadi gumpalan daging busuk. Uang itu mulai berdenyut.

"Ini uangku!" teriak Bram pada kekosongan. "Aku yang cari! Aku yang ambil risiko!"

"Risiko?" Jaka muncul dari bayangan di bagian depan bus. Seragamnya kotor oleh noda oli dan darah kering. Ia berjalan mendekat dengan langkah menyeret. Bunyi krek terdengar setiap kali kakinya melangkah, seolah lututnya engsel yang karatan.

"Risiko itu kalau kau bisa rugi," kata Jaka. Suaranya berat, menggema di dalam dada Bram. "Kau tidak ambil risiko, Bram. Kau ambil hak orang lain. Itu bukan dagang. Itu mencuri."

Jaka berhenti tepat di samping bangku Bram. Ia tidak menagih tiket. Ia menunjuk tas di pangkuan Bram.

"Pos Pembayaran Kedua sudah dekat. Muatan harus ditimbang."

Bram mendekap tasnya. "Tidak. Ini punyaku."

"Itu pemberat," kata Jaka dingin. Wajahnya yang kaku, dengan kulit yang seperti lilin meleleh, tidak menunjukkan emosi. "Bus ini tidak kuat menanjak kalau muatannya terlalu berat. Dan dosamu, Bram... dosamu itu berat jenisnya paling tinggi."

Di luar jendela, ilusi kantor itu runtuh. Dinding beton retak, memperlihatkan jurang gelap di baliknya. Bus mulai menukik tajam. Mesin menderu, meraung kesakitan, seolah dipaksa bekerja melampaui batas wajar. Roda-roda bus mencicit, berjuang mencengkeram aspal yang tidak ada.

Gravitasi menarik tubuh Bram ke depan. Ia terdorong ke arah sandaran kursi di depannya. Tas uang itu—benda sialan itu—sekarang terasa seberat batu nisan.

"Buang," perintah Jaka.

"Gila kau!" Bram meludah. "Aku tidak akan miskin lagi! Aku tidak mau kembali jadi tikus got!"

"Kau sudah jadi tikus," sahut Siti dari seberang. Ia kini berdiri, berpegangan pada tiang besi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mendekap bayinya. "Tikus yang terjebak di perangkap lem."

Bus miring ke kiri. Bram tergelincir. Tas uang itu seperti hidup, menempel di perutnya, akar-akar daging tumbuh dari uang kertas yang membusuk, mencoba menembus kemejanya, mencari pori-pori kulitnya.

Rasa sakit di tangan emas Bram meledak. Aksara kuno itu bersinar merah menyala, membakar. Tangan itu bergerak sendiri, mencoba melepaskan tas dari tubuh Bram. Tapi Bram bagian dari dirinya yang serakah dan ketakutan mencoba melawan. Tangan kirinya yang masih manusia menahan tas itu mati-matian.

Konflik internal itu menjadi fisik. Tangan kanan melawan tangan kiri. Jiwa melawan ego.

"Pos Pembayaran Kedua!" teriak Pak Tua dari kursi pengemudi. Suaranya seperti guntur yang pecah di dalam gua.

Di depan sana, di tengah kabut yang membelah kegelapan, sebuah gerbang muncul. Bukan gerbang tol. Itu adalah mulut raksasa yang terbuat dari bangkai kendaraan yang dipadatkan. Truk penyok, sedan hancur, motor-motor berkarat, semuanya menyatu membentuk gapura neraka. Di tengahnya, palang pintu turun. Palang itu adalah tulang punggung manusia raksasa.

Bus tidak melambat. Remnya blong. Atau mungkin, Pak Tua memang tidak berniat mengerem.

"Bayar atau tabrak!" seru Jaka. Ia mundur, memberi ruang bagi takdir untuk bekerja.

Bram melihat ke depan. Tabrakan itu tak terelakkan. Kecuali ia mengurangi beban. Kecuali ia membuang apa yang menahannya.

Tas itu kini menyatu dengan perutnya. Rasa perih luar biasa menjalar saat akar-akar uang busuk itu mulai menghisap darahnya. Ia bisa merasakan nominal-nominal itu mengalir dalam venanya, meracuni, mengubah sel darah merahnya menjadi tinta hitam.

"Sakit!" jerit Bram.

"Memang," kata Jaka. "Kenyataan itu sakit, Mas Bram. Fantasimu yang manis sudah habis masa berlakunya."

Gerbang tulang itu semakin dekat sepuluh meter. Lima meter.

Bram harus memilih. Membuang uang itu memutilasi bagian dari dirinya yang telah menyatu dengan dosa, atau membiarkan bus ini menghantam gerbang dan hancur berkeping-keping, membawa jiwanya terperangkap selamanya di antara besi tua dan aspal berdarah.

Ia menatap tangan emasnya. Tangan itu mencengkeram tas busuk itu, siap merobek.

"Lakukan!" bisik instingnya.

"Jangan! Itu masa depanmu!" teriak keserakahannya.

Bram memejamkan mata, dan menjerit saat tangan emasnya menarik paksa gumpalan daging yang dulunya uang itu dari perutnya. Suara sobekan basah terdengar, diikuti oleh muncratan darah hangat yang menyiprat ke wajah Siti.

Bus Laju Sanjaya menghantam palang tulang itu dengan dentuman yang membisukan dunia.